Matinya Anjing yang Tak Bisa Menggonggong

Matinya Anjing yang Tak Bisa Menggonggong

Penulis: Diniar N. Fadilah*

Semangkuk makanan telah tersaji. Seperti biasa Lolita langsung membelai kepalaku dengan lembut setelah meletakkan mangkuk itu di hadapanku. Jika saja rasa lapar yang sialan ini tak begitu menggigit perutku, aku pasti tak akan menyentuh makanan yang sangat membosankan itu. Aku ingin menikmati sentuhan jemari Lolita yang begitu lentik dengan kuku yang begitu berkilau dilapisi kuteks berwarna perunggu.

Ah, tahun berapakah sekarang ini? Sudah berapa lama aku berada di rumah ini dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga ini – atau kehidupan Lolita lebih tepatnya? Tiga tahun? Atau lima tahun? Atau bahkan lebih dari itu? Kenapa aku baru menyadari Lolita telah menjelma menjadi remaja cantik yang begitu mempesona? Dia bukan lagi gadis ingusan yang gemar menangis saat kugigit bonekanya.

Aku masih ingat betul bagaimana bisa aku menginjakkan kaki di rumah indah yang punya banyak jendela ini. Saat itu Lolita kecil baru saja pulang dari tempatnya berlatih karate. Hujan yang deras mengguyur disertai kilatan petir yang kerap menyambar memaksanya untuk berteduh di emperan sebuah toko tua di samping sarangku. Nampaknya, gadis cilik yang masih mengenakan setelan seragam karate berwarna putih dan menggendong sebuah ransel berwarna hijau tua itu terketuk hatinya saat melihat seekor anak anjing kurus yang tengah meraung lirih di hadapan jasad induknya.

Dengan tubuh yang mulai kuyup tersiram air dari langit, Lolita kecil merengkuhku. Menjauhkan tubuh kurusku dari jasad seekor anjing yang tak lagi bergerak setelah ramai-ramai dikeroyok oleh sekelompok berandalan tengik dua malam sebelumnya. Ya, indukku dan tiga saudaraku mati setelah menjadi bulan-bulanan sekelompok pemuda yang menganggap merenggut nyawa mahluk Tuhan dengan cara yang keji adalah sesuatu yang menyenangkan. Ketiga jasad saudaraku bahkan dibawa pulang oleh salah seorang dari mereka. “Akan kucincang dan kuberikan pada aligator peliharanku, Ayahku bilang daging anjing muda jauh lebih bergizi ketimbang anjing tua” katanya sembari memasukkan jasad ketiga saudaraku yang berlumuran darah ke sebuah karung. Aku melihat semua kejadian pilu itu dari balik tembok sebuah toko tua yang melindungi tubuhku dari sapuan pandangan mereka.

Aku juga masih ingat bagaimana tatapan Baskara saat Lolita sampai ke rumah indah yang punya banyak jendela ini dengan menggendong seekor anak anjing kotor. Bola mata kakak Lolita itu berubah merah seperti biji saga. “Untuk apa kau bawa pulang anak anjing kotor itu, Lita? Abang bisa membelikanmu yang lebih baik dan lebih mahal. Sekarang kau buang anak anjing kotor sialan itu lalu bersihkan tubuhmu dan pergi tidur. Besok pagi kita ke kota untuk beli anak anjing yang lebih baik dan lebih lucu,” desak Baskara.

Lolita meletakkan tubuh kurusku di lantai. Kakinya yang mungil melangkah mendekati Baskara yang tengah menghadapi sebuah meja kecil dengan sebotol vodka dan kulit kacang yang berserakan di atasnya. Dengan suara yang dibuat semanja mungkin, Lolita mulai bercerita. “Lita menemukan dia di samping sebuah toko tua. Dia sendirian dan kedinginan menangisi jasad induknya, Bang. Dia tak punya mama seperti Lita dan Abang. Masa iya Abang tak punya rasa iba barang secuil pun?”

“Tapi anak anjing itu sangat kotor. Dia pasti membawa banyak penyakit di tubuhnya, Lita. Kau akan terjangkit penyakit jika terus-terusan berdekatan dengan anak anjing kotor itu,” kata Baskara kemudian.

Tangan kanan Baskara buru-buru melepas rokok yang dipegangnya saat tangan mungil Lolita menggenggamnya. Mata bening gadis itu menatap Baskara dengan tatapan memohon. Tentu saja, siapapun termasuk seorang pemuda yang hampir mabuk seperti Baskara akan meluluh, tak akan bisa mengelak dari pesona tatapan gadis kecil itu. Apalagi ia juga teringat pada pesan terakhir mamanya, sesaat sebelum beliau meregang nyawa setelah diserang segerombolan serigala lapar di tepi hutan tempat keluarga mereka berlibur.

Ya, sejak saat itu aku tinggal dan dirawat oleh Lolita di sebuah rumah indah yang punya banyak jendela. Lolita merawatku penuh kasih sayang. Ia tidak peduli pada warna buluku yang tak bisa dikatakan indah atau kaki belakangku yang pincang serta lidahku yang selalu menjulur mengalirkan liur. Tentu saja Baskara tak demikian. Meskipun ia tak jadi membuangku, ia sering menendang tubuhku dan memakiku dengan selusin sumpah serapah, apalagi setelah ia tahu aku tak bisa menggonggong seperti anjing lainnya. Untung saja Lolita selalu datang untuk melindungiku dari kebengisan abangnya yang kerap menjelma jadi iblis saat menyiksaku itu.

---

Bunyi yang ditimbulkan oleh gerbang yang terbuka menghentikan belaian tangan Lolita di kepalaku. Dua orang pemuda masuk dengan membawa seorang lainnya dengan cara dipapah. Itu pasti Baskara. Ia pasti terlalu banyak menenggak vodka di bar kecil di pinggiran kota seperti kemarin. Lolita langsung bangkit dan sangat terkejut ketika melihat tanda lebam di wajah Baskara.

“Abang kenapa?” tanyanya setengah histeris.

“Baskara mabuk. Ia lalu datang ke sebuah rumah di ujung komplek untuk mengganggu anjing mereka. Dan kau tahulah, keributan yang ditimbulkan membuat ia dihajar oleh si pemilik,” kata seorang pemuda berjaket abu-abu yang memapah Baskara.

“Begitulah Abangmu. Aku tidak tahu kenapa ia begitu terobsesi pada gonggongan seekor anjing. Jika saja anjing di rumah ini bisa menggonggong, Baskara pasti tidak akan melakukan sesuatu sebodoh ini,” timpal pemuda lainnya yang juga mengenakan jaket serupa. Matanya melirik ke arahku.

Setelah mengantar Baskara ke kamarnya, kedua pemuda berjaket abu-abu itu berpamitan. Lolita hanya mengantarnya sampai ke pintu rumah. Seberkas kesedihan terpancar jelas dari raut wajahnya saat ia mengantar kedua tamunya ke ambang pintu tadi. Dan tentu saja hal itu membuatku tak bisa tidur nyenyak malam ini. Bukan hanya karena tak ada ucapan selamat malam dari gadis berjari lentik dengan cat kuku warna perunggu itu, aku juga sedang memikirkan sebuah rencana.

Untung saja Lolita tak pernah mengikatku dengan rantai sehingga malam ini aku bisa bebas menyelinap keluar melalui gerbang yang lupa ditutup oleh dua teman Baskara tadi. Sejujurnya aku tak tahu harus pergi kemana. Aku hanya mengikuti naluriku untuk bisa menemukan tempat di mana aku bisa belajar menggonggong. Tidak, aku tidak ingin membuat Baskara senang dan menerimaku sebagai anjing yang utuh. Aku hanya tak ingin melihat Lolita yang terus bersedih saat melihat abangnya harus pulang dengan banyak luka lebam akibat ulah konyolnya yang ingin mendengar gonggongan anjing.

Aku tidak sadar langkahku telah sampai di tepi hutan lindung yang cukup jauh dari kota. Pasti sekarang sudah hampir tengah malam, pikirku saat melihat bulan yang hampir penuh di tengah ufuk langit. Seekor serigala dengan bulu hitam tiba-tiba saja muncul dari belukar yang tumbuh di antara dua pohon besar. Ia menatapku dengan aneh.

“Bagaimana bisa anjing sepertimu ada di tempat ini? Kau tersesat atau memang sengaja dibuang oleh tuanmu?” tanyanya penuh selidik.

“Tidak. Aku tidak tersesat dan tuanku yang sangat baik juga tidak membuangku ke tempat ini,” jawabku.

“Lalu kenapa kau bisa sampai ke tempat ini? Ini bukanlah sebuah tempat di mana seekor anjing rumahan sepertimu seharusnya berada. Apa yang kau cari?”

Aku lalu menceritakan apa yang terjadi di rumah Lolita tadi. Kuceritakan pula keinginanku untuk belajar menggonggong. Serigala berbulu hitam itu menyimak seluruh ceritaku dengan seksama, seperti seorang karib yang sudah begitu lama mengenalku. Ia lalu mengatakan “maafkan aku. Aku tidak bisa mengajarimu menggonggong. Tapi aku bisa kok mengajarimu melolong.”

“Melolong?” tanyaku keheranan.

“Ya, melolong. Kaumku biasa melolong untuk menandai wilayah kekuasaan kami dan memikat lawan jenis.”

“Apa kau bilang? Memikat lawan jenis? Maksudmu lawan jenis yang kita sukai akan terpikat jika kita melolong?” Aku tak tahu kenapa aku begitu antusias soal ini. Aku hanya membayangkan jemari lentik Lolita yang berhias cat kuku berwarna perunggu itu akan semakin sering membelai kepalaku jika aku bisa melolong. “Ajari aku sekarang. Ajari sampai aku bisa melolong sepertimu,” kataku sedikit memohon.

Serigala berbulu hitam itu mengajariku melolong. Tak mudah memang. Tapi bayangan jemari lentik Lolita yang akan semakin sering membelai kepalaku – yang tentu saja tak kusampaikan pada serigala berbulu hitam itu, membuatku terus berusaha hingga akhirnya aku bisa melolong seperti serigala hitam itu. “Besok malam, saat bulan purnama telah penuh di tengah ufuk langit, melolonglah! Melolonglah yang panjang sampai ia terpikat.” Begitulah serigala berbulu hitam itu berpesan saat kami akan berpisah di tepi hutan. Bulan yang belum penuh itu hampir tergelincir ke ufuk barat saat kami berpisah.

---

Aku kembali berhasil menyelinap masuk melalui gerbang yang lupa ditutup oleh dua teman Baskara sesaat sebelum kokok ayam jantan pertama terdengar. Aku langsung masuk ke kandangku, sebuah miniatur rumah yang dibuat dari kayu balsa yang diletakkan oleh Lolita di bawah sebuah pohon beringin besar di depan rumah indahnya yang punya banyak jendela. Tanpa sadar, mataku terpejam dan aku jatuh dalam tidur yang pulas..

Mataku baru terbuka saat mendengar keributan di beranda. Itu suara Baskara dan beberapa orang temannya. Mereka nampak tengah membersihkan beberapa senapan. “Kau sudah bangun rupanya. Tumben sekali kau tidur sepulas itu. Kau pasti habis mengunjungi pacarmu di rumah Pak Markus itu semalam, ya?” suara Lolita yang tiba-tiba saja ada di depan kandang tentu mengagetkanku. Ia membawa semangkuk makanan. Rupanya sekarang sudah masuk jam makan siang.

“Bang Baskara akan berburu babi hutan malam ini bersama teman-temannya. Sejujurnya aku sangat khawatir. Tapi daripada dia harus babak belur lagi karena mengganggu anjing tetangga untuk mendengar gonggongannya, lebih baik dia ikut temannya berburu babi hutan, kan? Mereka akan berangkat tengah malam nanti.” Lolita bercerita sembari membelai kepalaku, seperti biasa.

---

Bulan sudah penuh di tengah ufuk langit. Keriuhan Baskara dan teman-temannya yang akan berangkat berburu babi hutan tak mampu mengatasi debaran yang melanda dadaku. Tadinya aku memang akan melolong saat Baskara dan teman-temannya sudah berangkat berburu nanti. Tapi niat itu kuurungkan. Aku akan melolong sebelum mereka semua berangkat. Aku akan membuat Lolita terpikat sekaligus membuat Baskara dan teman-temannya terkesan.

Aku mengambil ancang-ancang, mengatur nafas seperti yang diajarkan oleh serigala berbulu hitam itu kemarin malam. Dengan penuh percaya diri aku melolong. Sekali, dua kali, tiga kali, lolonganku terus mengalun mengatasi keriuhan yang diciptakan oleh Baskara dan teman-temannya yang hendak berangkat berburu. Aku kembali melolong sembari menantikan respon mereka semua. Aku menantikan Lolita yang akan segera datang untuk untuk membelai kepalaku dengan jemari lentiknya yang berhias cat kuku berwarna perunggu.

Namun ternyata respon mereka semua berbeda. Lolita tak segera menyambut lolonganku dengan belaian lembutnya yang penuh kasih sayang. Lolita malah menjerit histeris seraya menutup kedua telinganya. Sementara Baskara malah menampilkan raut wajah bengis serupa iblis yang siap menyiksaku.

Baskara berlari ke arahku membawa sebuah senapan yang telah terkokang, siap memuntahkan peluru tajam yang bisa menembus kulit tebal babi hutan dan merenggut nyawa binatang apapun dalam sekejap. Bukk! Baskara menendang perutku. Seketika lolonganku terhenti.

Lolita masih saja menjerit histeris seraya menutup kedua telinga di beranda  rumahnya yang punya banyak jendela. Lolita tak segera menyambut lolonganku. Jemari lentiknya yang berhias cat kuku berwarna perunggu itu tak kunjung membelai kepalaku, bahkan saat tiga buah peluru yang dimuntahkan oleh senapan Baskara bersarang di sana.

Cilempunyang, 3 Juni 2021.

  

 

 

Diniar N. Fadilah lahir di Cilacap pada tanggal 4 Mei 1998. Kecintaannya pada dunia kepenulisan mulai tumbuh saat ia duduk di bangku sekolah dasar dan terus diasah sampai sekarang. Cerpen-cerpennya banyak mengambil setting kehidupan masyarakat pedesaan. Selain menulis cerpen, gadis yang sangat mengidolakan Ahmad Tohari ini juga gemar menulis esai. Esainya yang berjudul Menjadi Ken Arok Di Era Global menyabet juara 1 dalam lomba menulis esai yang diadakan oleh Nalar Politik dan IPMAJU. Diniar dapat disapa melalui akun facebook Diniar N. Fadhilah serta instagram dan twitter di akun @dhianufha.

0 Response to "Matinya Anjing yang Tak Bisa Menggonggong"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel