Suka Sama Om-Om

Suka Sama Om-Om

Penulis: Endah Larasati

Hari ini aku merasa begitu lega, seolah-olah beban yang sangat berat di bahu terangkat sempurna. Ya, hari ini adalah hari terakhir ujian nasional pelajar SMA. Aku adalah Reyvani, siswa kelas XII yang baru saja melalui masa kritis di akhir waktu pembelajaran. I think everything is wonderful. Sepertinya semua mata pelajaran dalam ujian mampu kuselesaikan dengan baik.


"Heh, ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Arvesia, sahabatku sambil menepuk bahu ini.


"Seneng aja, sudah selesai semuanya, tinggal nunggu pengumuman kelulusan," jawabku diiringi senyum kebahagiaan.


"Sepertinya kamu yakin banget bakal dapat nilai bagus?"


"Jelaslah, aku gitu, loh."


Kami tertawa bersama hingga membuat beberapa teman yang ada di sekitar menoleh.


Usai berbincang-bincang, aku mengajak Arvesia segera pulang. Ingin rasanya segera bersantai di rumah, menikmati me time.


Ketika tiba di gerbang sekolah, langkah kami terhenti.


"Rey, hari ini kita enggak pulang bareng, ya. Papi mau jemput, katanya hari ini sedang tidak sibuk, jadi pengin habisin waktu sama aku," ujar  Arvesia.


"Iya, enggak masalah. Selamat bersenang-senang dengan papimu. Eh, ngomong-ngomong aku penasaran dengan sosok papimu, yang kata kamu sangat tampan dan gagah meski usianya hampir lima puluh tahun. Selama kita bersahabat, belum pernah sekalipun aku melihatnya," paparku.


Sebelum menjawab, Arvesia tersenyum dengan wajah menunjukkan rasa geli.


"Kok, kamu malah senyum-senyum enggak jelas?" tanyaku sebal.


"Hati-hati aja nanti kalau kamu kepincut papiku. Dia itu duren seduren-durennya, loh. Paket komplit!" Arvesia menyelesaikan kalimatnya dengan tertawa.


Tidak perlu waktu lama, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan kami.


Mataku membeliak sempurna ketika dari pintu dekat kemudi keluar seorang lelaki tampan. Bukan hanya tampan, tetapi sangat tampan. Lelaki itu jangkung dengan dada bidang. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya. Celana pendek beserta kaus yang melekat sempurna menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis.


'Ganteng banget,' ucapku dalam hati.


'Aku akan dengan senang hati menerimanya jadi kekasihku,' lanjut batinku.


"Heh, jangan shock gitu, deh!" goda Arvesia seraya menyenggol tubuhku.


"Tuh, kan, kamu terpesona. Mau enggak jadi ibu sambungku?" lanjutnya.


Arvesia cekikikan melihat wajahku yang memerah karena malu.


"Oh, my God. Aku halu, ya. Ternyata itu papimu?" tanyaku tidak percaya.


"Yes, you are right. Santai saja, kamu bukan cewek pertama yang terpesona. Jujur, aku enggak nolak kalau kamu mau jadi istri Papi. Sudah lebih dari sepuluh tahun dia menduda sejak Mami meninggal."


Lelaki tampan itu berjalan mendekati kami. Jantungku sepertinya berdetak seribu kali lebih cepat. 


'Tuhan, tolong jangan biarkan kehaluanku semakin besar. Atau apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?' tanyaku kepada diri sendiri.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa dihubungi dan ditemui di FB: Endah Larasati dan IG:@endahlarasati04

0 Response to "Suka Sama Om-Om"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel