Jangan Remehkan!

Jangan Remehkan!

Penulis: Endah Larasati

Seorang wanita berwajah bulat telur, duduk dengan anggunnya di jok belakang mobil. Sesekali senyum menghiasi paras ayunya. "Bisa cepat sedikit, Pak?" tanyanya kepada lelaki di belakang kemudi.

 

"Maaf Mbak Rumi, jalanan tidak mendukung--macet. Maklum, jam-jam begini waktunya pulang kerja."

 

Wanita yang disebut namanya, menghela napas. "Aku enggak sabar ingin memberikan kejutan untuk Mas Biru."

 

"Den Biru enggak tahu kalau hari ini Mbak Rumi pulang?" tanya lelaki di depan dengan nada sedikit aneh.

 

"Enggak, Pak. Kok, sepertinya nada bicara Pak Sumo terdengar aneh?"

 

"Oh, eng-enggak apa-apa, Mbak." Selanjutnya Pak Sumo—sopir keluarga Rumi memilih menutup mulut.

 

Perjalanan lebih dari enam puluh menit berjuang dalam kemacetan akhirnya terselesaikan. Wajah Rumi semakin berbinar. Di teras dengan pilar besar dan terdapat guci Tiongkok di salah satu sisinya, terlihat wanita paruh baya berseragam asisten rumah tangga.

 

"Selamat sore, Bu Sumo," sapa Rumi ceria. Wanita berseragam biru tua terlonjak. Kain yang ia gunakan membersihkan guci terjatuh.

 

"Astaga, Mbak Rumi. Bikin jantungan saja. Eh, kok, sudah pulang?"

 

Bukannya menjawab, wanita berkulit seputih susu itu melenggang meninggalkan Bu Sumo. Langkahnya terayun cepat bahkan berlari kecil. Niatnya sangat besar memberi kejutan untuk sang suami. Sebelum Rumi tiba di kamar, Bu Sumo tergopoh-gopoh menyejajari. "Katanya lusa baru pulang?" tanya wanita berbadan gempal sambil mengatur napas.

 

"Kondisi Papi sudah membaik. Aku pengen kasih kejutan buat Mas Biru. Dia pasti seneng banget. Papinya sudah sehat dan istrinya yang cantik ini pulang lebih awal." Senyum bahagia mengakhiri kalimat Rumi.

 

"Em, ta-tapi nganu, Mbak."

 

"Ada apa, Bu? Kok, seperti orang bingung?" tanya Rumi seraya menelengkan kepala.

 

"Em ...."

 

Wanita cantik itu terus berjalan menuju kamar. Dua langkah di ambang pintu, langkahnya seketika terhenti. Terdengar suara aneh dari dalam kamar. Seperti suara lenguhan. Bukan hanya milik satu orang, sepertinya lebih. Detak jantung Rumi seketika lebih cepat dari normal. Pikirannya diisi aneka rupa prasangka.

 

"Mbak Rumi ...."

 

Wanita yang dipanggil mendengar, tetapi sengaja abai. Gemetar tangannya hendak mengetuk pintu. Sekali, dua kali, pintu diketuk sangat pelan. Tak ada respons dari dalam. Ragu, tangan lentik itu memegang gagang pintu. Antara yakin dan tidak, ia menggerakkan benda itu. Ternyata tidak terkunci. Dalam sekali gerakan, daun pintu berbahan jati terbuka.

 

Mata indah Rumi terbuka sempurna, napasnya tercekat, kakinya seolah-olah kehilangan daya topang. Hampir saja terjatuh, beruntung Bu Sumo sigap membantu berdiri.

 

"Mas Bi-ru." Suara Rumi lirih.

 

Ingin sekali wanita itu berlari, tetapi tak ada daya. Lelaki pujaan hati dalam kondisi berpakaian tak sempurna. Sementara itu, di peraduan terlihat seorang wanita sedang menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

 

"Ariska?" Suara Rumi kembali terdengar.

 

Wanita yang disebut namanya tertunduk menahan malu. Ariska adalah asisten pribadi. Hampir semua kegiatan Rumi, Ariska yang membantu. Ya, Arumi adalah seorang publik figur kenamaan. Saat ini kariernya sedang melejit. Ia terkenal bukan hanya karena bakatnya di depan kamera, tetapi juga karena kepribadiannya yang sangat baik. Rumi memperlakukan Ariska tidak sekadar sebagai asisten pribadi, melainkan sudah dianggap sebagai saudara. Peristiwa ini merupakan pukulan luar biasa untuk Rumi. Suami yang sangat dicintai bermain api dengan orang kepercayaannya.

 

Beberapa menit berselang, wanita dengan sepatu putih tulang kembali mendapatkan kekuatannya. Meski gontai, ia meninggalkan tempat itu. Sebuah kamar di sudut selatan menjadi tujuannya.

 

"Rumi, tunggu dulu! A-aku bisa jelaskan semuanya. Aku minta maaf. Rumi, please, maafkan aku." Suara Biru mengekor.

 

Setelah memasuki sebuah kamar, segera Rumi menutup dan mengunci pintu. Ia tak peduli keberadaan Biru tepat di belakangnya.

 

***

 

Seminggu berlalu. Wanita berambut ikal sudah mulai beraktivitas normal. Selama seminggu ia gunakan berdiam diri di rumah—menata hati, pikiran, dan rencana.

 

"Enggak sarapan?" tanya Rumi kepada suaminya yang hendak berangkat kerja.

 

Langkah Biru terhenti, ia berbalik arah dan mengambil tempat duduk di seberang istrinya. "Rumi, kamu mau bicara denganku? Setelah seminggu ini kamu kunci mulutmu? Apakah ini artinya kamu memaafkanku?" cecar Biru.

 

Wanita yang mengenakan atasan peach menggendikkan bahu. "Makanlah. Bu Sumo sudah menyiapkan nasi uduk kesukaanmu." Tanpa menunggu jawaban suaminya, Rumi segera menyuapkan nasi uduk ke mulutnya.

 

Sejak hari itu, semua berjalan seperti sedia kala seolah-olah tidak pernah ada kejadian buruk. Rumi tak pernah sekali pun mengungkit hal itu. Ya, semuanya sangat normal.

 

Tiga purnama sejak peristiwa buruk itu, Rumi minta izin kepada suaminya. Ia ada pemotretan di puncak selama dua hari. Wanita terkenal itu tidak memecat Ariska dengan dalih, tidak ada asisten pribadi yang mampu mengimbangi segala kesibukan Rumi.

 

Hari pertama di puncak, semua berjalan lancar. Setelah semua rangkaian pemotretan selesai, Ariska minta izin pergi beberapa jam. Tanpa banyak pertimbangan, Rumi langsung mengiyakan.

 

Jam sepuluh malam, Rumi menggeser layar ponsel. Berharap Biru menghubungi, tetapi nihil. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Harapan Biru akan menghubungi membuncah. Namun, apa mau dikata, kenyataan tak sejalan harapan. Sebuah foto menunjukkan sesuatu yang sangat menyakitkan. Seketika tangan kanan Rumi mengepal hingga buku jarinya memutih. Giginya gemertak menahan emosi. 'Ini sudah keterlaluan. Jangan remehkan aku lagi! Rumi yang sekarang, bukan lagi yang dulu.'

 

Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda Ariska kembali ke hotel.

 

[Ris, malam ini kamu balik hotel atau enggak?]

 

Tidak ada balasan untuk Rumi hingga sepuluh menit.

 

[Belum tahu, Mbak. Ini urusanku belum selesai.]

 

Membaca balasan itu, senyum licik tersungging di wajah wanita berbaju tidur motif bunga. Tangannya dengan cepat mengirimkan pesan untuk seseorang. Setelah yakin pesannya terbaca, segera ia hapus pesan itu. Nomor tujuan pun tak lupa ia musnahkan dari daftar kontak di ponselnya.

***

Rumi bergelayut manja di bahu suaminya yang tengah bersandar di kepala ranjang. Biru mencium pucuk kepala wanitanya dan merapikan selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Terdengar notifikasi dari ponsel di meja, tepat di sebelah kiri Biru. Gegas lelaki itu meraih ponsel dan membuka pesan masuk. Seketika raut mukanya terlihat gusar.

 

"Ada apa, Sayang? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Rumi.

 

"Eh, anu ... ini orang kantor, katanya ada rapat penting yang tiba-tiba diajukan. Aku harus segera ke kantor."

 

"Ooo, hati-hati kalau begitu. Oh iya, boleh aku pinjam e-banking? Aku lupa di mana nyimpan dompet. Ponselku semalam enggak sengaja jatuh di bak mandi, jadinya enggak bisa pakai e-banking."

 

"Pakai saja. Passwordnya masih ingat, kan?" ucap Biru sembari mengenakan pakaian ala kadarnya dan segera menuju kamar mandi.

 

Senyum licik Rumi kembali mengembang.

 

Detik berjalan, menit berlalu, jam berganti. Sejak kemarin pagi, Biru meninggalkan rumah. Hingga empat puluh delapan jam ia tidak terlihat di rumah. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi.

 

Menginjak hari ketiga, wajah kuyu Biru terlihat di kamar. Langkahnya gontai menuju tempat tidur. Menyadari seseorang duduk di tepi tempat tidur, Rumi membuka mata. "Akhirnya kamu pulang juga. Aku pikir sudah lupa rumah, keasyikan dengan wanita itu," sindir Rumi usai menggeliat.

 

"Bicara apa kamu? Suami baru pulang, kelelahan, bukannya disambut dengan senyuman, malah diketusin."

 

"Lelah? Berapa kali kamu main sama wanita itu?"

 

"Rumi!"

 

Tepat ketika Biru membentak, terdengar ketukan di pintu kamar. Biru melangkah untuk membuka. Bu Sumo berdiri di ambang pintu. Di tangannya terdapat sebuah kotak berwarna hitam.

 

"Den Biru, ada seseorang antar ini. Katanya untuk Den Biru."

 

Setelah barang berada di tangan lelaki berbaju kusut itu, Bu Sumo undur diri. Belum juga pintu tertutup sempurna, tanpa sabar Biru membuka kotak di tangannya. Setelah kotak terbuka, seketika kotak itu dilemparnya.

 

"Ada apa? Apa isinya? Kenapa kamu lempar?" tanya Rumi menghampiri.

 

Sorot mata Biru tajam terarah untuk istrinya. "Kamu yang lakukan semua ini?!" bentak Biru.

 

Rumi memilih membungkuk, mengambil isi kotak yang terjatuh. "Ini, kan, cuma gantungan kunci. Apa hubungannya sama aku?"

 

"Itu gantungan kunci yang terbuat dari jari Ariska, kan?!"

 

Rumi tersenyum misterius.

 

"Dua hari lalu Ariska mengalami insiden hingga kehilangan telunjuk kanannya. Sekarang ada orang mengirimkan barang ini. Ini semua pasti kamu yang merencanakan!" ucap Biru tepat di wajah istrinya.

 

"Kalau iya, memangnya kenapa? Mau laporin aku ke pihak berwajib? Mau ceraikan aku? Si-la-kan!"

 

Dua pasang mata saling kunci dan menahan amarah.

 

"Silakan cek rekeningmu, hanya tersisa uang yang bisa menghidupimu tak lebih dari sebulan. Mau cerita orang tuamu? Silakan, itu kalau kamu ingin mereka terkena serangan jantung. Mau ceraikan aku? Aku enggak peduli!"

 

Rumi menghela napas sejenak. "Kamu pikir, kamu seorang lelaki yang pacak bermain peran di depan istrimu? Kegilaanmu dengan banyak wanita sudah aku ketahui semua. Bukan hanya dengan Ariska, ada banyak wanita lain selama tiga tahun pernikahan kita!"

 

Usai menyelesaikan kalimatnya, Rumi gegas memindahkan barang-barang pribadinya ke dalam travel bag. Selanjutnya segera ia tinggalkan rumah mewah yang tiga tahun ini menjadi tempat tinggal. Sementara Biru, ia tak mampu berucap atau berbuat apa pun. Tubuhnya luruh di lantai.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Jangan Remehkan!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel