Bisikan Maut

Bisikan Maut

Penulis: Endah Larasati 

Langkah gadis berambut sebahu terhenti. Lemas yang ia rasa, semacam putus saraf kakinya. Hampir saja ia terjatuh, beruntung gadis berponi itu mampu menguasai diri.

'Jadi begitu kelakuanmu, Dit. Pantas saja tiap aku mengabarkan hendak pulang, selalu saja kau halangi. Ada saja alibimu.'

Tiga menit gadis itu matanya terpaku pada pandangan lima meter di hadapan. Dada yang sesak, perlahan mampu melonggar setelah pasokan oksigen mulai normal kembali.

'Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya, Dit. Arimbi bukan wanita lemah!'

Tak butuh waktu lama, gadis bernama Arimbi memutar badan dan mengayunkan tungkai meninggalkan tempat itu. Sepuluh menit berlalu, benda pipih putih dikeluarkan dari ransel merah bata.

[Sayang, aku sudah sampai di halte dekat gang. Kamu enggak ada niat jemput?]

Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit berselang, barulah benda pipih itu mendapatkan balasan pesan.

[Maaf baru balas, Cantik. Aku lagi ada banyak kerjaan. Ini baru keluar dari pabrik.]

[Tunggu di jembatan dekat halte, ya.]

[Aku enggak bawa motor, nanti kita jalan bareng saja pulangnya.]

Arimbi mencebik sebelum menarikan jemari di layar ponsel.

[Oke, Sayang.]

Arimbi melangkah meninggalkan halte. Ia berhenti di jembatan tak jauh dari tempatnya semula. Tangannya memegang besi tepi jembatan, maniknya menerawang ke sungai yang berada jauh di bawah. Entah apa yang terlintas di pikiran gadis itu. Tiba-tiba sati sudut bibirnya tertarik ke atas.

Sambil menunggu kedatangan kekasih, Arimbi sesekali mengamati sekitar. Jalanan mulai sepi, langit menggelap. Bukan hanya karena merayap malam, tetapi dilengkapi mendung yang begitu pekat. Kembali gadis berkaus hitam memunggungi jalanan.

Arimbi tidak mengubah posisi ketika dua lengan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Pun ketika pemilik lengan meletakkan dagu di bahu kanan gadis pemilik senyum misterius.

*

Sepekan berlalu. Arimbi menikmati waktu di tepi jendela. Gadis bercelana pendek itu duduk di bingkai jendela, kaki jenjangnya terjuntai ke taman yang bertepatan di sisi luar kamar.

"Rimbi, kok, duduk di jendela?" Suara pemilik pintu surga Arimbi tepat di belakang gadis itu.

Yang ditanya tidak merespons, tatapannya masih tetap menerawang.

"Kamu boleh sedih karena kehilangan Adit, tapi jangan berlarut-larut. Jangan kamu siksa dirimu sendiri dengan melamun sepanjang hari. Ini takdir, Rimbi." Wanita paruh baya merangkul bahu anak gadisnya. Sejurus kemudian, Arimbi meletakkan kepala di bahu ibunya.

"Bu, Rimbi ...."

"Cerita sama Ibu semua ganjalan di hatimu."

Bukan jawaban yang diberikan, tetapi bulir air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

"Keluarlah, temui temanmu, jalan-jalan supaya hati dan pikiranmu tidak melulu dipenuhi kenangan calon suamimu."

Arimbi mengangkat kepala kemudian mengangguk. Wanita berdaster di sebelah mengusap pelan jejak air mata di pipi anak gadisnya.

*

Arimbi terlihat cantik dalam balutan kaus warna peach, celana denim biru muda, flatshoes warna nude, serta sling bag merah muda.

"Cantik banget anak Ibu. Mau ke mana?" tanya ibu Arimbi di ruang tamu.

"Rimbi mau ketemu teman, Bu. Boleh?"

Ibu mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati, Nak."

Usai pamitan dan mencium punggung tangan ibunya, Arimbi melenggang. Ia menuju salah satu pabrik yang berderet tak jauh dari rumahnya. Tiba di seberang bangunan warna abu-abu, Arimbi mengirimkan pesan untuk seseorang. Tak butuh waktu lama, balasan pesan ia dapatkan. Senyumnya merekah.

Tatapan Arimbi menyapu sekitar. Satu per satu orang keluar dari gerbang pabrik berwarna abu-abu. Tangan kanan Arimbi refleks mengudara ketika melihat seseorang yang ditunggu. Orang itu adalah Tuti, sahabat Arimbi sejak kecil.

"Rimbi,"  panggil Tuti ketika ia berada satu meter di hadapan Arimbi. Selanjutnya dua gadis itu berpelukan seolah-olah melepas rindu yang begitu dalam.

"Aku kangen banget sama kamu,"  ucap Tuti setelah mengurai pelukan. Lawan bicaranya hanya mengangguk.

Tuti menggandeng lengan sahabatnya. Mereka berjalan bersisian meninggalkan tempat yang ramai dengan karyawan pabrik yang pulang kerja.

"Kita beli bakso di warung langganan kita dulu, yuk,"  ajak Tuti. Lagi, Arimbi mengangguk.

"Dari tadi kamu cuma senyum dan mengangguk, kamu baik-baik saja?"

Arimbi tidak menjawab. 

Tiba di warung bakso, mereka memilih meja di sudut ruangan. Usai memesan, Tuti izin ke kamar mandi.

*

Arimbi semakin sering menghabiskan waktu dengan duduk di bingkai jendela. Ia tidak lagi ke kota untuk bekerja. Tatapannya lebih sering kosong. Mulutnya semakin rapat terkunci, bahkan untuk makan harus diingatkan dan ditunggui sang ibu.

"Rimbi, mau sampai kapan kamu begini? Kamu bisa sakit, Nak."  Ibu mengusap pelan punggung gadis itu. Arimbi menoleh sebentar.

"Kesedihanmu pasti sangat dalam, Nak. Belum genap sebulan Adit--calon suamimu--meninggal, kamu harus kehilangan Tuti--sahabatmu. Jasad mereka ditemukan di tempat yang sama--sungai besar--tak jauh dari pabrik.

Tiba-tiba Arimbi berteriak histeris. Berbarengan dengan itu, air matanya mengucur deraa. Kedua tangan Arimbi menutup kedua telinga, seolah-olah menolak suara yang memasuki indra pendengaran.

*

"Mbak  Arimbi, kita masuk kamar, yuk. Gerimis. Takutnya nanti Mbak Arimbi sakit kena gerimis." Seorang wanita berpakaian  serba putih mendekati Arimbi.

Gadis yang dulu rambutnya berkilau, kini terlihat pucat dan kurus. Ia tidak menolak ajakan wanita di dekatnya. 

Tiba di sebuah kamar yang berisikan tempat tidur, kursi, meja, dan lemari kecil, Arimbi segera merapatkan tubuh di sisi jendela. Tak lama kemudian, tangannya menutupi telinga sambil kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan  dengan cepat.

"Mbak Arimbi dengar bisikan itu lagi?"  tanya perawat dengan lembut.

Arimbi mengangguk pelan. Ya, bisikan itu adalah bisikan serupa yang mengantarkan kematian Adit dan Tuti.

Arimbi cemburu melihat kemesraan Adit dan Tuti ketika ia baru pulang dadi luar kota. Arimbi sengaja mendorong Adit hingga terjungkal ke sungai. Nasib malang juga dialami Tuti. Di warung bakso, ketika gadis itu ke kamar mandi, Arimbi memasukkan semacam obat tidur ke minuman Tuti. Saat mereka di perjalanan pulang, obat itu sudah mulai bereaksi. Tepat di jembatan, Arimbi mendorong tubuh sahabatnya hingga menemui ajal.

"Mbak Arimbi tenang, ya. Tarik napas pelan-pelan. Saya akan nyalakan lagu kesukaan Mbak Arimbi." Perawat itu meraih ponsel yang tergeletak di tempat tidur.

Lagu Wes Tatas, lagu yang dulu sering dinyanyikan Arimbi bersama Adit. Dulu Adit berjanji tidak akan mengkhianati cintanya dan akan selalu membahagiakannya. Namun, kenyataan yang ada,  Adit berselingkuh dengan Tuti.


🎶Wes Tatas


Tak eleng eleng bien tau ngomong opo

Arep ngancani aku nganti tekan pungkase umurku

Nanging sak iki ne koe ninggal janjine

Ibarat banyu mili wes tekan segoro

Cobo dadi aku kuat po atimu

Meski koe sambat ora kuat

Aku uwes ora pengin loro

Atiku wes tenang wes tak anggep ilang

Layangan seng tatas

Tondo tresno ku wes pungkas

Mabur duwur ngalang ngalang

Yen nibo dadi kenangan

Koe seng tak eman eman

Ninggal ke roso kelaran

Opo iki wes takdir e

Aku iklas aku pasrah wes tak ngalah

Cobo dadi aku kuat po atimu

Mesti koe sambat ora kuat

Aku uwes ora pengin loro

Atiku wes tenang wes tak anggep ilang

Layangan seng tatas

Tondo tresno ku wes pungkas

Mabur duwur ngalang ngalang

Yen nibo dadi kenangan

Koe seng tak eman eman

Ninggal ke roso kelaran

Opo iki wes takdir e

Aku iklas aku pasrah wes tak ngalah

Layangan seng tatas

Tondo tresno ku wes pungkas

Mabur duwur ngalang ngalang

Yen nibo dadi kenangan

Koe seng tak eman eman

Ninggal ke roso kelaran

Opo iki wes takdir e

Aku iklas aku pasrah wes tak ngalah🎶




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Bisikan Maut"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel