Rantiku

Rantiku

Penulis: Endah Larasati

"Ran ... Rantiii!" Terdengar teriakan yang sudah jamak terdengar saban hari.

 

Seperti biasa pula, pemilik nama yang dipanggil memunculkan diri dari balik tirai sebuah bilik yang disebut kamar. Mungkin sekilas tidak layak disebut kamar. Bagaimana tidak, ruangan yang ukurannya tidak lebih dari 2x2 meter dengan isi aneka rupa barang tertumpuk di sudut ruangan. Tidak ada lemari pakaian, begitu pula meja rias. Sejumlah pakaian yang telah rapi dilipat, tersusun di sudut kanan. Beberapa bantal dan guling menghuni sudut kiri. Tak jauh dari pintu dengan penutup kain usang--anggap saja tirai, terdapat kardus kecil berisi sisir, karet rambut, dan bedak tabur seadanya.

 

"Ada apa, Bu?" tanya Ranti sambil membenarkan posisi penjepit rambutnya.

 

"Ada apa? Ada apa? Kamu sudah siapkan kue pesenan Bu Darmo? Ini sudah jam sepuluh, sebentar lagi pasti orangnya ke sini?!" Wanita bertubuh gempal itu hampir tak pernah menurunkan volume suaranya ketika berbicara dengan menantunya.

 

Tanpa menjawab, Ranti langsung berjalan menuju dapur.

 

"Heh, dasar mantu ga punya adab! Ada orang tua bicara malah ditinggal pergi! Rantiii!"

 

Wanita yang dipanggil menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. "Kata Ibu sebentar lagi pesanannya mau diambil? Ranti mau ke dapur, mau ngecek semuanya sudah sesuai pesanan atau belum."

 

Dengan bersungut-sungut, wanita yang selalu emosi itu mengempaskan tubuh suburnya di kursi yang sudah kehilangan sebagian besar busanya.

 

Sesuai perkiraan, Bu Darmo--pelanggan sekaligus tetangga mereka--datang. Wajahnya selalu cerah dihiasi senyuman.

 

"Permisi, Bu Antin. Pesanan saya sudah siap? ucapnya di ambang pintu.

 

"Eh, Bu Darmo sudah datang. Ranti! Buruan bawa ke sini pastel dan kue lumpur pesanan Bu Darmo!"

 

Bukan hal baru Bu Darmo disuguhi hal semacam itu. Bukannya dipersilakan duduk, tetapi ia lebih sering mendengar teriakan pemilik rumah.

 

Tak sampai lima menit, Ranti membawa kardus menuju ruang tamu. Ia berhenti sejenak dan tersenyum tanda menghormati tamu.

 

"Saya bawa langsung ke mobil, ya, Bu." Ranti melanjutkan langkahnya.

 

Setelah kardus berisi pesanan aman di dalam mobil, Ranti menghela napas. Saat berjalan menjauhi roda empat silver metalik, kakinya terpaksa berhenti.

 

"Mbak Ranti baik-baik saja?"

 

"Iya, saya baik-baik saja. Memangnya ada apa, Bu?" tanya Ranti kepada pelanggannya.

 

"Mbak Ranti terlihat pucat. Saya perhatikan akhir-akhir ini, Mbak Ranti terlihat kurusan."

 

"Ah, Bu Darmo bisa saja. Saya baik-baik sa ...." Kalimat Ranti terhenti karena tiba-tiba ia terbatuk-batuk. Cukup lama wanita berdaster itu batuk, bahkan air matanya sampai keluar.

 

"Tuh, kan," ujar Bu Darmo sambil mengelus punggung lawan bicara.

 

Ranti hanya tersenyum. Tiba-tiba tangannya diraih wanita di hadapan. Mata Ranti terbeliak melihat sesuatu yang diletakkan Bu Darmo di telapak tangannya.

 

"Apa ini, Bu?"

 

"Buat pegangan Mbak Ranti. Sudah, jangan ditolak. Saya paham betul bagaimana kondisi keluarga Mbak Ranti, terutama mertuamu."

 

"Tapi, Bu ...."

 

Wanita yang masih cantik di usia senja itu tersenyum dan mengangguk, selanjutnya menuju pintu kemudi mobil.

 

Setelah roda empat itu hilang ditelan jarak, Ranti kembali menuju rumah. Baru selangkah melewati pintu, gerakannya terhenti.

 

"Ngapain saja kamu? Lama banget di luar? Curhat? Ngumbar cerita ke orang-orang tentang mertuamu?" Ucapan itu terdengar sinis.

 

Tanpa berminat berdebat, Ranti segera masuk kamar. Segera ia menjatuhkan tubuh di kasur kapuk yang usianya sudah lebih dari sepuluh tahun. Mata wanita itu menerawang, mengingat segala macam peristiwa selama tujuh tahun terakhir. Ya, Ranti sudah menikah lebih dari tujuh tahun. Selama itu pula ia mendapat perlakuan buruk dari ibu mertuanya. Menurut wanita itu, Ranti penghalangnya menjadi orang kaya. Dulu, Abdul—suami Ranti—dijodohkan dengan anak seorang juragan kapal. Namun, Abdul menolak dan memilih menikahi Ranti—anak dari buruh bangunan.

 

Tujuh tahun lebih menikah, Ranti belum pernah merasakan hamil atau tanda-tandanya. Ibu mertuanya semakin menjadi-jadi dalam bersikap kasar. Ia pikir menantunya mandul. Padahal sejatinya, Abdul yang tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai suami. Meski demikian, Ranti tidak pernah menceritakan hal itu kepada ibu mertuanya. Cukup Ranti, Abdul, dan dokter tempat mereka konsultasi yang tahu. Pernah Ranti dan Abdul pergi ke dokter, berikhtiar mengatasi masalah mereka. Namun, kenyataan tak selalu sejalan dengan impian. Abdul yang bekerja sebagai juru parkir dan petugas kebersihan dengan pendapatan tak seberapa, tak mampu membayar biaya pengobatan. Ranti yang hampir tak pernah istirahat membantu ibu mertuanya membuat kue pesanan, hanya mendapat uang tak lebih dari lima puluh ribu setiap minggunya.

 

"Ranti!"

 

Enggan Ranti beranjak dari tempatnya berbaring. Kepalanya berat, disertai mata terasa panas.

 

"Ranti, jangan malas-malasan! Sebentar lagi suamimu pulang. Buruan masak nasi, goreng tempe, dan bikin sambal korek. Aku mau ke warung depan sebentar."

 

Sunyi, tak ada jawaban. Wanita yang sering berteriak itu pun berlalu.

 

Empat puluh lima menit berlalu. Pintu rumah ada yang mengetuk, tetapi tidak ada yang membukakan. Si pengetuk pintu juga mengucapkan salam. Sama, tidak ada jawaban. Akhirnya tangan si pengetuk meraih gagang pintu. 'Tidak dikunci,' batinnya. Selanjutnya pintu dibuka dan ia melangkah masuk.

 

Langkah orang itu langsung tertuju pada kamar tempat Ranti berada. Ia duduk di tepi kasur. Dipegangnya bahu Ranti yang dalam posisi memunggungi pintu kamar.

 

'Kamu pasti capek, ya, Dek. Maafkan suamimu ini, belum bisa membahagiakanmu. Untuk me time pun, istilah zaman sekarang, kamu enggak bisa.'

 

Ranti tidak menjawab, membalikkan tubuh pun tidak. Abdul yang baru pulang kerja kemudian mengganti pakaian. Ia kembali melihat Ranti. Tak tega mengganggu istirahat istrinya, Abdul keluar kamar dan menuju dapur.

 

Belum ada makanan untuk santap siang. Dengan cekatan, lelaki berkulit gelap itu mengolah bahan yang ada. Menanak nasi, menggoreng tempe, dan menyiapkan minuman hangat kesukaan istrinya.

 

Setelah semua siap, Abdul bermaksud membangunkan Ranti untuk makan siang bersama. Beberapa kali lelaki berkaus biru memanggil istrinya. Beberapa kali pula ia mengelus pelan bahu istrinya. Nihil, tidak ada respons. Akhirnya Abdul membalikkan tubuh Ranti. Sama sekali tidak ada perlawanan. Kini wajah Ranti terlihat terlelap, begitu damai. Ada yang mengganjal hati Abdul. Wajah istrinya terlihat sangat pucat. Ia letakkan tangan di dahi Ranti, kemudian berpindah di dekat lubang hidung wanita itu.

 

Seketika tubuh Abdul kehilangan daya topang. Syaraf dan tulanhnya seolah-olah tak berfungsi. Masih berusaha meyakinkan diri, tangan Abdul meraih tangan kiri Ranti, kemudian mencari nadi wanita itu.

 

'Dek ... Rantiku ....'




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Rantiku"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel