Keruntuhan Turki Usmani dan Dampaknya bagi Politik Timur Tengah

Keruntuhan Turki Usmani dan Dampaknya bagi Politik Timur Tengah

Turki Usmani dikenang sebagai salah satu kesultanan paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam. Usmani berkuasa kira-kira selama 600 tahun, terhitung sejak 1299 hingga bubar pada 1924 M. Di masa jayanya, Usmani menjadi kekuatan politik menakutkan bagi banyak kerajaan di barat.

Wilayah kekuasaan Usmani meliputi sebagian Asia, Afrika, dan Eropa. Khusus untuk Eropa, Usmani adalah satu-satunya kekhalifahan Islam yang mampu menguasai banyak daerah di Eropa. Besarnya jumlah wilayah yang dikuasai Usmani melampaui yang dulu pernah dicapai oleh Dinasti Andalusia di Spanyol. Di Eropa wilayah teritorial Usmani meliputi Semenanjung Balkan di bagian selatan Sungai Danube-Sava dan daratan tengah Hungaria hingga ke utara.

Asal-Usul Turki Usmani

Turki Usmani berdiri di penghujung abad 13 M dengan Usman 1 (Osman Bey) sebagai khalifah pertama. Sebelum Usman 1 mendeklarasikan Turki Usmani, wilayah yang nanti menjadi daerah kekuasaan Usmani merupakan wilayah kekuasaan Bani Saljuk. Menurut Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit & Runtuhnya Khilafah Usmaniyah (2002), Kesultanan Turki Usmani merupakan keturunan para pengembara yang kabur dari Kurdistan ke Anatolia guna menghindari invasi Kerajaan Mongol. Pemimpin kumpulan pengembara ini adalah Raja Erthugrul dan anaknya Usman.

Setelah rombongan Erthugrul berhasil kabur dari Mongol, mereka lalu bergabung dengan Bani Saljuk dan ikut membantu pertempuran Bani Saljuk dengan Kerajaan Romawi Timur atau Byzantium. Ketika peperangan berakhir di mana Bani Saljuk keluar sebagai pemenang, Erthugrul oleh Sultan Saljuk diberi hadiah sebidang tanah di barat Anatolia yang berbatasan dengan Byzantium. Ia juga diberi keleluasaan untuk meluaskan wilayahnya hingga mendekati Byzantium. Tanah pemberian Sultan itulah yang nantinya menjadi wilayah awal Kekhalifahan Turki Usmani.

Turki Usmani sendiri baru benar-benar berdiri secara terbuka setelah Kesultanan Saljuk runtuh. Erthugrul yang wafat lalu digantikan anaknya Usman untuk memimpin wilayah warisan Saljuk. Di masa Usman inilah Turki Usmani resmi berdiri sebagai pemerintahan di semenanjung Turki. Nama Turki Usmani yang di kemudian hari dicatat sejarah dinisbatkan kepada Usman selaku Sultan pertamanya.

Di masa kepemimpinan Usman, wilayah Turki Usmani yang kecil secara perlahan mulai membesar. Dari yang awalnya hanya berbatasan dengan Byzantium, sedikit demi sedikit mulai mendekat ke wilayah Byzantium. Cepatnya pertambahan wilayah Usmani ini membuat Raja Byzantium gusar. Pertempuran pun tak bisa dihindarkan. Melalui berbagai peperangan yang berhasil dimenangkan Usmani, wilayah Byzantium berangsur-angsur dikuasai.

Usman memerintah hingga wafat pada tahun 1320 M. Sepeninggal Usman, Turki Usmani dipimpin anak Usman yang bernama Orhan. Ketika Orhan berkuasa, ia melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. Ia tetap mendorong pasukan militernya untuk mengekspansi berbagai wilayah lain di sekitaran Turki dan membangun banyak lembaga pendidikan tinggi di sana. Di bawah Orhan, Usmani meluaskan wilayahnya hingga ke Eropa melalui penaklukan Kassovo, Nikopal, dan Galllipoli. Meski sudah berhasil masuk ke Eropa, sampai nanti Orhan wafat, Sultan yang terkenal keras kepada pasukannya ini belum berhasil menaklukan pusat kekuasaan Byzantium di Konstantinopel.

Kendati demikian, Orhan dikenang sejarah berkat prestasinya yang berhasil menaklukan salah satu daerah terkenal bernama Bursa. Orhan berhasil merebut Bursa dari tangan Byzantium dan menjadikannya sebagai ibukota permanen pertama Turki Usmani.

Kemajuan dan Kemunduran Turki Usmani

Turki Usmani mulai memasuki masa kejayaan di era Sultan Muhammad II atau umum dikenal Sultan Muhammad Al-Fatih di abad 15 M. Di masa ini, Usmani merengkuh kemasyhuran karena sukses merebut Konstantinopel dari tangan Byzantium dan menghapus Byzantium dari peta dunia pada tahun 1455 M. Konstantinopel lalu diganti namanya menjadi Istanbul. Kota ini selanjutnya menjadi ibukota baru Turki Usmani hingga nanti bubar di tahun 1924 M.

Puncak kemegahan Usmani oleh para sejarawan dikatakan terjadi di era Sultan Salim 1 pada abad 16 M. Di masa ini, kekuasaan Turki Usmani telah membentang hingga ke Eropa Timur dan sebagian Afrika Utara. Sultan Salim juga berhasil menyatukan beberapa wilayah di selatan Turki seperti Baghdad, Kairo, dan sisa-sisa kekuasaan Byzantium dalam satu kesatuan politik.

Berkat Sultan Salim 1, Turki Usmani menjadi kekuatan politik Islam terpenting di Timur Tengah dan semenanjung Balkan menyaingi banyak kerajaan lain di Eropa macam Inggris, Perancis, dan Jerman. Kejayaan Usmani bertahan hingga abad 17.

Memasuki abad 17, kemegahan Usmani perlahan-lahan memudar. Menurut Ahmed T. Kuru dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021), sebab kemunduran Usmani salah satu faktornya adalah karena para Sultan setelah Al-Fatih tidak menjadikan pengembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang sebagai fokus kebijakan negara.

Kuru mencatat bahwa di abad 15-17 M, berbarengan dengan kegemilangan politik Usmani di banyak wilayah, Eropa sedang mengalami masa kebangkitan ilmu pengetahuan. Saat itu ada tiga teknologi yang berkembang pesat di Eropa sebagai wujud kemajuan ilmu pengetahuan, yakni mesiu, percetakan, dan kompas laut. Dari tiga teknologi ini, Turki Usmani hanya mengembangkan mesiu dalam pemerintahannya. Mesiu di sini maksudnya adalah teknologi persenjataan. Usmani hanya fokus pada pengembangan militer daripada mengembangkan percetakan dan kompas laut layaknya orang-orang Eropa. Itulah sebabnya Turki Usmani tertinggal jauh dari sisi intelektual dan teknologi dengan Eropa. Mereka hanya mampu bersaing pada level militer, tapi menjadi pecundang pada konteks ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya.

Hal ini berbeda dengan kebijakan yang diambil oleh Sultan Al-Fatih. Di masa pemerintahannya, Usmani dibawa untuk tidak hanya mengurusi militer, tapi juga mengurusi seni, filsafat, budaya, dan ilmu pengetahuan. Di era Al-Fatih para ilmuwan, ahli filsafat, hingga pegiat seni dilindungi dan disokong kebutuhannya. Mereka diberi keleluasaan untuk mengembangkan aktivitasnya tanpa ada intervensi dari siapa pun. Bukti atas kondisi itu terlihat dari tindakan Sultan Al-Fatih yang pernah mengundang pelukis Renaisans dari Italia Bellini untuk melukis dirinya. Hal tersebut luar biasa mengingat para ulama sunni ortodoks cenderung melarang penggambaran manusia dan hewan atas dasar agama.

Apa yang dilakukan Al-Fatih tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di masa Harun Ar-Rasyid ketika memimpin Abbasiyah. Harun menyokong para ilmuwan dan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan secara besar-besaran di Abbasiyah. Ia bahkan sampai membuat lembaga ilmu pengetahuan bernama Baitul Hikmah untuk mendukung keinginannya agar ilmu pengetahuan bisa maju di tubuh umat Islam. Inisiasi sang khalifah pada kenyataannya memang membawa kemajuan luar biasa untuk Abbasiyah. Lahir banyak ilmuwan papan atas dalam berbagai bidang kala itu. Abbasiyah selanjutnya menjadi mercusuar peradaban di seantero dunia karena pencapaiannya ini.

Kebijakan yang diambil Al-Fatih dan Harun Ar-Rasyid sayangnya tidak diambil oleh para khalifah Turki Usmani. Sepeninggal Al-Fatih, Usmani memang sangat maju di bawah kepemimpinan Sultan Salim I, tapi kemajuan Usmani cenderung hanya pada sisi militer, bukan pada ranah ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Usmani kalah saing dengan Eropa yang justru sedang pesat-pesatnya mengembangkan ilmu pengetahuan. Faktor di atas diperparah pula dengan tingkah laku para khalifah yang cenderung korup, otoriter, dan tidak punya kecakapan memimpin negara sebesar Turki Usmani. Akibat dari hal ini Kesultanan Turki Usmani perlahan-perlahan memudar pengaruh dan posisinya dalam percaturan peradaban global. Mereka punya wilayah luas tapi tidak memiliki pengaruh yang kuat di seluruh penjuru kekuasaannya.

Hal itulah yang menyebabkan timbul gejolak politik internal di tubuh Turki Usmani yang berusaha mengkritik dan menggulingkan para khalifah karena dirasa gagal memimpin Usmani. Tokoh macam Sayyid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad bin Abdul Wahhab ada pada konteks ini. Mereka berdua sama-sama hidup di saat pengaruh Usmani semakin redup dan sama-sama punya gagasan yang bertentangan dengan tatanan yang telah mapan di Kesultanan Usmani. Episode selanjutnya dari ini semua sejarah telah menuliskan: Turki Usmani runtuh pada tahun 1924 M.

Perang Dunia I dan Keruntuhan Turki Usmani

Sebelum Usmani resmi bubar, wilayah kekuasaan Usmani bukan lagi seperti ketika mereka ada di masa jaya dulu. Sebagian besar wilayah Usmani justru dikuasai oleh negeri-negeri Eropa. Meski begitu, Usmani sebelum runtuh tetap menjadi salah satu kekuatan politik berpengaruh di dunia. Bukti atas hal tersebut terlihat ketika Usmani turun gelanggang dalam Perang Dunia I (PD I).

PD I berlangsung selama empat tahun, tepatnya sejak tahun 1914-1918 M. Dalam buku-buku sejarah umumnya dinarasikan kalau awal mula pecahnya PD I akibat terbunuhnya putra mahkota Austria-Hungaria Archduke Franz Ferdinand pada 28 Juni 1914 oleh teroris Serbia Gavrilo Princip. Padahal, jauh sebelum terbunuhnya Franz Ferdinand, di Eropa kala itu memang sedang terjadi ketegangan di antara negara-negara Eropa. Akar ketegangan ini berasal dari faktor persaingan ekonomi di bidang industri dan militer antara Jerman dengan Inggris. Persaingan di antara dua negara ini kemudian menemukan momentumnya dengan terbunuhnya Pangeran Ferdinand.

Konflik yang awalnya terjadi hanya antara Austria-Hongaria melawan Serbia kemudian meluas menjadi Perang Eropa karena negara-negara Eropa lain turut serta dalam peperangan. Bahkan Amerika Serikat (AS) dan Turki Usmani yang bukan bagian dari Eropa juga ikut turun dalam perang tersebut. Itu sebabnya perang ini tidak dinamakan Perang Eropa karena yang terlibat di dalamnya bukan hanya negara-negara Eropa.

Dalam PD I ada dua kubu yang bertempur, yakni kubu Triple Alliance (Aliansi Tiga) melawan Triple Entente (Entente Tiga). Triple Alliance terdiri dari Austria-Hongaria, Jerman, dan Turki Usmani. Sedangkan Triple Entente terdiri dari Rusia, Perancis, Inggris, Irlandia, AS, dan Serbia.

Perang yang menimbulkan korban jiwa hingga jutaan ini pada ujungnya dimenangkan oleh grup Entente Tiga. Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki Usmani menjadi pihak yang kalah dan harus menanggung dampak perang yang mengerikan. Jerman misalnya, lewat Perjanjian Versailles harus membayar biaya perang, membatasi jumlah dan kekuatan militer, mengaku bersalah karena memicu perang, dan wilayah-wilayah yang dikuasai Jerman harus diberikan kepada sekutu.

Sedangkan Turki Usmani setelah perang berakhir harus rela dikerdilkan kekuasaanya karena wilayah-wilayah yang dikuasai harus diberikan pula kepada sekutu. Inggris menguasai Irak, Mesir, dan Sudan. Perancis menguasai Aljazair, Tunisia, Suriah, dan Lebanon. Italia menguasai Libya.

Menurut KH. Yahya Cholil Staquf dalam PBNU: Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama (2020), dicacahnya wilayah kekuasaan Usmani tidak semata karena faktor kalah perang. Tapi ada unsur dendam sejarah negara-negara barat kepada Usmani. Alasannya ketika Usmani sedang berjaya, Usmani sering mengganggu eksistensi negara-negara barat dengan terlibat pertempuran melawan mereka. Hal demikianlah yang membuat tumbuh semacam keinginan negara barat agar Usmani jangan sampai bisa kuat dan berjaya lagi. Maka dari itu wilayah Usmani dipecah-pecah sedemikian rupa dengan tujuan agar Usmani tidak bisa bersatu kembali dan tidak bisa mengkonsolidasikan kekuatannya seperti sedia kala.

Akibat dari hal tersebut Usmani otomatis hanya berkuasa untuk daerah yang sangat kecil di semenanjung Turki dan sebagian Timur Tengah. Kemegahan Turki Usmani seperti yang ratusan tahun tertulis dalam sejarah berakhir dengan menyedihkan. Turki Usmani resmi bubar pada tahun 1924 M dan berubah menjadi Republik Turki dengan Mustafa Kemal Attaturk sebagai Presiden.

Turki Usmani dan Perubahan Politik Timur Tengah

Runtuhnya Turki Usmani merubah lanskap peradaban Islam di Timur Tengah. Umat Islam yang selama berabad-abad sejak era Kanjeng Nabi Muhammad terbiasa hidup dalam format kepemimpinan tunggal, tidak pernah membayangkan kalau kekhalifahan sebesar Turki Usmani akan runtuh. Umat Islam pun kebingungan dengan situasi yang terjadi.

Di tengah kondisi tersebut, di tahun 1925 M, para ulama dari seantero dunia berkumpul di Al-Azhar Mesir, guna membahas pembentukan kembali kekhalifahan Islam menggantikan Turki Usmani. Dalam pertemuan itu tidak dicapai kesepakatan untuk membentuk ulang kekhalifahan baru. Pasalnya, para ulama yang berkumpul tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan kalau ada kekhalifahan baru, siapa yang akan menjadi khalifah, siapa yang akan membaiat, dan wilayah mana saja yang akan menjadi kekuasaannya. Karena tidak ada yang bisa menjawab, akhirnya para ulama waktu itu sepakat untuk tidak sepakat dengan pembentukan kekhalifahan baru.

Setelah pertemuan Al-Azhar, umat Islam di seluruh dunia terpisah-pisah secara geografis dan sosial-politik. Tidak ada kesatuan tunggal seperti yang selama ini ada dalam sejarah. Umat Islam sibuk dengan dunianya sendiri. Wilayah-wilayah yang menjadi tempat berdiam orang Islam pun dikuasai oleh negara barat. Praktis pasca Turki Usmani bubar, umat Islam yang dulunya berjaya malah jatuh terpuruk.

Berangkat dari situasi di atas, pasca Turki Usmani runtuh bermunculan banyak kelompok di Timur Tengah yang memiliki visi menyatukan umat Islam ke dalam satu pemerintahan sekaligus membebaskan tanah-tanah kaum muslimin dari penjajahan. Berbagai kelompok ini lahir sebagai respon atas kondisi umat Islam yang tercerai-berai akibat ketiadaan pemerintahan induk yang menaungi orang Islam, di samping tentunya faktor penjajahan barat terhadap dunia Islam.

Uniknya sebagian besar dari kelompok ini meski umumnya memiliki maksud yang sama, tapi secara strategi atau cara mewujudkan tujuannya justru berbeda-beda. Tidak jarang malah dari tiap kelompok ini saling serang satu sama lain karena perbedaan tersebut. Jika dipetakan, setidaknya ada tiga corak kelompok yang mewarnai Timur Tengah pasca Usmani bubar, yakni nasionalis-sosialis-sekuler, nasionalis-sekuler-modernis, dan Islamis.

Partai Baath dan Gagasan Nasionalisme Arab

Partai Baath menjadi salah satu contoh dari kelompok yang bercorak nasionalis-sosialis-sekuler. Sebenarnya ada kelompok selain Partai Baath yang juga masuk kategori ini, seperti Partai Komunis Lebanon atau Partai Komunis Palestina. Hanya saja, dari keduanya cuma Partai Baath yang memiliki pengaruh luas tidak di satu negara saja, tapi di banyak negara lain di jazirah Arab.

Partai Baath adalah organisasi politik revolusioner yang berhaluan sosialis-nasionalis-sekuler di Timur Tengah. Pada medio 1940-an partai ini sangat berpengaruh di dunia Arab. Partai Baath berdiri di Irak, Suriah, Mesir, Libya dan beberapa negara Arab lain. Yang terbesar dan paling terkenal ialah yang berada di Irak dan Suriah.

Tokoh penting dari Partai Baath adalah Michel Aflaq dan Shalahuddin Al-Bithar. Keduanya merupakan pendiri sekaligus ideolog dari kelompok ini. Keduanya sama-sama berasal dari Suriah yang uniknya saling berbeda agama. Aflaq beragama kristen, sedangkan al-Bithar beragama Islam.

Partai Baath memiliki gagasan untuk menyatukan negeri Arab ke dalam satu pemerintahan yang berdaulat dan revolusioner. Gagasan ini muncul sebagai reaksi atas imperialisme barat di negeri-negeri Arab dan kekalahan bangsa Arab atas Israel di tahun 1948 M. Partai Baath menginginkan agar bangsa Arab bangkit dari keterpurukan dan bersatu melawan penjajahan barat dalam satu bingkai negara-bangsa. Karena itulah, oleh banyak kalangan, Partai Baath dianggap menjadi wujud nyata dari gagasan Pan-Arabisme atau nasionalisme Arab yang cukup populer di abad 20 lalu.

Partai Baath memainkan posisi penting dalam konstelasi politik Timur Tengah pasca Turki Usmani. Partai ini berkuasa di banyak tempat dan mempengaruhi banyak orang dengan gagasannya yang bisa dikatakan revolusioner. Presiden Irak Saddam Hussain dan Presiden Suriah Bashar al-Assad adalah contoh dua kader terbaik Partai Baath yang pernah dan masih memerintah di negaranya masing-masing.

Yang menarik dari Partai Baath selain idenya soal Pan-Arabisme ialah partai ini tidak membawa napas Islam dalam aspek perjuangannya. Mereka justru mengambil semangat sosialisme, nasionalisme, dan sekulerisme sebagai visi politik. Padahal, selama berabad-abad tanah Arab selalu dikuasai oleh pemerintahan Islam, tapi Partai Baath justru mengambil jalur lain. Mereka meminggirkan Islam sebagai haluan perjuangan dan menjadikan ide-ide di luar Islam sebagai pedoman bergerak. Partai Baath seperti ingin mengesankan bahwa Arab tidak selalu identik dengan Islam. Di Arab ada gagasan dan imajinasi lain yang tidak hanya soal Islam. Hal tersebut jelas sesuatu yang menarik dan baru dalam konteks kehidupan orang Arab yang sebagian besar beragama Islam.

Visi politik yang demikian membuat Partai Baath dimusuhi oleh kelompok lain yang bervisi lebih Islamis. Mereka bahkan dicap antek asing, kafir, dan pengkhianat Islam karena haluan politiknya tersebut. Biar begitu, pengaruh Partai Baath tetap besar dan tetap memainkan posisi penting dalam dinamika politik Timur Tengah pasca Turki Usmani.

Republik Turki dan Sekulerisme Timur Tengah

Kelompok yang bercorak nasionalis-sekuler-modernis diwakili dengan apa yang terjadi di Turki pasca Turki Usmani. Setelah Usmani bubar, Turki resmi meninggalkan model pemerintahan ala Kesultanan Usmani. Sistem politik yang dipilih adalah Demokrasi dengan bentuk negara yang berupa Republik. Mustafa Kemal Attaturk merupakan Presiden pertama Republik Turki, sekaligus orang paling berpengaruh atas transisi politik di tubuh Turki dari Kesultanan menuju Republik modern layaknya negeri barat.

Haluan politik Republik Turki adalah nasionalis-sekuler-modernis. Attaturk menginginkan Turki bisa maju dan modern seperti negeri-negeri barat. Untuk itu ia bersikap keras terhadap segala sesuatu yang dianggap menghambat ambisinya tersebut. Salah satu yang dianggap memperlambat Turki menjadi modern ialah agama. Bagi Attaturk, hadirnya agama dalam kehidupan sosial hanya akan membuat Turki tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Atas dasar hal itu, Turki di bawah kepemimpinan Attaturk mempraktikan bentuk sekulerisme ekstrem yang cenderung anti-agama.

Attaturk tidak berusaha memisahkan mana ruang agama dan ruang publik. Ia justru meminggirkan agama dan melarang semua bentuk simbol agama di ruang publik. Beberapa contoh kebijakan Attaturk yang menunjukan ini dapat dilihat dari larangan azan menggunakan Bahasa Arab dan wajib diganti dengan Bahasa Turki, melarang penggunaan pakaian yang identik dengan satu agama tertentu di ruang publik, dan masih banyak lagi. Tak aneh jika dengan kebijakan demikian, sekulerisme Turki dianggap menjadikan agama sebagai musuh sehingga harus diberangus. Bukan menjadikan agama sebagai sesuatu yang harus dipisahkan peran dan fungsinya dalam masyarakat.

Di sini, sekulerisme Turki berbeda dengan yang dipraktikan di Perancis. Di Perancis agama diletakan pada ruang dan tempatnya masing-masing. Ada pemisahan tegas antara mana ruang yang agama bisa masuk dan mana yang tidak. Sedangkan di Turki, agama benar-benar dipinggirkan dan tidak diberi ruang sedikit pun untuk diartikulasikan dalam ruang publik. Republik Turki adalah simbol utama sekulerisme Timur Tengah layaknya Perancis di Eropa.

Napas perjuangan Republik Turki sama dengan Partai Baath. Keduanya sama-sama bernapas nasionalis dan sekuler. Bedanya Turki secara sosial politik cenderung liberal-kapitalistik, Partai Baath bercorak sosialis dalam visi politiknya. Meski berbeda, keduanya sama-sama tidak menjadikan Islam sebagai komponen penting mengelola masyarakat. Mereka malah menjadikan nasionalisme dan sekulerisme sebagai haluan politik.

Hal ini lagi-lagi unik dan menarik. Setelah Turki Usmani runtuh yang notabennya adalah Kesultanan Islam terakhir warisan era pertengahan yang pernah berjaya, sebagian bangsa Arab malah tidak menjadikan Islam sebagai napas perjuangannya. Mereka justru memilih gagasan di luar Islam sebagai haluan dalam bergerak. Ini adalah fenomena baru dan menjadi bukti perubahan lanskap politik Timur Tengah pasca Turki Usmani runtuh yang tidak ditemukan dalam sejarah.

Ikhwanul Muslimin dan Perjuangan Politik Islam

Kelompok politik yang bercorak Islamis di Timur Tengah jelas banyak. Tapi yang paling awal muncul dan berpengaruh luar biasa setelah Usmani runtuh adalah Ikhwanul Muslimin (IM). IM berdiri di Mesir pada tahun 1928 M. IM menjadi kelompok politik Islam pertama yang berdiri di Timur Tengah di abad 20. Pendiri sekaligus ideolog utama IM adalah Hassan al-Banna. Seorang ulama sunni kontroversial yang oleh KH. Said Aqil Siradj dikatakan cukup moderat seperti ulama-ulama di Indonesia.

Banna mendirikan IM didasari kerisauannya menyaksikan peradaban Islam pasca Turki Usmani yang semakin terpuruk. Banna gelisah melihat negeri-negeri muslim selain dijajah secara ekonomi-sosial-politik oleh negeri barat, juga dijajah secara budaya dan pemikiran dengan barat. Hal itu dibuktikan dengan banyak orang Islam yang kehidupan sehari-harinya jauh dari nilai-nilai Islam, tapi malah berprilaku kebarat-baratan.

Bagi Banna, jalan keluar atas semua permasalahan umat Islam hanya satu; mengembalikan kehidupan umat Islam semata kepada Al-Quran dan Sunnah. Menurut M. Imdadun Rahmat dalam Ideologi Politik PKS (2009), Banna mengajak kepada umat Islam untuk menerapkan syariat Islam dalam realitas kehidupan dan berdiri menentang gelombang sekularisasi di kawasan Arab dan dunia Islam. Di sini Banna tidak berbeda jauh dengan ideolog muslim lain macam Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh yang punya ide serupa. Perbedaan di antara mereka hanya pada sarana mempraktikan ide tersebut. Afghani dan Abduh tidak punya organisasi untuk mewujudkan gagasannya, sedangkan Banna punya IM sebagai alat perjuangan politiknya.

Hassan al-Banna membentuk IM dengan maksud menyatukan umat Islam ke dalam sistem pemerintahan tunggal sekaligus membebaskan tanah-tanah muslim dari penjajahan. Gagasan ini sedikit berbeda dengan Partai Baath yang sama-sama bertujuan mendirikan pemerintahan tunggal di Timur Tengah. Perbedaan di antara keduanya terletak pada corak pemerintahan yang hendak dibentuk. Baath ingin pemerintahan tunggal yang nasionalis dan sosialis. Sedangkan IM ingin pemerintahan yang basisnya Islam. Itulah perbedaan keduanya.

Di awal pendiriannya, IM bergerak secara kultural dengan membentuk banyak forum kajian dan mencetak berbagai publikasi di media massa untuk menyuarakan gagasannya. Cara ini terbukti efektif dan berpengaruh luar biasa di Mesir. Banyak orang tertarik untuk bergabung dengan IM. Di tahun 1930-an, anggota IM yang diawal pendirian hanya terdiri 6 orang, berkembang pesat hingga ratusan ribu. Cabang-cabang IM pun tersebar di seantero Mesir hingga luar Mesir.

Pada saat itu, IM belum terjun secara langsung dalam politik praktis Mesir. IM mulai berubah pola perjuangannya ketika memasuki periode pertengahan 1930-an. Waktu itu, Banna mulai berani secara terbuka mengkritik kekuatan politik lain di Mesir yang dianggap tidak mendukung kepentingan Islam. Banna bahkan lebih jauh pernah menyurati Raja Mesir untuk membubarkan partai-partai Mesir karena dinilai korup dan pro-asing. Pada periode inilah IM mulai bertransformasi dari yang awalnya sebatas kelompok yang fokus pada pembentukan nalar dan kesadaran ideologis para anggotanya, menjadi kelompok yang secara terbuka terjun dalam dinamika perpolitikan Mesir.

Puncak dari ini semua terjadi ketika salah seorang anggota IM membunuh Perdana Menteri (PM) Mesir, Mahmoud al-Nukrashi Pasha tahun 1948. Akibat pembunuhan ini IM digulung oleh pemerintah. Banyak aktivisnya ditangkap karena dituduh berkonspirasi terhadap pembunuhan Pasha.

Banna selaku pimpinan IM jelas menolak tuduhan itu. Kata Banna, IM anti kekerasan dalam perjuangan politiknya. Namun ia tidak bisa membantah kalau memang tumbuh benih-benih radikalisme di dalam IM yang terakumulasi dalam pembunuhan PM Mesir. Ujung dari episode ini Hassan al-Banna dibunuh orang tak dikenal ketika hendak pulang ke rumah pada 12 Februari 1949. Tidak ada yang bisa memastikan siapa pembunuh Banna. Semua serba simpang siur. Ada yang mengatakan Banna dibunuh agen pemerintah. Ada pula yang mengatakan kalau Banna dibunuh oleh musuh politiknya dari kelompok lain.

Selepas Banna wafat, tampuk kepemimpinan Ikhwanul Muslimin dilanjutkan Hassan al-Hudaybi. Di masa Hudaiby, IM tetap menjadi kelompok berpengaruh di Timur Tengah. IM juga tetap menjalankan taktik politiknya yang terbilang radikal. Mereka berani menyerang pemerintah secara terbuka dan mendukung kudeta Gamal Abdul Nasser terhadap Raja Farouk di tahun 1952.

Ketika Nasser berkuasa, IM menjadi dekat dengan pemerintah. Hal ini wajar mengingat sumbangsih IM terhadap Nasser. Namun pada perjalannya, bulan madu IM dan Nasser hanya berlangsung singkat. IM mulai tidak setuju dengan berbagai kebijakan politik Nasser yang sekuler dan sosialistik.

IM lalu gencar mengkritik pemerintah yang disikapi Nasser dengan persekusi. Akhir drama IM dan Nasser terjadi ketika Sayyid Qutb bersama beberapa pimpinan IM lain ditangkap polisi karena diduga terlibat gerakan menggulingkan Nasser. Qutb saat itu merupakan pemimpin sekaligus ideolog penting IM. Pengaruhnya setara dengan Hassan al-Banna ketika ia masih hidup. Dari dalam penjara, Qutb menulis beberapa buku yang sangat berpengaruh bagi dunia Islam berjudul Fi Zilal al-Qur'an dan Ma'alim fi'l-Tariq.

Dalam buku ini Qutb menyebut kalau dunia telah kembali ke era Jahiliyah karena tidak menjadikan aturan Islam sebagai pedoman kehidupan. Bagi Qutb, Al-Quran haruslah menjadi sumber rujukan utama dalam negara. Segala aturan yang tidak merujuk pada Al-Quran harus ditentang dan ditolak. Karena itulah Qutb menolak semua produk pemikiran politik yang berkembang seperti demokrasi, sosialisme, liberalisme, nasionalisme, kapitalisme, sekulerisme, dan isme-isme lainnya. Qutb menyerukan agar umat Islam menggulingkan pemerintahan jahiliyah yang berkuasa dan menggantinya dengan pemerintahan Islam. Pada titik ini, Qutb tidak berbeda secara gagasan dengan Banna. Yang membedakan keduanya hanya pada cara mewujudkan ide masing-masing. Banna cenderung moderat dan anti kekerasan dalam berpolitik. Sedangkan Qutb lebih radikal dan membenarkan penggunaan kekerasan dalam politik. Di luar hal itu, keduanya relatif tidak berbeda jauh.

Tidak lama setelah Qutb menulis dua bukunya tersebut, ia dihukum gantung oleh pemerintah pada 29 Agustus 1966. Meski wafat, pemikirannya tetap berkembang dan berpengaruh luas di kalangan umat Islam hingga hari ini. Ide-ide Qutb bahkan menjadi pijakan gerakan jihad di Timur Tengah pasca kematiannya. Hal ini kemudian berdampak di tubuh IM sendiri yang seperti terpecah antara kubu Hassan al-Banna dan Sayyid Qutb.

Terlepas dari itu, IM menjadi kekuatan penting yang tidak mungkin bisa diabaikan jika melihat Timur Tengah pasca Turki Usmani. Berbagai dinamika politik yang terjadi di Timur Tengah pasca Qutb digantung hampir seluruhnya beririsan dengan IM. Kemunculan Hizbut Tahrir (HT) besutan Taqiyyudin An-Nabhani, Jamaah Takfir wal Hijrah pimpinan Syukri Musthafa, hingga Al-Qaeda bentukan Osama bin Laden tidak ada yang tidak berkaitan dengan IM. Semuanya melibatkan aktivis IM di dalamnya.

Itulah nilai penting IM. Ia menjadi model awal bagi perjuangan politik Islam pasca Turki Usmani yang beraneka rupa dan beraneka bentuk. IM menjadi inspirator atas bagaimana cita-cita politik Islam diimajinasikan dan diperjuangkan. Tanpa ada IM, berbagai gerakan politik Islam kontemporer niscaya tidak akan bisa punya pengaruh besar seperti sekarang. IM menjadi pondasi atas seluruh gerakan tersebut sekaligus menjadi pembeda atas berbagai gerakan politik lain yang meminggirkan Islam dalam perjuangannya di Timur Tengah. IM mengembalikan cerita masa lampau tentang Timur Tengah yang tidak pernah bisa lepas dari Islam. Timur Tengah berhutang banyak kepada IM.

Timur Tengah dan Format Peradaban Baru

Keruntuhan Turki Usmani berdampak pada bermunculannya berbagai kelompok politik di Timur Tengah yang saling bersaing satu sama lain. Berbagai kelompok ini muncul sebagai reaksi atas kekosongan kekuasaan setelah selama berabad-abad Bangsa Arab hidup dalam bingkai pemerintahan tunggal. Atas dasar hal itu, berbagai dinamika yang terjadi di Timur Tengah pasca keruntuhan Turki Usmani bisa dibaca sebagai upaya umat Islam untuk menyusun ulang peradaban baru yang telah porak-poranda.

Seluruh gesekan yang ada di Timur Tengah baik secara pemikiran maupun praktik yang terjadi hingga saat ini adalah bagian dari usaha mencari format baru atas peradaban yang telah bubar. Tidak ada yang keliru dari hal tersebut. Seluruh dinamika yang ada adalah keniscayaan yang tidak mungkin bisa dihindari dan diabaikan oleh umat Islam. Sejarah nanti akan menunjukan ujung dari ini semua. Apakah wajah Timur Tengah akan tetap beraneka rupa seperti sekarang atau akan kembali menjadi wajah tunggal seperti yang dulu pernah tercatat dalam buku sejarah. Hanya waktu yang bisa menjawab.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta