Narasi Kebahagiaan Versi Stoisisme

Narasi Kebahagiaan Versi Stoisisme

Penulis: Ainul Luthfia Al Firda

Dewasa ini banyak simulacra yang ditampilkan oleh media sosial. Banyaknya akun-akun media sosial yang bertujuan untuk mengumbar kualitas dirinya dengan wujud kuantitas yang berupa aset, kekayaan dan juga properti.

Ironisnya, fenomena itu sering kali terjadi dan berlalu-lalang dalam bermedia sosial. Fenomena ini menjadi penting untuk direfleksikan, sebab perilaku-perilaku ini akan melahirkan banyak efek negatif bagi mereka yang terperangkap dengan sifat iri dan dengki.

Dunia akan selalu berkembang dan perkembangannya itu akan selalu mengikuti zaman. Artinya, ialah semua yang ada di dunia ini akan mengalami perubahan, mulai dari ekonomi, sosial, hukum, politik dan lain sebagainya.

Trend merupakan sesuatu yang sedang popular atau happening dalam sebuah periode. Tren ini juga menjadi salah satu wujud dari perkembangan zaman, misalnya tentang tren fashion saat ini yaitu trifthing.

Trifthing merupakan sebuah budaya yang saat ini sedang menjadi tren bagi kalangan remaja Indonesia. Trifthing sendiri merupakan sebuah transaksi jual beli barang bekas kualitas import.

Fashion menurut saya adalah alasan pertama mengapa banyak manusia yang berlomba-lomba menunjukkan kualitas dirinya, terlebih melalui kuantitas aset yang dimiliki. Penampilan tersebut kemudian diunggah dalam sosial media, dengan tujuan agar supaya manusia menilainya dengan kualitas baik.

Sebenarnya sah-sah saja jika memposting sebuah foto atau video yang membuatnya bahagia, karena itu juga merupakan wujud menghargai diri sendiri dan self love.  Akan tetapi, yang saya garis bawahi di sini ialah bentuk-bentuk yang tidak menjadikan dirinya berkuasa atas kehendaknya, atau sesuatu yang tidak dapat dikendalikan olehnya.

Kita memang perlu tahu dan boleh saja mengikuti apa yang sedang berkembang saat ini. Sebab, jika kita ketinggalan zaman, justru kita juga yang akan merasa dirugikan. Akan tetapi, yang perlu kita pahami ialah, kita boleh mengikuti arus perkembangan zaman, namun jangan mudah untuk terbawa arus. Poin ini menjadi penting di saat kita sering merasa kurang terkendali akan emosional, keinginan-keinginan yang berada jauh dari kendali kita.

Seorang Filsuf Stoisisme menjelaskan bahwasanya, kebahagiaan itu hadir ketika kita dapat  memahami makna kendali diri sendiri dan mempertahankannya. Kendali ialah sebuah sikap di mana kita yang berhubungan dengan tindakan dan kuasa.

Adapun sesuatu yang di bawah kendali kita antara lain opini, persepsi, pikiran dan tindakan kita sendiri. Sementara hal-hal yang di luar kendali kita antara lain kekayaan, reputasi, dan opini orang lain.

Fenomena yang bertebaran di media sosial saat ini sebagian besar dipenuhi oleh kendali orang lain, yakni melanggengkan sifat-sifat iri. Jalan pintasnya ialah berpura-pura dengan gaya layaknya sultan, akan tetapi sering mengabaikan kendali dirinya sendiri. Pemlasuan gaya hidup yang seperti ini justru sangat menyedihkan, dan sering menimbulkan tekanan mental yang berakhir dalam keadaan stress dan lupa diri.

Mengutip perkataan seorang filsuf Yunani, Seneca, yang mengatakan bahwa, kebutuhan manusia sebenarnya tidaklah banyak, akan tetapi ketidakpuasan itulah yang menggerogoti manusia. Sebenarnya manusia tidak memiliki kuasa apapun yang dia mau akan tetapi ia memiliki kuasa atas apa yang belum ia miliki dan memaksimalkan kegembiraanya dengan apa yang dimiliki. (Manampiring, 2019)

Pernyataan Seneca senada dengan apa yang diajarkan dalam agama Islam, yaitu tentang bersyukur. Syukur jika diinterpretasikan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki beragam makna. Salah satunya ialah menghargai diri sendiri, mendengarkan kata hati, mendengarkan opini dan memaksimalkan apa yang dapat kita kendalikan.

Dengan demikian, jika disimpulkan salah satu alasan mengapa kita perlu mendengarkan opini diri sendiri, ialah untuk menghargai kuasa diri sendiri dan menghargai sesuatu yang dapat kita kendalikan. Hal ini bukan berarti menafikkan pendapat orang lain, melainkan lebih mengedepankan apa yang seyogyanya dapat kita lakukan atas kendali kita bukan orang lain. Hal-hal inilah yang kemudian menjadikan kita kaya, sebab menghargai diri sendiri merupakan wujud bersyukur dan pemaknaan kualitas manusia secara riil.




Perempuan Sulung yang masih ingin belajar dalam membina keluarga maslahah. Dapat ditemui di Ig @firdaainul dan @nikiwaetenun

0 Response to "Narasi Kebahagiaan Versi Stoisisme"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel