Karena Cinta tidak Butuh Alasan

Karena Cinta tidak Butuh Alasan

Untuk ke sekian kalinya, Liverpool kembali kalah di kandang sendiri. Kali ini, The Reds dipermalukan rival sekota Everton, dalam lanjutan Liga Primer Inggris pekan ke 25. Liverpool harus mengakui keunggulan tim asuhan Carlo Anceloti dua gol tanpa balas. Kekalahan tersebut merupakan kekalahan keempat Liverpool secara beruntun di Anfield, sekaligus menjadi kemenangan perdana The Toffees di markas Liverpool setelah terakhir kali menang 22 tahun lalu.

Terus terang, sebagai pendukung Manchester United (MU) yang dalam sejarah tercatat menjadi rival abadi The Anfield Gank, saya senang mendapati kenyataan The Kopites keok untuk kesekian kalinya. Bagi saya, melihat Liverpool merana adalah momen menyenangkan yang sulit diabaikan. Rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri menyaksikan Liverpool menjadi tim pesakitan. Kenikmatan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata, tapi anehnya memberi kepuasan khusus, seperti ketika MU sedang juara liga. Hal demikian, saya rasa terjadi pula pada fans Liverpool yang akan senang apabila MU mengalami kesialan dalam kompetisi.

Meski begitu, saya pribadi tidak bisa memungkiri kalau ada rasa empati di hati kecil saya atas apa yang dialami Liverpool. Tim sebesar Liverpool, saya pikir tidak layak mengalami hasil buruk seperti saat ini. Mengingat pencapaian luar biasa mereka lima tahun terakhir yang bisa menyabet trofi Liga Champions keenam dan trofi Liga Primer Inggris setelah puasa gelar selama 30 tahun, membuat apa yang terjadi saat ini harusnya tidak sampai separah ini.

Menyaksikan performa Liverpool sekarang, sama saja seperti saat melihat Juventus harus turun ke kasta kedua Liga Itali karena kasus Calciopoli. Rasanya aneh melihat klub sebesar Juventus harus bermain di Serie B. Itulah yang terjadi pada Liverpool kini. Suatu keanehan melihat tim yang begitu super power di musim lalu, harus menjadi bulan-bulanan di kandang sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi pendukung Liverpool dalam situasi seperti sekarang. Tim juara bertahan Liga Inggris, sekaligus perengkuh trofi Liga Champions terbanyak se-Inggris raya, harus menelan kekalahan di kandang sendiri dalam empat pertandingannya secara beruntun, hal itu bukan sesuatu yang pantas untuk kesebelasan sekaliber Liverpool.

Apa yang terjadi pada Liverpool, bisa dialami seluruh klub di dunia. Tak ada satu pun tim yang bisa konsisten menang atau konsisten bermain baik dalam semua pertandingan. Pasti ada saatnya performa tim akan menurun. Pasti ada saatnya kekalahan menjadi kawan seiring. Para pemain dan pelatih sangat paham dengan hal tersebut.

Hanya saja, sepakbola modern tidak ditopang semata oleh pelatih dan pemain. Ada peran suporter yang mustahil diabaikan. Masalahnya kemudian, pola pikir suporter berbeda dengan pemikiran pemain dan pelatih. Di mata para suporter, yang mereka tahu hanya satu hal: menang. Kalaupun memang harus kalah, kekalahan itu jangan sampai terjadi di rumah sendiri. 

Di kultur suporter, di manapun letak negara dan latar belakang klubnya, ada semacam kesepakatan tidak tertulis yang menyebut, bahwa tim kita boleh kalah di manapun, asal tidak kalah di kandang sendiri. Sebab ketika kalah di kandang, yang kalah bukan cuma kesebelasan secara kolektif, tapi juga harga diri dari satu identitas bersama yang membentuk klub yang ikut kalah. Itulah pasalnya, tensi pertandingan akan meningkat drastis apabila tuan rumah kalah, yang acapkali berujung kerusuhan di beberapa tempat, baik di dalam maupun luar stadion.

Bagi yang tidak memahami konteks dinamika suporter dalam sepakbola, biasanya akan dengan sinis menjustifikasi bahwa perilaku para fans di atas berlebihan dan tidak masuk akal. Para suporter bakal dinilai sebagai kelompok yang arogan karena memaksakan kehendak agar klubnya tidak boleh kalah. Padahal, menang dan kalah menjadi keniscayaan dalam sepakbola.

Pandangan demikian ada benarnya. Walaupun, kalau dicermati secara seksama, pandangan tersebut sebenarnya tidak benar-benar amat juga. Ada satu faktor yang kerap diabaikan oleh mereka yang sinis dengan perilaku para suporter; psikis. Mereka tidak coba memahami latar psikis yang membuat para fans satu klub sebegitu fanatiknya hingga mengharamkan kekalahan. Faktor psikis ini yang tidak bisa begitu saja dihakimi dengan berbagai kategori ilmiah dan rasional dalam dunia akademis.

Saya pribadi melihat kalau fenomena ini tidak berbeda jauh dengan fenomena orang-orang yang fanatik terhadap satu agama, lalu membuat standar tersendiri bagi dirinya dan orang lain. Orang-orang di luar dirinya akan menilai kalau orang yang fanatik ini tidak rasional karena tidak mengedepankan akal sehatnya dalam bersikap. Inilah yang terjadi pada para suporter yang memegang prinsip kemenangan sebagai harga mati. Mereka tidak mengedepankan rasionalitas. Yang dikedepankan adalah intuisi dan emosi, bukan akal sehat.

Hal ini senada dengan yang dijelaskan Jonathan Haidt dalam The Righteous Mind (2020). Menurut Haidt, orang-orang fanatik lebih mengedepankan intuisi daripada rasionalitas. Intuisi ini yang nantinya melahirkan standar moral tertentu yang berseberangan dengan standar rasionalitas yang dipegang banyak orang. Dalam konteks suporter, pandangan yang mendewa-dewakan kemenangan adalah bentuk nyata dari standar moral yang dimaksud Haidt.

Faktor psikis demikian yang tidak banyak dilihat oleh orang-orang yang sinis dengan perilaku suporter. Padahal, berbagai perilaku yang dipandang irasional tersebut sesungguhnya memiliki dasar. Tidak ujug-ujug muncul begitu saja dari langit. Dalam latar itulah, saya pikir kutipan pelatih legendaris Liverpool Bill Shankly, ada benarnya. Kata Bill Shankly, “beberapa orang percaya sepak bola adalah masalah hidup dan mati. Saya sangat kecewa dengan sikap itu. Saya dapat meyakinkan Anda, ini lebih jauh, jauh lebih penting daripada itu." 

Pernyataan ini menggambarkan bahwa bagi penggila sepakbola, sepakbola lebih dari apapun. Fenomena fanatisme dalam dunia suporter bisa dipahami jika melihat penjelasan ini. Karena di mata suporter, sepakbola adalah segalanya, bahkan melebihi agama dan nyawa sendiri. Itulah konteksnya mengapa melihat irasionalitas perilaku suporter tidak bisa hanya memakai satu kacamata. Karena pada kenyataannya, apa yang terjadi dalam diri para suporter tidak sesederhana yang terlihat. 

Saya pun dulu termasuk ke dalam kategori suporter yang menganggap sepakbola menjadi segalanya. Ketika tim yang saya dukung kalah, apalagi kalah di kandang, rasanya ada sesuatu dalam batin yang berteriak tidak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring semakin banyak pertandingan yang saya tonton, seiring semakin banyak informasi tentang klub yang saya tahu, fanatisme buta untuk selalu mengedepankan kemenangan dalam tiap pertandingan semakin memudar. Yang muncul setelahnya, justru perasaan biasa saja mendapati apapun hasil yang dialami oleh klub favorit saya.

Perasaan ini yang sepertinya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan legenda Arsenal, Dennis Bergkamp dulu. Kata Bergkamp, “ketika anda mulai mendukung sebuah klub, anda tidak mendukungnya karena piala, pemain, atau sejarah. Anda mendukung karena anda menemukan diri anda pada klub tersebut." 

Itulah yang saya rasakan sekarang. Saya merasa menemukan diri saya di MU. Karena itulah saya tidak risau MU ada di peringkat berapapun. Saya mendukung bukan karena sejarah, piala, atau barisan pemain bintang. Saya mendukung karena saya memang cinta dengan klub ini. Saya percaya kalau cinta tidak butuh alasan. Kalau sudah cinta, ya cinta saja. Tidak ada embel-embel apapun. Kalaupun misalkan MU degradasi seperti Juventus dulu turun ke serie B, itu sama sekali tidak menurunkan cinta saya kepada MU. Saya cinta MU apa adanya. Saya cinta MU dengan segala kemegahan dan kebobrokannya. Cinta inilah yang membuat saya tetap mendukung MU, meski setelah pensiunnya Sir Alex Ferguson prestasi MU justru menurun.

Karena itu kemudian dalam situasi pandemi seperti sekarang, di mana sepakbola dijalankan dengan cara yang berbeda, saya tidak gelisah, cemas, atau bingung. Saya biasa saja menyikapi fenomena itu. Saya tetap menonton MU, saya tetap mengikuti Liga Inggris dan berbagai liga lainnya seperti biasa. Saya cinta sepakbola dan cinta MU, sehingga apapun situasinya kalau ada waktu luang saya pasti sempatkan untuk menonton sepakbola.

Saya tidak seperti sebagian penonton lain yang kerap menyebut bahwa selama pandemi sepakbola kehilangan bentuk aslinya. Saya tidak seperti mereka yang menilai sepakbola sekarang semata menjadi permainan antar 11 pemain dan murni hanya tentang menang kalah.

Walaupun kalau dilihat secara sejujur, dunia sepakbola memang mengalami perubahan yang membuat dirinya berbeda dari yang pernah ada. Dulu yang biasanya sepakbola dihadiri penonton secara langsung, selama badai covid-19 penonton tidak diizinkan hadir. Dulu yang biasanya suasana stadion ramai dengan riuh rendah suara penonton, kini menjadi sunyi. Dulu yang biasanya sebelum pertandingan berlangsung ada sesi jabat tangan dan foto, kini tidak ada lagi.

Ketidakhadiran penonton di stadion sangat mempengaruhi bagaimana sepakbola dimainkan. Dulu penonton bisa menjadi pemain ke 12 di lapangan karena dukungannya dianggap bisa menjadi pemain tambahan untuk mengalahkan musuh. Dulu kehadiran penonton bisa pula dipakai sebagai alat intimidasi kepada musuh dan wasit untuk mempengaruhi jalannya pertandingan.

Penelitian John Wertheim dan Toby Moskowitz yang termuat dalam Scorecasting: The Hidden Influences Behind How Sports are Played and Games are Won (2011), membuktikan hal itu. Menurut penelitian yang mereka lakukan di 100.000 lebih pertandingan dari 40 negara ketika dunia sedang tidak dilanda pandemi, dikatakan kalau ada 62% keuntungan jadi tuan rumah di dalam pertandingan sepakbola. Wasit secara tidak sadar lebih menguntungkan tim tuan rumah daripada tim tamu. Sepakbola bagi mereka berdua jadi olahraga yang home advantage-nya besar karena satu penalti atau satu keputusan wasit saja bisa mempengaruhi hasil pertandingan. Selain itu, wasit juga secara tidak sadar biasa menguntungkan tim yang lebih besar atau terkenal.

Dari penelitian itu terlihat bagaimana jalannya pertandingan tidak hanya dipengaruhi faktor pemain di lapangan. Tapi ada faktor x yang juga berperan penting di sana. Faktor x ini yang oleh keduanya disebut faktor tuan rumah. Tuan rumah di sini bukan berarti semata faktor stadion sebagai arena pertandingan, tapi sudah termasuk orang-orang yang menempati stadion itu sendiri. Artinya ada peran penonton atau suporter di situ. Itulah yang saya maksud kehadiran penonton mempengaruhi hasil pertandingan, sebagaimana diungkap John dan Toby. 

Hanya saja, dengan adanya pandemi yang membuat penonton tidak hadir di stadion, membuat jalannya laga tidak lagi dipengaruhi oleh faktor tuan rumah. Tapi semata faktor strategi dan kualitas pemain di lapangan. Itulah yang terjadi hari ini.

Saya setuju perubahan-perubahan ini seperti merubah sepakbola ke bentuk yang bukan sebenarnya. Sepakbola hanya jadi olahraga biasa yang membuat pendukung hanya sebatas jadi penonton biasa. Tak ada euforia, tak ada emosi, tak ada suka cita dalam sepakbola selama pandemi ini. Sepakbola ujungnya menjadi olahraga yang membosankan ketika ditonton. 

Meski begitu, kita tidak bisa menafikan kenyataan bahwa covid-19 memang ada dan niscaya mempengaruhi hidup kita saat ini. Tak hanya untuk sepakbola, tapi seluruh sendi kehidupan manusia di muka bumi terpengaruh oleh pandemi ini. Oleh sebab itu, sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan sekarang selain berusaha beradaptasi dengan situasi yang ada. Semua bidang kehidupan wajib beradaptasi, tak terkecuali sepakbola.

Selama pandemi, sepakbola memang menjadi sangat membosankan. Hanya saja, di samping kebosanan itu, saya justru malah mendapat pengalaman unik saat menonton sepakbola. Pengalaman yang sulit terjadi dalam situasi ketika tidak ada pandemi.

Ketika pertandingan berlangsung dan dihadiri penonton, umumnya kita akan susah mendengar suara dari para pemain. Entah suara pemain yang meminta bola, pemain yang menghujat wasit atau suara bola ketika ditendang. Tapi di masa pandemi, suara-suara itu bisa begitu nyaring terdengar. Bahkan redaksi kalimat umpatan pemain yang berseteru satu sama lain bisa terdengar jelas. Seperti yang terjadi antara Gerard Pique dengan Antoine Griezmann saat Barcelona dibantai PSG di Liga Champions. Suara Pique dan Griezmann terdengar jelas saat itu.

Dalam beberapa pertandingan, bahkan tidak hanya suara yang terekam, terkadang malah kita bisa melihat berbagai ragam ekspresi pemain saat di lapangan, baik yang sedang gembira, maupun marah secara jelas. Saya pernah melihat dalam satu pertandingan kiper MU David De Gea, memukul tiang gawang saking emosinya melihat busuknya cara Victor Lindelof dan Harry Maguire menjaga pertahanan. Saya juga pernah melihat dengan jelas bagaimana ekspresi kemarahan Demba Ba, saat ia protes kepada wasit yang rasis saat timnya Istanbul Basaksehir bermain melawan PSG. 

Kalau sepakbola berlangsung di situasi normal, saya yakin momen demikian akan sulit terwujud karena kalah dengan riuhnya suasana stadion. Tapi karena pandemi di mana pertandingan berlangsung tanpa penonton, layar kamera akan fokus pada pemain dan jajaran pelatih. Tidak ada kamera yang diarahkan kepada penonton. Kamera akhirnya hanya fokus pada pergerakan pemain di lapangan. Itulah alasannya mengapa banyak ekspresi pemain yang bisa tersorot dalam berbagai pertandingan.

Pengalaman unik seperti inilah yang saya pikir akan sulit dijumpai lagi di masa depan saat pandemi berakhir. Saat situasi kembali normal, tidak akan lagi ditemui sepakbola yang sunyi, sepi, dan sangat personal seperti sekarang. Sepakbola kembali ke identitas awalnya sebagai olahraga yang penuh euforia, suka cita dan emosi.

Pada titik itu, saya merasa sepakbola selama pandemi akan menjadi sangat romantis nantinya. Romantis karena hanya akan bisa dikenang tanpa pernah bisa dipraktikan kembali. Romantis karena mungkin selama saya hidup, hanya inilah momen di mana sepakbola hadir dengan wajahnya yang sangat lain. Karena itulah, saat besok semua kembali normal, saya akan merindukan momen sepakbola seperti sekarang. Sepakbola yang sepi, sunyi, namun menghadirkan pengalaman unik bagi saya sendiri. Hingga saatnya tiba nanti, saya hanya ingin menonton pertandingan sepakbola sebanyak-banyaknya. Hanya itu.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta


0 Response to " Karena Cinta tidak Butuh Alasan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel