Sutan Bagak dan Belatinya

Sutan Bagak dan Belatinya

Penulis : Amidia Amanza 

Sawah-sawah petani telah menguning. Sehingga hamparan yang tampak di pelupuk mata bagai ladang emas yang berkilauan. Tak lama lagi masa panen akan segera menghampiri. Orang-orang desa akan bahu-membahu membantu memanen padi. Yang wanita akan sibuk memasak dan sebagian lagi akan ikut serta menyabit padi. Dan kaum pria akan menghempaskan butiran-butiran padi itu ke dalam tong hingga melimpah. Kadang suara yang ditimbulkan oleh hempasan tersebut terdengar bak nada yang telah diatur.

Namun, kebahagiaan itu tak akan bertahan lama. Para serdadu penjajah itu akan segera datang ke setiap pintu rumah penduduk desa untuk memungut pajak hasil bumi. Mereka dengan serakah mengambil hampir dari setengah hasil panen penduduk.

“Ayo, bergegaslah sedikit, Dik.” Titah Sobri pada Sidik. “Agar cepat selesai makanya kau turun dan bantu aku. Bukan hanya merengek di atas sana.” Gerutu Sidik yang melihat kecemasan kawannya tersebut ketika aksi mereka akan diketahui oleh tentara kompeni. “Kalau si pirang Jahanam itu tahu kita menyembunyikan padi, habislah nyawa kita.” Rengek Sobri yang makin menjadi-jadi. “Aiissh.. kau ini. Sudah tutup mulut kau itu!” Teriak Sidik.

“Apakah sudah kalian pastikan padi-padi itu aman?” Sutan Bagak bertanya kepada kedua orang keponakannya. “Sudah, paman.” Jawab Sobri dan Sidik serentak. “Baiklah, bagus” Sutan Bagak menepuk kedua pundak keponakannya itu.

Belanda minta tanah itu terlambat datang hari ini. Tidak seperti biasanya mereka terlambat ingin meminta pajak. Kemungkinan besar mereka tengah menghadapi perlawanan rakyat di desa lain yang memberontak karena pajak kopi. Dan perlawanan rakyat desa itu tak main-main. Sekompi serdadu Belanda itu diturunkan untuk meredam perlawanan rakyat.

“Sampai kapan kita harus tunduk pada peraturan penjajah laknat itu, Sutan?” Tanya Mak Itam pada Sutan Bagak. “Kita tahan sebentar lagi, Mak Itam” Sutan Bagak yang sedari tadi memainkan kumisnya meyakinkan orang-orang yang berkumpul di balai adat itu. “Jika kita melawan sekarang, hanya akan mati anjing saja kita di medan pertempuran.” Sambung Sutan Bagak. “Bagaimana jika kita tunggu sampai pasukan si Kasim pulang?” Usul Malin Sampono pada Sutan Bagak. “Baiklah, kita tunggu si Kasim” Angguk Sutan Bagak pada semua orang.

“Sekarang pulanglah kalian ke rumah masing-masing. Aku tak mau ada orang pekak yang mendengar pembicaraan kita.” Mendengar perintah Sutan Bagak orang-orang pun berdiri bersamaan dan langsung bergegas pulang.

Besok hari, penduduk desa telah menyiapkan berkarung-karung padi di depan pintu rumah mereka. Siasat itu digunakan agar para kompeni itu tak masuk ke dalam rumah untuk memeriksa.

“Kau orang jangan coba tipu-tipu kita!” Ancam seorang tentara pada salah seorang penduduk desa. “Sungguh, tuan. Hamba tak menipu. Hasil panen kali ini menurun, tuan.” Mohon penduduk itu yang berlutut pada tentara penjajah tersebut. “Sudah.. minggir kau!” hardik tentara berambut jagung itu.

“Tuan Vettersen, berpesan kepadaku bahwa pajak untuk selanjutnya akan dinaikkan” teriak seorang tentara yang dari wajahnya sangat terlihat ia seorang pribumi. “Jika ada yang berusaha memberontak, maka bedil yang akan berbicara!” Sambungnya.

“Cepat naikkan karung-karung itu ke dalam truk!” perintah tentara-tentara penjajah terkutuk itu pada orang-orang tua kurus kerempeng tak berbaju.

Begitulah keadaan desa beberapa tahun terakhir semenjak kompeni berhasil menaklukkan daerah tersebut. Para pemuda-pemuda desa dibawa untuk kerja paksa, tinggallah orang-orang tua yang menghuni desa. Sehingga tak banyak yang bisa dilakukan untuk mempertahankan hak mereka.

“Ke mana si Sutan? Aku tak melihatnya dari tadi.” Tanya Saleh kepada Kurdin. “Diam saja, jangan membahasnya sekarang ini.” Kurdin menjawab pertanyaan itu dengan sedikit bisik-bisik. “Ia dan beberapa orang sedang pergi ke hutan untuk menemui pasukan yang dipimpin oleh si Kasim” Terangnya dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Saleh. Tak ada obrolan setelah itu, mereka sibuk mengasah sabit untuk mencari pakan ternak.

Sutan Bagak dan beberapa orang lainnya termasuk dua orang keponakannya tengah dalam perjalanan untuk menemui pasukan gerilya yang dipimpin oleh Kasim. Maksud Sutan Bagak menemui Kasim adalah untuk menyusun siasat pemberontakkan terhadap pajak yang semakin mengada-ada.

“Kalian berdua berjaga disisi bukit ini dan jangan sampai lengah. Jika ada yang aneh segera berikan tanda suara seperti yang telah kita rencanakan.” Titah Sutan Bagak pada dua keponakannya. “Baik, paman.” Mereka mengangguk mengerti.

“Kita juga harus bergegas. Ayo cepat” Lanjut Sutan Bagak pada tiga orang lainnya. Sekitar tengah hari putuslah hasil berunding yang dilakukan oleh Sutan Bagak dan Kasim. Tanpa menunda-nunda setelah perundingan itu pasukan hantu yang dikepalai oleh Kasim langsung bergerak dan meninggalkan Sutan Bagak.

“Kalian juga mendengar apa yang telah aku bicarakan dengan si Kasim tadi” Sutan Bagak berbicara dengan orang-orang yang dibawanya itu. “Iya, kami paham akan hal itu” jawab salah seorang dari mereka. “Jangan sampai ada yang menusuk dari belakang di antara kita.” Tegas Sutan Bagak pada semuanya. Mereka hanya diam tanda mengerti.

Esok harinya, ketika Sutan Bagak tengah menyeruput kopi di beranda rumah gadangnya, datang dua orang utusan si Kasim dengan parang dalam sarang kulit melekat di pinggang. “Kami ingin menyampaikan pesan komandan kepadamu” Salah seorang dari mereka langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka tanpa bertele-tele. “Apa berita yang engkau mau katakan?” Tanya Sutan Bagak dengan suara datar namun tegas itu. “Harimau tak akan menyia-nyiakan kuku tajam yang ia punya.” Gerilyawan berbadan kurus itu menyampaikan demikian pada Sutan Bagak. “Kata komandan kau akan mengerti maksud pesan ini” Terangnya pada Sutan Bagak. “Baiklah, aku mengerti maksudnya” jawab Sutan Bagak. Setelah itu dua orang itu berlalu pergi.

“Kita akan segera bertindak, namun hanya beberapa orang yang diminta oleh si Kasim untuk membantunya” Buka Sutan Bagak yang dihadiri oleh para tetua desa itu. “Kami akan mengikuti keputusan yang engkau ambil dalam hal ini, Sutan” jawab Angku Pitam. “Hanya kau yang bisa kami andalkan, tak ada yang lain” Sambungnya. “Baiklah, jika begitu aku akan segera berangkat malam ini” ujar Sutan Bagak pada semua orang dan hanya di jawab dengan anggukan kepala. “Ke mana tujuan kau semalam ini, Sutan?” tanya Angku Pitam. “Bukit Silajau, Angku.” Jawab Sutan Bagak dan segera pergi dengan beberapa orang yang telah dipilihnya.

“Mereka akan pergi ke Bukit Silajau, Tuan. Dan baru saja berangkat.” Beritahu seseorang pada pria yang bertubuh jangkung dengan senapan tergantung dibahunya. “Oke’, ik ga eerst.” Jawab pria itu dengan bahasa Belandanya. Setelah pria jangkung itu pergi, pria tua berjanggut itu juga berlalu dalam kegelapan malam.

Di perjalanan, Sutan Bagak telah menyusun siasat agar pergerakan mereka tidak diketahui oleh pihak lawan. Malam itu suasana sangat sunyi dan cahaya bulan cukup menguntungkan dalam perjalanan Sutan Bagak dan orang-orang yang dibawanya. Sutan Bagak memecah orang-orang itu dalam dua kelompok. Kelompok Sutan Bagak berjalan menyusuri semak-semak di pinggir jalan dan dua keponakannya berjalan pada jalan yang biasa dilewati oleh tentara Belanda.

Apa yang ditakutkan oleh Sutan Bagak akhirnya terjadi. Sidik dan Sobri dihampiri oleh lima orang tentara berseragam dan menenteng senjata laras panjang dengan pisau terlipat diujung moncongnya. “Hendak ke mana kau orang berdua sebegini malam, heh?” seorang tentara bertanya dengan menodorkan senjata ke dada Sidik. Dengan tenang Sidik menjawab “kami berdua tersesat sewaktu mengejar seekor kijang, tuan”. “Lieg niet tegen je!” bentak tentara dengan cerutu di mulutnya. “Sungguh, tuan. Kami tidak berbohong” jawab Sobri dengan kaki gemetaran. “Schiet ze” perintah seorang tentara yang terlihat seperti pemimpin di antara mereka. Belum sempat tentara-tentara Belanda itu mengokang senjatanya Sutan Bagak dan empat orang lainnya keluar dari balik semak. Tak butuh waktu lama tentara-tentara itu tersungkur bersimbah darah.

“Apa kalian berdua terluka?” Tanya Sutan Bagak pada Sidik dan Sobri yang baru saja hampir meregang nyawa jika Sutan Bagak tak muncul. “Kami baik-baik saja, paman” jawab Sobri dengan raut muka pucat.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan” ajak Sutan Bagak sembari memasukkan belati pada sarang yang terikat dipinggangnya. Perjalanan berlanjut dengan formasi awal hanya saja kali ini Sobri dan Sidik tak lagi berperan sebagai umpan.

“Aku dengar dari orang, paman dan paman Kasim sekawan sewaktu kecil dahulu” Tanya Sidik penasaran. “iya, kami sama-sama di surau dan satu guru dalam belajar silat” jawab Sutan Bagak. Mendengar jawaban Sutan Bagak Sidik tak lagi bersuara. Ia hanya berbicara dalam hati “berarti cerita paman adalah parewa dengan belati itu benar adanya”. Pantas saja Sutan Bagak dengan mudah merobohkan dua tentara dalam waktu singkat.

Hampir saja rombongan Sutan Bagak sampai pada tujuan mereka, dua orang dengan parang di tangan berlari ke arah mereka. Sontak saja Sutan Bagak dan yang lain mengambil langkah untuk bertahan. “Kami di pihak kalian” teriak salah seorang di antara mereka. Sutan Bagak memasukkan kembali belati perenggut nyawa itu ke dalam sarungnya.

“Mengapa kalian berlari?” Tanya Sutan Bagak penasaran. “Kita sudah berhasil membakar gudang penyimpanan senjata Belanda” jawab seorang pejuang yang tergabung dalam pasukan Kasim itu. “Kita berhasil namun komandan Kasim tertembak dan dilarikan ke dalam hutan untuk bersembunyi, makanya orang-orang yang bersamanya kocar-kacir”. Mendengar berita dari dua orang itu Sutan Bagak berlari ke arah  hutan dan yang lainnya bergegas mengikuti.

Tak lama sampailah rombongan Sutan Bagak di tempat rombongan Kasim bersembunyi. “Bagaimana keadaan Kasim, Tabib?” Tanya Sutan Bagak pada tabib yang telah lama bergerilya bersama Kasim. “Kasim sedang beristirahat. Untung saja ia hanya tertembak di lengan dan sudah kuobati” Jawab sang tabib menjelaskan. “Syukurlah” Sutan Bagak langsung tersandar pada batang kayu mendengar jawaban yang ia inginkan.

“Mulai sekarang kau yang harus memimpin kelompok ini, Sutan” pinta Kasim pada Sutan Bagak. “Dengan keadaan begini aku tak bisa bertempur dengan tentara laknat itu” sambungnya dengan agak meringis kesakitan. “Baiklah, Kasim. Aku yang akan memimpin pasukanmu untuk sementara” jawab Sutan Bagak. “Akhirnya sang belati perenggut nyawamu akan melaksanakan tugas kembali” Kasim berkata lalu tersenyum pada Sutan Bagak.

Seminggu setelah penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Kasim. Pasukan di bawah pimpinan Sutan Bagak juga telah berhasil menyerang tempat-tempat yang sangat vital bagi Belanda. Kabar mengenai keberhasilan Sutan Bagak yang berhasil membuat tentara-tentara Belanda itu berlari tunggang-langgang juga tersebar ke pelosok-pelosok daerah. Sehingga membakar semangat dan menimbulkan berbagai perlawanan di daerah lainnya. Perlawanan-perlawanan kecil tersebut cukup merepotkan tentara Belanda. Walaupun berskala kecil namun hampir terjadi di seluruh daerah yang membuat tentara-tentara Belanda minta tanah itu putus asa. Sutan Bagak yang dahulu dikenal sebagai parewa (preman) dengan belatinya itu pun semakin menjadi-jadi dan menjadi target utama Belanda. Namun, dengan kelihaiannya Sutan Bagak tetap berjuang hingga akhir hayatnya.

 

Solok, Februari 2021

 

 


Amidia Amanza merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

0 Response to "Sutan Bagak dan Belatinya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel