Keputusan Pemilik Semesta

Keputusan Pemilik Semesta

Penulis: Endah Larasati

"Din," tutur Arde menggoyangkan tangan dua sentimeter dari wajahku.

 

"Jangan bercanda, enggak lucu!"

 

"Din, aku serius. Selama enam tahun kita enggak ketemu, selama itu pula aku berpikir dan belajar banyak hal. Tahun terakhir kuliah, aku magang di perusahaan multinasional. Banyak ragam manusia dari seluruh penjuru bumi. Mereka sarana belajarku. Resmi wisuda, perusahaan itu menjadikanku karyawan tetap. Maaf, untuk hal ini aku tidak banyak cerita. Sengaja. Aku ingin pulang ke Indonesia, menghabiskan sisa usia dan menikmati susah senang bareng kamu, Din."  Lelaki berkaca mata itu menggenggam tanganku erat.

 

Air mataku berderai. Ya Tuhan, betapa cengengnya makhluk ini. Saat kangen menangis, saat sedih menangis, dan saat bahagia seperti ini juga menangis.

 

"Kamu enggak nolak, kan?" lanjut Arde.

 

Senyum bahagia kuberikan untuk lelaki yang sangat kucinta. Anggukan mengiringinya.

 

Tiba-tiba Arde berdiri dan berteriak, "Yes! Aku berhasil! Aku akan menikahi gadis pujaanku sejak SMA!"

 

Sontak semua pengunjung dan karyawan kafe menoleh dan mengarahkan pandangan kepada kami. Malu. Itulah yang tengah melanda. Menunduk dan menyembunyikan wajah di balik buku menu menjadi pilihanku.

 

*

 

Lima hari sejak Arde melamar, semua berjalan baik-baik saja, bahkan sangat baik. Semalam papi dan mami Arde datang ke rumah untuk melamarku secara resmi. Disepakati bahwa tiga puluh hari selanjutnya akan diadakan ijab kabul yang disertai resepsi. Rencananya akan diadakan acara sederhana, tetapi terasa intens. Hanya keluarga, tetangga, dan teman dekat yang akan diundang.

 

Sehari setelah menginjakkan kaki di rumah, Arde dipercaya mengelola usaha keluarganya. Ada sebuah toko bahan bangunan dan usaha penyedia jasa persewaan alat berat dalam pembuatan bangunan.

 

Siang ini, aku dan Arde berencana makan siang di kafe gelato langganan. Sayangnya ia tidak bisa datang karena ada rekanan bisnis yang datang secara tiba-tiba dari luar kota. Berhubung sudah terlanjur tiba di kafe, akhirnya aku menuju spot favorit dan memesan makanan dan minuman--gelato vanila squash dan nasi ayam teriyaki.

 

Suasana kafe rame pengunjung karena banyak orang menghabiskan waktu makan siang di tempat ini. Sambil menunggu pesanan datang, aku menenggelamkan diri di layar ponsel. Tiba-tiba terdengar langkah mendekati tempat dudukku.

 

"Maaf, boleh aku duduk di sini?" tanya seorang gadis cantik, sangat cantik. Kulitnya seputih susu, rambutnya lurus tergerai sebahu, matanya belok, dilengkapi hidung bangir. Proporsi yang sangat sempurna. Ia mengenakan celana sebetis dipadu blus tanpa lengan. Aku yang sesama kaum hawa saja terpesona, bisa dipastikan lawan jenis lebih dari itu.

 

"Oh, iya. Silakan, aku sendirian, ga ada teman," jawabku diakhiri senyum.

 

Sesaat kami berbasa-basi. Ternyata gadis itu baru saja datang dari luar kota. Ia sengaja ke kota ini untuk mencari alamat seseorang. Katanya ada urusan yang sangat penting. Namun, karena cuaca di luar sangat terik, ia beristirahat dulu dan mampir di kafe ini.

 

Perbincangan kami terhenti ketika seorang pramusaji menghadirkan pesananku. Gadis itu segera menyebutkan pesanannya dan ditulis oleh pramusaji.

 

"Silakan dinikmati pesanannya. Enggak perlu sungkan sama aku," tutur gadis dengan blus warna peach.

 

Aku segera menikmati gelato vanila squash favoritku. Baru satu sendok menikmati, gerakanku terhenti. Gadis di seberang meja menutup mulut dan hidungnya. Dari ekspresi yang ada, sepertinya ia menahan mual.

 

"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.

 

Sebelum menjawab, gadis itu mengatur napas.

 

"Aku baik-baik saja. Entahlah, akhir-akhir ini aku sering mual, terlebih jika mencium aroma yang menusuk." Pandangannya tertuju pada ayam teriyaki.

 

"Makanan ini?" tanyaku menunjuk piring berisi makanan.

 

Ia mengangguk. "Padahal sebenarnya aku sangat suka dengan ayam teriyaki."

 

"Semacam ngidam, hamil muda, ya? Jadi mual ketika mencium sesuatu, padahal sebelumnya enggak pernah begitu," candaku.

 

Kenyataan yang ada, gadis itu terlihat murung, bukan tertawa mendengar candaanku.

 

"Maaf kalau aku salah bicara."

 

Beruntung pesanan gadis itu segera datang. Kami menikmati makanan dalam diam. Usai menghabiskan makanan, gadis itu menyodorkan ponselnya ke arahku. Terlihat sebuah alamat.

 

"Aku tahu tempat itu. Aku akan mengantarmu," ujarku.

 

Senyum merekah, menambah persentase kecantikannya.

 

Usai menyelesaikan pembayaran, kami menuju alamat tujuan. Kami berhenti tepat di depan sebuah rumah. Ponselku berdering. Mamah memintaku segera pulang.

 

"Ini alamat yang kamu cari. Maaf, aku enggak bisa antar ke dalam sana, aku harus segera pulang."

 

Setelah mendengar ucapan terima kasih darinya, aku segera pamit dan menuju rumah yang berseberangan dengan alamat yag dicari gadis itu.

 

Saat memasuki rumah, batinku bergemuruh, 'Siapa gadis cantik itu?'

 

*

 

Keesokan harinya, aku kembali mengatur janji dengan Arde. Pukul 14.30 kami akan bertemu di kafe gelato. Tiga puluh menit lebih awal, aku sudah menapaki kafe itu. Terlihat gadis cantik itu lagi di sudut ruangan. Matanya sembap seperti habis menangis. Polesan wajahnya juga sedikit luntur. Entah mengapa, langkah ini refleks mendekatinya.

 

"Boleh aku duduk di sini?" tanyaku.

 

Ia mendongak dan mempersilakanku duduk.

 

"Maaf, sepertinya kamu habis menangis?" tanyaku lagi.

 

Bukan jawaban yang ada, melainkan tagisnya semakin deras. Setelah mampu menguasai diri, ia menarik napas dalam.

 

"Aku hamil, tetapi belum menikah."

 

Hatiku mencelos.

 

"Kami melakukannya ketika acara perpisahan alumni kampus. Kami teman sekampus, sama-sama dari Indonesia, belajar di Amerika."

 

Seketika kepalaku pening, telinga berdengung, bahkan pandangan mengabur.

 

'Mahasiswa, dari Indonesia, belajar di Amerika. Itu artinya ... lelaki yang menghamili gadis itu adalah ....'

 

Kesadaran kembali sempurna ketika seseorang  menyebut namaku. "Dini ...." Suara itu lirih.

 

Secara bersamaan, aku dan gadis di seberang meja mengarahkan pandangan ke sumber suara.

 

Gegas aku berdiri dan meninggalkan tempat itu. Langkahku lebar. Namun, Arde berhasil menyejajarkan diri. Ia menarik paksa tanganku.

 

"Dengarkan dulu penjelasanku, Din."

 

Aku empaskan tangan itu dengan kasar.

 

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah berakhir!" ucapku tegas.

 

Aku berlari keluar dari kafe. Ketika menginjak pedestrian, tanganku kembali ditarik paksa Arde.

 

"Aku tidak mencintai gadis itu. Aku minta maaf, Din. Kami melakukan hal itu karena pengaruh alkohol. Kita akan tetap menikah, Din. Aku mencintaimu."

 

"Anak dalam rahimnya adalah benihmu--darah dagingmu! Janin itu berhak hidup, berhak mendapatkan kasih sayang orang tuanya, dan kamu ha-rus ber-tang-gung ja-wab!"

 

Kusentakkan genggaman Arde dan berlari.

 

*

 

Tepat tujuh hari sejak papi dan mami Arde datang melamarku, mereka kembali berkunjung. Kali ini kedatangan mereka untuk membatalkan rencana pernikahanku dengan Arde. Mereka sangat menyesal, malu, dan benar-benar minta maaf.

 

Rencana pernikahan yang suda ada tetap berlanjut. Bukan aku sebagai pengantinnya, tetapi Arde dengan gadis yang ia hamili.

 

Detik berputar, menit berganti, hingga hari berlalu. Hari ini, rumah di seberang jalan terlihat ramai, dilengkapi aneka rupa persiapan pernikahan. Berita yang kudengar, pemberkatan pernikahan dilakukan di gereja tak jauh dari kompleks. Selanjutnya diadakan resepsi sederhana di kediaman Arde.

 

Sejak peristiwa di kafe gelato, aku tak pernah jumpa dengan Arde. Berulang kali ia mengirim pesan, menelepon, dan datang ke rumah. Tak satu pun kutanggapi. Hari ini kami akan bertemu. Bukan karena hati ini sudah sembuh, tetapi untuk menghargai undangan dari papi mami Arde.

 

Aku datang bersama Papah dan Mamah. Kami beriringan menyalami kedua mempelai. Sakit, sungguh sakit hati ini. Meski tidak ada senyum yang kuberikan, setidaknya tidak ada air mata yang menetes di hadapan Arde. Usai bersalaman, Papah Mamah menuju tempat dihidangkannya aneka sajian. Namun, aku memilih segera pulang.

 

Hari ini, di tempat ini, seharusnya aku yang ada di kursi pelaminan itu, bersanding dan tertawa bersama Arde--lelaki yang mengambil perasaanku sejak SMA. Semua ini sungguh menyakitkan. Langkahku semakin cepat, jangan sampai menangis di tempat ini.

 

Langkahku terhenti ketika ada yang mencekal tangan dari belakang. Erat. Detik berikutnya ada yang menangkup tubuhku dalam pelukan. Ya, ada seseorang yang memeluk dengan erat. Terasa ada yang menyembunyikan wajah di punggungku.

 

"Din, aku tahu, kesalahanku sangat besar--fatal. Aku telah melukaimu begitu dalam. Maafkan aku, ampuni aku ...." Suara itu mengambang.

 

"Marahlah, Din. Tampar aku! Pukul aku! Luapkan semua emosimu! Jangan diam saja, jangan kau pendam lukamu!"

 

Aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar.

 

"Tidak sepantasnya kamu berbuat seperti ini. Kita jadi tontonan banyak orang. Ingat, kamu sudah ada yang memiliki. Wanita dengan gaun putih yang ada di kursi pelaminan adalah istrimu, ibu dari anakmu."

 

Sekuat tenaga aku melepaskan tangan Arde dan meninggalkan tempat resepsi pernikahan Arde dan Nayka.

 

Keputusan Pemilik Semesta sungguh di luar dugaan. Manusia hanya bisa berencana.




Penulis novel Pati I'm in Love dan Aku Tulus Mencintaimu. Bisa ditemui dan dihubungi di FB: Endah Larasati dan IG: @endahlarasati04


0 Response to "Keputusan Pemilik Semesta"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel