Biduan

Biduan

Penulis: Endah Larasati

"Tarik, Sis." Suara lantang itu keluar dari bibir penabuh kendang.

 

Kurang dari lima menit berselang, kusambut suara itu dengan alunan lagu dangdut berjudul Bunga yang sudah diaransemen menjadi dangdut koplo.

 

Kini tinggal aku sendiri

Hanya berteman dengan sepi

Menanti dirimu kembali

Di sini kuterus menanti

Akan kucoba untuk

Menanti dirimu, kekasih.

 

Sudah dua tahun ini aku berprofesi sebagai biduan. Sebenarnya hal itu karena terpaksa. Ya, keadaanlah yang membuatku mengambil langkah ini.

 

Dua tahun lalu, Bang Andi-suamiku pergi tanpa pamit. Bukan itu saja, dia pergi meninggalkan utang yang jumlahnya ratusan juta. Dia juga meninggalkan bapak-ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Bapak mertuaku menderita kelumpuhan karena stroke. Enam bulan selepas kepergian Bang Andi, bapak mertuaku meninggal. Sementara ibu mertuaku menderita diabetes melitus. Kini beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di kursi roda. Kaki kirinya harus diamputasi karena membusuk.

 

Aku harus bertahan hidup, mengangsur utang Bang Andi agar rumah tinggal tidak disita bank, dan membiayai pengobatan ibu mertua yang tidak sedikit.

 

Saat ini aku tengah berdiri di panggung hajatan pernikahan anak seorang tuan tanah. Kesempatan ini aku dibayar untuk menyanyi selama dua jam dengan nominal cukup besar. Suara dan tenagaku mulai terkuras setelah lebih dari enam puluh menit beraksi. Namun, aku harus tetap terlihat atraktif untuk menghibur. Di pesta ini banyak lelaki kaya yang tidak pelit mengeluarkan uang untuk menyawer. Surga dunia bagi biduan. Uang ratusan ribu bahkan jutaan bisa dimiliki selain gaji pokok sebagai biduan.

 

Sebenarnya aku tidak nyaman dengan tatapan dan perlakuan yang diberikan lelaki-lelaki hidung belang itu. Mulai dari menyolek pinggang, mengelus pipi, bahkan mengelus punggung. Namun, demi uang aku harus bertahan.

 

Menuju menit ke seratus dua puluh, suara musik sedikit pelan. Mungkin para pemain musik sedikit letih. Untuk mengembalikan suasana yang meriah, kucoba mengucapkan jargon andalan, "Tarik, Mang!"

 

***

 

Usai menyelesaikan pekerjaan, segera kuayunkan tungkai menuju rumah. Di perjalanan, sengaja berhenti di sebuah rumah makan Padang, membeli makanan kesukaan ibu mertua. Meski bukan ibu kandung, tetapi aku menyayangi dan menghormatinya sepenuh hati.

 

Tepat tiga meter di depan pintu rumah, langkahku terhenti. Terlihat seseorang yang selama dua tahun ini aku rindukan.

 

"Bang Andi!" panggilku.

 

Lelaki yang kupanggil diam saja bahkan air mukanya terlihat tidak menyenangkan. Sepertinya dia sedang menahan amarah.

 

Gegas aku mendekat. Kini jarak kami tidak lebih dari dua jengkal. Ingin segera diri ini menghambur ke pelukannya. Nahas, hal buruk yang terjadi. Tamparan keras yang diberikan Bang Andi. Bukan sekali, tetapi berulang kali secara bergantian di kedua pipi ini. Panas, perih, dan sakit yang kurasa.

 

Bukan itu saja, tubuh yang kurus ini didorong hingga tersungkur di lantai. Belum sempat aku berucap dan berdiri, tendangan bertubi-tubi menempa perut dan punggungku.

 

"Dasar wanita murahan! Wanita tak tahu diri! Dulu aku menikahimu, membawamu dari panti asuhan agar memiliki keluarga. Sekarang kamu malah jadi biduan! Wanita tidak bermoral!" murka Bang Andi.

 

"Bang ...."

 

Belum tuntas kalimatku, tendangan keras diberikan lelaki itu. Tubuhku bergeser dari letak semula hingga kepalaku membentur dinding ruang tamu dengan keras.

 

Tanpa peduli, lelaki yang masih menjadi suamiku pergi meninggalkan rumah.

 

Sayup-sayup kudengar suara ibu mertua menyebut namaku dan Bang Andi. Namun, tidak berselang lama, pandanganku menggelap, tubuhku lunglai seolah-olah seluruh syaraf yang ada terputus. Gelap dan sunyi yang kurasa.

 

Entah berapa lama tubuhku meringkuk di lantai. Terdengar derap langkah memasuki rumah. Sebuah tendangan kecil mengenai tubuh ini.

 

"Rin, bangun Rin! Kalau tidur di kamar, bukannya di sini! Rindu, bangun Rindu!" panggil Bang Andi.

 

Tubuhku bergeming. Bang Andi berjongkok, ditepuknya pipi ini.

 

"Rindu, bangun! Rindu, hidung dan telingamu berdarah, kamu kenapa? Rin, sadar Rindu!"

 

Wajah Bang Andi terlihat pucat dan bingung. Diletakkannya ujung jari di depan rongga hidungku.

 

"Rin, kenapa tidak ada napasmu? Rin, bangun Rindu. Jangan buat aku panik! Rindu, maafkan aku. Rinduuu!" teriak Bang Andi sambil mengguncang-guncang tubuhku.

 

Tubuhku lunglai dalam dekapan suami.

 

Air mata menggenang di pelupuk mata ini. Aku bisa melihat tubuhku sendiri. Ingin sekali merengkuh tubuh Bang Andi, tetapi nihil. Apakah ini artinya jiwaku telah berpisah dari raga?



Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

Belum ada Komentar untuk "Biduan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel