Eni Uno

Eni Uno

Penulis: Endah Larasati

Eni dan Uno, sepasang lelaki dan perempuan. Mereka memiliki nama yang hampir sama, tetapi mereka bukan kakak beradik apalagi saudara kembar. Mereka adalah sepasang suami istri. Baru menikah, belum genap tiga puluh hari.

 

Layaknya pasangan yang sedang hangat-hangatnya di awal pernikahan, mereka hampir tidak pernah berjauhan, selalu bersama. Duduk pun selalu berdampingan tanpa jeda dan sekat. Tangan saling mengait seolah-olah takut terpisahkan semilirnya bayu.

 

Hari ini cuaca mendukung keromantisan Eni dan Uno. Sedari pagi langit mendung tanpa sinar surya. Bahkan lepas asar buliran dari langit membasahi bumi. Hingga lewat jam delapan malam, suasana semakin syahdu seiring menderasnya guyuran air langit.

 

"Bang, enggak dingin, kok, betah banget duduk di teras?" tanya Eni kepada lelakinya yang sudah sejam lebih di teras.

 

Lelaki berkaus biru tua menggeleng.

 

"Aku sangat menikmati momen seperti ini, Dek. Sama sekali enggak dingin, terlebih ada kamu," tutur Uno.

 

"Emangnya aku kompor atau heater yang bisa ngangetin!" ujar perempuan yang mengenakan daster batik.

 

"Lebih dari itu, Dek. Kalau kompor cuma ngangetin kulit luar. Kalau kamu ...."

 

Belum juga suaminya menyelesaikan kalimat, Eni segera memangkas, "Heleh, pret, mulai gombal, deh. Aku mau masuk dulu, enggak betah dingin."

 

Belum juga Eni melangkah, gegas Uno menggenggam tangan perempuannya.

 

"Mau yang hangat-hangat?" tanya lelaki berkulit sawo matang sambil mengangkat alis.

 

"Idih, Abang nggilani, genit tahu!"

 

Usai berucap, Eni segera mengambil langkah cepat dan memasuki kamar.

 

Tidak perlu waktu lama, sepasang suami istri itu sudah berada di kamar, berdua, menikmati kebersamaan.

 

"Bang, Adik ngantuk, mau bobok dulu, ya." Perempuan ayu itu segera memasuki alam mimpi.

 

Di tengah lelapnya tidur, Eni terbangun, merasa tidak nyaman. Ada sesuatu menekan bagian tubuhnya. Terasa hangat, sedikit lengket. Perlahan ia membuka mata.

 

"Bang, enggak nyaman ini."

 

"Hmmm ...," balas Uno.

 

"Bang, jangan seperti ini, enggak enak rasanya." Suara Eni sedikit meninggi.

 

"Jangan keras-keras suaranya, Dik. Nanti kedengeran Bapak dan Ibu di kamar sebelah."

 

"Bang! Geser kanan! Wajah Abang nempel banget. Pipi Adik jadi basah kena iler, Abang!"




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Eni Uno"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel