Adab Thalib Al-Hadist

Adab Thalib Al-Hadist

Penulis: 
Uli Nashrul Latifi

Sebelum mengetahui adab belajar hadist, kita setidaknya harus memahami terlebih dulu apa itu hadist dan pentingnya hadist. Hadist dalam segi bahasa mempunyai banyak arti,  di antaranya al-Jadid yang berarti baru. Kata al-Jadid merupakan lawan kata dari kata al-Qadim yang berarti lama. Kata al-Jadid juga diidentikkan dengan hadist dan al-Qadim diidentikkan dengan al-Quran disebabkan karena sesuai dengan sifat keduanya.

Hadist juga dapat diartikan dengan al-Khabar yang mempunyai arti “ berita atau informasi” dan juga bisa diartikan dengan al-Qarib yang mempunyai arti dekat.

Sedangkan secara istilah, hadist diartikan segala sesuatu yang dikerjakan atau perbuatan, perkataan dan segala keadaan yang terjadi atau ada pada Nabi Muhammad Saw. Ulumul hadist sendiri mempunyai arti ilmu-ilmu yang mempelajari atau berkaitan dengan hadist.

Hadist adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Quran. Posisinya yang berada pada rangking kedua setelah al-Quran ini telah menempatkannya pada posisi sangat mulia. Oleh karena itu, wajar apabila model penafsiran al-Quran via hadist menduduki peringkat tertinggi al-Quran via rasio. Bahkan bisa dibilang bahwa hadist merupakan penerangan ajaran Islam itu sendiri, baik secara faktual maupun ideal.[1]

Posisi hadist dalam agama Islam yang begitu penting, tidak salah kiranya jika membutuhkan aturan-aturan dalam mempelajarinya. Hal ini berguna untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan juga menghindari membuat seseorang hina-dina. Kemudian para ulama membuat aturan mempelajari hadist yang dalam bahasa Arab dikenal dengan adab thalib al-hadist, yang kemudian dijadikan petunjuk bagi orang yang hendak memulai mempelajari hadist-hadist Nabi.

Pertama, meluruskan niat dengan cara membetulkan niat kita dengan berlaku ikhlas untuk mempelajari hadist bukan semata-mata hanya mendapatkan nikmat duniawi, tetapi hanya untuk mengharapkan ridho Allah. Bersungguh-sungguh dalam mengambil hadist dari para ulama dan berlaku ikhlas.

Berlaku ikhlas di sini dimaksudkan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh  meningkatkan ketekunan dalam mempelajari hadist dari orang-orang berkompeten, dan itu harus ditekuni tanpa menghiraukan susahnya perjalanan yang ia tempuh dalam mempelajari hadist.

Mengamalkan ilmunya sebagaimana dalam mahfudzot "Ilmu tanpa amal, seperti pohon tak berbuah," dan juga memberikan ilmunya kepada sesama thalib al-hadist dimaksudkan agar menjauhkan dari sifat angkuh dan sombong, menghormati guru sebagaimana bahwa dari gurulah kita bisa pandai, paham dengan hadits yang telah kita pelajari, dengan menghormati guru pulalah bisa berperan dalam menjaganya dari api neraka.

Kedua, menyempurnakan pelajaran tentang hadist. Apabila seorang thalib al-hadits telah memutuskan niatnya untuk mencarii atau menuntut ilmu hadist, maka ia akan dituntut untuk menyempurnakan pelajarannya atau pemahamannya tentang hadist.

Jika ia telah menyelesaikan satu buku, maka ia akan dituntut untuk membaca buku yang belum ia ketahui atau bahkan lebih. Sebagai seseorang thalib al-hadist, juga tidak boleh merasakan akan kepuasaan atas ilmu yang ia dapatkan, dan tidak boleh berhenti meski usia yang tidak lagi muda atau karena sudah berpangkat.

Ketiga, memahami nilai hadist. Pentingnya posisi hadist dalam ajaran Islam, menuntut Yusuf Qardhawi untuk mempelajari suatu hadits diperlukan sebuah tata krama, yaitu :

  • Memahami sebuah hadits harus berdasarkan petunjuk al-Quran
  • Menghimpun atau mengumpulkan sebuah hadits sesuai dengan kesamaan topiknya
  • Memadukan atau mentarjih hadits-hadits yang tampak berlawanan menurut kaidah, nash-nash yang telah dikukuhkan itu tidak mungkin bertolakbelakang karena antara satu perkara yang haq tidak akan bertentangan dengan perkara haq yang lain.[2]
  • Memahami latar belakang kondisi, dan tujuan seperti memahami al-Quran.
  • Membedakan sarana-sarana yang dapat berubah dan tujuan yang bersifat tetap dari setiap hadist.
  • Membedakan makna hakiki dan makna najazi dalam memahami hadits, karena menurut Nabi Muhammad Saw, tidak selalu hadist itu mengungkapkan maksudnya dengan kata-kata yang dapat dipahami, namun kadangkala memakai kata-kata yang sulit dipahami.

Keempat, mengetahui kaidah-kaidah yang digunakan para ulama hadist. Ternyata para ulama di masa lalu hanyalah menerima pengumpulan dan penulisan hadits dalam bentuk kitab tanpa adanya reserve dari para perawi terlebih dahulu. Hal ini berarti mereka tidak secara praktis menetapkan adanya persyaratan-persyaratan dalam menerima hadist dari orang lain.

Dengan adaya keadaan ini, memberikan peluang bagi  orang-orang yang tidak senang terhadap agama Islam untuk melakukan misinya dengan cara berpura-pura masuk Islam lalu membuat redaksi tambahan pada beberapa hadist. Atau yang lebih ekstrim dengan menciptakan hadist-hadist baru, atau bisa disebut hadits palsu. Kemudian, para ulama menyusun kaidah-kaidah untuk meneliti atau menetapkan kualitas hadist yang tersusun dalam kitab ataupun yang masih beredar di kalangan masyarakat. Kaidah-kaidah tersebut meliputi :

  • Sanadnya haruslah bersambung,maksudnya adalah setiappara perawi dalam sanad hadits tersebut menerima dari perawi terdekat,dan keadaan itu haruslah hingga akhir sanad dari hadits tersebut.
  • Setiap perawi haruslah memiliki sifat yang adil
  • Setipa perawi haruslah memiliki sifat yang dhabit
  • Tidak adanya kejanggalan
  • Tidak adanya ‘Illah  atau penyakit yang dapat menebabkan rusaknya sebuah hadits.

Kelima, mendahulukan shahih al-Bukhari ketimbang shahih Muslim. Diketahui bahwa kitab hadist yang ditarjihkan oleh shahih al-Bukhari dan shahih Muslim berada pada tingkat pertama dari kitab-kitab hadits lainnya. Akan tetapi, meskipun memiliki tingkatan yang sama bukan berarti memiliki kualitas yang sama pula. Di sinilah para thalib al-Hadits akan diuji untuk berpijak dan menetukan manakah yang harus didahulukan shahih al-Bukhari atau shahih Muslim.

Para ulama telah menetapkan syarat-syarat hadist shahih itu ada lima, antara lain: sanadnya bersambung, perawinya memiliki sifat adil, perawinya haruslah yang bersifat dhabit, tidak ada kejanggalan, tidak ada ‘illah atau penyakit. Namun dalam shahih al-Bukhari menambahkan dua syarat antara lain : si perawi hidup semasa dengan gurunya, si  perawi harus benar-benar mendengarnya sendiri. Sedangkan dari shahih Muslim hanya menambahkan satu syarat yaitu seperti syarat yang kedua dari shahih al-Bukhari. Dari sinilah kita mengetahui kualitas dari shahih manakah yang lebih tinggi.

Keenam, mengahafal hadist. Dalam suatu riwayat yang ditarjihkan oleh ad-Damiri, Ibnu Abbas berkata : “Ingat-ingatlah hadis agar ia tidak hilang, sebab hadis tidak seperti al-Quran yang dipelihara secara keseluruhan oleh Allah. Apabila kalian tidak mau mengingat maka ia akan hilang.”

Untuk menghafalkan hadist secara benar, para ulama telah menetapkan untuk memulai dari matan kemudian barulah sanadnya. Setelah berhasil mengafal hadis barulah thalib al-Hadist menindaklanjuti dengan muzakkarah lalu mubahtsah atau membahas.

Dengan adanya penjabaran tersebut, kita sebagai thalib al-Hadist haruslah menyadari akan pentingnya posisi hadist dalam ajaran agama Islam, sehingga dibutuhkan suatu aturan untuk mempelajari hadits dan segala aspek yang berhubungan dengan hadits.



[1] Yususf Qardawi,Kayfa Nata’ammal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyah,Muhammad al-Baqir (Penj),  Memahami Hadits (Bandung:Pustaka Hiadayah ,1996),hlm 17.

[2] Nuruddin Itr,Op.cit.,hlm.127




Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga