Pesepakbola Muslim di Tengah Badai Islamophobia

Pesepakbola Muslim di tengah Badai Islamophobia

Sejak peristiwa penabrakan pesawat ke gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat (AS) 11 September 2001, negara-negara barat santer mengkampanyekan perang melawan terorisme. Hal demikian tentu bermaksud baik, yakni ingin mengajak semua orang untuk melawan segala tindakan anti-kemanusiaan dalam rupa terorisme. Hanya saja, kampanye ini dalam perjalanannya memiliki efek samping dengan munculnya Islamophobia di dunia barat.

Pasalnya, terorisme yang terjadi di WTC dilakukan oleh sebuah organisasi politik garis keras bernama Al-Qaeda yang seluruh anggotanya beragama Islam. Sebagian orang barat kemudian menganggap bahwa Islam sebagai agama yang dianut oleh seluruh teroris merupakan agama yang membenarkan terorisme. Anggapan ini selanjutnya bertransformasi menjadi stereotyping bahwa Islam adalah agama teroris. Stereotyping itulah yang akhirnya memprakondisikan lahirnya Islamophobia.

Tindakan teror yang dilakukan Al-Qaeda sesungguhnya juga terdapat di berbagai agama lain. Di Kristen misalnya, ada kelompok bernama Ku Klux Klan (KKK) di AS yang kerap melakukan tindakan teror kepada imigran, orang kulit hitam, orang Islam, orang Yahudi, dan para LGBTQ.

Tingkah KKK sudah menjadi rahasia umum. Banyak buku dan film yang mengangkat sepak terjang mereka secara luas. Hanya saja, sampai detik ini tidak ada yang menyebut KKK sebagai teroris. Tidak ada pula yang menyebut Kristen agama teroris karena seluruh anggota KKK merupakan orang Kristen.

Kisah serupa terdapat pula dalam agama Budha. Di Budha ada kasus biksu Ashin Wiratu yang dikenal dunia karena sikapnya yang anti-Islam di Myanmar. Ashin adalah salah seorang yang paling bertanggung jawab terhadap kekerasan yang dialami umat muslim Rohingya beberapa tahun terakhir. Bukti fisik mengenai bagaimana Ashin menyerukan kepada orang Budha agar menyerang orang Islam sudah beredar di mana-mana. Tapi hingga sekarang, tidak ada satu pun yang mengatakan kalau Budha agama teroris.

Sikap yang diperlihatkan Ashin dianggap sebagai ekspresi politik yang tak berbeda jauh dengan kelompok ultra-nasionalis di Eropa. Kenyataan ini jelas aneh. Untuk kasus Al-Qaeda yang dikambing-hitamkan adalah Islam. Sedangkan untuk kasus KKK dan Ashin Wiratu, tidak ada yang menyalahkan Kristen atau Budha sebagai penyebab masalah.

Tesis Benturan Peradaban

Berangkat dari situasi tersebut, wajar selanjutnya jika muncul kecurigaan bahwa kampanye melawan terorisme sebenarnya bukanlah semata gerakan perlawanan terhadap terorisme sebagaimana yang selama ini digembar-gemborkan. Maksud kampanye melawan terorisme jangan-jangan justru kampanye melawan Islam. Kecurigaan ini diperkuat dengan pemikiran para ilmuwan barat seperti Samuel Huntington yang dalam berbagai tulisan dan pernyataannya kerap sinis dan curiga kepada Islam.

Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), menyebut kalau agama dan identitas budaya adalah bahan bakar konflik dunia pasca Perang Dingin. Huntington memprediksi bahwa Islam akan menjadi ancaman peradaban barat. Bagi Huntington, ajaran Islam dengan segala corak dan karakteristiknya tidak cocok dengan prinsip dan tradisi peradaban barat yang pro-demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan. Karena tidak cocok, di kemudian hari peradaban barat pasti akan berbenturan dengan Islam. Itulah asumsi utama Huntington yang nantinya dikenal dengan tesis benturan peradaban.

Teori Huntington oleh banyak kalangan dianggap cenderung oversimplifikasi dan terlalu menjustifikasi tanpa pijakan yang kuat. Banyak teoritikus yang mengkritik dan membantah tesis Huntington ini. Amartya Sen dalam Kekerasan dan Identitas (2006) adalah contoh dari mereka yang secara terbuka mengkritik Huntington. Kata Sen, Huntington terlalu mudah mereduksi seakan-akan ada peradaban yang utuh dan tunggal dengan memperhadapkan antara barat dan Islam. Bagi Sen, tidak ada peradaban yang utuh dan tunggal. Tiap peradaban manusia pasti didasari keberagamaan pemikiran dari berbagai latar belakang budaya, agama, identitas, serta sosio-politik.

Peradaban barat yang diagung-agungkan Huntington tidaklah tunggal. Ia terdiri dari banyak etnis, agama, suku, kepercayaan, dan berbagai penanda identitas lain. Peradaban Islam juga tidak berbeda jauh. Ajaran Islam memang tunggal tentang mengesakan Tuhan, tapi bagaimana tafsir dan ekspresi mengesakan Tuhan tersebut sangat beragam di tubuh Islam.

Huntington tidak melihat ini. Ia melihat Islam dan barat sebagai sesuatu yang monolitik. Ia menyederhanakan persoalan seakan-akan barat punya nilai tunggal yang bertentangan dengan Islam. Padahal, tidak ada bukti apakah semua orang barat mengakui dan mempraktikan nilai-nilai tersebut. Apakah semua orang barat pro-kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi? Tidak ada data otentik akan hal ini. Yang jelas ada, justru sikap sebagian orang barat yang malah anti-demokrasi dan anti-kesetaraan macam KKK. Itulah letak masalah tesis Huntington yang monumental tersebut.

Tesis benturan peradaban meski dikritik banyak kalangan, tidak dapat dipungkiri bahwa pemikirannya itu berpengaruh cukup besar dalam dinamika kehidupan orang barat. Huntington seperti memberi legitimasi akademik terhadap stigma dunia barat bahwa Islam memang agama yang bermasalah dan patut diwaspadai.

Stigma inilah yang patut dicurigai menjadi basis utama kampanye perang melawan terorisme. Jangan-jangan memang ada ‘penumpang gelap’ dalam kampanye melawan terorisme. Jangan-jangan ada agenda lain dalam jargon perang melawan terorisme. Tidak ada yang bisa memastikan hal ini. Namun yang pasti, fakta bahwa ada ambivalensi sikap dari dunia barat terhadap apa yang dinamakan terorisme, membuat kecurigaan semacam ini terus hidup di benak umat Islam hingga sekarang.

Sepakbola dan Islamophobia

Fenomena munculnya Islamophobia dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari faktor stigmatisasi yang dilekatkan dunia barat kepada Islam. Hal demikian terjadi karena Islam yang diketahui peradaban barat adalah Islam seperti yang dipraktikan di Timur Tengah dengan segala dinamikanya. Mereka tidak tahu bahwa wajah Islam tidak hanya ada di Timur tengah. Islam memiliki wajah di berbagai belahan dunia lain yang jauh berbeda dengan di Timur Tengah. Namun negeri-negeri barat terlanjur menyimpulkan secara sepihak bahwa Islam adalah seperti yang ada di Timur Tengah. Inilah yang menjadi sumbu munculnya Islamophobia dalam dunia barat.

Menjadi muslim di negeri-negeri yang mengidap Islamophobia jelas merupakan sesuatu yang sulit. Mereka harus siap menghadapi diskriminasi, cemoohan, cacian, hingga tuduhan sebagai teroris padahal mereka bukan bagian dari gerakan teroris. Namun belakangan ada fenomena unik yang terjadi di barat. Beberapa tahun terakhir, bermunculan pesepakbola muslim di negeri-negeri barat yang mendapat sambutan positif karena kesuksesan karir mereka.

Mohammad Salah, Sadio Mane, dan N’golo Kante adalah sedikit contoh dari hal tersebut. Ketiganya masuk daftar sebagai pesepakbola terbaik dunia saat ini. Salah dan Mane bermain untuk Liverpool. Sedangkan Kante bermain untuk Chelsea.

Salah, Mane dan Kante adalah ujung tombak di klubnya masing-masing. Tidak ada yang menyangsikan kontribusi ketiganya bagi klub yang mereka bela. Salah dan Mane misalnya, mereka berdua menjadi duet penyerang tersubur di Liga Inggris beberapa tahun belakangan. Keduanya menjadi bagian penting dari berakhirnya puasa gelar Liverpool selama 30 tahun terakhir. Sedangkan Kante berpengaruh besar terhadap kesuksesan Chelsea merengkuh trofi Liga Champions Eropa pada 2021 lalu.

Keberhasilan para pesepakbola muslim di tanah yang menyimpan bara Islamophobia menjadi sesuatu yang unik. Di tengah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada Islam selama ini, Salah, Mane, dan Kante membuktikan bahwa orang Islam tidak semuanya teroris. Orang Islam sama seperti orang Eropa yang bisa menjadi pesepakbola hebat.

Kesuksesan para pesepakbola muslim di lapangan disinyalir tidak hanya berdampak pada prestasi klub yang mereka perkuat. Kehadiran mereka diduga berpengaruh pula terhadap menurunnya tingkat Islamophobia di barat. Hal itu dibuktikan dengan riset dari Departemen Sains Politik Universitas Stanford. Menurut penelitian tersebut, tingkat kejahatan terhadap orang Islam di Inggris menurun hingga 18,9 persen sejak Salah dan Mane bergabung bersama Liverpool.

Selain itu, sejak Salah dan Mane bermain untuk Liverpool, di Anfield yang merupakan kandang Liverpool, juga dibangun mushola untuk umat Islam yang ingin beribadah. Situasi tersebut jarang terjadi mengingat Islamophobia terkenal cukup besar di Inggris.

Besarnya Islamophobia di Inggris salah satu faktornya disebabkan pengalaman traumatik orang Inggris karena acapkali menjadi sasaran serangan Al-Qaeda, ISIS, dan berbagai kelompok teroris lain. Hal demikian membuat sebagian orang Inggris punya stigma kalau Islam memang adalah agama teroris. Dari situ tidak aneh jika hubungan Islam dengan orang Inggris selama ini cenderung anget-anget tai ayam. Kadang dekat, kadang renggang. Tapi sejak Salah, Mane, Kante, dan berbagai pesepakbola muslim lainnya hadir dan sukses di sana, hubungan Islam dengan orang Inggris perlahan-perlahan membaik.

Kenyataan di atas jelas sesuatu yang patut disyukuri dan dibanggakan. Di tengah badai Islamophobia yang selalu mendiskreditkan Islam, para pesepakbola muslim berhasil menjadi agen Islam yang menunjukan bahwa Islam tidak seperti yang selama ini dituduhkan dan distigmakan.

Hanya saja, kalau boleh jujur, sambutan positif terhadap para pesepakbola muslim ini sebenarnya bisa dibilang semu. Alasannya, para Pesepakbola muslim yang hari ini dipuji-puji adalah mereka yang memang sedang ada dipuncak karir. Siapa pun pemainnya, entah dia Islam, Yahudi, Majusi, Hindu, Budha, atau penyembah pohon sekalipun, kalau memang bermain bagus, pasti akan mendapat apresiasi dari publik sepakbola. Hari ini kebetulan yang sedang di puncak karir adalah orang-orang Islam. Makanya wajar jika mereka mendapat apresiasi setinggi langit atas performanya.

Berbeda cerita jika para pesepakbola muslim yang sedang jaya-jayanya ini tidak sesukses seperti sekarang, apakah mereka akan mendapat sambutan positif pula? Apakah kalau Salah dan Mane tidak punya kemampuan seperti saat ini angka Islamophobia bakal menurun? Saya pikir jawabannya tidak. Salah, Mane, Kante, dan berbagai pesepakbola muslim lain mendapat apresiasi tinggi karena memang performanya luar biasa. Jika bukan karena itu, mereka pasti tidak akan mendapat sambutan positif apa pun dari pecinta sepakbola di sana. Kalau permainan mereka sedang busuk, bukan tidak mungkin yang mereka dapatkan justru perlakuan diskriminatif seperti yang dialami Romelu Lukaku.

Ketika Lukaku di puncak karir, ia dipuja-puja. Tapi ketika performanya jatuh, ia dihujat sana-sini. Lukaku malahan sampai mengalami perlakuan rasis. Fisik Lukaku yang tinggi besar dan berkulit hitam, oleh mereka yang menghujatnya disamakan dengan penis.

Kisah Lukaku, dialami pula Mesut Ozil. Waktu ia sedang ada dipuncak karir hingga berhasil membawa Jerman juara Piala Dunia 2014 lalu, ia disanjung-sanjung oleh publik Jerman. Tapi ketika performanya menurun pada Piala Dunia 2018, ia dicaci-maki oleh para fans Jerman yang tidak puas. Para fans ini bahkan menyorot latar belakang Ozil yang adalah pemain keturunan Turki. Ozil sampai membuat unggahan di Twitter untuk merespons hal ini, saya orang Jerman ketika menang, tapi menjadi imigran ketika kalah.

Cerita di atas bisa saja menimpa Salah, Mane, Kante, dan seluruh pesepakbola muslim lain yang hari ini merumput di negeri barat. Ketika performa mereka turun, mereka pasti akan dihujat. Karena mereka muslim, mungkin saja yang dihujat nantinya bukan hanya kemampuan sepakbolanya. Tapi bergeser ke Islam sebagai agama mereka.

Hal ini bisa terjadi karena faktor sejarah yang panjang. Sejak peradaban barat bangkit menggantikan peradaban Islam, beriringan dengan hal itu, barat punya semacam anggapan bahwa merekalah peradaban yang terbaik di dunia. Karena anggapan tersebut, barat merasa perlu menyebarkan nilai, prinsip, tradisi, hingga gaya hidup mereka ke seluruh dunia. Itulah yang kemudian tercermin pada sistem kolonialisme.

Melalui kolonialisme, barat tidak hanya mengeruk keuntungan ekonomi dari negeri jajahan. Lebih jauh dari itu, mereka juga berusaha untuk memperadabkan negeri-negeri jajahan agar seperti bangsa barat. Inilah yang nantinya menjadi pintu masuk menguatnya rasisme dan sikap anti-agama tertentu di barat.

Ketika hari ini ada fenomena Islamophobia, sebenarnya itu bukan sesuatu yang aneh dan baru. Jika berkaca pada sejarah, sejak ratusan tahun lalu sumbu pemantik dari Islamophobia sudah ada dan bersemayam dalam memori kolektif sebagian orang barat. Permasalahannya hari ini, Islamophobia tidak hanya terendap dalam alam bawah sadar orang barat. Ia bertransformasi sedemikian rupa hingga berdampak pada diskriminasi membabi-buta kepada seluruh orang Islam.

Berangkat dari kenyataan tersebut, jika nantinya para pesepakbola muslim mendapat tindakan diskriminatif karena performanya menurun, hal itu bukan sesuatu yang mengagetkan. Dunia barat memang menyimpan masalah dengan segala sesuatu di luar dirinya. Yang terpenting, usaha menunjukan wajah Islam yang tidak seperti distigmakan selama ini harus terus berjalan apa pun tantangannya. Itulah cara terbaik melawan Islamophobia.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta