Ada yang Tegak, tapi bukan Niat

Ada yang Tegak, tapi bukan Niat


Penulis: Oscar Firstadi (Bang keri)*

Innalillahi wa innailaihi rojiun, telah meninggal nalar berfikir kader PMII dalam berorganisasi, khususnya dalam mengemban satu periode kepemimpinan. Mereka memang berhasil membungkus wacana yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Upaya menggandeng pikiran komunal adalah gagasan terbaik yang diciptakan dalam merumuskan strategi untuk menjawab tantangan hari ini.

Di masa sekarang, kita sering kali kebingungan menyusun formula kaderisasi. Apalagi, kita dituntut untuk selalu berfikir cepat dan tepat, bahkan melahirkan terobosan baru dalam menjawab tantangan hari ini. Upaya menjawab kegagapan dalam beradaptasi tentu patut diapresiasi. Tetapi sayang, itu semua hanya wacana. Wacana yang kita pun tak tahu sampai kapan ada solusi ataupun gerak yang pasti akan semua cita-cita yang sudah tersusun rapi dan sudah seharusnya dipertanggungjawabkan.

Sebagai organisasi, PMII membentuk mentalitas berorganisasi kader yang punya nalar kritis melalui kegiatan yang tetap dibungkus dengan nilai-nilai yang ada. M.Basid, bidang kaderisasi PB PMII, sewaktu kunjungannya di Rayon Pondok Syahadat mengatakan bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa yang berbasis kesadaran. Ya, saya sepakat. Organisasi kaderasi berbasis kesadaran memang menggembleng mental individual kader dalam berfikir, berbicara, dan berperilaku.

Selesainya kader membangun kesadaran tersebut, harusnya kader dapat menikmati dinamika yang ada dalam organisasi. Namun, hari ini terjadi kemandegan dalam memahami manajemen keorganisasian. Saat mendapatkan sebuah masalah, kader masih bingung dalam mencari sebuah solusi atau bahkan rumusan masalahnya itu sendiri.

Kesadaran komunal merupakan step lanjutan dari kesadaran individu itu sendiri. Kesadaran komunal membungkus banyaknya kesadaran individu menjadi satu gerakan yang utuh. Hal ini menjadikan suatu organisasi tumbuh berkembang dan mampu menjawab segala situasi dan kondisi apapun, bahkan dalam situasi terdesak sekalipun. Pembacaan penyusunan gagasan dalam satu forum, misalnya, adalah salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai organisasi dalam membentuk basis komunalitas kader.

Tak hanya itu, melalui banyak mekanisme intelektual, beberapa angkatan juga punya ruang dalam melahirkan satu pandangan yang utuh dan sejalan dengan agenda atau cita-cita yang akan dijalankan. Dari forum ini, kader bisa merasakan tumbuhnya ruang dialektika dan dinamika forum, sehingga dapat memicu nalar intelektual kader untuk berdialog menumpahkan isi pikiran masing-masing.

Semakin ke sini, budaya intelektual tersebut mulai memudar. Semangat untuk melakukan pembacaan yang membahas terkait gagasan atau grand desain terdistorsi. Kini, ia bergeser manjadi pembahasan yang sangat taktis, praktis, dan menghilangkan ruh pada setiap agenda.

Kaderisasi formal dan non formal bukan hanya wujud pengayoman potensi anggota atau kader, melainkan sebagai upaya penguatan mata rantai antara kader baru, kader lama maupun alumni, wabil khusus kader dan pengurus dalam menjalankan mandat organisasi sesuai dengan cita-cita yang diharapkan.

Berbicara terkait organisasi, pasti ada sistem yang mengikatnya. Tiap level kepengurusan memiliki kultur yang sangat variatif dan komprehensif, menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Salah satunya di UIN Sunan Kalijaga yang merupakan kampus berbasis Islam. Ia dihuni oleh mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia, dengan ragam potensi dan progresivitas kader.

Maka dari itu, sangat perlu upaya pengkaderan melalui pendekatan emosional dalam membangun atmosfer kekeluargaan. Salah satu formulanya adalah adanya Korp atau angkatan di setiap tahunnya.

Desain kaderisasi yang sistematis melahirkan bakal calon atau bibit unggul kader yang mampu mengemban amanat organisasi. Sebaliknya, jangan mengharapkan kemajuan jika kaderisasi lahir dari kepentingan politis dan sektoral.

Bisa dipastikan, jangankan untuk bergerak, wacana solidaritas pun hanya menjadi buaian basi. Kelak, mereka akan digiring dengan harapan-harapan yang serba utopis dan mengancam stabilitas suatu organisasi, khususnya PMII. Pergerakan bukan wahana argumentasi, pencetak politisi, ruang refleksi atau si si si yang lainnya. Tetapi, sejauh mana akal logika itu terasa, sejauh mana goresan pena itu bergerak, dan sejauh mana ‘gerak’ perspektif tiap kepala itu terealisasikan.

Untuk mengakhiri gagasan yang rancu ini, maka perlu kiranya sinergitas desain kaderisasi kultural maupun structural yang tidak hanya sebatas paham, tetapi bukti nyata. Tindakan yang sesuai didukung dengan nilai ideologi dan disokong oleh basis kekuatan pengetahuan kultural dan struktural.

 

KARNA KITA MAHASISWA, KITA ISLAM, KITA INDONESIA.

KEMARIN KITA PMII, SEKARANG MASIH PMII. INSYAALLAH ILLA AKHIRI KITA TETAP PMII.

SALAM PERGERAKAN!!!

 

“Pendahulu hebat bukan mereka yang banyak menorehkan prestasi atau prasasti, tapi mereka yang mampu menyiapkan generasi selanjutnya lebih hebat dimasanya.” Bang Kerri.


Sakit jiwa adalah jalan kritik ku terhadap kehidupan ini. Hanya pembual abadi.