Pandemi dan Tesis Ketertinggalan Islam

Pandemi dan Tesis Ketertinggalan Islam

Waktu awal-awal merebaknya varian Delta di tanah air bulan Juli lalu, di masyarakat sempat terjadi panic buying atau kepanikan dalam berbelanja. Entah bagaimana mulanya, saat itu ada sebagian masyarakat yang saling berebut untuk membeli susu Bear Brand/Susu Beruang yang diyakini ampuh dalam menangkal dan melindungi diri dari covid-19. Video bagaimana orang-orang ini saling sikut dan saling berdesakan demi mendapat sekerat susu di salah satu pusat perbelanjaan kemudian viral di media sosial.

Dalam konteks pandemi atau situasi darurat seperti sekarang, panic buying menjadi keniscayaan yang sangat mungkin terjadi. Setahun lalu, saat awal-awal pandemi berlangsung, orang-orang juga banyak yang berebut dan memborong masker serta handsanitizer karena panik dalam menghadapi pandemi. Ketika itu, panic buying bisa dimaklumi karena situasi tersebut terjadi di awal-awal pandemi, yang mana pengetahuan semua orang atas situasi itu belum komprehensif, sehingga wajar apabila terjadi kepanikan untuk membeli segala sesuatu yang dapat membantu bertahan dan menyelamatkan dirinya dari pandemi.

Hanya saja, panic buying yang terjadi belum lama ini berbeda dengan yang terjadi setahun lalu. Dulu orang panik karena memang informasi saat itu belum sebanyak sekarang. Sedangkan kepanikan dalam membeli Susu Beruang justru terjadi ketika informasi mengenai virus sudah semakin banyak. Kini informasi mengenai segala hal tentang covid-19 ada di seluruh platform media informasi. Para dokter, epidemiolog, dan berbagai ilmuan banyak yang rutin memberi informasi tentang virus yang sedang kita hadapi. Dari seluruhnya, tak ada yang menyebut bahwa susu Bear Brand dapat berguna dalam penanganan covid-19.

dr. Faheem Younus, dokter spesialis penyakit menular dari University of Maryland Upper Chesapeake Medical Center dan University of Maryland Harford Memorial Hospital, melalui satu unggahannya di Twitter menyebut bahwa susu Bear Brand tidak memiliki peran dalam pengobatan Covid-19. Menurut dr. Faheem, yang dapat menangkal dari virus adalah ketika kita memakai masker, menjaga jarak, dan melakukan pola hidup sehat, seperti makan teratur dan tidur yang cukup. Tidak ada penelitian yang menyebut bahwa susu Bear Brand dapat berkontribusi dalam penanganan covid-19.

Pada posisi demikian, bisa disimpulkan kalau ada yang keliru di pikiran orang-orang yang kemarin saling berebut susu Bear Brand. Mereka termakan omongan dan informasi dari pihak tertentu yang jelas-jelas keliru secara saintifik. Mereka langsung percaya begitu saja tanpa kroscek kepada ahlinya. Yang terjadi kemudian adalah panic buying terhadap sesuatu yang jelas-jelas tidak perlu.

Di titik itu, ocehan Budiman Sudjatmiko di akun Twitternya pada 8 Juli 2021, ada benarnya. Ia membuat twitt yang kurang lebih berbunyi, “Saat naik pesawat, percayakan pada pilot. Jangan beropini yang sok tahu kepada pilot. Saat cukur, percayakan kepada tukang cukur. Jangan ikut pegangi pisaunya. Tergores kau nanti. Saat tenggelam, percayakan pada penyelamatmu. Saat pandemi, percayakan pada penegak aturan dan ahli.” Twitt Budiman, senada dengan kata-kata Profesor ITB, Fahmi Anhar yang berbunyi, “Bila tak tahu jalan, naik bus saja, ikuti supir. Bila tak tahu sains, ikuti ilmuwan terpercaya. Selain itu, kau akan tersesat.”

Dalam situasi yang serba darurat seperti sekarang, yang mesti diikuti pendapatnya adalah para ahli. Mereka yang selama hidupnya bergelut dalam dunia kesehatan itulah yang seharusnya diikuti oleh semua orang yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman serupa dalam menghadapi virus. Kalau tidak begitu, yang nanti akan terjadi hanya kekacauan dan pandemi tidak akan bisa teratasi. Panic buying susu Bear Brand merupakan contoh nyata ketika pendapat para ahli tidak diikuti. Ketika pendapat ahli tidak diikuti, yang akan terjadi hanya kekacauan dan kebodohan yang dipertunjukan secara gamblang. Dampak terburuknya membuat pandemi tidak akan selesai dan malah menjadi berlarut-larut.

Panic Buying dalam Perspektif Tesis Ketertinggalan Islam

Kasus panic buying Bear Brand secara tidak langsung juga menjadi bukti tesis kemunduran Islam seperti diungkap Ahmed T. Kuru dalam bukunya Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021). Pada buku tersebut, Kuru menyebut bahwa salah satu dampak kemunduran peradaban islam adalah semakin terpinggirkannya sains dalam kehidupan umat Islam. Sains yang dulunya menjadi sebagian identitas umat Islam di zamannya, kini justru terpinggirkan dan tidak mendapat tempat selayaknya. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam dulunya banyak melahirkan sosok ilmuan yang tidak hanya ahli soal agama, tapi juga ahli dalam ilmu lain di luar bidang agama. Tokoh macam Ibnu Sina, Al-Farabi, atau Al-Kindi ialah sebagian dari banyak ilmuan tersebut. Tapi sekarang, jangankan melahirkan ilmuan sekaliber mereka, membiasakan hidup berdampingan dengan sains saja ternyata kesulitan.

Kuru melalui bukunya menyebut bahwa peradaban Islam mengalami ketertinggalan dari peradaban barat disebabkan adanya persekutuan atau aliansi antara ulama dan penguasa di abad 11 peradaban Islam yang membuat masyarakat terkungkung pada kemunduran. Dampak dari aliansi ini, membuat berbagai kelas sosial di luar ulama dan bangsawan terpinggirkan dalam dinamika masyarakat. Yang dominan dalam arah peradaban saat itu hanya kelas ulama dan penguasa. Padahal, sebelum abad 11, tepatnya pada abad 8, peradaban Islam malah didominasi oleh berbagai kelas sosial. Tidak hanya ulama dan penguasa. Justru struktur masyarakat saat itu diisi oleh kelas pedagang dan intelektual yang banyak mewarnai arus peradaban Islam. Ulama-ulama pun, menurut Kuru justru malah berjarak dengan otoritas politik karena dianggap merusak. Barulah pada abad 11, banyak ulama malah mendekat dengan kekuasaan. Dekatnya ulama dengan kekuasaan, berdampak pada peminggiran kelas pedagang dan intelektual yang sebelumnya menopong perkembangan masyarakat.

Peminggiran kelas pedagang dan intelektual, berdampak pada mandeknya perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Pasalnya, sebelum adanya aliansi antara ulama dan penguasa, justru peradaban Islam sedang berada di puncak kemegahan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa itulah lahir banyak ilmuan top yang nantinya berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia. Munculnya para ilmuan ini disebabkan karena kehadiran kelas pedagang yang menyokong mereka sehingga dapat fokus mengembangkan ilmu pengetahuan. Sedangkan saat abad 11, di mana aliansi antara ulama dan penguasa terbentuk, kelas pedagang perannya malah mengecil karena semakin terpinggirkan dalam pergerakan negara. Peminggiran ini membuat peradaban Islam saat itu tidak berhasil menghasilkan kembali banyak pemikir seperti di abad-abad sebelumnya. Sains yang tadinya menjadi salah satu komponen peradaban, akhirnya ikut terpinggirkan pula dalam dinamika masyarakat. Yang dominan kemudian adalah politik kekuasaan dan ortodoksi agama. Pada titik itulah, bagi Kuru awal mula peradaban islam mengalami kemunduran. Saat peradaban Islam mundur, peradaban barat justru sedang mulai bangkit.

Dampak kemunduran Islam ini berlangsung dari dulu hingga sekarang. Hal itu terlihat dari dinamika yang terjadi di banyak negara Islam yang sekarang menjadi representasi peradaban Islam. Sebagaimana diketahui, setelah runtuhnya Turki Utsmani sebagai representasi kekhalifahan Islam terakhir di dunia, peradaban Islam kini menyebar ke banyak tempat dalam rupa banyak negara. Indonesia sebagai negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia adalah satu dari sekian banyak representasi peradaban Islam tersebut, meskipun secara politik Indonesia bukan negara Islam. Artinya, apa yang terjadi di Indonesia, bisa dikatakan merupakan salah satu wajah dari peradaban Islam dunia.

Dalam konteks panic buying yang telah diulas di awal, tesis kemunduran Islam ala Ahmed Kuru menemukan relevansinya. Pada fenomena tersebut terlihat bagaimana masyarakat Indonesia yang tidak mengedepankan akal dan ilmu pengetahuan dalam bertindak. Yang dikedepankan justru emosi dan informasi sesaat yang tidak dikoreksi terlebih dahulu. Ilmuan yang menjadi elemen paling vital dalam pandemi, suaranya justru tidak didengarkan. Situasi ini terjadi karena sains dan ilmu pengetahuan yang tidak menjadi laku keseharian dari masyarakat kita. Padahal dalam kondisi seperti sekarang, ilmuanlah yang harusnya didengar dalam penanganan pandemi.

Pengabaian sains yang terjadi dalam kasus panic buying susu Bear Brand adalah dampak nyata dari bagaimana peradaban Islam hari ini mengalami kemunduran. Kalau saja dulu arus balik peradaban dari peradaban Islam ke peradaban barat tidak terjadi, mungkin masyarakat Islam hari ini bisa hidup dengan lebih baik. Hidup dengan mengedepankan akal dan sains, daripada emosi dan informasi sesaat, serta keyakinan semu yang rentan menjeremuskan kita pada jurang kejatuhan. Kalau itu yang terjadi, tidak perlu menunggu mati untuk merasakan hidup di surga, hidup di dunia pun rasanya sudah seperti di surga, apabila kemajuan peradaban benar-benar terjadi di tubuh umat Islam.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta


0 Response to "Pandemi dan Tesis Ketertinggalan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel