Sembako, Oh, Sembako

Sembako, Oh, Sembako

Penulis: Endah Larasati

"Bu, kok, sepertinya tenang-tenang aja. Enggak seperti orang-orang?" tanya lelaki bersarung motif polkadot.

"Maksudnya?" balas wanita berdaster tanpa lengan.

"Itu, lho, Bapak pas buka efbe, kok, banyak ibu rumah tangga yang curhat soal harga sembako. Tadi pas di poskamling juga ada yang cerita kalau pada pusing harga bahan kebutuhan pokok."

"Oalah, soal itu. Sebenarnya hal seperti yang saat ini terjadi bukan hal baru, Pak. Sering terjadi dan bisa disiasati."

Sepasang suami istri itu melanjutkan obrolan soal harga sembako yang tidak hanya naik, tetapi bisa dibilang ganti harga. Bagaimana tidak, minyak goreng yang sebelumnya seharga Rp15.000 per kemasan, saat ini menjadi Rp25 000 per kemasan.

Iya, di negara yang belum maju sepenuhnya serta dilengkapi dua musim, fluktuasi harga bahan kebutuhan pokok sudah semacam kebiasaan. Ketika musim penghujan, sudah bisa dipastikan harga bahan tersebut melambung. Faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap distribusi antarkota, bahkan antarpulau. Belum lagi jika terjadi bencana alam, sudah pasti menjadi kendala.

Bukan hanya faktor musim, hari raya juga berpengaruh. Desember merupakan bulan penting bagi sejumlah penduduk. Akhir tahun hingga awal tahun berikutnya juga merupakan waktu yang digunakan banyak orang melakukan perayaan. Belum lagi momen Imlek hingga Cap Go Meh. Lepas waktu-waktu tersebut, harga sembako akan stabil kembali.

"Ibu sudah antisipasi hal itu?" tanya sang suami sambil membantu merapikan pakaian usai dilipat.

"Sudah, dong!"

"Gimana caranya?" Sang suami penasaran.

"Bayar! Enggak ada yang gratis!" jawab wanita berambut sebahu sambil mengerling.

"Siap! Bapak bayar dengan sembako cintaku kepadamu."




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

Belum ada Komentar untuk "Sembako, Oh, Sembako"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel