Detik-detik Menentukan Sebelum Perang Paling Mematikan di Bumi

Detik-detik Menetukan Sebelum Perang Paling Mematikan di Bumi

Perang Dunia 2 (PD2) tercatat sebagai perang dengan jumlah korban jiwa terbanyak dalam sejarah umat manusia. Menurut perhitungan kasar, tidak kurang dari 55 juta nyawa melayang akibat kebrutalan perang yang tidak ada bandingannya dalam catatan sejarah itu.

PD2 bermula ketika tentara Jerman pimpinan Adolf Hitler menyerbu Polandia, pada 1 September 1939. Serangan inilah yang membuat Inggris dan Prancis bersatu melawan Jerman sekaligus membuat dunia jatuh pada era peperangan. 

Dalam PD2, Jerman menjadi kekuatan menakutkan di Eropa. Hampir sebagian besar wilayah Eropa jatuh ke tangan Jerman. Hanya beberapa negara macam Uni Sovyet dan Inggris saja yang mampu bertahan dari pendudukan Jerman. Rahasia mengapa Jerman bisa begitu dominan terletak pada strategi militer yang mereka gunakan.

Jerman menggunakan metode serbuan kilat yang dikenal dengan Blitzkrieg. Inti serangan ini adalah serbuan terkonsentrasi menggunakan kendaraan tempur sebagai penggebrak, ditambah pasukan infantri gerak cepat untuk membendung musuh mengorganisir ulang pertahanan, disertai dukungan kekuatan udara.

Pada masanya, serangan model seperti ini hampir mustahil dicegah dan ditangkal. Semua negara yang menjadi sasaran Blitzkrieg, sebagian besar keok dengan cukup mudah. Menurut pemerhati militer Alif Rafik Khan, Blitzkrieg hingga detik ini menjadi strategi terbaik untuk meruntuhkan pertahanan musuh. Hanya saja, strategi ini butuh peralatan perang dan teknologi canggih untuk membuatnya bekerja mumpuni. Tanpa sokongan peralatan terbaik, mustahil Blitzkrieg dapat berfungsi maksimal. 

Keberhasilan Jerman dalam PD2, di samping karena faktor kejeniusan strategi para pemimpinnya, juga dipengaruhi oleh sokongan peralatan militer termaju di zamannya. Perpaduan dua hal ini membuat Jerman berhasil menguasai banyak wilayah di Eropa dengan sangat cepat tanpa ada perlawanan berarti.

Terlepas dari fakta bahwa Jerman adalah negeri pemantik perang, kekuatan Jerman yang begitu digdaya di awal-awal PD2 menjadi kenyataan yang tidak mungkin bisa diabaikan. Bagaimana mungkin negara yang ketika Perang Dunia 1 (PD1) menjadi pesakitan sekaligus paling dirugikan atas dampak perang, dalam rentang 20 tahun setelahnya malah bisa memulai perang baru dengan kekuatan yang lebih menakutkan daripada sebelumnya.

Bagaimana mungkin negara yang di tahun 20-30-an awal mengalami krisis ekonomi berkepanjangan, dalam rentang belum satu dekade dapat memulai perang yang paling mengerikan dalam sejarah. Kisah bagaimana cara Jerman membangun dirinya dan berubah menjadi negara paling agresif di dunia inilah yang hingga kini belum terjawab secara tuntas.

Satu hal yang pasti, transformasi Jerman yang demikian tidak mungkin terjadi apabila Jerman tidak dipimpin oleh seorang megalomaniak bernama Adolf Hitler. Dialah kunci sukses dalam menjadikan Jerman negeri paling dimusuhi satu dunia di era PD2.

Hitler sendiri pertama kali naik ke tampuk kepemimpinan Jerman pada tanggal 30 Januari 1933. Kala itu, Hitler diangkat Presiden Paul von Hindenburg sebagai Perdana Menteri (PM). Di masa awal pemerintahannya, Hitler menyelenggarakan Pemilu yang menempatkan Nazi sebagai pemenang. Status sebagai pemenang seakan memberi legitimasi kepada Hitler untuk memanipulasi kekuasaan Nazi dalam seluruh struktur kenegaraan Jerman. Hampir tidak ada jabatan politik dan publik yang tidak diduduki oleh Nazi. Mereka yang bersebrangan politik dan ideologi bahkan seperti dibiarkan begitu saja oleh Hitler ketika diserang para simpatisan Nazi.

Kekuasaan Hitler sebagai PM waktu itu sebenarnya belum terlalu kuat. Hitler masih berada dalam bayang-bayang Hindenburg sebagai Presiden. Barulah pada tanggal 2 Agustus 1934 Hitler bisa lepas dari pengaruh Hindenburg. Pasalnya, pada tanggal itu Hindenburg wafat. Setelah sang Presiden wafat, Hitler langsung mengadakan referendum untuk menentukan apakah perlu menyatukan jabatan PM dengan Presiden. 90% rakyat Jerman kemudian menyetujui penyatuan dua jabatan itu menjadi satu. Berdasar hasil tersebut, Hitler secara definitif otomatis menjadi pemimpin tertinggi di Jerman. Ia kemudian menggelari dirinya Führer atau pemimpin mutlak.

Pasca terpilihnya Hitler sebagai Führer, Jerman bertransformasi secara signifikan dalam segala bidang. Dari yang tadinya terpuruk akibat krisis ekonomi dan dipandang sebelah mata oleh negara lain, berubah menjadi salah satu negara paling maju dan disegani di Eropa. 

Puncak keberhasilan Hitler terjadi ketika ia memerintahkan tentara Jerman untuk menginvasi Polandia dan memantik PD2. Hanya dalam tempo lima tahun sejak ia menjadi Führer, Hitler sukses membangun kekuatan militer yang ditakuti di Eropa. Padahal, sebelum Hitler memerintah, kekuatan militer Jerman terbilang lemah di Eropa. Tapi di tangan Hitler, militer Jerman berubah menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Sejarah kemudian mencatat Hitler sebagai orang paling bertanggung jawab atas tragedi memilukan dalam PD2. Tanpa Hitler, PD2 tidak mungkin ada.

Apa yang terjadi pada PD2, kita semua sama-sama tahu; Jerman menjadi musuh sekutu dan harus menyerah pada 1945. Berbagai literatur baik buku atau film banyak yang telah mengulas bagaimana sepak terjang Jerman selama PD2. Yang jarang diulas justru adalah masa sebelum PD2 meletus. Padahal periode ini terbilang krusial guna melihat berbagai dinamika yang berlangsung sebelum perang berkobar.

Dalam konteks tersebut film asal Inggris bertajuk Munich: The Edge of War (2022) menjadi penting dicermati. Film ini mengambil latar waktu pada tahun 1938 atau setahun sebelum PD2 terjadi. Film yang diadopsi dari novel berjudul sama karya Robert Harris ini dengan sangat luar biasa berhasil menghadirkan gambaran bagaimana ketegangan yang terjadi di periode mendekati meletusnya PD2.

Munich: The Edge of War (2022) berkisah tentang Konferensi Munich 1938 antara Jerman, Itali, Inggris dan Prancis. Konferensi tersebut dimaksudkan sebagai upaya pencarian titik temu atas permasalahan yang terjadi akibat tindakan Hitler yang ingin menyerbu Cekoslovakia. Hitler menganggap Cekoslovakia adalah wilayah Jerman yang hilang saat PD1. Serbuan Jerman ke sana, dimaksudkan untuk mengembalikan apa yang mereka anggap memang milik mereka. Inggris dan Prancis yang kebetulan punya pengaruh di Cekoslovakia tidak terima dengan tindakan Hitler. Maka digagaslah pertemuan antar negara yang bertikai atas inisiatif Hitler guna mencari jalan keluar. Pertemuan itu yang kemudian dikenal dengan Konferensi Munich.

Hasil dari Konferensi Munich sendiri seperti tercatat sejarah menghasilkan kesepakatan penghentian agresi Jerman ke Cekoslovakia. Kesepakatan ini disambut meriah oleh berbagai pihak karena berhasil menghindari Eropa dari perang. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana dinamika yang terjadi selama konferensi itu berlangsung. Munich: The Edge of War (2022), menceritakan dinamika tersebut.

Film ini mengemukakan bahwa di balik Konferensi Munich, terdapat gerakan bawah tanah di tubuh pemerintahan Jerman yang ingin menjegal Hitler. Gerakan tersebut berupaya keras menggagalkan pertemuan antara para pemimpin negara Eropa itu. Alasannya, berdasar hasil notulensi rapat antara Hitler dengan petinggi pemerintahannya, disebutkan bahwa Hitler akan tetap menyerbu Eropa cepat atau lambat.

Artinya apapun hasil Konferensi Munich tidak akan membuat ambisi Hitler menguasai Eropa padam. Paling-paling hanya akan menunda perang untuk sementara, bukan malah menghentikan perang. Karena itulah mereka berusaha membatalkan pertemuan tersebut agar dunia mengambil tindakan atas rencana Hitler. Harapannya ambisi brutal Hitler yang mulai tercium itu dapat dihentikan.

Namun sayang, gerakan ini tidak berhasil mencapai tujuannya. Para pemimpin negara Eropa tetap menandatangani kesepakatan meskipun telah diberi informasi mengenai rencana Hitler. Mereka bergeming dan tidak mempercayai informasi dari tokoh gerakan ini. PM Inggris Sir Neville Chamberlain bahkan bukan hanya tidak percaya dengan informasi itu, ia malahan bertindak lebih jauh dengan mengadakan pertemuan khusus antara dirinya dan Hitler.

Dalam pertemuan itu Hitler dan Chamberlain sepakat untuk tidak saling menyerang satu sama lain. Ketika ditanya oleh sekretarisnya bagaimana kalau Hitler melanggar perjanjian, Chamberlain dengan santai menjawab, kalau Hitler melanggar perjanjian, maka dunia akan tahu siapa Hitler sesungguhnya. Pada kenyataannya, yang disebut oleh para oposisi Hitler memang terbukti. Selang satu tahun setelah pertemuan tersebut, Hitler melanggar perjanjian dengan menyerbu Polandia.

Rentetan kisah yang termuat dalam Munich: The Edge of War (2022) menjadi gambaran berharga guna melihat dinamika PD2 secara lebih luas. Dalam film ini, setidaknya terdapat dua pelajaran penting yang dapat diambil dalam konteks detik-detik menuju PD2. Pertama, PD2 bukanlah peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Para pemimpin Eropa sebenarnya sudah bisa memprediksi ambisi dan rencana Hitler sebelum invasi 1 September ke Polandia. Namun mereka seperti menganggap enteng dan berpikiran bahwa Hitler tidak mungkin memantik perang. Padahal tanda-tanda agresi yang bakal dilancarkan Hitler sudah nampak di mana-mana.

Kedua, dalam film kita bisa melihat gambaran nyata dari sikap Inggris dan Prancis yang cenderung lunak dan mengalah kepada Jerman yang dikenal dengan appeasement. Appeasement sendiri adalah sebuah kebijakan diplomasi yang mana di antara negara yang saling bertikai lebih mengedepankan dialog daripada agresi fisik. Inggris dan Prancis sejak keributan di Cekoslovakia tidak mau mengambil sikap tegas terhadap Hitler. Mereka malah mengajak Hitler berdialog. Padahal agenda Hitler sedari awal memang ingin menguasai Eropa. Alhasil terlihat sendiri pada akhirnya. Konflik Cekoslovakia mereda tapi titik perang malah bergeser ke Polandia. Inggris dan Prancis yang dari awal menghindari perang, ujungnya mau tidak mau turun perang melawan Jerman pasca invansi ke Polandia.

Pasca PD1 model penyelesaian konflik model appeasement memang berguna karena ada faktor traumatik akibat perang. Hanya saja bukan berarti hal demikian dapat diterapkan di semua momen. Ada situasi tertentu yang kadang tidak bisa menggunakan dialog dan hanya bisa menggunakan kekerasan atau peperangan. Tan Malaka pernah berkata, tidak mungkin tuan rumah berdialog dengan maling di rumahnya sendiri. Itulah yang harusnya dipegang dalam konteks penyelesaian konflik lewat jalur dialog. Tidak mungkin berdialog atau berdamai kepada mereka yang jelas-jelas berambisi menguasai dunia. Dialog hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sejak awal berkomitmen pada perdamaian. Untuk mereka yang tidak menjadikan perdamaian sebagai tujuan, dialog hanya buang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Kalaupun nantinya bisa berdialog, paling maksimal hanya mampu memperlambat peperangan daripada mencegah dan menghentikan perang.

Dua hal di atas menjadi catatan kunci dalam melihat PD2. Kalau saja boleh berandai, coba saja dulu para elite Eropa tidak terlalu percaya dengan sikap lugu Hitler dalam momen Konferensi Munich, mungkin saja PD2 bisa diantisipasi lebih dini. Kalau saja dulu para pimpinan Inggris dan Prancis tidak terlalu lunak dengan Hitler, mungkin dampak kerusakan yang ditimbulkan Hitler atas aktifitas militernya dapat diminimalisir kalau bukan dihindari. Namun sejarah bukanlah perkara perandaian. Sesuatu yang hari ini dianggap sejarah adalah semua peristiwa yang terjadi bukan karena motif perandaian, tapi karena kalkulasi tindakan oleh para aktor pembentuk sejarah.

Munich: The Edge of War (2022) adalah film yang secara gamblang menghadirkan bagaimana para agen sejarah menghitung tindakannya dalam pengambilan keputusan. Film ini perlu ditonton karena akan memberi visualisasi mengenai saat-saat menentukan menjelang salah satu fase paling penting dalam sejarah umat manusia. Dari film ini, kutipan terkenal milik Ronald Reagen yang berbunyi, "kalau kau ingin damai, maka bersiaplah untuk berperang", menemukan relevansinya. Selalu ada ongkos yang harus dibayar untuk perdamaian. Dan perang adalah biaya yang harus dibayar demi sebuah perdamaian. Tanpa perang, perdamaian hanya ilusi. Begitulah cara dunia bekerja.

  • Judul: Munich The Edge of War
  • Sutradara dan Skenario: Christian Schwochow dan Ben Power
  • Tahun Tayang: 2022
  • Produksi: Netflix
  • Durasi: 123 Menit



Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta