Banyak Tahu tentang Banyak Hal di Era Banjir Informasi

Banyak Tahu tentang Banyak Hal di Era Banjir Informasi

World Economic Forum (WEF) tahun 2020 lalu menerbitkan sebuah laporan berjudul The Future of Jobs. Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa pandemi Covid-19 dan kemajuan teknologi informasi menjadi momen penting dalam transformasi lapangan kerja di seluruh dunia. Menurut WEF, berdasar survei yang mereka lakukan ke puluhan perusahaan di banyak negara, selama lima tahun ke depan akan terjadi pengurangan sekaligus perluasan penggunaan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi.

WEF dalam laporannya memprediksi kalau di tahun 2025 akan ada 85 juta jenis pekerjaan yang bakal digantikan karena ada pergeseran pola kerja dari yang sebelumnya dikerjakan manusia jadi dikerjakan oleh mesin. Pekerjaan yang hilang menurut WEF akan digantikan oleh sekitar 97 juta jenis pekerjaan baru yang bakal melibatkan manusia, mesin dan algoritma.

Sebelum merilis laporan di tahun 2020 ini, WEF sudah pernah mengeluarkan laporan sejenis pada 2016 lalu. Dalam laporan tersebut, WEF memproyeksikan dalam lima tahun sejak laporan itu dipublikasi akan ada 5 juta pekerjaan yang bakal hilang akibat perkembangan teknologi.

Lima tahun setelah laporan itu keluar, apa yang diprediksi WEF mulai menemukan kebenarannya. Banyak pekerjaan yang dianggap tidak relevan dan tidak efisien telah digantikan oleh tenaga mesin. Satu contoh pekerjaan yang kini hilang adalah penjaga pintu tol. Sekarang sudah tidak ada lagi penjaga tol di seluruh ruas tol di Indonesia. Semuanya telah digantikan oleh tenaga mesin.

Spesialisasi vis-a-vis Generalisasi

Laporan terbaru WEF soal masa depan lapangan pekerjaan penting dicermati karena bisa memberi sedikit gambaran tentang apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Laporan tersebut secara tidak langsung membenarkan pendapat banyak kalangan mengenai era teknologi digital yang meniscayakan adanya kebutuhan terhadap spesialisasi khusus dalam tiap pekerjaan.

Indikasi atas hal itu dapat dilihat dari munculnya berbagai jenis pekerjaan baru yang sangat-sangat spesifik di berbagai bidang. Dalam bidang media misalnya, kini muncul pekerjaan bernama digital media strategist dan digital media analyst. Sedangkan dalam dunia teknologi informatika, muncul search engine optimizer dan user experience designer/front-end developer yang merupakan pembelahan dari posisi yang dulu disebut dengan programmer.

Berbagai pekerjaan ini sebelum tahun 2012 tidak dikenal dalam kerja industri. Tapi berbarengan laju perkembangan teknologi informasi, berbagai pekerjaan baru yang sangat spesifik tersebut justru muncul dan kini menjadi posisi yang dibutuhkan di banyak sektor pekerjaan.

Kenyataan demikian merupakan sesuatu yang tidak mungkin untuk dihindari. Di era seperti sekarang, keahlian yang spesifik lebih diutamakan dalam dunia industri. Banyak sektor ekonomi yang mengedepankan spesialisasi keahlian daripada latar belakang pendidikan formal.

Dulu ijazah perguruan tinggi umumnya dipakai sebagai patokan kemampuan seseorang untuk bekerja. Tapi kini ijazah saja tidak cukup. Dalam banyak kasus, keahlianlah yang diutamakan daripada sekedar ijazah. Seseorang punya ijazah tapi tidak punya keahlian biasanya akan sulit bersaing dalam dunia kerja.

Spesialisasi faktanya memang telah berhasil membawa kemajuan dalam berbagai sendi kehidupan. Banyak pencapaian dewasa ini muncul karena pengaruh spesialisasi tersebut. Hanya saja, seiring berjalannya waktu muncul pendapat alternatif yang berusaha melihat spesialisasi dengan cara lain. David Epstein adalah satu di antara sekian orang yang melakukan hal itu.

Dalam bukunya yang berjudul Range: Mengapa Menguasai Beragam Bidang Bisa Membuat Kita Unggul di Dunia yang Mengedepankan Kekhususan Bidang (2020), Epstein justru berpendapat kalau di masa depan kemampuan yang dibutuhkan bukanlah spesialisasi, melainkan generalisasi. Epstein mendasari argumentasinya pada riset yang dilakukan terhadap para atlet, seniman, musisi, penemu dan ilmuan paling sukses di dunia. Ia menemukan bahwa di berbagai bidang yang cenderung kompleks yang justru unggul adalah generalis, bukan spesialis.

Para generalis menurut Epstein, lebih kreatif, lebih gesit, dan mampu berpikir lebih komprehensif dibanding para spesialis. Ia mencontohkan pada sosok juara dunia tenis Roger Federer. Bagi Epstein, Federer adalah prototipe ideal dari generalis yang berhasil. Sebagai seorang juara dunia siapa yang menyangka kalau sejak kecil Federer justru lebih sering bermain basket, sepakbola, ski, gulat, renang, dan papan luncur dibanding bermain tenis. Padahal, ibunya merupakan pelatih tenis, tapi ibunya sendiri tidak pernah melatihnya tenis. Cara Federer bermain tenis, di mata ibunya cukup aneh dan sering membuat dirinya kesal. Itulah sebabnya mengapa sang ibu tidak tertarik melatih Federer dan malah berusaha menjauhkan tenis darinya.

Federer baru tertarik dengan tenis pada usia remaja. Ketika bermain tenis itu ia baru menyadari bahwa dunianya memang di tenis, bukan di sepakbola, basket, gulat dan berbagai jenis olahraga yang kerap dimainkan saat kecil. Saat ia menemukan keahliannya adalah tenis, jalan hidupnya berubah. Sejarah kemudian mencatat dirinya sebagai salah satu petenis terbaik abad ini.

Melihat kisah Federer yang demikian, lalu muncul pertanyaan apakah olahraga yang dimainkan Federer ketika kecil tidak ada gunanya? Epstein menjawab tidak. Justru kebiasaan Federer mencoba banyak olahraga itulah yang sangat berguna terhadap karir tenisnya. Menurut penuturan Federer sendiri, berbagai jenis olahraga yang ia mainkan telah membantunya mengembangkan kemampuan atletik serta koordinasi tangan dan mata. Kemampuan itulah yang membuatnya berhasil menjadi salah satu petenis terbaik di dunia saat ini.

Kasus Federer menjadi contoh dari bagaimana generalis yang dimaksudkan oleh Epstein. Seorang generalis meniscayakan kemampuan untuk banyak tahu tentang banyak hal dibandingkan para spesialis yang tahu banyak tentang sedikit hal. Para spesialis pastinya adalah ahli di bidangnya masing-masing. Keahlian ini dalam amatan Epstein lingkupnya terbatas hanya pada bidang dan ruang tertentu. Ketika dihadapkan pada situasi yang meniscayakan perlunya kemampuan yang melampaui bidangnya, para spesialis biasanya akan kesulitan untuk beradaptasi.

Sedangkan para generalis, karena mereka terbiasa untuk tahu tentang banyak hal, membuat mereka punya kemampuan lebih saat dihadapkan pada situasi yang kompleks. Walaupun harus diakui pula kalau para generalis punya kelemahan pada sisi lebih lambat dalam proses penemuan keahlian. Para spesialis, karena sejak dini sudah memproyeksikan dirinya untuk berproses di satu bidang tertentu, biasanya waktu untuk sampai ke titik benar-benar menjadi ahli relatif lebih cepat. Sedangkan para generalis biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena harus mencoba banyak bidang terlebih dahulu sebelum menemukan bidang keahliannya sendiri.

Generalisasi di tengah Banjir Informasi

Spesialisasi jelas menjadi keniscayaan karena hari ini kita hidup di dunia yang cenderung bergerak dengan logika spesialis. Namun hal itu bukan berarti pandangan tentang generalis tidak berarti apa-apa. David Epstein justru berpendapat di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan generalisasi adalah sesuatu yang dibutuhkan seseorang agar bisa bertahan dan berhasil.

Dasar argumentasinya; era teknologi digital berdampak secara langsung pada melubernya informasi di antara kita semua. Melubernya informasi di sekeliling kita meniscayakan kehidupan yang semakin kompleks dan tak terduga. Di tengah situasi tersebut, kemampuan untuk tahu banyak tentang banyak hal menjadi kunci agar kita tidak tenggelam dalam derasnya arus banjir informasi. Bagi Epstein, kemampuan para spesialis yang terbatas hanya pada bidang tertentu akan sulit untuk membawa kita bertahan di antara banjir informasi yang sangat luar biasa.

Dalam bayangan Epstein, seorang ahli coding tidak bisa hanya tahu dan paham mengenai dunianya semata. Ia harus tahu dan paham pula mengenai psikologi masyarakat, politik, budaya, ekonomi, dan berbagai bidang lain. Seorang ahli politik tidak bisa hanya sibuk berkutat dengan bidangnya saja. Ia harus pula berinteraksi dengan web programmer, design grafis, artificial intellegence, big data, dan berbagai bidang lain di luar habitatnya sendiri. Itulah yang diinginkan Epstein. Ia menginginkan agar seseorang tahu banyak tentang banyak hal bukan tahu banyak tentang sedikit hal.

Pendapat semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum Epstein menulis Range (2020), Ahli politik Benedict Anderson/Ben Anderson dalam buku a Life Beyond Boundaries (2016) telah menulis pendapat yang tidak jauh berbeda. Menurut Ben, ke depan kajian ilmu sosial butuh pendekatan baru yang lebih lintas disiplin yang melampaui bidangnya sendiri.

Ben melihat bahwa pendekatan lama yang spesifik dan cenderung reduksionis tidak lagi dapat dipakai dalam melihat dunia yang bergerak semakin dinamis, Untuk itu, Ben berpendapat untuk perlu pendekatan baru yang lebih lintas disiplin dan komparatif dalam membaca kenyataan. Artinya butuh pendekatan yang generalis untuk bisa memahami dunia di masa depan. Di sini terlihat, ternyata kebutuhan untuk kemampuan generalis tidak hanya dibutuhkan pada bidang pekerjaan mainstream semata. Dalam dunia akademikpun, rupanya ada gagasan mengenai generalis tersebut.

Terlepas daripada itu, diskursus mengenai spesialis dan generalis ini penting untuk diperhatikan dalam konteks hari ini. Keduanya punya dasar argumentasi serta kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mana pendapat yang tepat hanya waktu yang bisa menjawab. Yang terpenting dari itu semua adalah dialektika terus menerus antar dua bidang ini sesuai konteks zaman. Jangan sampai spesialis mendominasi di zaman yang butuh para generalis dan jangan sampai generalis mendominasi di situasi yang membutuhkan para spesialis. Di zaman yang terus bergerak, hanya perubahan yang selalu tetap.



Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta