Suka Sama Om-Om (2)

Suka Sama Om-Om (2)

Penulis: Endah Larasati

Siang ini matahari sepertinya sedang murka. Panas yang ditujukan untuk bumi ini sangat pongah hingga menyayat perih kulit. Kaki dan badanku terasa lemas dengan banjir peluh.

Duduk sejenak di tepi jalan menjadi pilihan. Satu menit, lima menit, hingga tiga puluh menit aku menyembunyikan wajah untuk mengurangi lelah. 


Kugeser layar ponsel, cukup lama diri ini beristirahat. Sudah saatnya melanjutkan langkah. Masih terdapat beberapa kue di keranjang yang harus aku jajakan. Baru saja berdiri, sebuah matic besar berhenti sempurna di hadapan.


"Reyvani?" tanya lelaki pengendara matic sambil membuka kaca helm.


"Om Adam?" tanyaku terkejut.


"Sedang apa kamu di sini? Mau ke mana? Om antar, ya?" Serbuan pertanyaan tertuju kepadaku.


Sebelum menjawab, kugaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Ayo, buruan naik, Om antar kamu pulang."


Entah mengapa diri ini tidak mampu menolak ajakan lelaki paruh baya itu. Om Adam, Papi sahabatku, Arvesia. Sejak pertemuan kami di depan sekolah beberapa waktu lalu, Tuhan mempertemukan kami beberapa kali tanpa kami sengaja.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, kutepuk punggung lelaki di depan dan memintanya berhenti. Matic hitam itu berhenti di sebuah gapura kampung. Sengaja diri ini memintanya mengantar cukup di situ. Belum siap rasanya jika Om Adam tahu keadaan rumahku. Padahal Arvesia, anaknya sudah pasti bercerita tentang kehidupanku.


"Kenapa berhenti di sini? Kenapa tidak langsung rumahmu?" tanya Om Adam seraya melepas helm.


Aku tersenyum dan menggeleng tanpa berucap.


"Terima kasih, Om. Saya permisi," pamitku.


Belum juga langkahku terayun, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tanganku.


"Kamu jualan kue?"


Aku mengangguk.


"Masih ada?"


Lagi, aku mengangguk.


"Tolong bungkus semua yang ada. Ini uangnya." 


Om Adam berucap sambil melepas tanganku. Tangannya ganti merogoh dompet di saku celana.


Selembar uang berwarna merah terulur.


"Kembaliannya simpan saja."


Aku terpana sambil tetap memasukkan sejumlah kue ke dalam kantong plastik.


"Tapi, Om ...."


"Kamu bisa menggunakannya untuk tambahan uang saku. Oh iya, kalau bersedia, lusa kamu antar seratus buah kue ke kantor saya. Maaf, Om belum bisa kasih uangnya sekarang. Saat ini uang cash di dompet Om tinggal sedikit. Besok biar Arvesia yang kasih uangnya beserta alamat kantor Om," papar Om Adam.


"Terima kasih banyak, Om. Sungguh ini sangat mengejutkan," ucapku hingga tanpa sadar tangan kukuh itu ada dalam genggamanku.


"Do you like it?"


"I love it so much," tuturku.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to " Suka Sama Om-Om (2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel