Mimpi

Mimpi

Penulis : Endah Larasati

Seorang pemuda terlihat memejam, tetapi tak lelap. Kelopak matanya sesekali bergerak. Kepala juga bergerak ke kanan dan ke kiri. Tak mau kalah, dua kakinya bergantian menjejak seprai. Peluh membasahi dahi serta pangkal lengan yang tak terbungkus kain. Mimpi burukkah ia?

'Aaarrrggghhh!' Pemuda itu berteriak, dan seketika terduduk. Napasnya tersengal-sengal semacam usai maraton.

'Ya Tuhan, cuma mimpi, tapi rasanya seperti benar-benar terjadi.' Pemuda berkaus kutung itu mengusap kasar wajahnya. 

Gegas ia menuju kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur. Tak berapa lama, terdengar ponsel yang berdering. Deringan berlangsung beberapa menit. Namun, diabaikan si empunya.

'Siapa, sih, pagi buta begini nelepon?' gerutu pemuda dengan sisa air di wajah.

Masih menyisakan kesal, ia menggeser layar ponsel yang baru saja ada notifikasi pesan masuk.

[Tolong usahakan datang ke rumah Ibu, ya.]

'Ke rumah Ibu? Ini, kan, masih gelap, jam empat saja belum ada.' Pemuda itu bermonolog.

Meski belum paham sepenuhnya dengan isi pesan yang diterima, pemuda berambut belah tengah segera bersiap-siap. 

Sebelum meninggalkan rumah, ia sempatkan mengirim pesan untuk seseorang.

[Mah, maaf, hari ini aku belum bisa pulang. Barusan ibunya Wulan memintaku untuk ke rumahnya.]

Beberapa detik selepas pesan terkirim, layar benda pipih berubah gelap. Habis daya. Sebelum benar-benar pergi, pemuda itu menyambar secepat kilat charger yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Roda empat yang dikendarai pemuda berwajah oriental melaju dengan kecepatan tinggi. Jalanan masih lengang, pas untuk menambah kecepatan. Belum genap enam puluh menit perjalanan, mobil menepi, lalu berhenti. Pengendali kemudi turun, selanjutnya memasuki rumah ibadah. 

Usai menuntaskan kewajiban dua rakaat, pemuda tampan kembali membelah jalanan.

Tiga puluh menit berikutnya, mobil memasuki sebuah gang. Semakin masuk, gang itu semakin sempit. Akhirnya mobil terparkir di sebuah lapangan. Sementara pemiliknya berjalan menuju ujung gang.

Sepi dan dingin. Mentari belum sepenuhnya terpampang. 

"Mas." Sebuah suara menghentikan langkah pemuda berambut lurus. Ia menoleh ke sumber suara.

"Wulan?" jawab pemuda itu heran.

"Iya, Mas, kok, nadanya heran begitu? Aku Wulan, calon istrimu? Kamu kira aku hantu? Demit?" Gadis berlesung pipi itu tertawa.

"Kapan kamu pulang? Katanya siang nanti baru balik dari Jakarta? Ngapain kamu jam segini keluar rumah? Dari mana? Oh, ya, kenapa celana kamu kotor?" Pemuda itu mengarahkan pandangan ke celana lawan bicara.

"Mas Adit, kalau tanya itu satu-satu, jangan diborong semua seperti itu?"

Mereka tertawa berbarengan.

"Aku belum lama pulang. Ada sesuatu yang ketinggalan di sana, jadi aku keluar rumah." Wulan menjelaskan sambil menunjuk satu arah.

"Karena aku buru-buru, aku terpeleset, jatuh, kotor, deh, celanaku," lanjut Wulan.

Adit mengangguk tanda paham. "Oh, iya, tadi Ibu mengirimkan pesan. Beliau memintaku datang, memangnya  ada apa? Tumben, pagi buta beliau menghubungi."

"Em, anu ... mungkin ...." Wulan menggaruk kepala yang tidak gatal.

Adit mengangkat alis. Ia tidak mengerti kalimat Wulan yang tidak jelas, berharap gadis itu menjelaskan. Sementara gadis yang dimaksud hanya tersenyum.

"Wajah kamu pucat. Kamu sakit?" Adit mengulurkan tangan, bermaksud menyentuh pipi Wulan.

Gadis bermata belok mundur. Ia berusaha menghindar. Namun, pada saat bersamaan, tangan sang kekasih mengenai punggung tangan Wulan.

"Tanganmu dingin sekali?" Adit heran sekaligus khawatir. "Ayo, kita segera ke rumahmu. Kamu pasti kecapekan." 

Pemuda berkemeja biru langit hendak meraih tangan pujaan hatinya. Namun, gadis itu kembali menghindar. 

"Pakaianku kotor, Mas, tadi habis jatuh. Aku juga belum sempat mandi, bau asem." Mereka berdua tertawa.

Pembicaraan pun menemani langkah mereka. Iya, mereka membahas pernikahan yang akan dilangsungkan tujuh hari lagi. Mereka juga membicarakan pertemuan mereka tiga hari lalu di Jakarta. Waktu itu Adit sengaja menemui Wulan untuk menjemputnya. Akan tetapi, Wulan belum bersedia pulang. Ia berdalih ingin menghabiskan beberapa hari bersama teman-temannya. Hal itu dikarenakan tiga hari sebelum menjadi istri, ia resmi resign dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halaman.

"Wulan, kenapa jalanmu semakin pelan?" tanya Adit menoleh ke belakang. 

Gadis yang tadi sejajar dengan Adit, langkahnya memelan sehingga mereka berjarak. Bukannya menjawab, Wulan hanya tersenyum. 

"Mas Adit jalan duluan." Dagu Wulan terangkat, isyarat agar Adit mengikuti kemauannya.

"Kamu mau ke mana?"

Tak ingin dibantah, Wulan mendorong punggung kekasihnya. "Nanti aku nyusul."

Tanpa menoleh, Adit menggeleng, tetapi mengikuti perintah yang diterima. Beberapa meter berjalan, pemuda berkulit putih itu berhenti. Matanya memastikan penampakan tak jauh dari tempatnya berdiri. Beberapa orang hilir mudik di rumah joglo. Rumah yang lebih dari tiga tahun menjadi rumah kedua Adit. Rumah sang pujaan hati, Wulandari. Di pagar rumah itu telah terpasang bendera hitam. Tampak dua orang sedang memasang papan tulis tak jauh dari bendera hitam.

Langkah yang tadi bertenaga, secara tiba-tiba terasa berat, hilang daya. Berat, sungguh berat Adit melanjutkan langkah. Kakinya benar-benar terpaku di bumi ketika penglihatannya menangkap tulisan WULANDARI. Iya, di papan itu tertera bahwa Wulandari telah berpulang pada tanggal 25 Oktober 2021, pukul 23.00 WIB.

Adit layaknya patung, berdiri tanpa gerak, tanpa kata, dan diliputi segala rasa hancur yang tak mampu dieja.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

Belum ada Komentar untuk "Mimpi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel