Harta Karun Sastra dari Tempat yang Jauh nan Gersang

Harta Karun Sastra dari Tempat yang Jauh nan Gersang

Awalnya tak pernah terpikirkan sama sekali di benak saya untuk mengunjungi Mesir lewat karya sastranya. Mesir, sepanjang yang saya lihat dan saya dengar, adalah tempat gersang dan panas, yang kehidupan di dalamnya hanya monoton serta penuh dengan kebosanan.

Salah satu kelebihan, atau bisa disebut sebagai keistimewaan ketimbang negara lainnya, karena Mesir adalah satu-satunya wilayah yang bisa menampung banyak peradaban besar dunia. Atau kata lainnya Mesir adalah wadah utama dan induknya peradaban dunia.

Namun, penilaian tersebut berubah setelah saya membaca buku kumpulan cerpen Najib Mahfuz yang berjudul Bisik Bintang. Buku yang mengambil Kairo sebagai latar utama cerita-cerita yang ada di dalamnya, menguak banyak rahasia tragis dan pilu.

Dibuka dengan cerita pertama tentang “Pengusiran”, adalah langkah tepat untuk membuktikan betapa berharganya karya Najib yang satu ini. Selain itu, cerpen pembuka ini menjadi penanda betapa gandrungnya Najib dengan gagasan visioner dan egaliteriannya.

Di dalam cerpen yang berjdudul “Pengusiran” ini, kita akan melihat fenomena yang kerap kali terjadi pada masyarakat di belahan dunia mana pun yang menganut konsep patriarki. Di mana posisi perempuan selalu tersubordinasi dan penuh dengan upaya yang berdarah-darah untuk menyuarakan keadilan.

Cerpen ini bercerita soal bagaimana seorang perempuan yang ingin mendapatkan haknya dari seorang lelaki yang memilih lari dari kenyataan. Kesombongan dan keangkuhan yang kerap menempel pada seorang laki-laki, dihantam dan dipecundangi oleh Najib dalam cerpen ini.

Hal tersebut yang kemudian menjadikan buku ini layak disebut seperti sebuah harta karun sastra yang (pernah) hilang dari tempat yang jauh nan gersang itu. Dari buku ini saja, kita akan langsung tahu kenapa penulis yang satu ini banyak menuai kontroversi di negara asalnya dan di wilayah Arab sana.

Sebagai sebuah kumpualn teks yang hampir gagal diterbitkan, begitu banyak orang gembira setelah mengetahui buku ini akhirnya bisa muncul kepada para pembaca. Hal demikiran tidak terlepas dari nama besar Najib Mahfuz yang seorang penulis modern dan peraih nobel sastra.

Meski demikian, bagi seseorang yang pertama kali membaca karya Najib, saya tidaklah memperdulikan embel-embel yang melekat semacam itu. Bagi saya, yang terpenting adalah pesan apa yang ingin disampaikan di dalam tulisan, terlepas ia adalah orang tersohor sekalipun.

Membaca buku ini, saya seperti diajak bernostalgia kembali ke tahun-tahun 2000an awal. Di mana cerita-cerita tentang dongeng 1001 malam begitu melekat di ingatan masa kecil saya. Layaknya sebuah buku dongeng, buku ini seakan mampu menyihir dan menyeret para pembacanya untuk benar-benar menyimak alur cerita yang disajikan.

Buku ini memiliki salah satu keistimewaan, yang jika tidak diperhatikan secara seksama, mungkin kebanyakan orang akan luput dan melewatkannya. Keistimewaan dan kekuatan buku ini, bukan terletak dari beragam tokoh utama dari setiap cerpen yang ada. Melainkan diletakkan oleh Najib pada tokoh “Kepala Kampung” yang ada di hampir semua cerpen dalam buku ini.

Sosok Kepala Kampung yang menghiasi hampir seluruh buku ini, adalah gambaran nyata dari beragamnya watak, dan corak sifat manusia. Mulai dari orang yang peragu, orang-orang polos, orang yang terpandang, orang pintar, dan banyak strata kasta lainnya dihadirkan dan diwakili oleh sosok Kepala Kampung.

Salah satu kutipan favorit saya dalam buku ini, dan pesan yang saya rasa punya daya sentak terkuat sekaligus pengingat yang bisa relevan untuk semua orang yaitu; “Jangan tunduk pada kemarahan. Amarah itu merugikan. Kita harus bijaksana. Jika tidak, satu kegagalan akan menjadi dua kegagalan…” (hlm 32).

Buku ini juga mengingatkan saya pada buku Emha Ainun Najib yang berjudul Indonesia Bagian dari Desa Saya. Buku ini, benar-benar menampilkan realita bagaimana kampung yang (terlanjur) urban dan fenomena kampung yang akan beralih menjadi urban terasa begitu dekat dan tidak berjarak.

Apabila kita tarik lebih jauh, buku ini seolah-olah mewakili semangat zaman yang mengunggulkan kecepatan seperti sekarang ini. Di mana kecepatan informasi tidak hanya terjadi dan menjadi milik kota semata. Tetapi kampunglah yang menjadi tempat paling riil untuk melihat bukti segala kecepatan informasi tersebut sudah berlaku dewasa ini.

Terlepas dari berbagai hal metafisik, mistis, sufistik, agamis, dan unsur keilahian lainnya yang terdapat dalam buku ini, saya lebih memilih mengambil semangat rasional yang coba dikobarkan oleh Najib dalam buku ini.

Saya tidak ingin lebih mendalam untuk membongkar pandangan bagaimana kita melihat simbol dan isyarat langit untuk kehidupan yang ada di bumi. Bagi saya, segala hikmah dan pembelajaran yang ada di dunia, semuanya sudah ada tertanam di dunia.

Hanya saja, sebagian besar dari kita terkadang tidak mampu untuk memahaminya. Karena bisa jadi, hikmah tersebut tersembunyi rapat atau terkubur, dan hanya perlu menunggu waktu untuk ditemukan nantinya.

Saya punya pandangan berbeda dari komentar Muhammad Syu’air dalam pengantar buku ini. Tentang semangat zaman yang dijadikan Najib menjadi penentu atau titik tumpu utama alur cerita. Menurut saya, lebih spesifik sebenarnya Najib berusaha untuk membawa semangat perubahan di buku ini.

Semangat perubahan yang coba digagas Najib dalam buku ini, berupaya untuk membongkar paham fundamentalis keagamaan yang ada di sekitarnya. Misalnya ketika perempuan dijadikan simbol berharga dan kehormatan dari sebuah keluarga.

Yang dengan kata lain, menjadi cap untuk melegitimasi serta justifikasi bahwa perempuan bisa diatur sedemikian rupa dan harus berlaku “sebagaimana mestinya”. Pertanyaannya, lantas apakah Najib bisa disebut sebagai seorang feminis?

Sudah banyak kajian yang berusaha menguak fakta tersebut. Dan saya rasa, sah-sah saja dan wajar apabila penggagas semangat feminisme mengkaji lebih jauh karya-karya Najib sebagai bahan tambahan cara pandang dalam melihat persoalan

Walaupun cerita Najib sangat sangat akrab dengan ciri khas dan terbatas oleh gang yang berujung di bawah tanah, tetapi sangat sarat dengan vitalitas realita kehidupan yang mengandung kesadisan sekaligus kepermaian yang tersimpul.

Layaknya sebuah harta karun yang banyak diperebutkan, tetapi pada akhirnya hanya orang yang paling tepatlah yang bisa memperolehnya. Begitu pula dengan buku ini yang mengajarkan kita untuk tidak terlalu tergesa-gesa memercayai dan fanatik buta terhadap sesuatu, sebelum semuanya terbukti dengan jelas.

Judul:Bisk Bintang; Penulis: Najib Mahfuz; Penerjemah: Muasomah; Penerbit: Marjin Kiri, Desember 2020; Tebal: vi + 78 halaman