Farag Fouda dan Pembacaan Ulang atas Sejarah Politik Islam

Farag Fouda dan Pembacaan Ulang atas Sejarah Politik Islam

Farag Fuoda menjadi nama yang relatif tidak banyak diperbincangkan dalam dunia Islam saat ini. Padahal, pada medio tahun 80-90an awal, Farag Fuoda merupakan salah satu nama yang cukup sering disebut dalam diskursus keIslaman saat itu.

Farag Fouda adalah intelektual muslim sekaligus aktivis demokrasi dan HAM asal Mesir. Namanya memiliki daya tarik di masanya karena posisi pemikirannya yang terbilang kontroversial dalam menentang arus utama pemikiran Islam.

Lahir pada 1945, Fouda memiliki trajektori keilmuan yang bisa dikatakan unik. Sebagai intelektual Islam, bidang asli keilmuannya justru adalah pertanian. Ia mendapat gelar M.Sc bidang pertanian dan Ph.D di bidang ekonomi pertanian dari Universitas Ain Syams. Namun semangatnya dalam mengkaji secara serius berbagai literatur keIslaman, membuat ia mampu menyetarakan dirinya dengan intelektual Islam lain dan menjadi salah satu yang berpengaruh di masanya.

Kebenaran yang Hilang

Farag Fouda dikenal karena keberaniannya dalam membongkar sejarah kelam praktik politik dalam peradaban Islam klasik. Ia dengan berani menghadirkan babakan gelap dari sejarah Islam yang selama ini kerap ditutup-tutupi oleh sebagian umat Islam. Melalui berbagai karya tulisnya, Fouda menunjukan bahwa sejarah Islam yang oleh sebagian kalangan dikenang sebagai sesuatu yang romantis dan idealis, pada kenyataannya menyimpan sisi kelam yang sulit dibayangkan akal sehat.

Salah satu karyanya yang paling terkenal berjudul Al-Haqiqah al-Ghaibah, yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi Kebenaran yang Hilang (2008). Buku ini adalah satu di antara berbagai karyanya yang dengan gamblang bicara mengenai sisi gelap peradaban Islam. Dalam buku tersebut, secara tajam Fuoda menganalisis berbagai sisi kelam sejarah Islam dari semenjak Nabi wafat atau era Khulafaur Rasyidin, hingga era dinasti setelahnya.

Bagi Fouda, seluruh peradaban Islam pasca Nabi Muhammad wafat, sebenarnya tidak seromantis dan sesempurna sebagaimana yang orang-orang kerap gembar-gemborkan. Menurutnya, seluruh peradaban Islam sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga dinasti-dinasti setelahnya adalah zaman biasa. Tak banyak yang istimewa dari masa itu. Malah, ada banyak sisi memalukan.

Fouda mencontohkan, saat umat Islam dipimpin empat sahabat terbaik, tiga dari empat Khalifah seluruhnya wafat karena pembunuhan politik atau perang saudara di antara para sahabat Nabi. Khalifah ke tiga Sayyidina Usman bin Affan bahkan meninggal dalam kondisi yang tidak selayaknya dialami oleh orang yang telah dijamin masuk surga oleh Allah dan Nabi sendiri.

Sayyidina Usman meninggal karena dibunuh akibat polarisasi politik yang terjadi saat itu. Ketika beliau wafat, dalam berbagai kitab tarikh, termasuk Tarikh at-Thabari karya Imam at-Thabari, dikatakan kalau jenazah beliau harus tertahan selama dua malam karena tidak ada orang yang mau menguburkan. Jenazah Sayyidina Usman bahkan tidak dikuburkan di pemakaman orang Islam karena ditolak saat itu. Beliau lalu dikuburkan di area pemakaman Yahudi. Barulah setelah Bani Umayyah berkuasa, makam Sayyidina Usman dimasukan ke dalam kompleks Baqi.

Apa yang dialami Sayyidina Usman menjadi contoh noda hitam dalam sejarah peradaban Islam. Bayangkan saja, seorang sahabat Nabi yang sangat berjasa dalam perkembangan Islam, ketika wafat jenazahnya terbengkalai sampai dua hari karena tidak ada yang mau mengubur.

Kalau yang mendapat perlakuan tersebut adalah penjahat dan hal itu terjadi pada masa sekarang, mungkin orang-orang tidak akan menganggap kondisi demikian sebagai masalah. Tapi persoalannya, yang mendapat perlakuan keji itu justru adalah salah seorang sahabat Nabi yang semasa hidupnya mendedikasikan seluruh hidupnya semata untuk Islam. Inilah contoh ketika zaman keemasan Islam ternyata menyimpan sisi gelap yang sulit dicerna akal sehat.

Dalam buku Kebenaran yang Hilang (2008), kisah-kisah kelam dan memilukan seperti yang terjadi pada masa Sayyidina Usman inilah yang menjadi gambaran umum dari keseluruhan buku. Contoh-contoh yang diangkat, tidak semata bicara tentang masa Khulafaur Rasyidin, tapi merentang dari Dinasti Umayyah hingga Dinasti Abbasiyah.

Satu contoh dari hal tersebut adalah ketika Fouda menjelaskan tentang wajah kelam Dinasti Abbasiyah melalui figur pendirinya Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (si penjagal). Abu Abbas dijuluki as-Saffah karena perilakunya yang menggambarkan secara nyata apa yang ia lakukan sebagai si tukang jagal. Fouda menyebut, bahwa as-Saffah dikenal karena kebengisan yang tidak tertandingi oleh Khalifah manapun.

Sejarah mencatat, sebagaimana Fouda kutip dari kitab al-Kamil fi Tarikh Vol.IV, ketika awal Abu Abbas berkuasa, ia memerintahkan pasukannya untuk mencari dan membongkar semua kuburan pemuka Umayyah. Untuk makam yang masih ada jenazahnya, mayatnya diperintahkan untuk diangkat, lalu didera, disalib, dibakar, lalu kemudian abunya di biarkan terhempas angin.

As-Saffah juga tercatat pernah membunuh sekitar 90 orang keluarga Umayyah di istananya sendiri secara keji. Ketika para orang Umayyah sudah bergelimpangan menunggu ajal, Khalifah memerintahkan bawahannya untuk menggelar permadani di atas para tubuh yang hampir mati itu. Abu Abbas lalu duduk di atasnya dan makan seperti tidak terjadi apa-apa.

Dua contoh ini menggambarkan secara gamblang bagaimana brutalnya Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah. Dari tindakannya itu, tak heran jika Abu Abbas dijuluki sang penjagal, karena memang perilakunya yang menggambarkan hal itu.

Peristiwa-peristiwa mengerikan ini rasanya mustahil terjadi di zaman saat Islam sedang berkembang pesat. Namun kenyataannya hal itu memang terjadi dan tercatat dalam sejarah. Bagi yang tidak terbiasa atau bahkan baru mengetahui kejadian-kejadian semacam ini, membaca ulasan panjang lebar tentang wajah kelam peradaban Islam seperti yang Fouda tulis, pasti akan membuat kaget dan mengganggu pikiran.

Saya pribadi mengalami hal itu. Saya sangat terganggu dan perut sampai mual ketika membaca kisah-kisah mengerikan yang Fuoda tulis. Saya tidak bisa mengerti dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin perilaku barbar demikian bisa terjadi dalam peradaban Islam yang ajaran agamanya mengajarkan kasih sayang dan cinta kasih terhadap sesama manusia?

Bagaimana mungkin dalam masa para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi dan melihat langsung keteladanan Nabi justru menyimpan malapetaka tak terperikan yang tidak masuk akal bisa terjadi? Bagaimana mungkin masa kekhalifahan setelah empat sahabat yang kerap disebut sebagai masa keemasan Islam justru malah terjadi berbagai perilaku keji yang bertentang dengan ajaran Islam tentang kemanusiaan, moral, keadilan, dan lain sebagainya? Itulah berbagai kebingungan yang menggelayuti saya ketika mengetahui kisah-kisah kelam yang Fouda ulas.

Bolongnya Konsep Kekuasaan dalam Islam

Maksud utama Fuoda menghadirkan babakan sejarah yang demikian, sebenarnya untuk menyerang argumentasi para pengasong Khilafah yang selalu meromantisasi masa awal peradaban Islam pasca Nabi sebagai masa terbaik. Dengan selalu menceritakan berbagai pencapaian gemilang masa-masa itu. Mereka menutupi kenyataan bahwa tidak seluruhnya yang ada saat itu baik. Ada sisi-sisi gelap yang terjadi, namun sialnya kerap ditutupi oleh mereka yang sibuk kampanye Khilafah saat ini.

Dengan menyajikan berbagai dinamika politik yang ujungnya nanti menimbulkan tragedi mengerikan di tiap masanya, Fuoda sesungguhnya ingin mengajak pembacanya untuk merenungkan kembali mengapa hal-hal demikian sampai terjadi. Dalam berbagai tulisannya, Fuoda menawarkan sebuah analisis menarik untuk menjawab pertanyaan itu.

Menurut Fuoda, penyebab munculnya berbagai tragedi politik yang kelam dalam sejarah Islam, karena ada konsep politik yang bolong dalam Islam itu sendiri. Konsep politik ini berupa konsep mengenai bagaimana kekuasaan dibentuk, dijalankan, dan dikontrol.

Islam tidak memiliki konsep yang jelas tentang bagaimana kekuasaan dikelola. Apakah melalui demokrasi, kerajaan, atau republik, Islam tidak memberikan gambarannya. Yang Islam berikan adalah rambu-rambu saat kekuasaan tersebut dijalankan, seperti kekuasaan harus adil, harus setara, menghargai harkat kemanusiaan, atau kekuasaan harus maslahat. Islam tidak bicara mengenai bagaimana rambu-rambu tersebut dijalankan.

Saat Khalifah diangkat contohnya. Semua Khulafaur Rasyidin mekanisme pengangkatannya berbeda-beda. Ada yang ditunjuk, ada yang melalui musyawarah kecil para sahabat, ada pula yang dibai'at. Sedangkan saat empat Khalifah ini wafat, sistem pengangkatannya justru didasari oleh hubungan keluarga bukan karena kemampuan agama dan kepemimpinan. Setelah para Khalifah ini memimpin, umat Islam tidak punya mekanisme bagaimana nantinya mengontrol jalannya kekuasaan. Di sinilah letak masalahnya.

Tidak adanya mekanisme kontrol dan mekanisme pengelolaan yang baku membuat kekuasaan berjalan tanpa ada rem. Hal itu membuat tindak tanduk para Khalifah berjalan tanpa ada pengawasan, yang berdampak pada kekuasaan yang berjalan tidak melalui sistem, tapi murni kehendak individu. Tidak adanya ketentuan ini membuat tindakan Khalifah bisa menjadi sangat sewenang-wenang dan berubah menjadi praktik otoritarianisme.

Sejarah kemudian mencatat bahwa, banyak perilaku menyimpang dari para Khalifah bisa terjadi dan langgeng tanpa ada protes apapun, karena ketidakadaan mekanisme check and balance dalam praktik politik Islam jika memakai terminologi politik modern. Saat rakyat tahu bahwa Khalifahnya keluar dari aturan, mereka tidak punya cara dan keberanian untuk protes atau melengserkannya. Kondisi inilah yang nantinya membuat praktik kesewenang-wenangan menjadi wajah umum dalam sejarah peradaban Islam.

Hal demikian sebenarnya menjadi kritik sangat telak kepada sebagian umat Islam yang selalu mengatakan bahwa kembali ke zaman awal Islam adalah solusi atas segala permasalahan umat saat ini. Mereka yang berujar seperti ini lupa dan mengabaikan fakta sejarah mengenai pergolakan politik yang tejadi di masa lalu. Mereka hanya menggiring narasi mengenai berbagai pencapaian masa lalu, tanpa menjelaskan wajah kelam yang juga terjadi beriringan dengan segala pencapaian tersebut.

Mereka juga menggabungkan begitu saja antara praktik Islam keseharian dengan praktik politik, seakan keduanya menjadi satu kesatuan. Padahal keduanya berbeda dan riskan disatukan begitu saja, karena Islam yang tidak memiliki konsep utuh tentang negara dan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Ketidakadaan konsep demikianlah yang membuat berbagai pergolakan politik terjadi. Menurut Fuoda, di situlah titik masalah dari mereka yang selalu menyebut Islam sebagai solusi dan menginginkan kembali praktik keIslaman masa lalu diterapkan di masa saat ini.

Fuoda curiga, jangan-jangan alasan terselubung dari mereka yang getol bicara agar umat Islam kembali ke pencapaian masa lalu, sebenarnya bukan menginginkan umat Islam kembali pada berbagai pencapaian emas masa lampau. Tapi sebenarnya menginginkan kita kembali ke masa saat pemerintahan berjalan tanpa kontrol yang nantinya menimbulkan berbagai tragedi mengerikan dalam sejarah. Kalau ini yang jadi alasan, menurut Fuoda gagasan kembali ke masa lalu menjadi ide yang harus ditolak karena tidak ada relevansinya sama sekali.

Dari sini kemudian, Fuoda menyebut bahwa era saat ini sesungguhnya jauh lebih baik dari era saat Islam berjaya dulu, jika ditinjau secara politik. Dalam kehidupan modern sekarang, pemerintah tidak bisa berjalan tanpa kontrol. Presiden tidak bisa bertindak sewenang-wenang seakan-akan ia sendiri penentu pemerintahan. Rakyat punya mekanisme kontrol dalam berbagai rupa yang bisa dipakai untuk mengingatkan, memprotes, atau malah melengserkan siapa saja yang dianggap memimpin di luar koridor kenegaraan yang disepakati.

Hal demikian menjadi mekanisme kunci dalam tata kelola kekuasaan modern saat ini. Di manapun negaranya, sebagian besar terdapat tata kelola tersebut. Hanya di negara-negara yang jelas-jelas pemimpinnya otoriter saja mekanisme kontrol tidak terjadi. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan yang terjadi di masa lampau. Ketidakadaan mekanisme kontrol itulah yang membuat praktik otoritarianisme tumbuh subur dalam sejarah Islam.

Gagasan demikian yang membuat Fuoda menjadi sosok kontroversial di masanya. Ia tidak hanya menghadirkan sisi kelam masa lalu, ia bertindak lebih jauh dengan mengkritik apa yang terjadi di masa lalu, dan melihat relevansinya terhadap kehidupan terkini. Hal inilah yang membuat Fuoda dimusuhi banyak orang dan darahnya difatwakan halal untuk ditumpahkan. Padahal apa yang Fuoda lakukan murni sebagai bentuk ijtihadnya atas situasi kehidupan umat Islam saat itu.

Fuoda mengajak kita untuk membaca ulang berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah islam. Pembacaan ini berguna agar kita bisa menilai sejarah tidak hitam putih, sekaligus menjadi bekal supaya kita tidak kaget atau latah dengan segala persoalan umat islam saat ini. Usaha yang ia lakukan sayangnya justru dinilai negatif oleh sebagian kalangan. Pemikiran dan tulisan Fuoda dicap telah menghina Islam. Tuduhan inilah yang mendasari dua orang teroris dari kelompok Jamaah Islamiyah, Mesir, membunuh Fuoda. Ia tewas setelah ditembak dua orang bersenjata di di Madinat al-Nasr, Kairo Mesir. Ia meninggal pada usia 47 tahun. Usia yang masih terbilang muda untuk seorang intelektual berpengaruh sekelas Farag Fuoda.




Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta

0 Response to "Farag Fouda dan Pembacaan Ulang atas Sejarah Politik Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel