Peramal

Peramal
Penulis: Ramli Lahaping

Kini, Asmir semakin dikenal sebagai seorang peramal yang jago. Ia dianggap punya kemampuan untuk menerawang peristiwa di masa mendatang. Ia bisa menafsir kejadian yang akan menimpa seseorang dengan pertimbangan mistisnya sendiri.

Kepercayaan orang-orang terhadap kemampuan supranatural Asmir, tampak terus menguat. Itu karena seiring waktu, ia semakin sering melakukan penerawangan secara jitu perihal peristiwa yang akan terjadinya, yang sama sekali tak disangka oleh orang lain.

Penahbisan Asmir sebagai peramal, tentu melalui proses yang panjang. Seingatku, mula-mula, ia kerap beradu tebak-tebakan hasil pertandingan sepak bola dengan orang-orang, dan ia sering benar. Orang-orang pun mulai membaca kemampuannya.

Pada waktu-waktu selanjutnya, kehebatan Asmir semakin tampak. Ia tak lagi sekadar menebak hasil pertandingan, tetapi juga menebak nasib kehidupan orang di hari esok. Dan ajaibnya, ia acap kali melakukan tebakan yang tepat.

Sudah beberapa kali Asmir meramal kejadian yang menggegerkan para warga. Ia pernah meramal bahwa seorang warga akan kehilangan ternak, atau beberapa warga akan mengalami kegagalan panen, ataukah banyak warga akan terserang penyakit.

Dan benar saja. Pada hari-hari kemudian, seseorang kehilangan ternaknya di dalam kandang pada malam hari. Pun, beberapa warga mengalami kegagalan panen kerena jagungnya mati. Hingga akhirnya, banyak warga yang mengalami sakit perut dan muntah-muntah secara serentak.

Tak pelak, atas kenyataan itu, orang-orang yang dahulu meremehkan kemampuan Asmir, mulai menggugat keraguan mereka sendiri. Mereka mulai yakin bahwa Asmir memiliki kesaktian khusus, sehingga ia tidaklah sekadar melakukan tebak-tebakan yang kebetulan benar.

Akhirnya, kini, orang-orang mulai mengantisipasi setiap kali Asmir menyampaikan ramalannya. Mereka pun akan meminta petuah pada Asmir perihal apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah bala, atau sekadar menghindari dampak buruk yang lebih serius.

Karena kesaktiannya telah tersiar ke mana-mana, banyak orang yang akhirnya datang kepadanya untuk meminta pendapat soal garis nasib. Mereka meminta tafsiran dan wejangan perihal perjodohan, pekerjaan, atau apa saja.

Atas penerawangannya itu, Asmir pun mendapatkan honorarium yang banyak. Apalagi, beberapa di antara kliennya adalah pengusaha yang meminta pendapat tentang peruntungan bisnis, juga politikus yang meminta pertimbangan perihal kans mereka dalam perebutan kekuasaan.

Dan hebatnya, Asmir senantiasa memberikan terawangan dan wejangan yang tepat. Banyak pengusaha dan politikus yang mendulang sukses atas petunjuknya. Karena itulah, namanya semakin tersohor sebagai peramal yang sakti.

Sebagaimana peramal, sebenarnya, Asmir sesekali pula memberikan taksiran yang tidak tepat. Tetapi ia selalu mampu memberikan alasan yang masuk akal perihal sebab kekeliruannya, bahwa kliennya tidak menunaikan persyaratan secara baik, sehingga ia tak patut dipersalahkan.

Namun Rahim berbeda dari kebanyakan warga. Ia sama sekali tidak memercayai bahwa Asmir bisa membaca nasib. Ia bahkan menjadi orang yang paling getol menentang praktik peramalan tersebut dengan berdasar pada dalil-dalil agama.

“Jangan percaya pada orang yang mengaku bisa meramal,” kata Rahim, sang imam masjid, ketika aku meminta pendapatnya perihal Asmir, lima hari yang lalu, saat aku singgah di rumahnnya untuk memberinya beberapa jagung muda yang kupetik dari kebunku.

“Tetapi Asmir senantiasa memberikan ramalan dan wejangan yang benar, Pak? Bukankah itu menunjukkan bahwa ia memang punya kesaktian?” tanyaku, bimbang.

Ia pun mendengkus dan tersenyum. “Asmir itu, sama saja dengan peramal yang lain. Ia hanya menipu. Ia hanya melakukan penafsiran sembarangan yang kemudian akan ia akui sebagai kehebatannya jika benar, atau ia timpali dengan alasan-alasan pemakluman jika salah.”

“Tetapi siapa tahu Asmir memang dikaruniai kehebatan oleh yang Mahakuasa. Bukankah itu mungkin, Pak?” ulikku, atas ketidakmengertianku.

Rahim lantas tertawa pendek. “Yang diberikan kemampuan khusus oleh yang Mahakuasa itu hanyalah orang-orang yang melaksanakan perintah agama secara sungguh-sungguh. Nah, coba Bapak periksa, apa Asmir begitu?”

Aku pun tercenung, sebab senyatanya, Asmir memang bukan orang yang peduli pada perkara agama.

“Sudahlah, Pak. Jaga keimanan Bapak. Jangan percaya perkataan Asmir. Percaya kepada para peramal adalah perbuatan syirik yang dosanya tidak terampuni,” pesan Rahim, menasihati.

Akhirnya, setelah percakapan kami itu, aku pun jadi tak berkeyakinan. Aku jadi ragu melaksanakan rencanaku untuk menemui Asmir dan meminta ramalannya perihal tanaman yang cocok untuk kubudidayakan selanjutnya di tengah hasil panen jagungku yang mengecewakan.

Tetapi kemudian, aku memutuskan untuk memperturut rasa penasaranku yang mendesak. Aku lantas menemui Asmir di rumahnya, yang sekaligus tempat praktik peramalannya. “Apa yang sebaiknya aku tanam, Mbah?” tanyaku kemudian.

Ia lantas menggerak-gerakkan jarinya dengan mata yang terpejam. Sampai akhirnya, ia menjawab, “Bapak seharusnya menanam kacang tanah.”

Seketika, aku sedikit meragukan wejangannya, sebab pada musim sebelumnya, aku telah menanam kacang tanah, dan hasilnya lebih mengecewakan lagi. “Apa benar itu akan berhasil, Mbah?”

Ia sontak kesal. “Apa kau tidak percaya pada kesaktianku? Apa kau sudah buta seperti Rahim?”

Aku pun lekas menggeleng. “Aku tentu percaya, Mbah,” balasku, lantas melayangkan senyuman. “Saran Mbah akan aku laksanakan.”

Tetapi ia seolah membaca keraguanku. “Baiklah. Karena kau tampak belum percaya pada kemampuanku, maka kau saksikanlah beberapa hari ke depan, bahwa akan ada seseorang penentangku yang akan kehilangan harta bendanya.”

“Siapa, Mbah?” tanyaku, penasaran.

“Besok-besok, kau akan tahu,” balasnya, kemudian mendengkus sinis.

Tak lama berselang, aku pun pamit dan pulang setelah memasukkan uang ke dalam celengannya.

Hari demi hari, aku pun menanti-nanti perihal kenyataan ramalan Asmir yang ia sampaikan kepadaku. Aku sangat penasaran, sebab pembuktian itu akan berpengaruh terhadap kepercayaanku kepadanya.

Sampai akhirnya, tiga hari berselang, sekira jam 11 malam, warga pun memergoki seorang lelaki asing yang hendak membakar rumah Rahim yang sedang kosong. Warga lantas menggelandangnya ke kantor polisi, hingga ia mengaku sebagai suruhan  Asmir.

Kini, aku sungguh tak lagi memercayai ramalan Asmir.***



Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktf menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter; @ramli_eksepsi

0 Response to "Peramal"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel