Kuharap Kau Kembali Pulang

Kuharap Kau Kembali Pulang

Penulis:
Barokatus Sya*

Hujan semalam masih menyisakan gerimis pagi ini. Langit yang biasanya biru cerah, tertutup  mendung yang tidak tahu kapan akan memudar. Awan dilihat masih terlalu pekat. Jadi, belum ada tanda hujan akan berhenti. Sesekali kilat menyambar meski tidak terlalu terang, disusul guntur yang tak sampai menggelegar.

Aku masih membujuk Rafki, putraku yang berusia empat tahun untuk mau makan. Agar bisa meminum obat setelahnya. Mengingat sudah dua hari ini sakit. Suhu badannya naik beberapa derajat, dan beberapa kali muntah, membuatku khawatir.

“Pak Tentara harus kuat untuk bisa menerbangkan pesawat,” bujukku agar Rafki mau membuka mulut untuk suapan kedua.

Ya, Rafki bercita-cita ingin menjadi tentara angkatan udara. Semenjak bisa bicara dengan lancar, putraku itu ingin jadi tentara. Keinginan anak yang seringkali berubah-ubah, tetapi tidak dengannya. Rafki ingin bisa menerbangkan pesawat, pergi ke mana-mana menggunakan burung baja tersebut.

“Besok kalau Lafki sudah bisa menelbangkan pesawat, Lafki akan mengantal Bunda ke lumah Eyang menggunakan pesawat,” celotehnya terus-menerus, jika anaknya sedang dalam keadaan sehat. Tentu saja dengan cadel, mengingat ia belum bisa mengucapkan huruf R dengan jelas.

Sekarang Rafki sedang sakit, jadi aku yang harus banyak bicara.

“Supaya kuat, Rafki harus makan,” kataku.

Lagi-lagi putraku hanya menggeleng. Aku masih tidak kehilangan akal.

“Pak Tentara tidak boleh sakit.”

“Ayah kapan pulang, Nda?” tanya Rafki tidak memedulikan rayuanku.

Aku baru ingat kalau kuotaku habis semenjak kemarin. Tidak terpikir untuk mengisi ulang di konter terdekat, karena sibuk mengurus Rafki. Pun saat kemarin aku membawanya ke dokter, tidak sempat mampir sebentar ke konter yang dilewati, karena Rafki sungguh sangat rewel.

Jadilah, aku belum memberi kabar kepada suami, jika Rafki sedang sakit. Barangkali ayahnya mengirimkan pesan, dan belum bisa kuterima sebelum aku mengisi kembali kuota.

“Ayah kan kerja, baru juga kemarin lusa berangkat,” jawabku.

“Lafki mau Ayah,” rengeknya.

Kalau tidak dituruti, aku yakin sebentar lagi Rafki akan menangis. Kalau yang sudah-sudah, kami akan melakukan video call bila beruntung ayahnya mendapat signal. Namun, kali ini aku tidak ingin mencoba, karena yakin tidak akan tersambung meski ayahnya dapat signal. Aku yang sedang sial karena kehabisan kuota.

“Bunda lupa mengisi kuota. Bagaimana kalau nanti hujan sudah reda, kita keluar untuk membeli kuota, terus telepon Ayah.” Lagi-lagi aku membujuk.

Ibu selalu punya seribu satu cara untuk merayu anaknya agar mau makan dan tidak menangis. Kulihat Rafki mengangguk.

“Tapi, terlebih dahulu Rafki harus makan,” lanjutku. Anakku masih belum membuka mulut. “Nanti Ayah sedih, kalau jagoannya yang ingin jadi tentara sakit.”

Baru Rafki mau membuka mulut. Tanpa membuang waktu, segera saja kusuapi.

Setelah makan dan meminum obat, akhirnya Rafki tertidur. Akibat kelelahan dan nyaris semalaman tidak tidur, membuatku memutuskan ikut tidur.

***

Aku terbangun saat mendengar pintu luar diketuk berulang. Terdengar sayup-sayup orang-orang berada di luar pintu. Sesekali mengucap salam disertai suara yang lain memanggil namaku.

“Mbak Dini ...

“Assalamualaikum.”

“Ya, waalikum salam,” jawabku.

Kulihat Rafki masih tertidur. Segera kuberanjak untuk membuka pintu, sebelum orang-orang di luar kembali mengetuk.

Aku terperanjat kaget dengan banyaknya tetangga yang berbondong-bondong datang berkunjung ke rumah. Sampai suara Bu Dewi masuk ke telinga, membuatku terpaku, syok, tidak percaya, dan mendadak lidahku kelu.

“Kami datang untuk mengucapkan belasungkawa atas musibah yang menimpa Ayah Rafki, suami Mbak Dini.”

“Musibah?”

Hanya kata itu yang ke luar dari bibirku. Masih tidak mengerti arah pembicaraan beliau. Aku menatap satu per satu ibu-ibu yang berdiri di belakang Bu Dewi. Beberapa dari mereka sedang menyeka air mata.

“Berita di TV mengabarkan jika suami Mbak Dini menjadi salah satu korban tenggelamnya kapal Nanggala.”

Kali ini duniaku seolah runtuh. Bumi tempatku berpijak seakan bergerak hebat, hingga membuatku bergetar. Bu Dewi dengan cepat memegangiku agar tidak sampai jatuh. Mencoba membibingku untuk duduk disalah satu kursi di ruang tamu.

Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mataku. Pandanganku mengabur, akibat air mata yang kian menganak sungai. Bu Dewi menggenggam erat tanganku, sesekali mengusap punggung tanganku yang terus bergetar, guna menguatkan.

“Mbak Dini, ini minum dulu.” Salah satu Ibu mengambilkanku minum.

Pikiranku masih menyerap informasi yang disampaikan Bu Dewi. Suamiku memang sedang bertugas menjadi salah satu awak kapal di kapal Nanggala. Kemarin lusa pamit hendak berangkat ke perairan Bali. Sekarang, Bu Dewi memberitahu jika kapalnya tenggelam.

“Ya Robbi, ya Tuhanku.” Dalam hati aku terus menyebut Asma Allah guna menguatkan diri sendiri.

Karena Rafki tengah sakit, aku tidak sempat melihat berita di TV. Pun tidak bisa mengakses berita lewat hp karena kebetulan sedang kehabisan kuota. TV menyala hanya menayangkan film kartun yang disukai Rafki.

“Astaghfirullahal ‘adzim.” Lafal itu berulang kali ke luar dari bibirku disertai dengan air mata yang terus menetes dan tidak tahu kapan akan berhenti mengalir.

“Mbak Dini yang sabar, ya!” Suara Bu Fatimah terdengar.

Aku menutup mata dengan kedua telapak tangan, sambil menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Pikiranku jauh menerawang, membayangkan suamiku, sambil terus berharap akan keselamatannya. Sampai suara Rafki mengembalikan kesadaranku,

“Bunda,” rengeknya.

Wajah pucatnya langsung tertangkap saat aku membuka mata. Rafki langsung berhambur kepelukan dan memelukku erat. Aku yakin, Rafki merasa takut sekaligus bingung dengan banyaknya orang yang datang mengunjungi rumah kami, dan sekarang tengah mengerubungi kami.

***

Kursi ruang tamu sudah dipindahkan ke luar, digantikan dengan karpet berwarna merah yang terbentang menutupi lantai. Karangan bunga berjajar rapi di sepanjang pagar rumah ke rumah tetangga.

Silih berganti tetangga dan juga kerabat datang mengucapkan duka mendalam setelah diumumkan jika kapal tempat suami bertugas, benar-benar tenggelam dan semua awak kapal dinyatakan gugur.

Aku hanya duduk diam di atas karpet dengan Rafki yang duduk di pangkuanku, terus memelukku erat.

Ingin sekali aku berteriak, guna menumpahkan sesak yang terasa menghimpit dada. Namun, hal itu justru akan membuat putraku yang telah menjadi yatim ini akan semakin ketakutan. Di kelilingi banyak orang yang tidak ia kenal sudah membuatnya takut dan tidak mau ikut siapa pun.

Dalam diam, kami saling menguatkan, meski kutahu Rafki tidak tahu mengapa rumahnya tiba-tiba didatangi banyak orang. Datang dan pergi silih berganti.

Tak terhitung banyaknya pengharapan untuk bisa ditemukan kembali suamiku. Pun jika memang harus pergi, semoga amal ibadahnya diterima dan surga menjadi tempatnya kembali. Purna sudah tugasnya mengabdi pada Ibu pertiwi.

***


*Pemenang lomba cerpen JKN tahun 2021 sebagai penulis potensial dalam rangka HUT BPJS Kesehatan ke- 53 yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Buku pertamanya berjudul Kita: Ketika Ingat Tentang Dia. Bisa dihubungi lewat Facebook: Barokatus Sya dan Instagram: @barokatus_sya