Akkadia dan Puisi Lainnya

Akkadia dan Puisi Lainnya

Penulis:
Agus Sanjaya

Asmaralta

Tabel satuan arbitrati masih menyiksaku dengan keji. Saat pasangan kekasih bernama Alfa dan Beta mengumbar cinta. Penjara fungsi konsumsi masih rapat terkunci, lalu untuk apa Sigma x dan y mengganggu cinta yang masih mengakar? Sebab kedengkian telah menjalar ke relung hati. Koefisien determinasi mulai bergejolak. Kekuatan Sigma x dan y berhasil menghancurkan peradaban. Sungguh malang, cinta Alfa dan Beta telah tertidur dalam kedamaian.

17 November 2021

Kodaminasi

Saat angin malam membelai pipi koefisien determinasi. Sigma x mulai membagi kasih dengan buah hatinya. Kini, ia tak hanya beristri. Tetapi juga melahirkan jutaan angka. Saat korelasi kesalahan menjelma pembunuhan paling sadis. Menghancurkan taraf signifikansi yang dibangun bangsa ini. Ha mulai ditolak dari peradabannya. Tak ada lagi pengaruh kematian paling sunyi. Mata Sang Pemburu nan rabun, kini berkunang-kunang bagai lampu usang jalanan. Ia bermimpi mengerikan, angka-angka beterbangan tiada henti.

18 November 2021

Suryapala

Saat penyair tersesat di dunia X dan Y, P dan Q, Alfa Beta, serta Delta Gamma. Ia tak pernah lagi menemukan pondok damainya. Masa remaja yang penuh lempar cinta, malah dihabiskan untuk mengenal sel tumbuhan. Dia bukanlah dokter. Bukan juga ahli botani. Untuk apa mengenal nama aneh itu? Semua akan sia-sia. Lalu sang penyair kembali berlayar, memahami struktur ginjal, kandung kemih. Juga muara uretra. Saat dewasa, penyair terdampar di pantai putus asa. Memahami inflasi negara, perpajakan, dan permainan kecil manusia.

20 November 2021

Akkadia

Sang penyair menapaki tanah Mesir. Mencari kitab jiwa, dengan mendaki bukit tandus berbatu, granit dan kapur. Ia juga harus menyelami dalamnya laut Amonesh. Saat sinar purnama menembus celah bebatuan. Gerbang kuil suci mulai terbuka. Mereka meraih kitab jiwa, membunuh panglima yang memegang Taring Anubis. Pedang sakti yang ditempa dengan jiwa manusia. Saat kekuasaan menjadikan seseorang buta. Menghancurkan seluruh negeri terlalu biasa. Kesatria membebaskan umat tidak berdosa. Sang penyair menang sekali lagi, bertahta di atas puisinya.

21 November 2021



Agus Sanjaya, lahir di Jombang, 27 Agustus 2000. Ia sering mengikuti lomba cipta cerpen dan puisi secara online. Buku pertamanya berjudul Akar Kuning Nenek, dan buku keduanya berjudul Lima Sekawan terbit di Guepedia tahun 2020. Saat ini ia tengah sibuk kuliah, mengirimkan karya ke media, dan menimba ilmu di COMPETER Indonesia. Untuk lebih dekat bisa menghubungi agussanjaya270800@gmail.com atau instagram agussanjay27.