Jatuh Cinta Sejatuh-jatuhnya

Jatuh Cinta Sejatuh-jatuhnya

Penulis: Endah Larasati


[Neng, ntar malam jalan, yuk.]

 

[Ke mana? Takut, ah. Lagi musim penyakit.]

 

[Yang deket-deket rumah aja. Cari angin, gitu.]

 

[Angin, kok, dicari. Nyalain kipas angin, terus duduk anteng di depannya, dijamin kenyang angin. Sejam, pasti lebih dari cukup. Kalau masih kurang, aku tambahin angin.]

 

[Tambahin angin? Semacam ban motor kurang angin, dong? Emang gimana caranya tambah angin buatku?]

 

[Aku kentut di depan Abang! Udah, ah, aku lagi banyak kerjaan, bentar lagi bos besar pulang.]

 

Tanpa banyak pikir, gadis muda berambut pendek itu meletakkan ponselnya di meja yang terletak di sudut kamar. Langkahnya terayun meninggalkan kamar, segera menuju dapur.

 

'Lah, tadi aku ke kamar mau ambil bandana supaya rambutku tidak mengganggu sewaktu masak. Malah lihat hape, balas pesan enggak jelas,' gerutu Santi sambil memutar badan, berbalik arah. Langkahnya sudah mencapai tiga meter dari pintu dapur, tetapi terpaksa kembali ke kamar untuk mengambil bandana yang seharusnya sudah diambil tadi.

 

Sepuluh menit berselang,  Santi sudah berkolaborasi dengan kompor dan penggorengan. Wajah gadis berkulit kuning langsat itu terlihat mengilap. Peluh menghiasi wajahnya yang tidak pernah tersentuh perawatan kulit khusus.

 

Ketika tangan kanan Santi membalikkan ikan di penggorengan, tiba-tiba muncul kepala di balik jendela tepat di seberang Santi.

 

"Ya Allah, Gusti Pangeran! Ngagetin saja, deh, Abang. Untung jantung Santi buatan Gusti Allah, kalau enggak sudah pindah tempat, deh. Ngapain, sih, Bang? Dari tadi gangguin Santi terus!" Dengan bibir maju beberapa sentimeter, Santi mengomeli lelaki di balik jedela.

 

Lawan bicara gadis ayu itu seolah-olah merasa tidak bersalah. Ia terlihat cengengesan sambil menggaruk belakang kepala.

 

"Malah cengengesan! Garuk-garuk kepala pula! Awas ketombenya kebawa angin terus nempel di rambut Santi!"

 

"Abang enggak ada ketombe, Neng. Anu ...."

 

"Anu apa? Kalau enggak ada ketombe, kok, garuk-garuk kepala dari tadi? Kutuan?!" Suara Santi naik satu oktaf.

 

"Enggak ... enggak. Abang enggak ada kutu rambut." Lelaki berkaus tanpa lengan itu menjawab sambil menggeleng kuat dan mengibaskan kedua tangan.

 

Santi mengerucutkan bibir. Mengangkat ikan dari penggorengan, mematikan kompor, dan beralih posisi. Jari lentiknya cekatan menata ikan di piring dan diikuti gerakan lain menyiapkan makan siang untuk pemilik rumah.

 

Kembali dada Santi tersentak, terkejut. Pasalnya ketika ia berjalan meninggalkan dapur dengan tangan membawa mangkuk besar berisi sayur asam, tiba-tiba seseorang menghadang.

 

"Duh, Gusti Pangeran, opo meneh, to? Ada apa lagi, Abang? Bagaimana coba kalau mangkuk ini lepas dari tangan Santi? Bentar lagi bos besar pulang makan siang, bisa kena semprot aku. Selain itu, sayur ini masih agak panas, kalau kena kaki bisa mlocooot!" geram Santi buru-buru menuju ruang makan, tepat di sebelah dapur.

 

Meski sudah dimarahi, lelaki yang dari tadi berusaha mencari perhatian Santi tetap mengekor. Bolak balik Santi berjalan antara dapur dan ruang makan. Bolak balik pula lelaki itu mengikuti. Hingga Santi selesai menghidangkan semua makanan di meja makan, gadis itu tak lagi mampu menahan kegeramannya.

 

"Abaaang!" teriak Santi.

 

"Ya, Neng. Abang di sini, ada apa?" Lelaki itu menunjukkan deretan giginya.

 

"Abang Nurdin, sebenarnya mau apa? Dari tadi ngikutin Santi terus." Suara Santi melunak setelah menarik napas dalam-dalam.

 

"Nanti kita jalan, ya. Tadi kata Neng Santi, kan, mau nyiapin makan siang buat bos besar. Sekarang, kan, sudah selesai. Bisa, ya. Bentar saja, enggak jauh-jauh dari sini." Wajah Nurdin memelas.

 

Tanpa berniat menjawab, Santi mengambil langkah lebar. Wajahnya terlihat menahan kesal. Lelaki yang pantang menyerah masih semangat berjalan dua langkah di belakang gadis incarannya.

 

Setibanya di depan kamar, Santi membalikkan tubuh.

 

"Bang Nurdin, jangan ganggu Santi lagi!" tegas gadis berhidung minimalis.

 

"Neng, a ...  ayam ...."

 

"Ayam ... ayam ... ayam goreng?!"

 

"A ... ayam lap yu, Neng. Benaran, Abang suka Neng Santi. Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama Neng Santi," ungkap Nurdin dengan wajah sendu.

 

Gadis yang dituju memutar bola mata. Ia tarik napas sebelum menjawab.

 

"Bang, Santi di sini itu kerja, cari duit sambil sekolah kesetaraan esempe. Abang enggak lupa, kan, usia Santi?"

 

Lelaki yang diajak bicara mengangguk.

 

"Santi belum genap lima belas tahun. Masih bocah, belum ada separuh usia Abang. Santi sama sekali belum mikir hal semacam itu."

 

Gadis itu tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Tubuhnya menghilang di balik pintu. Sementara Nurdin menunduk sambil bergumam, 'Abang optimis akan meluluhkan hatimu, Neng. Meski Abang cuma seorang tukang kebun, tapi semangat juang Abang enggak kalah sama prajurit perang.'




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Jatuh Cinta Sejatuh-jatuhnya"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel