Melihat Dapur Pemerintahan Gus Dur dari Dekat

Melihat Dapur Pemerintahan Gus Dur dari Dekat

Dalam sejarah Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
tercatat sebagai Presiden dengan masa kepemimpinan tersingkat. Gus Dur memimpin Indonesia tidak sampai dua tahun. Terhitung sejak 20 Oktober 1999 hingga akhirnya diturunkan MPR secara politis pada 23 Juli 2001. Meski singkat, pemerintahan Gus Dur dianggap penting karena berada di masa transisi Orde Baru ke Reformasi.

Ketika Gus Dur berkuasa, saya baru berusia lima tahun. Saya tidak ingat apalagi mengerti apa saja dinamika yang terjadi saat Gus Dur memimpin. Yang saya ingat, dulu di era Gus Dur pernah ada kebijakan untuk meliburkan sekolah selama bulan Ramadan. Di luar itu tak banyak yang bisa saya ingat.

Bagi anak muda seperti saya yang ketika kecil tidak mengingat apa yang terjadi di masa pemerintahan Gus Dur, periode kepemimpinan Gus Dur menjadi fase sejarah yang cukup gelap dan misterius dibanding periode Presiden lain. Pasalnya tidak banyak sumber informasi yang cukup gamblang menjelaskan dinamika yang terjadi di masa Gus Dur.

Bandingkan dengan periode Sukarno atau Suharto. Di era keduanya banyak literatur yang membahas jalannya pemerintahan masing-masing. Sedangkan era Gus Dur, relatif sedikit sumber informasi yang membahas secara spesifik bagaimana jalannya kekuasaan Gus Dur. Yang banyak adalah tulisan mengenai biografi Gus Dur dan berbagai cerita lisan dari orang-orang yang hidup di zamannya. Tulisan terkait bagaimana dinamika Gus Dur menjadi Presiden atau apa saja yang terjadi di masa Gus Dur cenderung jarang ditemui.

Hal demikian membuat informasi mengenai pemerintahan Gus Dur cenderung terbatas dan simpang siur. Semua tercecer menjadi fragmen-fragmen yang saling terpisah. Dampaknya para anak muda segenerasi saya umumnya cenderung tidak tahu dengan situasi Indonesia pada saat Gus Dur memimpin. Padahal era Gus Dur ini penting dalam fase sejarah Republik Indonesia. Tidak mungkin Reformasi bisa bertahan hingga hari ini apabila Gus Dur sebagai Presiden di masa transisi tidak meletakan pondasi agar Reformasi itu berjalan.

Berdasar kondisi tersebut, terbitnya buku Menghidupkan Gus Dur (2021), karya AS Laksana patut disambut dengan positif. Buku ini memberi informasi sekaligus melengkapi pecahan puzzle terkait masa kekuasaan Gus Dur yang singkat, misterius dan jarang diulas tersebut. Apa yang termuat di dalamnya, sangat berguna bagi siapa pun yang minim atau buta informasi mengenai bagaimana dinamika pemerintahan Gus Dur. Setidaknya dengan membaca buku ini akan ada sedikit gambaran mengenai bagaimana Gus Dur memerintah dua puluh tahun lalu.

Dalam buku Menghidupkan Gus Dur (2021), AS Laksana menggunakan kacamata KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai orang yang berada di dekat Gus Dur untuk menceritakan sebagian dinamika yang terjadi di periode kekuasaannya. Posisi Gus Yahya penting mengingat kedudukannya sebagai Juru Bicara Presiden kala itu. Dengan posisi demikian, Gus Yahya memiliki informasi dan sudut pandang dari orang terdekat Gus Dur sekaligus orang yang berada dalam kekuasaan secara langsung.

Buku semacam ini terbilang jarang dalam konteks cerita tentang dinamika pemerintahan Gus Dur. Biasanya buku tentang Gus Dur ditulis oleh orang yang berjarak dan berada di luar kekuasaan Gus Dur. Buku Ahmad Suaedy berjudul Gus Dur, Islam Nusantara & Kewargaan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh & Papua 1999-2001 (2018), dan buku Menjerat Gus Dur: Mengungkap Rencana Penggulingan Gus Dur (2020), karya Virdika Rizky Utama adalah contoh dari sekian buku yang cukup populer mengulas masa pemerintahan Gus Dur dari sisi luar istana.

Sedangkan buku yang ditulis oleh orang dekat dan menjadi bagian dari pemerintahan Gus Dur relatif tidak banyak beredar. Sependek pengetahuan saya ada beberapa buku yang ditulis oleh para pembantu Gus Dur di pemerintahan, seperti buku Setahun bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit karangan Mahfud MD (2010), Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013) tulisan A.S Hikam, Presiden Gus Dur The Untold Stories karya Priyo Sambadha (2014), atau Hari-Hari Terakhir bersama Gus Dur (2018) buah tangan Bondan Gunawan.

Seluruh buku di atas menceritakan bagaimana dinamika pemerintahan Gus Dur menurut kacamata orang dalam pemerintahan. Buku semacam ini sangat diperlukan untuk memberi bayangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik dapur pemerintahan Gus Dur. Kehadiran buku-buku seperti ini berguna untuk menggabungkan serpihan dari lukisan tentang pemerintahan Gus Dur yang sebelumnya terpisah-pisah menjadi gambar utuh. Buku Menghidupkan Gus Dur (2021) ada pada posisi demikian.

Buku ini berfungsi melengkapi cerita mengenai bagaimana Gus Dur dan pemerintahannya bekerja dulu. Di dalamnya diceritakan banyak hal menarik yang orang-orang di luar pemerintahan umumnya tidak banyak tahu akan hal tersebut.

Gus Yahya misalnya bercerita, bahwa dulu di awal pemerintahan Gus Dur sempat ada gonjang-ganjing dalam kabinet dan jajaran partai koalisi. Pangkal soalnya adalah tuntutan PDIP kepada Gus Dur agar bersedia menandatangani perjanjian pembagian kekuasaan antara Presiden dan Wakil Presiden. PDIP ingin agar ada dokumen tertulis yang menjelaskan secara detil apa saja wewenang kekuasaan dari Presiden dan Wakil Presiden.

Gus Dur menurut kisah Gus Yahya menolak tuntutan tersebut. Gus Dur menganggap desakan PDIP bertentangan dengan konstitusi. Dalam benak Gus Dur, sistem pemerintahan Indonesia adalah Presidensial. Artinya yang berkuasa penuh ialah Presiden. Wakil Presiden berada pada posisi sebagai “ban serep” dari kedudukan Presiden. Pembagian kekuasaan hanya berlaku antara eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Pembagian kekuasaan tidak berlaku untuk internal eksekutif, dalam hal ini Presiden dan Wakil Presiden. Karena itu, usulan pembagian kekuasaan di antara Presiden dan Wakil Presiden bagi Gus Dur bertentangan dengan konstitusi.

Kisah semacam ini tidak mungkin bakal diketahui orang banyak apabila Gus Yahya dan para pembantu Gus Dur di pemerintahan tidak menceritakannya. Jangankan saya yang ketika Gus Dur berkuasa masih kecil, para orang dewasa yang hidup di zaman Gus Dur pun pasti tidak banyak tahu cerita ini.

Setelah membaca Menghidupkan Gus Dur (2021), saya jadi sedikit tahu akan sisi lain Gus Dur yang tidak banyak diceritakan. Seperti cerita Gus Yahya yang menyebut kalau Gus Dur cenderung pelit kepada para wartawan istana. Gus Dur tidak mau memberi fasilitas apapun kepada wartawan dengan alasan agar tidak ada bias dalam pemberitaan mereka. Gus Dur khawatir dengan pemerintah memberi fasilitas kepada wartawan, mereka menjadi tidak objektif dalam melaporkan informasi. Gus Dur ingin semua informasi diberitakan secara objektif tanpa ada bias apa pun di dalamnya.

Terus terang, saya baru tahu cerita ini. Pikir saya, Gus Dur yang selama ini dikenal sebagai sosok yang santai dan baik kepada siapapun tidak mungkin akan melakukan hal semacam itu. Namun nyatanya saya salah. Gus Dur memang santai dan baik. Tapi untuk urusan yang prinsipil Gus Dur jelas tidak bisa santai dan baik begitu saja. Ia kukuh dan tegas memegang prinsipnya. Ketika ada desakan untuk melakukan pembagian kekuasaan antara dirinya dengan Megawati, Gus Dur tegas menolak karena bertentangan dengan konstitusi.

Penolakan ini wajar mengingat sosok negarawan macam Gus Dur pasti mengutamakan nilai-nilai prinsipil dalam bernegara daripada yang lainnya. Sesuatu yang prinsip ini bagi Gus Dur tidak boleh dikompromikan. Itulah yang terjadi pada wartawan istana. Gus Dur pelit kepada mereka karena khawatir akan mengganggu prinsip jurnalisme para wartawan untuk memberitakan sesuatu apa adanya tanpa ada bias. Di satu sisi apa yang mereka alami ini menyedihkan, tapi di sisi lain itu sangat baik karena memberi pelajaran berharga bagi kita semua untuk tidak sekali-kali menegoisasi prinsip-prinsip dalam hidup.

Menghidupkan Gus Dur (2021) banyak memuat kisah-kisah unik dan jarang terungkap seperti di atas. Bagi saya yang pengetahuannya terbatas mengenai dinamika pemerintahan Gus Dur, membaca buku ini saya merasa terbantu untuk bisa mengenal Gus Dur lebih jauh. Alasannya karena buku ini tidak hanya berisi memoar tentang pemerintahan Gus Dur semata. Tapi di dalamnya juga terdapat penilaian pribadi Gus Yahya akan sosok Gus Dur, baik secara pemikiran maupun tindakannya selama hidup. Saya jadi bisa tahu tentang tingkah laku Gus Dur ketika menjadi Presiden, sekaligus dapat belajar mengenai dimensi pemikiran Gus Dur yang ternyata sangatlah luas melalui kacamata Gus Yahya.

Berbagai cerita dan penafsiran pemikiran Gus Dur dalam buku ini disajikan dengan penulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami. Kesan saya setelah membaca buku ini, saya seperti membaca dokumen masa lalu yang penuh data sejarah tapi anehnya asik dibaca. Tidak banyak buku yang bercerita tentang kisah masa lampau tapi enak dibaca seperti buku ini. AS Laksana berhasil menulis kisah Gus Yahya mengenai Gus Dur menjadi narasi yang menyenangkan dan tidak membosankan. Bagi siapapun yang ingin mengetahui bagaimana Gus Dur menjalankan pemerintahan dan mengambil pelajaran di dalamnya, buku ini sangat layak untuk dibaca.

Identitas Buku

Judul: Menghidupkan Gus Dur

Tahun Terbit: Desember, 2021

Penulis: AS Laksana

Tebal: 158 Halaman

Penerbit: LBBooks



Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta