Tak hanya 10 KM

Tak hanya 10 KM

Penulis: Endah Larasati

Duduk menghadap jendela kamar memang kegemaranku sejak dulu, sedari kecil. Hal itu semakin sering terjadi selama lebih dari empat tahun ini. Tadi pagi aku resmi menyandang gelar sarjana pendidikan. Sejatinya bukanlah idaman karena tidak sesuai impian. Jiwaku lebih berminat dengan jurusan seni tari, tetapi lelaki panutan sekaligus cinta pertamaku mengarahkan jurusan pendidikan, tepatnya pendidikan Bahasa Inggris.

 

Malam ini jauh lebih gelap dari biasanya. Listrik padam sedari senja. Dulu, jika listrik padam, Arde akan suka rela datang ke rumah untuk bercengkerama, menemaniku. Jika tidak demikian, ia akan duduk di teras rumahnya yang sejurus dengan kamarku. Selanjutnya kami saling bertukar pesan. Kini kami terpisahkan. Jarak yang terbentang tak hanya sepuluh kilometer.

 

Tanpa sadar, air mata meleleh sedemikian rupa. 'Aku kangen kamu, De.' Bibir ini bertutur lirih.

 

Aku menoleh dan segera menghapus jejak air mata. Mamah memasuki kamar dengan lilin menyala di tangannya.

 

"Maaf, ya, Sayang. Papah belum sempat memperbaiki lampu emergency di kamarmu."

 

"Enggak apa-apa, Mah."

 

"Enggak pengin ke ruang tengah? Di sana terang, lampu emergency-nya berfungsi dengan baik."

 

Aku menggeleng. Sepertinya wanita yang melahirkanku menangkap jejak di pipi ini. Beliau mendekat, berdiri di samping, dan mengusap pipiku.

 

"Kamu pasti memikirkan Arde. Pikirkan baik-baik, Din. Papah Mamah tidak pernah melarangmu berhubungan dengan siapa pun. Kamu sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab atas segala keputusan dalam hidupmu. Satu yang Mamah ingatkan, sebuah kapal dengan dua nahkoda, masing-masing punya jalan pikiran sendiri. Bagaimana kapal itu bisa melaju dengan baik?"

 

Segera kurengkuh Mamah, menumpahkan derai air mata.

 

***

 

Hari ini aku mengikuti tes wawancara di salah satu SMP swasta. Aku melamar sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Ketika tengah menunggu pengumuman terakhir, ponselku bergetar.

 

[Apa kabar gadis cantik?]

[Maaf, beberapa bulan ini aku jarang menghubungi. Banyak hal dan pekerjaan yang aku selesaikan.]

 

Lebih dari sepuluh menit jariku tidak membalas pesan itu.

 

[Din, sungguh aku minta maaf.]

 

Bukannya tak mau menjawab, tetapi aku bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Lebih dari dua bulan aku menahan rindu yang luar biasa karena Arde jarang berkirim kabar. Sejujurnya saat ini bunga-bunga merekah di hati. Namun, pesan Mamah membuatku berpikir ulang.

 

Panggilan dari Arde di ponsel. Tanganku bergetar. Sama, tak mampu menerima panggilan itu.

 

[Hari ini aku tiba di tanah air, tapi belum bisa langsung pulang.]

[Ada acara di rumah Oma.]

[Lusa aku pulang.]

 

Mataku memanas. Segera kukerjapkan netra dan menuju satu ruangan—tempat diumumkannya hasil akhir tes wawancara.

 

Tiba di ruang cukup luas berisi kursi berjejer dilengkapi beberapa orang berpakaian serupa denganku—hitam putih. Sepuluh menit menunggu, namaku terdengar sebagai salah satu yang diterima bekerja sebagai guru.

 

Keesokan harinya, aku sudah mulai aktif bekerja sebagai guru Bahasa Inggris. Benar-benar pengalaman baru, membuat waktu berjalan sangat cepat. Pukul 14.00, aku melangkah menuju gerbang sekolah. Kakiku terhenti, mata membeliak, napas seolah-olah berhenti beberapa detik. 'Arde'.

 

Seorang lelaki jangkung, berkaus putih lengan panjang dipadu celana jin hitam. Rambutnya sedikit panjang daripada beberapa tahun lalu, terakhir bertemu. Lelaki itu memangkas jarak sembari mengukir senyum. Senyuman layaknya candu bagiku. Ia meraih tanganku dan menggandengnya.

 

"Aku kangen banget sama kamu, Din."

 

Bagai orang linglung, aku tak mampu berucap. Otakku serasa tidak mampu bekerja dengan baik. Kesadaranku perlahan sempurna saat sudah berada di dalam mobil merah terang.

 

Kucoba mengatur napas dan suara.

 

"Katanya ada acara di rumah Oma? Besok baru pulang. Kenapa sekarang di sini? Dari mana kamu tahu aku di sini? Kapan kamu pulang? Kamu tanya mamahku? De, jawab, dong!"

 

Lelaki di belakang kemudi tertawa kecil.

 

"Cerewet banget, sih, pacarku." Arde menowel pipiku.

 

"Pacar? Enak saja! Sejak kapan kita pacaran?"

 

"Sejak enam tahun lalu, sejak aku menyatakan perasaanku sama kamu. Kamu, kan, enggak nolak."

 

Mobil berhenti di halaman kafe gelato. Kami masuk bersisian. Tidak sedetik pun lelaki berkaca mata itu meregangkan tautan tangan kami.

 

Kursi dekat jendela menjadi tujuan, favorit kami sejak SMA. Selain jemari yang menyatu, tatapan kami saling mengunci. Meski bahagia membuncah, logikaku berjalan baik. Selama beberapa hari ini, aku sudah berpikir masak-masak. Semua harus diputuskan. Aku tidak mungkin berpindah keyakinan. Demikian pula Arde. Biarlah semua yang pernah ada menjadi cerita manis dalam hidup kami.

 

"Din, aku ingin kita segera menikah." Arde tiba-tiba berucap.

 

Aku hanya bisa diam.

 

"Aku siap dan dengan sadar akan menjadi mualaf," lanjutnya.

 

Bibirku terbuka, tetapi tidak ada kata yang terucap.

 

'Apakah ini mimpi? Seindah inikah rencana Pemilik Semesta?'




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Tak hanya 10 KM"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel