Menolak Tabu dan Membongkar Stigma Melalui Musik

Menolak Tabu dan Membongkar Stigma Melalui Musik

Penulis: One_Day*

Abnormalitas sering dihakimi sebagai sebuah keanehan yang tidak layak berada di tengah-tengah kerumunan. Seperti abnormalitas pada umumnya, orang-orang yang mengaku dirinya sebagai “normal”, selalu merasa lebih tahu dan berhak untuk menilai serta menghakimi persoalan abnormalitas ini.”

Musik metal selalu punya tempat tersendiri di hati saya. Genre musik yang memiliki kesan agresif juga penuh teriakan ini, biasanya selalu didengarkan oleh laki-laki dan menonjolkan sisi kejantanan serta maskulinitas. Tidak jarang, musik metal menjadi seperti obat penenang untuk sebagian pendengarnya.

Namun sayangnya, kesan musik metal di Indonesia sendiri sudah terlanjur dianggap sebagai perlambang dari golongan orang yang urakan. Identik dengan kekacauan, dan menentang aturan, adalah sisi lain ketika orang-orang menilai musik metal.

Nyatanya begitulah fakta yang terjadi di Indonesia. Musik kerap dinilai hanya berdasarkan seberapa banyak jenis orang yang menikmatinya. Bukan berdasarkan esensi musik itu sendiri. Selain itu, musik lebih sering dianggap sebagai hiburan semata, tanpa boleh ada unsur yang mencampuri di dalamnya.

Sama halnya dengan aktivitas makan dan meminum kopi, banyak dari kita enggan untuk tahu asal-asul makanan dan kopi yang akan kita konsumsi. Kita hanya lebih sering menilai enak dengan tidaknya, yang penilaiannya hanya berdasarkan selera semata.

Ada sebuah fakta menarik jika kita bicara soal musik, khususnya musik metal yang ada di Indonesia. Fakta menarik tersebut datang dari baratnya tanah Jawa, lebih tepatnya kabupaten Garut.

Dari kabupaten ini, muncul sebuah grup band metal yang semua personilnya adalah wanita berhijab, dan nama grup bandnya adalah “Voice of Baceprot”. Bagi yang belum kenal apalagi pernah mendengar band yang satu ini, pasti akan bertanya-tanya di mana letak keunikan band tersebut?

Dari namanya, Voice of Baceprot sendiri sudah mengandung sebuah abnormalitas jika ingin dikaji secara cermat. Abnormalitas yang saya maksud adalah penggabungan 2 suku kata berbeda sekaligus, yang jarang sekali digunakan untuk menamai sebuah band di Indonesia.

Voice of Baceprot yang berarti “suara berisik”, dianggap banyak orang—yang mengenal band ini—sebagai sebuah ciri khas dari aliran musik yang mereka bawakan. Akan tetapi, saya secara pribadi punya penilaian berbeda terkait filosofi nama yang mereka pilih.

Seperti yang sudah saya singgung, Voice of Baceprot memiliki sebuah keunikan bukan hanya soal penampilan personilnya yang berada di luar taraf kenormalan selama ini. Kalau boleh jujur, ide mereka untuk menamai sebuah band saja, sejujurnya tidak akan tuntas jika dibahas dalam tulisan pendek ini.

Saya hanya akan menyampaikan secara umum pandangan saya soal arti nama band mereka. Bagi saya, “suara berisik” yang dimaksud di sini bukan hanya soal representasi musik yang mereka bawakan.

Lebih jauh dari itu, saya menganggap bahwa mereka benar-benar ingin mendobrak ketabuan yang ada di dunia musik itu sendiri. Coba pikirkan, bukankah musik adalah suara berisik itu sendiri? Kenapa hal ini kemudian ingin ditegaskan dan dijadikan nama sebuah band?

Saya punya keyakinan kalau Voice of Baceprot sudah menghela napas yang dalam, dan bersiap untuk menjadi petarung di dunia musik. Petarung yang saya maksud bukanlah soal popularitas yang akan dicapai. Melainkan pertarungan dalam dominasi dan penentuan siapa yang berhak menilai musik itu sendiri.

Bagi saya, popularitas bukanlah ukuran prioritas untuk menyukai sebuah musik. Saya malah secara pribadi lebih menyukai musik yang cenderung teman-teman sekitar saya kurang atau tidak menyukainya. Prinsip saya adalah bahwa keren itu beda, dan beda itu harus keren.

Dengan kata lain, sebenarnya saya secara tidak langsung menolak hal-hal mainstream. Berlaku sama pada umumnya hanya valid untuk urusan hukum dan kemanusiaan semata bagi saya. Di luar hal itu, semua orang berhak dan bebas mengekspresikan dirinya.

Saya juga tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana kita ketika menilai orang lain. Hal tersebut saya temukan di Voice of Baceprot.

Buat yang belum tahu perjalanan band satu ini— sampai sebelum terkenal seperti sekarang—pasti tidak akan menyangka bahwa nama mereka akhirnya bisa mendunia. Hal tersebut nyatanya juga diakui oleh para personil Voice of Baceprot.

Bagi mereka yang awal merintis karir selalu diremehkan, dicemooh, dan diledek serta mendapatkan bentuk perendahan lainnya, pastinya tidak akan sempat membayangkan bahwa dunia musik repot-repot untuk mengenal nama mereka hari ini.

Untungnya mereka dekat dengan orang-orang yang tepat. Meski lingkungan sekitar waktu itu tidak mendukung mereka—dan seperti menilai bahwa mustahil mereka bisa berhasil nantinya—tentunya ada orang-orang baik yang terus mendukung mereka dari belakang.

Menurut mereka, yang terpenting adalah tetap bisa bermain musik sambil menyuarakan sesuatu yang mereka anggap benar dan sah-sah saja. Meski terkesan melawan arus, tapi terbukti bahwa mereka sudah dekat dengan yang namanya keberhasilan.

Saya tidak ingin menyebut bahwa mereka hari ini sudah berhasil. Tentu mereka juga punya standar keberhasilan sendiri. Itulah mengapa saya hanya menyebut bahwa mereka sudah mulai mendekati yang namanya berhasil.

Voice of Baceprot bisa dianalogikan sebagai seorang pengelana yang berhasil melewati badai. Ketika ada badai yang tak sekadar datang—tapi juga benar-benar menghantam—mereka lebih memilih menghadapi badai tersebut ketimbang berteduh.

Seperti yang pepatah bilang, bahwa “jangan harap bisa melalui badai, jika yang kau lakukan hanya berteduh”. Melalui badai di sini bukan hanya mementingkan keselamatan semata, tetapi juga mampu menjadi lebih baik dari sebelum badai itu datang.

Apa yang Voice of Baceprot lakukan adalah mendorong batas dan melamapaui kekurangan. Mereka tidak hanya sekadar berkarya secara cerdas, tetapi juga cergas! Sebab orang yang cerdas belum tentu cergas, tetapi orang yang cergas bisa dipastikan sudah pasti cerdas.

Selagi tidak menyalahi aturan dan melanggar norma hukum, saya rasa mereka akan tetap berkarya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan saya untuk mengagumi band yang satu ini. Mereka sedari awal tidak pernah memedulikan omongan serta penilaian orang lain.

Saya jadi teringat dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ketika membincang Voice of Baceprot (VoB). Hanya saja bedanya, VOC adalah penjajah yang coba memeperbudak negara lain, sedangkan VoB adalah pendekar yang coba merombak stigma yang sudah memperbudak pandangan di dunia musik hari ini, khususnya aliran musik metal.

Sebuah fakta menarik lainnya sebelum membahas lebih lanjut Voice of Baceprot adalah aliran musik band ini sendiri. Jika banyak yang menilai bahwa band satu ini hanyalah sekadar band metal atau rock saja, maka penilaian tersebut tidaklah tepat.

Voice of Baceprot sendiri bisa disebut sebagai sebuah fenomena baru dalam dunia musik. Selain penampilan para personilnya yang memakai hijab—yang tentunya sangat bertolak belakang dengan ciri musik metal itu sendiri—band ini adalah wadah dari 3 aliran musik yang punya segmen pendengar masing-masing.

Ya, Voice of Baceprot adalah sebuah band yang mengakomodir aliran musik metal, funky dan hip dalam satu wadah sekaligus. Band di Indonesia yang memiliki ciri sama persis dengan Voice of Baceprot belum ada sampai saat ini. Bisa dikatakan bahwa mereka menjadi salah satu aktor yang sangat visioner dalam dunia musik, dan belum tentu ada lagi yang seperti mereka dalam kurun waktu setengah abad ke depan.

Entah apa yang menginspirasi dan menjadi rahasia mereka, sehingga bisa memadukan 3 aliran ini sekaligus. Yang jelas, sampai saat ini saya belum berhenti terpukau dengan cara pikir mereka yang umurnya jauh terpaut di bawah saya.

Jika ada yang menilai bahwa cara pandang saya ini kurang atau bahkan tidak objektif sama sekali, mari kita bahas apa yang menjadi alasan saya sehingga punya penilaian seperti itu.

Melihat fenomena anak muda hari ini, yang marak dan lekat dengan unsur hedonisme, pragmatis, serta pola pikir yang instan, wajar jika mengatakan Voice of Baceprot menjadi angin segar dan role model baru yang menyadarkan banyak kalangan.

Hampir semua lagunya berkesan untuk saya pribadi. Mulai dari liriknya, filosofi lagunya, hingga tujuan atau sasaran yang mereka incar melalui sebuah lagu. Lagu-lagu Voice of Baceprot tidak pernah lepas dari kritik sosial, dan kebanyakan berangkat dari pengalaman pribadi mereka yang juga dirasakan oleh banyak orang.

Mulai dari lagu “Perempuan Merdeka Seutuhnya”, yang mengkritik bagaimana seorang perempuan selalu terbelenggu oleh dogma-dogma yang ada. Dalam lagu ini, tergambar jelas bagaimana seorang perempuan, harus berada dalam aturan yang sebenarnya tidak pernah mereka sepakati dan dipaksakan begitu saja.

Kesan perempuan yang harus anggun, tidak boleh berontak, dan surga bagi seorang perempuan adalah ketika mengikuti anggapan laki-laki, dihantam keras dan coba ingin dibongkar Voice of Baceprot melalui lagu ini.

Lagu ini kemudian mengingatkan saya dengan banyak perjuangan yang dilakukan oleh para perempuan di tanah air. Mulai dari perjuangan perempuan di Kendeng yang menolak tanhanya diambil untuk dijadikan pabrik, ibu-ibu Kulon Progo yang mempertahankan tanah yang menjadi sumber penghidupannya selama ini, sampai dengan perjuangan para perempuan yang ada di Bali ketika menolak Reklamasi Teluk Benoa.

Sebagaimana perjuangan para perempuan tadi, yang mempertahankan lingkungan mereka selama ini, saya rasa Voice of Baceprot secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari perujangan perempuan itu sendiri.

Meskipun beda wilayah yang diperjuangkan, tetap saja Voice of Baceprot punya tujuan yang sama dengan para perempuan tadi. Yaitu menyampaikan apa yang menurut para perempuan adalah suatu kebenaran, dan pemberlakuan kesetaraan dalam hal apa pun yang seharusnya layak diterima oleh para perempuan.

Selanjutnya lagu “School Revolution” yang mencoba mengkritik sistem kurikulum pendidikan yang ada. Berangkat dari pengalaman mereka yang menyukai musik, tetapi dianggap bukan sebagai sebuah kegiatan yang berfaedah, menjadikan mereka untuk menciptakan lagu ini.

Bagi mereka, minat seorang siswa atau murid sekolah tidak bisa hanya dibatasi dengan kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, bahasa, dan cerdas cermat semata. Musik adalah bagian dari minat seseorang yang tentunya tidak bisa diremehkan begitu saja.

Tujuan mereka dalam lagu ini, ialah mengkritik bahwa tugas sekolah adalah mendidik para siswa atau murid untuk berlaku adil sejak dalam pikiran. Bukan malah mengkotak-kotakkan dan membatasi cara seseorang untuk mengekspresikan dirinya.

Berikutnya lagu “Rumah Tanah Tak  Dijual”, yang menyoroti bagaimana eksploitasi dan komersialisasi lingkungan sudah berada pada taraf yang ekstrem. Berangkat dari pengalaman mereka sewaktu kecil yang bisa bebas kapan saja untuk bermain bahkan boker di sungai, tetapi sekarang harus membayar tiket untuk sekadar melihat sungai tersebut.

Bagi mereka, lingkungan itu diperuntukkan kepada semua orang, bukan hanya untuk orang-orang yang punya uang dan mampu membayar. Apa yang mereka soroti dalam lagu ini sejalan dengan betapa parahnya kondisi lingkungan yang masih belum banyak orang sadari. Dari sini saja, pantas kiranya apabila saya menyebut mereka sebagai orang-orang yang berpikiran visioner.

Terakhir, ada lagu terbaru mereka yang berjudul “God, Allow Me (Please) to Play Music” yang membuat saya sering senyum sendiri ketika menghayatinya. Bagaimana tidak, lagu ini adalah sebuah karya sarkas yang keren sekaligus elegan bagi saya.

Sebagaimana yang sering diulang-ulang dalam agama Islam, bahwa manusia itu sejatinya hanya boleh berharap kepada Tuhan semata. Dalam lagu ini, tampak dengan jelas dan mewakili diri mereka yang awalnya seakan tidak diizinkan untuk bermain musik.

Padahal, mereka hanya manusia biasa dan sama dengan orang kebanyakan yang mencintai music. Mereka bukanlah penjahat, musuh banyak orang, apalagi koruptor, tetapi kenapa lantas mereka seperti dilarang untuk bermain musik?

Bagian yang paling mengena ketika saya mendengarkan podcast mereka sewaktu diundang oleh Gofar Hilman adalah, saat mereka menceritakan bahwa mereka pernah diledek sebagai pemain rebana atau personil kasidah. Selanjutnya waktu mereka diremehkan karena mereka perempuan, dan diakui kualitasnya sudah bagus untuk ukuran perempuan!

Saya yang mendengar pernyataan tersebut tersulut emosi dan hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ternyata fenomena semacam itu juga berlaku dalam dunia musik, dan salutnya saya, mereka tetap pede untuk tampil ketika itu.

Satu hal yang membuat saya bangga sekaligus merasa bersyukur, adalah fakta bahwa guru Bimbingan Konseling (BK) mereka adalah orang yang hebat, sekaligus punya peran yang besar atas keberhasilan mereka sampai saat ini.

Dari apa yang mereka sampaikan ketika diundang Gofar Hilman, saya seakan tidak percaya bahwa ada guru BK seperti Ersa Eka Susila Satia. Ia tidak sekadar menjadi guru BK yang punya pandangan bahwa murid yang tidak sesuai pada umumnya adalah murid yang bermasalah.

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan jurusan Bimbingan Konseling, saya sangat sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Ersa Eka Susila Satia. Saya juga yakin kalau orang seperti beliau adalah spesies langka, dan hanya ada 1 berbanding ribuan orang lainnya yang pernah mengenyam jurusan Bimbingan Konseling.

Ersa Eka Susila Satia atau yang akrab disapa Abah oleh personil Voice of Baceprot ini, menurut saya adalah sosok panutan yang patut dicontoh oleh banyak orang. Cara pandangnya yang berbeda sebagai guru BK-lah, yang secara tidak langsung membentuk Voice of Baceprot hari ini.

Selain punya peran luar biasa dalam menggubah lagu-lagu Voice of Baceprot, sosok Abah adalah orang yang berhasil. Sebab, minat dan cita-cita musik yang ia wariskan kepada personil Voice of Baceprot, hari ini sudah menuai hasil. Meski begitu, dari penuturan personil Voice of Baceprot, sosoknya tetaplah sederhana, bahkan ia menjadi lebih keras dari sebelumya untuk mendidik Voice of Baceprot menjadi lebih baik lagi.

Apa yang dilakukan oleh Voice of Baceprot, ialah sebenar-benarnya upaya untuk menolak tabu dan membongkar stigma melalui musik. Menurut saya, perjuangan Voice of Baceprot bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak pernah menyerah atas keadaan. Bagi orang yang akan tambah semangat dan tertantang ketika diremehkan, saya pada akhirnya hanya bisa mengucap syukur bisa tahu Voice of Baceprot. Tentunya, saya juga punya harapan dapat bertemu mereka suatu hari nanti jika umur dan kesempatan mengizinkan.


*One_Day (Lereng pegunungan Kendeng)

Belum ada Komentar untuk "Menolak Tabu dan Membongkar Stigma Melalui Musik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel