Kemarau dan Puisi Lainnya

Kemarau dan Puisi Lainnya

Penulis:
Hasna Nabila Qotrunada

 

Isi Kepala

 

Pena yang mendebu

Rindu peluk hangat jemariku

Teriakan metafora dan diksi

Memenuhi isi kepalaku

 

Dan dari keremangan akal

Kurasakan huruf-huruf berlarian

Mancari jalan lain untuk keluar

Sayang sekali kepala ini terlanjur bebal

Tersumpal enggan dan kemalasan

Hingga mereka putus asa

Mati karena renta

 

Klaten, April 2021

 

 

Kemarau

 

Senja di bulan Juni

Terlalu hambar untuk rintik yang memainkan melodi rindu

Pada langkah yang berkejaran sepanjang jalan

Yang tertawa pada setiap percik dari kubangan

 

Kutuliskan selarik nada

Dari lorong kisah lampau kita

Alunan yang tidak sempat dinyanyikan bersama

 

Aku dikecup angin kemarau

Meski semesta masih galau

Pancaroba dalam diriku:

Badai di bola mata

Dan kekeringan pada pita suara

 

Gelap.

Suaraku lenyap

Surat ini belum juga lengkap

 

Masih terlihat bayanganmu

Tertawa bagai seorang bocah

Menggodaku dengan rayuan recehan

Di bawah langit yang mulai temaram

Kau tersenyum menyudahi gurauan,

“Berjanjilah, semusim lagi kita masih bersama. Lalu semusim, dan semusim lagi.”

 

Tidak ada senja yang jingga

Tidak ada burung yang berkicau bahagia

Tidak.

Hanya kita berdua

 

Lalu sekali lagi

Angin kemarau jahil menggodaku

Meyakinkan semesta yang meragu

: sudahlah, senja yang itu telah berlalu

 

Klaten, Januari 2021

 

 

Tamu Malam Ini

 

Tabir petang menyelimuti rumahku

Hingga akalku kian buntu

Oleh kedatangan tamu

 

Ibu sedang memasak doa di rumah istimewa

Sedang di sini penjamuan alpa

Kami kelimpungan

Bagaimana memberi suguhan

Tamu tak kunjung pulang

 

Klaten, November 2020

 

 

Hujan

 

Aku hanya mencintai hujan dalam wujud kamu

Hujan dari jantungmu yang menyemaikan

Benih di paru-paruku

Menumbuhkan seikat bunga rindu

Yang mendorong kita untuk saling temu

 

Aku hanya mencintai hujan dalam wujud kamu

Gerimis dari pandangmu

Yang memantulkan bayang pelangi di senyumku

Meremukkan kristal gundah yang beku

 

Aku hanya mencintai hujan dalam wujud kamu

Di mana aku akan luruh dalam rintikmu

Dan kita menyatu

 

Klaten, Oktober 2020

 

 

Rintik Rindu

 

Rintik kelabu menghias rindu

Menggenangkan angan jadi khayalan

Perciknya menumpahkan berbagai rasa

Tertuju pada yang jauh di sana

 

Jangan tanyakan bagaimana

Rindu ini bisu, tidak bisa berkata

Barangkali semua jawab atas tanyamu itu sama:

Ia ingin berjumpa

 

Klaten, Oktober 2020




Gadis yang kini berusia 19 tahun sudah tertarik dengan puisi sejak duduk si bangku sekolah dasar. Selain puisi, ia juga menyukai dunia farmasi. Kini ia adalah mahasiswa farmasi di Politeknik Indonusa Surakarta, salah satu perguruan tinggi swasta di Surakarta, Jawa Tengah. Di luar jam kuliah, ia senang menulis puisi dan prosa yang beberapa dipublikasikan sendiri di webblognya https://narasiantaralinea.wordpress.com/. Karya-karya lainnya juga sudah dimuat di berbagai platform majalah digital, di antaranya adalah majalah Simalaba dan Nusantaranews.co, buku antologi cerpen Tentang Ayah, serta buku-buku antologi puisi seperti Catatan Kepergian, Lembaran Memori, dan lainnya. Hasna dapat disapa melalui instagram hsnblqtrnd.

0 Response to "Kemarau dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel