Apakah Ini Karma?

Apakah Ini Karma

Penulis : Endah Larasati

Gerakan tanganku terhenti, seketika pandangan menjadi kosong. Sehelai rambut menempel di kerah baju suami. Rambut itu adalah rambut perempuan. Sungguh aku meyakininya. 'Bagaimana bisa ada rambut di kerah Mas Yudi?' gumamku.

Dada terasa sesak, napas pun tak nyaman. Kembali tanganku menyusuri senti demi senti baju biru tua itu. Tak ada lagi yang bisa ditemukan. Kurengkuh benda yang seharian membalut tubuh tegap Mas Yudi, berencana menghirup aroma tubuh lelaki tampan itu yang menempel di baju.

'Tidak!' teriakku dalam hati. Aroma yang ada bukan sekadar aroma tubuh atau wewangian yang digunakan lelaki putih itu. Aku hafal betul. Hidung ini menangkap wangi berbeda, tak seperti biasa.

"Mana pakaianku?" Suara lelaki dengan balutan handuk di tubuh bagian bawah mengejutkanku.

"Pakaianku mana? Kok, malah bengong. Dari tadi kamu masih pegang baju kotor itu? Mendingan sini, peluk suamimu yang sudah bersih dan wangi ini," tutur Mas Yudi sambil merentangkan tangan.

Andai saja aku tak menemukan rambut dan wangi berbeda di baju itu, sudah bisa dipastikan tubuh ini merangsek dalam pelukan lelaki halal. Dada bidang, kulit bersih, lengkap dengan tetes air sisa mandi, merupakan candu yang tak terhindarkan.

Tanpa menunggu jawabanku, Mas Yudi menuju lemari pakaian. Kaus hitam tanpa lengan dan celana pendek akhirnya membungkus tubuh atletis. Usai merapikan rambut, ia duduk di sebelahku. Mata kami beradu. Tanganku menyodorkan baju kotor lengkap dengan rambut yang menempel.

Lelaki yang rambutnya belum kering sempurna, mengankat alis dan bertanya, "Maksudnya apa?"

"Ini rambut  siapa? Wanginya juga beda." Sekuat tenaga kutahan sesak di dada, berharap emosi tak meledak.

Mas Yudi menyambar baju itu. Segera ia melangkah dan berhenti di dekat jendela. Tatapannya lurus menembus benda bening itu.

"Kamu mau aku jujur?" Suara lelaki yang kedua tangannya masuk saku celana pendek terdengar tenang.

"Rasti?" Aku menebak.

"Sudah lebih dari tiga bulan aku tidak berhubungan dengan Rasti," jawab Mas Yudi tanpa mengubah posisi.

"Siapa lagi sekarang?"

"Yakin kamu ingin mengetahuinya?" Mas Yudi membalikkan tubuh dan menatapku lekat.

Ingin sekali aku menjawab 'Iya', tetapi hati kecil tak sanggup menerima. Hal semacam ini bukan yang pertama. Ketiga pun sudah lebih. Kejadian menyakitkan yang terus berulang, entah hingga kapan.

"Diammu aku anggap iya." Lelaki bergaris wajah keras itu menjeda.

"Namanya Layvasha. Aku mengenalnya sebulan lalu. Ia model untuk produk perusahaan kita," lanjutnya tanpa rasa berdosa.

"Sampai di mana kedekatan kalian?" tanyaku dengan hati perih.

"Kemarin ia menemaniku usai rapat dengan klien perusahaan."

"Pantas saja semalam tidak pulang. Ponselmu pun tak bisa dihubungi." Ingin sekali aku luapkan segala emosi. Namun, lagi-lagi aku tak mampu. Wajah Bapak dan kedua mertua seketika melintas dalam ingatan. Kutarik napas dalam-dalam dan melangkah menuju pintu.

"Isyana! Kamu tahu betul bahwa aku lelaki yang tak cukup dengan satu wanita!" ucap Mas Yudi setengah berteriak.

Langkahku terhenti. "Kamu juga tahu betul bahwa kita adalah suami istri. Sudah menjadi kewajibanmu membahagiakanku. Kenyataannya apa? Sudah tak terhitung kamu bagi kehangatanmu untuk wanita lain."

"Isyana ...."

"Kamu tidak perlu mengingatkanku untuk merahasiakan kebejatanmu dari Papi Mami. Aku cukup tahu diri dan tahu balas budi."

*

Secangkir cokelat hangat menemani waktu santai. Tanganku mengusap selembar penuh makna. Foto keluarga--aku yang berusia sembilan tahun, Bapak, Ibu, dan kedua adikku. Foto itu semacam benda keramat karena itu kenangan terakhir kebahagiaan kami.

Ketika usiaku sepuluh tahun, badai menghancurkan semua. Waktu itu, sepulang sekolah, aku melihat seorang lelaki berjas hitam menggandeng Ibu. Ia membukakan pintu mobil untuk Ibu. Mereka melihatku, tetapi hanya diam. Bahkan, wanita pemilik pintu surga itu mengabaikan panggilan dari anak sulungnya.

Sejak saat itu tak ada kabar dari Ibu. Sejak saat itu pula aku dan kedu adik diajak Bapak tinggal di rumah Tuan Hendarto. Sebuah keluarga terhormat yang menjadi tempat Bapak bekerja. Iya, Bapak bekerja sebagai tukang kebun.

Pada usia lima belas tahun, baru aku tahu bahwa Ibu menjadi simpanan seorang pengusaha kaya raya. Dari hubungan terlarang itu, rumah tangga sang pengusaha hancur. Ia menceraikan istri sahnya.  Hal itu berdampak pada kesehatan mental wanita itu. Ia depresi dan bunuh diri. Sementara anak tunggal mereka terjerumus dunia hitam sebagai pelarian.

Berkat kebaikan keluarga Hendarto, adikku kini menjadi aparat negara dan bungsu kini menjadi seorang dokter. Dari segala kebaikan yang mereka berikan, aku tak mampu menolak sewaktu diminta menjadi menantu. Padahal aku tahu betul kebiasaan buruk anak semata wayang mereka. Iya, lelaki yang terkenal tampan dan berduit itu dengan mudahnya menghabiskan malam bersama wanita. Tak cukup satu. Lebih dari sepuluh wanita yang menjadi teman semu.

Benda pipih di dalam tas bergetar. 

"Ha-halo, Is-Isyana, to-long a-ku."

"Kamu kenapa, Mas? Kenapa jadi gagap?"

"A-aku ...."

"Kamu di mana?"

"Ho-tel A-las-ka."

Lima belas menit berikutnya aku sudah berada di Hotel Alsaka. Tadi, sewaktu di perjalanan, sempat kutanyakan posisi pasti Mas Yudi.

Kini aku sudah berada di sebuah kamar VVIP, sangat luas, lengkap dengan springbed extra king size, serta perabot mewah. Tak jauh dari tempatku berdiri, terlihat tubuh seorang wanita yang sudah tak berdaya. Dada hingga perutnya basah dan berwarna merah. Entah ia masih bernapas atau tidak, aku tahu pasti.

"Isyana ...." Wajah Mas Yudi pucat. Ia terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya berguncang hebat.

Aku berjalan menuju kamar mandi, mengambil handuk, dan kembali mendekati Mas Yudi. Kubalutkan handuk itu ke tubuhnya yang polos.  Selanjutnya kugandeng ia menuju sofa.

"Ceritakan semuanya pelan-pelan."

Beberapa menit hening. Sampai akhirnya lelaki di hadapanku bersuara.

"Kami janjian ketemu di sini. Aku sudah tidak bisa tahan, Is. Sudah tiga hari kamu datang bulan, itu artinya ...."

Aku mengangguk tanda mengerti.

"Usai menuntaskan keperluan, wanita itu bilang bahwa dia hamil. Dia minta aku bertanggung jawab. Tentu saja aku menolaknya. Jika Papi Mami tahu, bisa mati aku.  Aku yakin betul itu bukan anakku. Dia model majalah dewasa, pasti bukan denganku saja dia berhubungan. Kami bertengkar. Tanpa pikir panjang, kuambil pisau buah di meja, lalu menusuknya."

"Sekarang Mas ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu, dan segera kenakan pakaianmu."

Seperti anak kecil, lelaki yang hampir tak pernah terlihat buruk itu mengikuti saranku.

Aku beranjak dari duduk, memungut benda tajam yang berlumur darah. Sekuat tenaga, kuyakinkan hati. Kaki ini berhenti tepat di sisi pembaringan. Dengan memejam, tanganku terayun ke tubuh polos.

"Isyanaaa!" 

Teriakan Mas Yudi membuatku mengalihkan pandangan. "Sekarang Mas bisa tenang. Seperti biasa, Mami Papi tidak akan tahu perbuatanmu. Mas juga tidak perlu takut ditangkap polisi."  Senyumku terkembang.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Apakah Ini Karma?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel