Gus Dur dan Teladan Anak Muda

Gus Dur dan Teladan Anak Muda
Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah di Bengkulu. Sebagian besar keluarga saya adalah Muhammadiyah. Ada yang NU sebenarnya, tapi hanya beberapa. Muhammadiyah dalam keluarga saya cenderung kultural daripada struktural. Dari seluruh keluarga besar, hanya nenek yang ber-Muhammadiyah dalam bingkai organisasi. Nenek saya pernah menjadi ketua Aisyiyah di kampung. Kata ibu, dulu nenek malah sempat pergi ke acara nasional Aisyiyah di Jawa mewakili pengurus kampung. Saya tidak tahu kapan itu terjadi. Ibu saya sendiri sudah lupa kapan pastinya. Namun yang jelas, nenek pernah pergi untuk urusan Aisyiyah.

Meski hanya nenek yang pernah menjadi pengurus, sebagian besar dari kami relatif kompak kalau salat subuh tidak pakai qunut, baca doa iftitah tidak yang awalnya allahuakbar kabiro, tapi allaahumma baa'id bainii wa baina, salat tarawih sebelas rakaat, atau lebih mengikuti keputusan PP Muhammadiyah daripada pemerintah dalam urusan awal Ramadan dan Idul Fitri. Artinya kami ber-Muhammadiyah dalam amaliyah tidak dalam konteks struktural. 

Kondisi demikian sedikit banyaknya berdampak pada pengetahuan saya yang cenderung lebih familiar dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah macam KH. Ahmad Dahlan, Amien Rais, atau Buya Syafii Maarif dibanding tokoh-tokoh di luar Muhammadiyah. Paling-paling hanya Gus Dur tokoh non Muhammadiyah yang namanya lumayan akrab di telinga saya. Itu pun hanya sekilas karena beliau adalah Presiden ke 4 Indonesia dan dikenal sebagai bapak toleransi. Informasi lain mengenai siapa Gus Dur dan bagaimana sepak terjangnya, saya tidak tahu.

Saya baru mulai berkenalan dengan nama-nama tokoh di luar Muhammadiyah justru ketika kuliah di Jogja tahun 2012 lalu. Saat kuliah, saya ikut organisasi yang anggotanya dominan dari NU serta kebanyakan lulusan pondok pesantren. Situasi itulah yang membuat saya akhirnya bisa berkenalan lebih jauh dengan segala sesuatu yang berbau NU.

Selama saya di kampus dan organisasi, Gus Dur menjadi nama yang paling sering disebut. Saya mendengar namanya dari interaksi saya dengan para senior di organisasi. Mereka kerap mengutip kata-kata ataupun rekam jejak perjuangan Gus Dur dalam banyak momen diskusi, ngopi, atau obrolan santai di kantin kampus. Dari sanalah kemudian saya jadi tertarik dengan Gus Dur. Saya penasaran apakah Gus Dur memang semenarik yang diceritakan atau tidak. Saya lantas mencari tahu lebih jauh tentang Gus Dur dengan membaca berbagai tulisannya secara langsung dan tulisan orang lain tentang dirinya.

Manusia Multidimensi

Bagi mereka yang bukan berlatar belakang pondok pesantren atau bukan dari keluarga Nahdliyin, nama Gus Dur biasanya dikenal dan dikagumi sebagai tokoh toleransi dan pejuang HAM. Hal demikian wajar mengingat berbagai gagasan dan sikap Gus Dur sepanjang hidupnya yang memang banyak beririsan dengan isu ini. Salah satu contoh dari hal tersebut adalah keputusan Gus Dur ketika menjadi Presiden dengan mengakui Konghucu sebagai agama resmi negara dan diperbolehkannya perayaan Imlek bagi orang keturunan Tionghoa. Dua keputusan ini menjadi bukti bagaimana komitmen Gus Dur terhadap toleransi beragama dan penegakan HAM. Saya sendiri awalnya juga lebih mengenal Gus Dur sebatas pada konteks tersebut.

Namun setelah saya mencari tahu lebih jauh tentang Gus Dur, pandangan saya mulai berubah. Saya melihat Gus Dur tidak lagi semata sebagai tokoh toleransi dan pejuang HAM. Gus Dur jauh lebih besar daripada hal itu. Kita bisa lihat sendiri dari berbagai sepak terjang Gus Dur selama hidup, entah yang bentuknya tulisan atau aktivisme harian. Dalam konteks tulisan misalnya, dari seluruh tulisan Gus Dur yang kemudian dibukukan, Gus Dur menulis banyak tema di luar konteks toleransi agama dan HAM. Ia pernah menulis soal ekonomi, demokrasi, gender, lingkungan, ideologi, politik, film, budaya, hingga sepakbola.

Pada ranah aktifitas harian pun tidak berbeda jauh. Aktivisme Gus Dur sepanjang hidup sangat multidimensi dan multisektoral. Ia tidak hanya pernah menjabat sebagai ketua umum PBNU, tapi Gus Dur juga pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Ketua Forum Demokrasi (Fordem), hingga juri Festival Film Indonesia. Berbagai aktifitas ini menggambarkan bagaimana Gus Dur tidak hanya bergelut dengan isu toleransi agama dan HAM, Gus Dur jauh melampaui itu semua dengan terlibat dalam berbagai sektor masyarakat. Luasnya dimensi tulisan dan aktifitas Gus Dur menunjukan kapasitas dirinya sebagai seorang pemikir sekaligus tokoh besar di Indonesia. Dari situ, tidak heran kalau sosoknya dikagumi banyak kalangan.

Santai tapi Berprinsip

Dari luasnya dimensi pemikiran dan aktivisme Gus Dur, terlampau banyak hal dari dirinya yang dapat dikagumi dan dijadikan teladan. Bagi yang senang dengan isu toleransi agama dan HAM, Gus Dur pantas dijadikan panutan. Bagi yang senang dengan soal gender, Gus Dur pun layak dijadikan teladan. Saya sendiri kagum kepada Gus Dur dengan segala dimensinya. Bagi saya, Gus Dur adalah sosok yang unik untuk ukuran Indonesia. Sangat jarang ada tokoh nasional yang pola pikir dan cara bertindaknya seperti Gus Dur yang cenderung santai, tidak mainstream, tapi berprinsip.

Hal itu terlihat dari berbagai perilakunya semasa hidup. Ketika Gus Dur menjadi Presiden misalnya, salah satu masalah yang dihadapi kala itu adalah isu disintegrasi di banyak wilayah seperti di Papua. Waktu itu, menurut salah seorang sahabat dekat Gus Dur, A.S Hikam dalam Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013), Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Jenderal (Purn) Wiranto pernah melapor kepada Gus Dur kalau ada pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai simbol Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Gus Dur lalu bertanya, “apa masih ada bendera Merah Putihnya?” Wiranto menjawab ada satu bendera Merah Putih berkibar di tiang tinggi. Gus Dur lalu merespons, “ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.” Wiranto kemudian mengatakan kalau pengibaran bendera Bintang Kejora berbahaya karena secara tidak langsung seperti membenarkan separatisme OPM. Mendengar hal itu, bukannya setuju, Gus Dur malah menegur Wiranto.

“Pikiran bapak yang harus berubah. Apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul. Wong sepakbola saja ada banyak benderanya, masa orang Papua gak boleh punya bendera” kata Gus Dur seperti ditirukan Hikam.

Kisah ini menunjukan uniknya cara Gus Dur mengelola permasalahan politik. Gus Dur tidak seperti kebanyakan elite kala itu yang seperti kebakaran jenggot hanya karena bendera. Gus Dur santai saja melihat bendera Bintang Kejora yang dianggap tidak berbeda jauh dengan bendera klub sepakbola. Sikap santai ini tentu bukan tanpa maksud.

Gus Dur melihat persoalan bendera bukan sebagai persoalan utama yang harus terlalu dirisaukan. Ada hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar bendera dalam kasus konflik Papua. Selain itu, kalau dicermati lebih jauh pertanyaan Gus Dur yang menanyakan posisi bendera Merah Putih sebenarnya menggambarkan prinsip politik yang Gus Dur pegang. Ia tidak mempermasalahkan Bintang Kejora berkibar asalkan tidak lebih tinggi dari Merah Putih.

Di sini Gus Dur menoleransi aspirasi kedaerahan orang Papua dalam bentuk Bintang Kejora dengan batasan tidak boleh lebih tinggi dari Merah Putih. Artinya ada yang bisa dikompromikan ada yang tidak. Itulah prinsip Gus Dur. Ia tidak sekedar membolehkan tanpa dasar dan prinsip. Justru sikap santai yang Gus Dur tampilkan malah penuh dengan prinsip.

Tingkah laku Gus Dur yang demikian dapat dijumpai pula di berbagai bidang lain. Ada sebuah kisah unik tentang Gus Dur yang telah beredar luas di ruang publik yang saya sendiri tidak tahu sumber referensinya. Suatu waktu, Gus Dur pernah ditanya seseorang, “Gus kalau kita mengirim al-fatihah kepada orang yang telah mati, apakah al-fatihah itu diterima?,” Gus Dur menjawab, “al-fatihahnya balik lagi ndak? Kalau ndak balik lagi, berarti diterima.”

Jawaban Gus Dur ini tidak terduga dan nyeleneh. Umumnya seorang ahli agama akan mengutip dalil guna menjawab pertanyaan tersebut. Namun Gus Dur malah tidak perlu mengutip dalil dari kitab suci atau hadist Nabi untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Cukup dengan logika sederhana Gus Dur telah berhasil memberi jawaban yang sulit untuk dibantah.

Gus Dur jelas punya keyakinan bahwa mengirim al-fatihah kepada orang yang sudah mati akan diterima. Tapi cara Gus Dur menjelaskan keyakinannya justru dengan santai dan humoris tanpa menghilangkan substansi yang ia yakini. Ketika hari ini ada kecenderungan umum untuk sering mengutip dalil dalam urusan agama, Gus Dur malah sebaliknya. Inilah hebatnya Gus Dur yang jarang dijumpai pada tokoh lain.  

Teladan Anak Muda

Saya tidak tumbuh dan berkembang sezaman dengan Gus Dur. Ketika Gus Dur menjadi Presiden, umur saya masih lima tahun. Ketika Gus Dur wafat tahun 2009, saya baru kelas 1 SMA. Praktis saya baru benar-benar mengenal Gus Dur pada saat kuliah. Itupun hanya lewat tulisan dan cerita orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Gus Dur. Di samping tentu tulisan-tulisan Gus Dur sendiri yang saya baca. Artinya, ada jarak antara saya dan Gus Dur. Saya tidak melihat dan merasakan bagaimana cara Gus Dur menyikapi sesuatu dengan santai tapi berprinsip seperti yang selama ini orang-orang ceritakan. 

Saya justru tumbuh di era ketika para politisi dan tokoh nasional bukannya menjadi teladan tapi malah menjadi biang kerok. Saya berkembang di periode di mana semua perilaku para elite dengan mudah dapat dilihat dan diawasi berkat perkembangan teknologi digital. Di era ini, anak muda seusia saya dijejali realitas politik dan kenegaraan yang jauh dari prinsip-prinsip kemanusiaan. Yang diutamakan justru kepentingan golongan atau kelompok. Tidak aneh kemudian jika ada kecenderungan di kalangan anak muda sekarang untuk apatis skeptis terhadap politik nasional. Mereka muak melihat tingkah laku para tokoh nasional yang tanpa malu mempertontonkan tindakan saling berebut keuntungan pribadi daripada kepentingan umum.

Para anak muda yang nantinya akan memimpin Indonesia ini, setiap hari diperlihatkan perilaku tidak bermoral para elite negara. Sangat jarang ada tokoh nasional yang secara personal bisa ditiru dan diteladani di era saat ini. Yang jamak malah tokoh politik yang bertindak tanpa prinsip yang sibuk mengejar kepentingannya daripada kepentingan orang banyak. Padahal, di masa depan ketika nanti tiba waktunya, para anak muda inilah yang akan berperan besar dalam gerak negara. Namun jika sejak dini yang dilihat para pemuda justru hanya tentang tingkah buruk para elite, di masa depan bisa saja tingkah para pemuda tidak berbeda jauh dengan yang mereka lihat selama ini. 

Pada titik itulah Gus Dur kemudian menjadi penting. Sosok seperti Gus Dur bisa menjadi penawar dari toxicnya perilaku para elite nasional sekarang. Gus Dur dapat dijadikan rujukan alternatif bagi para pemuda yang tidak hidup sezaman dengannya untuk belajar dan mengambil teladan dalam konteks dewasa ini. Pasalnya, dalam diri Gus Dur terlampau banyak hal penting yang bisa diambil dan dipelajari untuk bekal menyikapi permasalahan keseharian dan kenegaraan. Segala tindak tanduk Gus Dur semasa hidup, baik dalam bentuk tulisan maupun aktifitas sehari-hari, menjadi warisan berharga bagi generasi setelahnya. Masalahnya tinggal apakah kita mau belajar darinya atau tidak. Kalau kita mau belajar dari tokoh hebat seperti Gus Dur, ada harapan masa depan Indonesia akan berbeda dari yang sekarang kerap muncul di permukaan.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta