Tentang Bapak, Sepakbola, dan Waktu yang Tidak Mungkin Diputar Kembali

Tentang Bapak, Sepakbola, dan Waktu yang Tidak Mungkin Diputar Kembali

Sejak kecil saya sudah terbiasa untuk menonton sepakbola, baik itu di layar kaca atau langsung di stadion. Kebiasaan ini terbentuk karena keluarga dan lingkungan tempat saya tinggal yang memang menggilai sepakbola.

Bapak saya adalah penonton setia sepakbola, khususnya sepakbola Indonesia. Saya ingat, saat zaman Liga Indonesia masih berbentuk Divisi Utama, hampir tiap sore saat akhir pekan, bapak akan duduk di depan layar TV untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Pada momen itu, saya biasanya ikutan nimbrung juga bersama bapak.

Bapak bukanlah tipe penonton yang fanatik terhadap satu kesebelasan tertentu. Ia menyaksikan pertandingan bukan karena fanatisme, melainkan murni karena kesukaannya akan sepakbola. Semua pertandingan yang disiarkan, asal ia tidak sibuk, pasti ia tonton.

Meski demikian, bapak juga punya tim yang ia sukai. Tim itu adalah Semen Padang dan PSP Padang. Kesukaannya kepada dua klub itu hanya sebatas suka, bukan sampai taraf fanatik seperti yang kebanyakan terjadi di tubuh anak muda saat ini.

Menyukai Semen Padang dan PSP Padang menurut saya wajar karena bapak adalah orang Padang. Kedua klub itu punya kenangan tersendiri bagi masa kecil bapak saat ia di Padang dulu. Saya masih ingat, bapak pernah bercerita kalau Stadion Haji Agus Salim yang menjadi markas kedua klub itu, merupakan tempat bapak bermain sepakbola bersama teman-temannya semasa kecil dulu.

Kata bapak, letak stadion dengan rumah kebetulan memang dekat sehingga bermain di stadion memang sudah menjadi kebiasaannya. Karena letaknya yang dekat, menurut penuturan bapak, tidak jarang ia menonton pertandingan kedua tim itu di sana. Dari situ saya tidak heran kalau bapak menyukai kedua klub tersebut meskipun prestasinya jalan di tempat.

Bapak bukan tipe penonton sepakbola yang kalem saat menonton. Tidak jarang bapak akan mengumpat apabila ada peluang di depan gawang yang seharusnya goal, tapi malah gagal. Sekali waktu misalkan ada pemain yang bermain jelek, bapak selalu mengeluarkan suara khas yang saya sangat sulit untuk menggambarkannya di sini. Suara tersebut biasanya akan terkombinasi dengan kata-kata dari bahasa Padang. Biasanya kata-kata dari bahasa Padang ini keluar waktu bapak menonton pertandingan dengan temannya yang juga dari Padang.

Saya hanya bisa tertawa melihat polah bapak dan temannya ketika mengomentari pertandingan. Entah mengapa percakapan mereka selalu menarik untuk didengar. Bahasa Padang bagi saya seperti punya daya magnet tersendiri. Tiap saya mendengarnya saya selalu tertarik dan selalu mendengarkannya dengan seksama.

Entah karena faktor darah saya yang memang setengahnya berasal dari Tanah Minang atau karena saya yang tidak dibesarkan di Padang, saya sendiri tidak tahu. Hingga sekarang, tiap ada orang berbicara dengan bahasa Padang saya selalu tertarik dan kadang senyam-senyum sendiri mendengarnya.

Kebiasaan bapak mengumpat saat menyaksikan pertandingan sepakbola juga tertular kepada saya. Seperti bapak, saya pun akan berteriak kesal ketika ada peluang yang gagal dikonversi jadi goal. Saya pun akan mencemooh pemain yang tidak benar mainnya. Kebiasaan ini tidak hanya saat menonton di TV, tapi waktu menonton langsung di stadionpun saya akan bertingkah serupa. Menurut saya hal tersebut wajar sebagai bentuk ekspresi kita terhadap sesuatu. Penonton sepakbola di seluruh duniapun saya kira akan bersikap seperti itu pula. Tinggal kadar ekspresinya saja yang berbeda.

Menonton Bola di Cibinong

Saya sejak lahir hingga lulus SMP tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor. Di kota inilah pengalaman saya dengan sepakbola terbentuk. Bila Padang bagi bapak dianggap kota tempat kenangannya bersama sepakbola muncul, bagi saya Cibinong adalah kota kenangan saya untuk sepakbola. Di kota ini pengalaman menyaksikan sepakbola baik dari layar kaca maupun secara langsung pertama kali saya alami.

Menyaksikan pertandingan sepakbola melalui layar kaca biasa saya lakukan bersama bapak. Sedangkan menyaksikan pertandingan secara langsung, biasanya saya lakukan bersama teman-teman di lingkungan tempat saya tinggal.

Saya ingat, waktu itu saya masih SD kelas empat, ketika saya bersama teman-teman sebaya pergi ke stadion menyaksikan pertandingan Persikabo di Stadion Persikabo. Waktu itu Persikabo masih bermain di Divisi Satu. Divisi Satu adalah liga yang satu tingkat di bawah Divisi Utama. Pertandingan itu sayangnya saya lupa Persikabo menghadapi siapa. Saya pun lupa itu tejadi di tahun berapa.

Yang saya ingat, saya berangkat bersama teman-teman sekitar 6-7 orang. Kami berjalan sekitar satu kilometer dari kampung tempat kami tinggal, menuju jalan raya untuk naik angkot ke stadion. Karena itu adalah pertama kalinya saya menonton di stadion, saya berangkat tidak menggunakan atribun apapun. Saya hanya memakai kaos, celana panjang, dan sandal. Sedangkan teman-teman saya semua kompak memakai atribut lengkap seperti baju, topi, hingga syal berwarna hijau-kuning khas Persikabo. Teman-teman saya ini sudah biasa menonton sebelumnya, sedangkan saya baru kali pertama menonton di stadion.

Setelah naik angkot sekitar 10 menit, kami tiba di stadion. Seingat saya suasana di sekitar stadion saat itu sudah mulai ramai oleh kehadiran penonton, petugas keamanan, dan juga para pedagang yang berjualan di sekeliling stadion. Para pedagang ini terdiri dari pedagang minuman, makanan, dan pedagang atribut klub-klub sepakbola. Karena yang bermain Persikabo, atribut yang dijual didominasi oleh atribut Persikabo. Tapi atribut tim lainpun juga ada di sana.

Sebelum saya berangkat ke stadion, saya minta uang kepada orang tua untuk membeli tiket dan jajan. Jumlah uang yang orang tua berikan saya lupa berapa nominalnya. Tapi yang pasti uang itu sangat cukup untuk saya jajan dan membeli berbagai atribut Persikabo.

Uang dari orang tua tidak saya belikan tiket karena di zaman itu, untuk masuk ke stadion tidak perlu membeli tiket, tapi cukup berdesak-desakan di pintu masuk bersama ribuan penonton lain. Ini hanya untuk tribun selatan tempat Kabomania (nama kelompok pendukung Persikabo) berada. Sedangkan di tribun lain untuk masuk wajib membeli tiket.

Uang dari orang tua saya pakai untuk membeli baju Persikabo dan topi bertanduk layaknya penutup kepala bangsa Viking berwarna  hijau-kuning. Kedua atribut itu langsung saya pakai seketika itu pula. Ada perasaan bangga, haru, dan senang yang sangat sulit digambarkan saat itu. Entah karena saya yang baru pertama kali menonton di stadion atau hal lain, saya sendiri tidak tahu. Yang pasti, setelah saya memakai atribut Persikabo perasaan itu muncul. Saya seperti masuk ke dunia lain yang selama ini tidak pernah saya masuki. Sebuah dunia yang benar-benar lain bagi anak SD kelas empat.

Setelah membeli atribut dan melihat jadwal pertandingan Persikabo selama satu musim ke depan, kami berjalan menuju pintu masuk tribun selatan. Di depan pintu, telah berjubel orang-orang yang sedang bersiap masuk ke stadion. Di dalamnya ada laki-laki, perempuan, dan anak-anak seusia saya.

Awalnya saya tidak mau untuk ikutan berdesakan di depan pintu karena takut. Maklum saat itu saya masih terbilang kecil untuk merasakan berdesakan dengan ribuan penonton lain. Tapi setelah diyakinkan oleh teman saya, akhirnya saya pun mau. Waktu saya berdesakan, pintu gerbang belum dibuka. Saat itu saya hanya bisa diam sekaligus memasang kuda-kuda sekuat mungkin agar tidak terjatuh dan sendal saya tidak lepas atau putus saat berdesakan.

Saat itu, entah karena telalu lama pintu tidak dibuka atau karena sebab lain, orang-orang di sekeliling saya banyak yang berteriak untuk segera membuka pintu. Bahkan ada yang sampai melempar batu, memukul, hingga menendang pintu gerbang untuk memaksa petugas membuka pintu.

Ketika itu, saya berpikir jangan-jangan akan terjadi kerusuhan, Saya panik, takut, cemas dengan situasi saat itu. Berbagai pikiran negatif pun muncul begitu saja di benak kepala. Saya yang berada di tengah kumpulan orang-orang, semisal memang terjadi kerusuhan tidak bisa lari kemanapun.

Keringat dingin pun meluncur begitu saja dari dahi saya. Untungnya kondisi itu berlangsung tidak lama. Pintu gerbang akhirnya dibuka. Massa yang tadinya diam, sedikit demi sedikit mulai bergerak. Saya pun bergerak perlahan sambil berdesakan. Sekitar 5 menit kemudian akhirnya saya bisa masuk ke stadion. Saya menunggu semua teman-teman saya masuk. Ketika semua sudah masuk, kami naik ke atas tribun memilih tempat yang bagus untuk menonton.

Saya lupa saat itu Persikabo menang atau kalah. Yang saya ingat, itu adalah pengalaman pertama saya menonton sepakbola secara langsung dan merasakan atmosfir di dalamnya. Saya berteriak, bernyanyi, dan berjoget mengikuti arahan dirigen atau capo yang berdiri di atas pagar pembatas untuk menyemangati Persikabo. Waktu itu, yang saya rasakan hanya senang, bangga, dan terkagum-kagum dengan apa yang saya alami. Sensasi itulah yang membuat saya masih ingat dengan kejadian itu dan kadang tersenyum sendiri mengingatnya.

Setelah pertandingan saya pulang ke rumah bersama teman-teman. Sesampainya di rumah saya cerita dengan orang tua. Kalau tidak salah ingat, orang tua tidak banyak komentar. Namun yang saya rasakan, orang tua sepertinya senang melihat anaknya mendapat pengalaman berharga saat itu. Selepas pertandingan pertama yang saya tonton langsung itu, saya lalu jadi sering menonton Persikabo secara langsung. Tiap ada waktu luang saya selalu menonton. Kebiasaan itu berlanjut hingga saya harus pindah ke Bengkulu selepas lulus SMP.

Hingga sekarang saya masih ingat bagaimana bentuk Stadion Persikabo. Stadion itu berbentuk oval dengan tribun utara dan selatan yang tidak ada atap. Sedangkan tribun barat dan timur ada atap. Di tribun selain tribun selatan, semua yang masuk harus membayar tiket. Berapa harganya saya lupa. Stadion Persikabo ini, terbilang kecil jika dibandingkan dengan stadion lain. Total jumlah penonton yang bisa ditampung stadion ini paling-paling hanya 10ribu orang. Letak stadion ini pun terhitung strategis. Ia berada di kompleks pemerintahan Kabupaten Bogor yang kami orang Cibinong biasa menyebut Kompleks Pemda.

Meski kecil, Stadion Persikabo tetap cukup untuk menampung semua orang masuk ke dalam stadion. Suatu waktu pernah penonton membludak dan tidak bisa masuk semua ke stadion karena Persikabo melawan Persija dan Persib, yang mana supporter kedua tim ini sama-sama datang ke stadion. Tribun utara yang biasanya dipakai pendukung Persikabo atau warga sekitar menonton, saat itu harus direlakan untuk diisi oleh The Jak dan Bobotoh/Viking. Di luar dua pertandingan itu, stadion relatif mampu menampung semua penonton. Ketika itu, Persikabo sudah promosi ke Divisi Utama sehingga bisa berjumpa dengan berbagai klub besar di tanah air.

Bapak dan Persikabo

Walaupun saya dengan bapak sama-sama menyukai sepakbola, tapi kami sangat jarang pergi bersama ke stadion. Selain karena kesibukan bapak, waktu itu bapak relatif sulit untuk diajak menonton ke stadion. Saya dan bapak menonton bola ke stadion hanya satu kali ketika Persikabo bertemu PSP Padang. Saat itu saya sudah SMP.

Khusus pada pertandingan tersebut, bapak yang biasanya sulit dan ogah-ogahan kalau diajak menonton, malah mengajak saya duluan ke stadion. Ajakan bapak disertai syarat agar kami menonton tidak di tribun selatan, tapi di tribun timur yang berbayar dan ada atapnya. Kata bapak, ia ingin menonton dengan tenang dan santai. Kalau di tribun selatan, memang tidak mungkin untuk menonton sambil duduk santai. Kita pasti akan berdiri untuk menonton. Kalau tidak berdiri, kita tidak bisa melihat apa-apa, karena semua orang memang menonton dengan berdiri.

Dari rumah kami pergi naik angkot. Sesampainya di stadion, kami membeli tiket dan masuk ke dalam tribun timur. Itu adalah kali pertama saya masuk tribun timur. Ternyata sensasi menonton dari tribun ini memang beda. Lapangan yang biasanya nampak jauh, dari tribun ini malah terlihat dekat sekali. Para pemain di lapangan pun terlihat jelas dari tempat saya duduk. Suara-suara yang muncul ketika bola ditendang atau ketika pemain berbenturan dan saling berteriak juga terdengar nyaring dari tribun itu. Saya baru tahu dan merasa menonton di tribun timur memang menyenangkan.

Tak banyak yang kami lakukan di dalam stadion selain duduk, menonton, dan memakan cemilan dari pedagang yang berjualan. Saya lupa omongan apa yang saya bicarakan sepanjang pertandingan dengan bapak. Yang saya ingat, bapak nampak senang melihat klub kebanggaan masa kecilnya dulu ada di hadapannya saat itu. Saya tidak bertanya apa yang bapak rasakan, tapi saya yakin ada perasaan senang, rindu, dan kebanggaan dari diri bapak melihat tim favoritnya bermain di tanah perantauan tempat ia hidup.

Setelah pertandingan melawan PSP Padang saya tidak pernah menonton lagi ke stadion bersama bapak. Saya tidak menyangka kalau pertandingan tersebut adalah kali pertama dan terakhir saya pergi bersama bapak ke stadion. Tidak lama setelah itu, saya lulus SMP dan pindah ke Bengkulu. Ketika di Bengkulu saya masih menonton bola baik di TV maupun di stadion. Kebetulan di Bengkulu ada klub lokal bernama PS Bengkulu yang main di Divisi Satu saat itu. Saya rutin menonton di Stadion Semarak yang merupakan kandang PS Bengkulu. Hanya saja, saya tidak menonton dengan bapak. Kami terpisah jarak dan ruang. Saya di Bengkulu, bapak ada di Bogor. Jadilah kemudian kenangan sepakbola sewaktu masa-masa di Bengkulu saya habiskan tanpa ada bapak di dalamnya.

Ketiadaan bapak dalam kenangan saya dengan sepakbola berlanjut hingga saat ini. Saya ada di Jogja, bapak ada di Bogor. Saya tidak pernah lagi nonton sepakbola bersama bapak. Saya juga tidak pernah ke stadion lagi dengan bapak selama saya di Jogja.

Dulu waktu awal-awal saya pindah, saya tidak merasakan perasaan apa pun. Tapi belakangan, ketika saya beranjak dewasa, saya baru sadar kalau kenangan menonton bersama bapak, sebenarnya menjadi salah satu kenangan terbaik yang pernah saya alami sepanjang hidup. Kini di titik kedewasaan telah menjadi keniscayaan, saya rindu untuk kembali ke masa-masa saya bisa menonton sepakbola entah di stadion atau di TV bersama bapak. Kalau saja, saya punya alat pengatur waktu seperti yang dimiliki Hermione di Harry Potter, saya ingin kembali ke masa-masa itu. Kembali ke masa-masa di mana hanya ada euforia dalam aktifitas keseharian, di mana hidup seperti tidak ada beban besok harus melakukan apa dan menjadi apa. Yang ada hanya hari-hari yang penuh kebebasan melakukan apapun tanpa perlu risau esok akan bagaimana.

Sepakbola telah menjadi bagian dalam hidup saya. Saya tidak mungkin lepas dan menghilangkan sepakbola dalam perjalanan hidup saya. Selain karena sepakbola adalah satu hal yang membentuk saya hari ini, pada sepakbola ada kenangan bapak di dalamnya yang mustahil saya lupakan. Kenangan yang tidak mungkin saya ulangi lagi nanti. Karena hal itulah saya merasa sepakbola selalu punya nilai magis bagi siapapun yang mencintai dan hidup berkembang bersamanya. Sepakbola bukan sekedar permainan dan olahraga, lebih daripada itu, sepakbola adalah bagian dari catatan sejarah hidup saya.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta

0 Response to "Tentang Bapak, Sepakbola, dan Waktu yang Tidak Mungkin Diputar Kembali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel