Rasa yang Tersimpan

Rasa yang Tersimpan

Penulis:
Endah Larasati

 

"Lis, ada Bagus," ucap Ibu yang mengejutkanku saat mencuci piring.

 

"Ngapain dia malam-malam ke sini? Hujan-hujan pula."

 

"Tanya langsung saja sama anaknya. Sudah, buruan ke depan. Biar Ibu yang lanjutkan cuci piring."

 

Usai mengeringkan tangan dengan kaus yang kukenakan, aku segera menuju ruang tamu.

 

Terlihat lelaki berkulit putih dengan wajah sedikit pucat dan basah kuyup. Ia tersenyum ketika aku telah duduk tepat di sisinya.

 

"Ngapain malam-malam ke sini? Hujan-hujan pula, kurang kerjaan banget. Kalau sakit gimana? Kalau mau ngapa-ngapain itu dipikir dulu!"

 

"Sudah selesai ngomelnya?" tanya Bagus diikuti bersin.

 

Aku terdiam.

 

"Mamah pergi menemani Papah rapat di luar kota. Bu Hasna hari ini enggak masuk kerja. Di rumah enggak ada makanan. Aku lapar ...."

 

"Ya, Tuhan. Kenapa enggak beli apa gitu?" tanyaku geram.

 

Meski dibuat kesal oleh Bagus—teman sekolah dan bermain sejak TK, tak urung membuatku iba. Aku segera bangkit dan menuju dapur. Selang beberapa menit, kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi sepiring makanan dan segelas es teh. Sebelum ke ruang tamu, kusempatkan masuk kamar dan mengambil selembar kaus.

 

"Ganti kaus dulu, habis itu makan. Ibu tadi masak sayur sop dan perkedel jagung."

 

Tanpa penolakan dan tanpa sungkan, Bagus melepas kausnya yang basah kemudian mengenakan kaus yang kubawakan. Ia memang sudah terbiasa seperti itu. Memperlihatkan dada bidang di hadapan sahabatnya ini sudah sering dilakukan.

 

"Kamu itu cewek kok, sukanya kaus gombrong seperti ini. Mbok ya pakai pakaian yang berbau girly, gitu," tutur Bagus di sela kunyahannya.

 

Usai mengisi perut, Bagus menceritakan banyak hal. Salah satunya karirnya di perusahaan pengolahan ikan laut yang semakin cemerlang. Ia juga menawarkan posisi di bagian keuangan untukku. Namun, aku menolaknya, sudah terlanjur nyaman menjadi staf administrasi di salah satu bimbingan belajar. Bagus masih membujuk dengan dalih gaji yang besarnya tiga kali lipat dari gajiku saat ini. Keputusan tidak berubah, tidak berminat di perusahaan itu.

 

Dua jam berlalu, lelaki berlengan kekar itu pamit. Ketika berdiri di ambang pintu, langkahnya terhenti dan berbalik. Kami berhadapan dengan jarak kurang dari sepuluh sentimeter. Mataku mengisyaratkan tanda tanya.

 

"Mamah Papah berencana menjodohkanku dengan Tifani," ucap Bagus lirih.

 

"Tifani teman kita sewaktu SMA?"

 

Bagus mengangguk. "Tifani anak anggota dewan. Tifani yang super girly?"

 

Entah mengapa, tiba-tiba ada nyeri yang muncul di dada.

 

Dua bulan berlalu. Sejak malam itu, intensitas komunikasi dan pertemuan dengan Bagus jauh berkurang. Dulu, hampir tiap jam ia mengirim pesan. Kini, seminggu sekali sudah cukup. Mungkin ia fokus dengan Tifani.

 

Setelah berhari-hari tidak ada kabar, akhirnya Bagus mengirimkan pesan.

 

[Apa kabar, Lis?]

[Lama aku enggak ngobrol sama kamu.]

[Aku kangen kamu.]

 

Ada secercah bahagia saat membaca pesan itu. Ternyata Bagus tidak melupakanku.

 

[Sore ini aku ke rumahmu, ya.]

[Mau antar undangan pertunanganku dengan Tifani.]

[Minggu depan datang, ya, sama Om dan Tante.]

 

Seketika dadaku sesak, seolah-olah kekurangan pasokan oksigen. Tidak ada balasan yang kuberikan. Meletakkan ponsel di meja kamar dan menutup wajah menjadi pilihan.

 

Empat jam lepas dari waktu membaca pesan Bagus. Pukul 16.30 lelaki itu datang dengan sedan putihnya. Senyumnya mengembang sempurna. Aku yang menunggunya di teras, membalas senyuman itu. Perbincangan ringan mengalir di antara kami.

 

Setelah beberapa menit berbincang, lebih tepatnya menjadi pendengar cerita Bagus, akhirnya aku membuka suara.

 

"Gus, maaf, sepertinya aku enggak bisa datang di pertunanganmu dengan Tifani. Aku ...."

 

"Kamu kenapa? Masak kamu enggak datang?" Bagus memangkas kalimatku.

 

"Lusa aku mau berangkat ke Kalimantan. Aku akan bekerja di perusahaan omku."

 

Kami saling diam cukup lama. Hingga bibir ini kembali berucap. Menjelaskan bahwa rencana ini sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu. Namun, sengaja belum bercerita karena ingin menyampaikannya secara langsung. Tidak ada respons yang diberikan lelaki berkaus biru itu Ia mengunci mulut. Dari sorot matanya seolah-olah menunjukkan kesedihan dan kekecewaan.

 

Dua puluh empat kali purnama menyambangi malam. Sejurus dengan itu tidak ada komunikasi antara aku dan Bagus. Sengaja kuganti nomor ponsel dan semua akun media sosial. Aku juga meminta Ayah dan Ibu tidak memberitahukannya jika Bagus bertanya.

 

Malam ini, setelah lebih dari setahun tidak pulang, akhirnya aku kembali menjejak lantai kediaman. Kesehatan Ayah menurun, beliau memintaku pulang dan mengundurkan diri dari pekerjaan di Kalimantan. Menikmati malam dan memutar memori sembari duduk santai di kursi teras.

 

Netraku menyempit, silau ketika ada lampu mobil tertuju ke arahku. 'Bagus,' lirihku ketika melihat jelas mobil yang berhenti di luar pagar.

 

Gegas aku bangkit, berniat masuk untuk menghindari lelaki itu. Nahas. Lelaki itu memanggil, "Lisa!"

 

Tak butuh waktu lama, Bagus telah berdiri tepat di hadapanku.

 

"Kenapa kamu menghindariku? Kenapa sembunyi dariku? Nomor telepon, email, efbe, ige, telegram semuanya kamu ganti. Kamu juga melarang Om dan Tante memberitahuku. Salahku apa, Lis?"

 

"Kamu enggak salah. Aku yang salah, Gus."

 

"Mencintai sahabat bukanlah kesalahan, Lis."

 

Mataku membeliak. 'Dari mana ia tahu tentang perasaanku?'

 

Tanpa kuminta, Bagus menjelaskan semua yang ia ketahui. Waktu itu, sehari sebelum hari pertunangan, ia datang untuk menemuiku. Sayang, aku sudah terlebih dahulu berangkat ke Kalimantan. Ia melihat buku diari tergeletak di sofa. Kemudian membawanya pulang setelah mendapat izin dari Ayah dan Ibu. Dari buku itulah Bagus mengetahui semua rasa yang ada untuknya.

 

Tatapan kami saling kunci dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Bagus membawaku ke dalam pelukannya. Nyaman. Namun, segera kulepaskan diri.

 

"Ini tidak boleh terjadi. Semuanya sudah terjadi. Pulanglah. Aku tidak mau mengganggu pernikahanmu. Aku tidak mau menyakiti Tifani."

 

Bagus terkekeh. Ketampanannya semakin kuat dan memesona. Ia kembali menarik tubuh ini.

 

"Menikahlah denganku," ucapnya lirih, tetapi terdengar jelas.

 

Aku berusaha melepaskan diri, tetapi lengan itu semakin kuat menahan.

 

"Sehari sebelum pertunangan, aku meminta Papah Mamah membatalkannya. Mereka setuju karena sedari kecil aku hampir tidak pernah mengajukan permintaan. Menikahlah denganku, Lis. Aku bisa benar-benar gila jika harus kehilanganmu lagi."

 

Kubenamkan wajah di dada bidang itu. Menghisap aroma maskulin dari si empunya yang mampu menenangkanku.

 

"Lis," panggil Bagus.

 

Aku mendongak, selanjutnya mengangguk diiringi senyuman.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04

0 Response to "Rasa yang Tersimpan"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel