Irelevansi Kehidupan Sosial di Era Media Sosial

Irelevansi Kehidupan Sosial di Era Media Sosial

Penulis: 
Mohammad Rafli Ilham

Media sosial kini sudah menjadi bagian hidup manusia. Media sosial bukan lagi menjadi sekadar hiburan seseorang di kala waktu senggang. Media sosial bahkan sudah menjadi kebutuhan semua orang dari berbagai kalangan, tanpa mengenal gender, umur, atau status sosial. Tak ada kehidupaan manusia yang hari ini tidak diperantarai oleh media sosial. Dari bangun tidur hingga tidur kembali manusia pasti menggunakan media sosial.

Dalam laporan berjudul Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital, disebutkan bahwa dari total 274,9 juta penduduk di Indonesia, 170 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan angka sebesar ini, dapat diketahui bahwa angka penetrasi media sosial dalam hidup orang Indonesia sekitar 61,8 persen. Besarnya angka ini sedikit banyaknya pasti akan berpengaruh pula terhadap kehidupan manusia. 

F. Budi Hardiman dalam bukunya yang berjudul Aku Klik Maka Aku Ada (2021), menjelaskan bahwa penggunaan media sosial menyebabkan menusia kehilangan hakikatnya sebagai manusia. Pasalnya menurut Hardiman, pada awalnya manusia itu memproyeksikan dirinya di dalam dunia (in Word), tapi di era media sosial manusia lebih sering memproyeksikan dirinya dalam dunia digital atau in WWW (word wide web).

Manusia sekarang umumnya lebih betah menghabiskan waktu di ruang digital seperti, Youtube, Twitter, Instagram dan platform digital lainnya daripada berinteraksi di dunia fisik. Hal demikian terkadang membuat banyak kalangan mengira bahwa ketika seseorang diam di kamar karena sibuk main media sosial, kondisi itu membuat dirinya putus kontak dengan dunia luar.

Perkiraan itu keliru, karena sebenarnya kita sedang kontak dengan dunia luar. Hanya saja dunia tempat kita berinteraksi adalah dunia virtual. Bukan dunia fisik seperti yang selama ini jamak diketahui. Kenyataan ini pada ujungnya membuat manusia terbiasa merasakan kehadiran tanpa tubuh, sehingga mulai gagap berinteraksi secara fisik.

Di satu sisi pendapat Hardiman ada benarnya. Tapi di sisi lain tidak bisa dipungkiri media sosial juga berdampak positif terhadap kehidupan manusia. Dengan media sosial kita terhubung dengan seluruh dunia tanpa terhalang ruang dan waktu. Kita bisa terkoneksi secara langsung dengan orang-orang dari berbagai belahan bumi yang lain.

Selain itu, media sosial juga berperan penting dalam dunia industri, sosial, hingga politik, Dulu orang berkomunikasi harus saling mengirim surat dengan waktu tempuh yang lumayan lama. Sekarang manusia bisa berkomunikasi dengan siapa pun, dari belahan bumi mana pun hanya dengan sekali klik melalui media sosial. Itulah ajaibnya media sosial.

Lebih jauh lagi, media sosial bahkan bisa berdampak terhadap penegakan hukum. Hal itu dibuktikan dengan fenomena tagar #noviralnojustice yang belakangan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.  Tagar ini muncul sebagai respons atas banyaknya kasus yang dilaporkan masyarakat kepada kepolisian yang lambat ditindaklanjuti. Sering terjadi, kasus-kasus yang dilaporkan masyarakat baru direspons ketika masyarakat mengspill-up kasusnya di media sosial. Ketika di media sosial nanti ramai dibahas atau singkatnya menjadi viral, barulah penegak hukum bekerja merespons kasus tersebut.

Contoh kasus yang cocok menggambarkan hal ini terlihat dalam kasus kekerasan seksual yang dialami seorang mahasiswi di Jawa Timur, oleh anggota Polres Mojokerto, Bripda Randy Bagus Sasongko. Kasus ini sempat viral berhari-hari hingga membuat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo angkat suara.

Dalam kasus itu, setelah informasi mengenai kronologi kasusnya viral, barulah polisi bergerak menangkap Randy selaku pelaku. Sebelum viral, polisi malah mengabaikan laporan keluarga. Hal demikian tidak terjadi kali ini saja. Setelah heboh kasus Randy, muncul pula kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan seorang ayah di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kasus ini sama seperti kasus Randy, polisi baru bergerak setelah kasusnya viral. 

Hal demikian menjadi bukti bahwa media sosial tidak hanya memiliki dampak negatif seperti yang diungkap Hardiman dan mereka yang sinis terhadap media sosial. Pada kenyataannya, media sosial juga punya dampak positif dalam kehidupan. Fenomena #noviralnojustice  menunjukkan hal itu. 

Selain fenomena #noviralnojustice yang dulu sempat ramai. Sebenarnya banyak pula fenomena sejenis yang juga menunjukan bagaimana pengaruh media sosial dalam mempermudah urusan manusia. Di jagat Twitter, siapapun yang biasa berselancar di sana pasti akan familiar dengan ungkapan "twitter, please do your magic". Ungkapan ini biasanya dipakai oleh seseorang untuk meminta bantuan atas kesulitan yang sedang ia alami atau kesulitan orang lain. Dengan memakai ungkap tersebut, sang pembuat ungkapan ingin memohon bantuan kepada pengguna Twitter lain agar membantu kesusahannya.

Dalam beberapa kasus banyak orang memang berhasil mendapatkan pertolongan dengan ungkapan ajaib tersebut. Ada yang menemukan kucingnya yang hilang akibat memakai ungkapan itu. Ada yang dagangannya laku setelah memakai ungkapan itu. Ada pula yang mendapat pekerjaan hanya karena memajang ungkapan demikian. Banyak contoh dari mereka yang berhasil mendapat kemudahan dengan ungkapan ini.

Lebih jauh lagi malahan ada akun bernama @damirielshirazy yang pada tanggal 11 Februari 2019 mengajak orang-orang untuk membantu renovasi sekolah MTS An-Nur, di Jawa Barat. Dalam twittnya ia menulis, "TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC. Ayo bantu yang punya akses ke Pak Gub @ridwankamil ibu Bupati @adeyasinn tolong bilangin ada sekolah yang sudah kurang layak. Saya terpaksa mempublikasikannya, kebetulan saya mengajar disini @lukmansaifuddin." Cuitan tersebut mendapat jumlah like sebanyak 2325 dan di retweets sebanyak 4562 kali. 

Fenomena di atas, secara tidak langsung sebenarnya seperti membenarkan tesis Yuval Noah Harari dalam buku 21 Lessons for the 21st Century (2018). Dalam buku ini, Harari mengatakan kalau beriringan dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, hal itu akan berdampak pada irelevansi berbagai struktur sosial dalam kehidupan manusia.

Harari menyebut bahwa di era digital berbagai lembaga macam negara, agama, sekolah, hingga birokrasi akan bisa menjadi tidak relevan dalam kehidupan apabila tidak bisa beradaptasi dengan gerak zaman. Kasus kekerasan seksual di Luwu dan Mojokerto menjadi bukti dari hal tersebut. Lembaga keamanan tidak menjadi relevan dipakai sebagai sandaran memperoleh keadilan.

Upaya mendapat keadilan justru didapat ketika kasus ini viral di media sosial. Hal demikian kalau tidak disikapi serius ke depannya, akan meruntuhkan berbagai tatanan sosial yang selama ini telah eksis dalam kehidupan. Pemerintah dan para pemangku kepentingan harus sadar bahwa kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Tidak mungkin kita menghindari revolusi digital. Yang paling bisa dilakukan ialah beradaptasi.

Media sosial pada akhirnya tak ubahnya seperti pisau. Ia bisa berfungsi membantu manusia untuk memotong makanan, bisa pula dipakai untuk membunuh seseorang. Baik buruk media sosial tergantung kita yang memakainya.




Mohammad Rafli Ilham
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.