Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta

Penulis : Endah Larasati

Rumah besar dengan nuansa putih tulang terkesan sepi. Hanya dua orang yang saat ini berada di dalamnya. Dua orang itu adalah sang pemilik istana. Sementara dua orang yang biasa membantu pekerjaan rumah serta pekerjaan lain sudah pulang tadi sore. Iya, dua orang itu datang ketika jarum jam mengarah ke angka tujuh pagi hari dan pulang sekitar jam lima sore.

Sepasang cucu Adam tampak menikmati kebersamaan di ruang keluarga. Sofa berbalut kain cokelat muda lengkap dengan bantal persegi berukuran cukup besar. Ruangan terlihat semakin nyaman dengan karpet tebal cokelat tua. Foto berukuran lebih dari satu meter persegi menempel di dinding menghadap jendela. Di foto itu terlihat dua orang lengkap dengan pakaian pengantin. Sang wanita bergaun putih menjuntai berhiaskan manik-manik dan renda cantik di pinggirnya. Sementara sang lelaki sangat memesona dengan balutan jas dan celana bahan hitam pekat. Senyum bahagia terlukis di wajah dua insan itu.

"Mas pasti capek," ucap seorang wanita seraya membelai lembut rambut lawan bicara.

"Enggak, biasa saja," balas lelaki yang kepalanya sengaja diletakkan di paha sang istri. Tangan lelaki itu kemudian meraih tangan sang istri dan mengecupnya mesra.

Belum ada tiga menit adegan manis itu terjadi, dering ponsel mengoyak suasana.

"Mau ke mana, Sayang?" tanya sang lelaki ketika melihat pergerakan istrinya.

"Ambil ponsel."

"Biarkan saja!"

"Gimana kalau penting?"

Dering ponsel berhenti. Tak berapa lama, benda pipih itu kembali mencari perhatian. Merasa terganggu, akhirnya makhluk Adam berdiri, berjalan menuju nakas tak jauh dari tempatnya semula. Ketika panggilan telah diangkat, lelaki itu sekilas menatap istrinya. Selanjutnya ia berbicara pelan di telepon dan segera mengakhiri pembicaraan.

"Sayang, maaf, ada kerjaan mendadak," tutur lelaki bercelana pendek setelah memosisikan diri di sebelah istrinya.

Wanita berkulit seputih susu mengangkat alis tanda tak mengerti.

"Aku harus mewakili Pak Rusdi, manajer public relation, rapat di Bandung. Istrinya baru saja masuk rumah sakit."

Arista, wanita berparas ayu, mengangguk dan tersenyum. "Iya, enggak apa-apa, Mas. Aku siapkan keperluanmu dulu, ya."

Tangan kekar segera meraih tubuh kecil Arista dalam pelukan. Tepat di sebelah telinga kanan wanita berpakaian rumahan, Bramastyo, sang suami, berbisik, "Cuma tiga hari. Kamis malam aku pastikan sudah di rumah. Sabtu sore kita ke Labuan Bajo."

Seketika Arista menarik diri. "Labuan Bajo? Ngapain? Jauh banget?" 

"Honey moon-lah."

Tak segera menjawab, wanita bermata sayu justru tertawa. Puas mengumbar tawa, ia kembali berujar, "Honey moon itu buat pasangan yang baru nikah, Mas. La ... kita sudah tiga tahun lalu nikah, Mas."

"Enggak boleh protes, aku sudah menyiapkan semua."

Tak ingin berdebat, Arista memilih ke kamar, menyiapkan segala keperluan Bramastyo.

*

"Mbak Rista," panggil seseorang pelan.

Orang yang dipanggil perlahan membuka mata. Meski susah, ia berusaha mengulas senyum. Tangannya pun sangat pelan bergerak.

"Alhamdulillah, Mbak Rista sudah siuman. Tadi sewaktu suami saya hendak mengembalikan kunci mobil, setelah mengantar Mas Bram, Mbak Rista sudah pingsan di lantai depan kamar."

"Bu Sum, makasi, ya. Maaf sudah merepotkan."

"Mbak Rista itu bicara apa?" Wanita yang sudah tiga tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga Arista tersenyum. Sementara suami Bu Sum, Pak Amin, bekerja sebagai tukang kebun sekaligus sopir pribadi pasangan muda itu.

"Oh, iya, tadi saya sudah coba menghubungi Mas Bram, tapi belum dibalas. Sudah puluhan kali saya telepon dan saya kirimi pesan," lanjut Bu Sum.

"Iya, enggak apa-apa. Mungkin Mas Bram masih di pesawat, jadi ponselnya dimatikan. Bu Sum, mataku berat banget, aku tidur dulu, ya."

Lawan bicara Arista menanggapi dengan anggukan.

Sampai pagi menyapa, wanita dengan piama merah muda masih tetap pada posisi yang sama sedari semalam. Tak ada pergerakan sama sekali. Ia pun masih memejam. 

Merasa khawatir, Bu Sum yang sabar menunggui, sedikit ragu berusaha membangunkan. Ia goyangkan pelan tangan sang majikan. Tak sampai satu menit, Arista membuka mata. 

Seperti biasa, senyuman selalu Arista berikan. "Bu Sum, aku baik-baik saja. Oh, ya, kalau Bu Sum mau pulang dulu, silakan."

"I-iya, Mbak," jawab Bu Sum sedkit terbata, sungkan karena telah membangunkan wanita berhati lembut itu.

"Mbak Rista, maaf, saya pulang sebentar, ya. Saya mau masak dulu buat anak-anak di rumah. Habis itu, saya akan segera ke sini lagi."

Usai berpamitan, Bu Sum segera meninggalkan kamar rawat inap VVIP itu. Sepi. Arista seorang diri, menerawang, dan mengingat peristiwa beberapa hari lalu. Waktu itu ponsel Bramastyo berdering berulang-ulang. Sementara sang empunya sedang berada di kamar mandi. Berpikir ada sesuatu yang penting, Arista mengangkat panggilan. Belum sempat ia mengucapkan salam, seseorang di seberang secepat kilat berbicara, "Sayang, buruan baca pesanku!" Usai berbicara, orang tersebut menutup panggilan.

Sesak dada Arista. Pasokan oksigennya tiba-tiba habis. Tangannya pun bergetar. Seorang wanita memanggil sayang untuk Bramastyo.

Sejatinya hal itu bukan pertama kali pengalaman bagi Arista. Tiga tahun berumah tangga, entah sudah berapa puluh kali ia mendapati sang suami membagi hati dengan wanita lain. Namun, tetap saja rasa perih tak terelakkan.

Arista kembali ke dunia nyata. Perut bagian bawah terasa perih, panas, dan sakit. Refleks ia menekan tombol di bagian kepala pembaringan.

Saat Arista menikmati sakit, saat itu pula Bramastyo menikmati waktu dengan seorang wanita. Lelaki dengan baju yang kancingnya tak tertutup sempurna itu,  berasyik masyuk bersama wanita berpakaian kurang bahan yang berada di pangkuannya.

Iya, Bramastyo memang sudah sangat sering berbagi ranjang dan berbagi peluh dengan bukan wanita halalnya. Bukan karena ia tak cinta kepada Arista. Namun, lebih karena ia tak mendapat kebahagiaan di ranjang bersama Arista. Bramastyo lelaki normal, bahkan mungkin hasrat lelakinya melebihi normal. Sementara sang istri tidak mampu melayani. Dua bulan menjelang pernikahan, wanita berlesung pipi itu mendapat vonis mengerikan--kanker mulut rahim. 

Merasa tidak akan mampu membahagiakan suami, Arista sekuat tenaga membatalkan rencana pernikahan. Sekuat tenaga pula Bramastyo mempertahankan dan meyakinkan bahwa mereka pasti akan bahagia. 

Tahun pertama masa pernikahan, penyakit Arista semakin ganas. Ia terpaksa merelakan rahimnya diangkat. Itu artinya ia tidak akan bisa memiliki keturunan. Bukan itu saja, dari hari ke hari kondisi fisik Arista juga melemah. Semakin mudah dihinggapi aneka penyakit.

Di tengah-tengah beradu kasih dengan wanita yang tak jelas statusnya, Bramantyo berusaha beranjak. Wajah murung, tanda tak terima diberikan wanita yang kakinya menjuntai ke lantai.

"Aku lupa menyalakan ponsel sejak kemarin."  Lelaki berkemeja putih menuju meja kecil di sebelah tempat tidur. 

Dua menit setelah dinyalakan, benda persegi panjang itu menampilkan sejumlah notifikasi. Sang empunya mengerutkan dahi. 'Pak Amin dan Bu Sum meneleponku puluhan kali? Ada apa, ya?' gumam Bramastyo.

Untuk menepis curiga, lelaki berdada bidang segera menghubungi sopir pribadinya. Ketika panggilan tersambung, pembicaraan pun terjadi. Wajah kaget ditampilkan Bramastyo. Usai berbincang dengan Pak Amin, ia segera meraih koper di sudut kamar.

Teriakan dari teman semalam tak dihiraukan lelaki yang penampilannya masih asal-asalan itu. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia merogoh segepok uang dan melemparkannya ke tempat tidur.

Bramastyo segera memesan taksi online. Berharap segera tiba di rumah sakit. Kabar dari Pak Amin, kondisi Arista kritis, ia harus dirawat di ICU. Aneka rupa doa dirapalkan Bramantyo, meminta kesembuhan dan keselamatan sang istri.

Di tempat lain, Arista yang tak lagi mampu membuka mata, berjuang keras mempertahankan hidup. Berbagai kabel menempel di tubuhnya. Untuk bernapas pun ia dibantu alat napas. Di antara sadar dan tidak, ia langitkan doa demi kebahagiaan dan kebaikan Bramastyo. Meski berulang kali disakiti, cinta Arista untuk sang suami tak pernah luntur. Bahkan, ia sendiri melewatkan doa untuk diri sendiri. Bramastyolah yang selalu diutamakan.

Sudah lewat empat puluh menit, Bramastyo masih belum tiba di rumah sakit. Sesungguhnya ia tidak keluar kota. Ia masih di kota yang sama dengan istrinya. Semua hanya dalih lelaki itu.

Macet yang menggila menghambat perjalanan, ditambah hujan deras, menambah keruh suasana. Geram, kesal, marah, menyesal, semua jadi satu. Itulah yang dirasakan Bramastyo.

Setelah genap enam puluh menit membelah aspal, akhirnya Bramastyo tiba di rumah sakit tempat Arista dirawat. Langkah seribu jadi pilihan. Gegas ia menuju ruang ICU. Tiba di ruangan itu, kakinya melemah. Terlihat Pak Amin dan Bu Sum berpelukan sambil menangis.

"Pak Amin, Bu Sum, bagaimana keadaan Arista?"

Butuh waktu bagi dua orang itu untuk menghentikan tangis. Selanjutnya mereka menata hati dan menyiapkan kalimat.

"Mas Bram ...." Kalimat Bu Sum terhenti.

"Bagaimana Arista?" tanya Bramastyo penasaran.

"Mbak Rista ...," lanjut wanita tambun itu.

"Mbak Arista sudah dipanggil Yang Kuasa, Mas," sahut Pak Amin.

Tidak siap dengan yang didengar, telinga Bramastyo berdengung, lengkap dengan pandangan yang menggelap. Tubuh gagah itu luruh ke lantai. Matanya masih terbuka, tetapi tak mampu menangkap yang ada di sekitar. Tak ada air mata atau teriakan. Hati Bramastyo terlalu hancur, ditaburi rasa berdosa tak terkira. Saat Arista meregang nyawa, ia justru menghabiskan waktu bersama wanita lain.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04