Si Badan Tripleks

Si Badan Tripleks

 Penulis: Endah Larasati


Aku terpaksa meletakkan novel yang sedang kubaca di atas meja karena kedatangan sahabat yang secara tiba-tiba.

 

            “Baca terus kamu itu. Ke kantin, yuk. Perutku lapar,” ajak Raline, sahabatku.

 

            “Aku enggak lapar, Lin. Aku pikir kamu sudah ke kantin. Kamu sendirian aja ke kantin atau ajak teman lainnya,” tolakku.

 

            Tanpa persetujuanku, tangan ini sudah ditarik paksa oleh Raline. Akhirnya kini kami duduk di sudut kantin. Di meja sudah terhidang semangkuk nasi soto, segelas es jeruk, dan air mineral. Gadis yang duduk di depanku menikmati nasi sotonya dengan lahap. Usai menandaskan isi mangkuknya, ia berbicara, “Kamu enggak makan, Lex? Dari tadi pagi kamu belum sarapan, kasihan perut kamu, kosong.”

 

            Sambil bersandar di dinding kantin, aku menjawab, “Kata siapa aku belum makan dari pagi. Tadi sebelum berangkat sekolah aku sudah makan biskuit.”

 

            “Makan biskuit? Hallo, kamu makan biskuit yang ukurannya enggak beda jauh sama ibu jariku. Mana bisa dibilang makan? Tubuh kamu perlu asupan gizi, Alexi.”

 

            Raline masih melanjutkan ceramahnya yang panjang lebar. Sebenarnya aku bosan mendengar semua itu. Hampir setiap hari Raline selalu menceramahi. Menurutnya, aku ini sudah mengalami gangguan kejiwaan. Berdasarkan artikel yang Raline baca, diri ini mengalami anoreksia nervosa. Anoreksia nervosa, atau biasa disebut anoreksia, gangguan makan yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan bila berat badan bertambah dan gangguan persepsi pada bentuk tubuh. Penderita anoreksia terobsesi untuk memiliki tubuh kurus dan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal menurut mereka. Penjelasan di artikel tersebut memang persis seperti yang aku alami.

 

            Raline mengetahui banyak hal tentangku karena kami bersahabat sejak mengenakan seragam putih biru. Bahkan, saat ini kami duduk bersebelahan di kelas dan berbagi kamar indekos. Gadis berkacamata itu sangat pengertian, jauh melebihi kedua orang tuaku.

 

            “Lex, makan ini meski sedikit!” Raline menyodorkan sepotong tempe goreng tepat di depan mulutku.

 

            Seketika aku menarik tubuh ke belakang dan mengunci rapat mulut. Bukan Raline namanya jika mudah menyerah. Akhirnya tempe itu berhasil masuk ke dalam mulutku meski hanya sebagian. Ia masih berusaha keras agar makanan itu berhasil mendarat di lambungku.

 

            Usai menikmati waktu di kantin, kami berjalan menuju kelas.  Sebelum memasuki kelas, aku pamit untuk ke kamar mandi. Di situlah aku berusaha mengeluarkan makanan yang tadi berhasil masuk perut. Segala upaya kulakukan hingga makanan tadi bisa termuntahkan. Sebelum keluar dari kamar mandi, kubasuh wajah ini agar tidak terlihat sisa-sisa usaha mengeluarkan makanan. Ketika melangkah meninggalkan kamar mandi, sepertinya ada seseorang yang menungguku.

 

            “Bisa ngobrol sebentar?” tanya siswa laki-laki yang berdiri di depan kamar mandi.

 

            “Boleh, tapi jangan lama-lama, sebentar lagi pelajaran dimulai.”

 

            Kami berjalan beriringan dan berhenti di taman dekat kamar mandi.

 

            “Mau bicara apa, Do?”

 

            Bukannya menjawab pertanyaanku, Aldo malah menyodorkan cokelat.

 

            “Ini buat kamu. Please, jangan ditolak.”

 

            “Ish, kok maksa. Aku, kan, enggak suka cokelat. Entar yang ada badanku gendut,” tolakku.

 

            “Gendut? Lexi, badan kamu itu sudah mirip tripleks, rata depan dan belakang. Ah, sudahlah, aku mau ke kelas. Cokelat itu harus kamu makan, dihabiskan dan tidak boleh ada sisa sedikit pun!”

 

            Aldo meninggalkanku sambil melambaikan tangan. Ia memang teman yang sangat baik. Sebenarnya aku sangat menikmati kebaikan dan perhatiannya. Mungkin bisa dibilang jatuh cinta. Namun, tidak berani mengatakannya. Ia merupakan siswa berprestasi cemerlang dan banyak gadis yang berusaha mendekati. Sementara aku hanyalah siswa dengan kemampuan otak pas-pasan dengan penampilan ala kadarnya.

 

            Mengingat waktu istirahat yang hampir selesai, aku mengambil langkah lebar menuju kelas. Sesampainya di kelas, Raline memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Ia khawatir karena aku lama di kamar mandi hingga penasaran dengan cokelat yang ada di tangan ini. Merasa tidak berminat, kuangsurkan makanan itu kepada Raline.

 

            “Buat kamu saja, Lin. Aku enggak makan cokelat.”

 

            “Takut gendut? Lex, badan kamu itu sudah sangat kurus, jadi makan sebatang cokelat ini enggak akan menambah berat badanmu. Kondisimu sudah enggak bagus, Lex. Semalam kamu menggigil dan harus ke klinik. Dokter bilang tekanan darah kamu sangat rendah, kulit kamu juga sangat kering karena dehidrasi. Lex, please, stop it! Jangan seperti ini terus! Aku ini sahabatmu, sayang dan peduli sama kamu.”

 

            “Terima kasih, Lin. Aku tahu kamu sayang dan peduli. Lin, kamu tahu mamiku seperti apa. Mami memiliki wajah yang sangat cantik, penampilannya menarik, bentuk tubuhnya seksi, cerdas pula. Meski demikian Papi masih suka mencari hiburan dengan wanita lain. Aku melihatnya enggak cuma satu atau dua kali, tapi berulang kali. Untuk meluapkan sakit hati yang dialami, Mami memilih menghabiskan waktunya di luar rumah. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hang out dengan teman sosialita. Lalu bagaimana nasibku nanti yang hanya memiliki wajah standar? Lin, kalau kamu tahu bagaimana tubuhku sewaktu kecil, kamu pasti kaget. Aku dulu gendut banget, persis seperti bola. Aku enggak mau dihina apalagi dikhianati karena gendut.”

 

            Pembicaraan kami terhenti karena guru mata plejaran Kimia memasuki kelas.

 

*

            Pukul 13.30 bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku dan Raline tidak segera meninggalkan kelas. Kami berdua memiliki kesamaan tidak suka berdesak-desakkan dengan teman lain ketika meninggalkan kelas. Selain itu, tempat kami indekos tidak jauh dari sekolah, cukup lima belas menit jalan kaki.

 

            Saat berjalan menuju gerbang sekolah, beberapa meter di depanku terlihat Aldo sedang berjalan bersama seorang gadis. Gadis itu terlihat bergelayut manja di tangan kiri Aldo. Dalam hati aku berucap, sungguh tidak tahu malu, masih di lingkungan sekolah sudah bertingkah semacam itu. Dari tempatku berada terdengar suara manja yang keluar dari mulut gadis genit itu. Sepertinya Aldo tidak menyukai perlakuan yang ia terima. Buktinya, ia selalu berusaha menarik tangannya dari tangan si Gadis Genit. Aldo juga tidak bersuara sama sekali.

 

Aku tahu betul banyak gadis yang mencari perhatian Aldo, tapi tidak pernah sedikit pun aku membenci mereka. Hanya satu yang aku tidak suka. Ia adalah gadis yang saat ini berdiri di sebelah Aldo. Menurutku tingkahnya dalam menarik simpati Aldo sangat berlebihan. Kini mereka berdua sedang berdiri di tepi jalan menunggu jemputan. Aku tidak tahu alasannya, mereka berdua selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Pernah  menanyakannya kepada Aldo, tapi hanya senyuman yang aku dapatkan.

 

Melihat Aldo yang sedari tadi digandeng gadis itu, hatiku terbakar. Seketika terlintas rencana di otak ini ketika terlihat semacam cairan menggenang tepat di belakang gadis itu. Aku berlari cepat ke arah mereka dan berhenti secara tiba-tiba hingga mendorong tubuh gadis itu. Benar, rencanaku berhasil. Dalam waktu singkat, suasana menjadi kacau. Terdengar suara teriakan dari siswa yang berada di depan sekolah. Terdapat ceceran darah di sekitar kepala seseorang yang kini terkapar di aspal. Ya, gadis genit itu kini bersimbah darah. Tadi, sewaktu aku berhenti secara tiba-tiba, gadis itu terkejut dan terdorong olehku. Seketika ia melompat ke jalan. Nahas, tubuhnya langsung ditabrak sebuah mobil yang melaju kencang.

Karena kejadian itu, beberapa kali aku harus berurusan dengan pihak berwajib. Namun, tidak ada bukti kuat yang bisa menjeratku dalam kasus hukum. Semua terjadi secara kebetulan. Ada alibi yang sudah tertata rapi. Waktu itu aku berlari karena ingin bicara penting dengan Aldo. Ternyata di dekat Aldo terdapat genangan air. Kakiku terpeleset hingga tidak sengaja mendorong tubuh gadis itu ke jalan. Di waktu yang bersamaan melintas sebuah mobil dengan kecepatan penuh hingga kejadian maut itu tidak terelakkan.

 

Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Aldo semakin dekat, tidak ada lagi penghalang. Seperti saat ini, kami sedang menikmati hari Minggu di kamarku.

 

“Lex, terima kasih kamu sudah melenyapkan Alenia.”

 

“Alenia si Gadis Genit?”

 

“Aku tahu, kamu dengan sengaja menyingkirkannya dariku. Sebenarnya sudah sejak lama aku berusaha melenyapkannya dari hidupku. Namun, sepertinya ada dewa pelindungnya yang menggagalkan semua rencanaku.”

 

“Maksudmu?”

 

“Sejak  kecil aku berteman dengan Alenia. Jarak rumah kami yang tidak jauh ditambah hubungan dekat kedua orang tua kami menjadikan aku tidak bisa menghindarinya. Alenia gadis yang sangat menyebalkan, manja, enggak mau mengerti orang lain, dan suka memaksa. Sudah banyak cara kutempuh untuk melenyapkannya, tapi justru kamu cukup satu kali usaha sudah berhasil.”

 

“Jika ada orang lain yang berani mendekatimu, maka orang itu harus siap-siap berurusan denganku,” ucapku sambil menggenggam tangan Aldo.

 

“Demikian juga denganku. Jika ada lelaki yang mencoba mendekatimu, maka ia akan kehilangan nyawanya di tanganku,” tutur Aldo menarik tubuhku dalam pelukannya.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Si Badan Tripleks"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel