Beruk Sirkus

Beruk Sirkus

Penulis : Amidia Amanza

Di pesisir pantai barat Sumatera, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Kampung Kerambir. Kampung Kerambir ini memiliki sebuah hasil alam yaitu buah kelapa. Entah siapa yang menanam pohon-pohon kelapa itu, yang jelas sejauh mata memandang yang tampak hanya pohon kelapa berbaris tak rapi. Hal itu juga menjadikan pekerjaan penduduknya selain menjadi nelayan, juga ada yang menjadi tukang beruk. Jadi, jangan heran jika beruk lebih berharga dari sebuah sepeda di kampung ini.

Beruk yang telah cukup umur akan disekolahkan agar mahir untuk memetik kelapa. Ada beberapa tingkatan untuk mengukur kecerdasan beruk-beruk itu. Jika beruk itu hanya bisa memetik kelapa yang sudah tua, maka beruk itu cerdas. Dan jika beruk itu bisa memetik kelapa muda dan tua, maka ia tergolong beruk yang sangat cerdas. Sekolah beruk dikepalai oleh seorang instruktur yang akan melatih langsung para beruk itu.

Di antara sekian banyak beruk di sekolah itu, ada satu beruk yang sangat menyita perhatian. Badan beruk itu terlihat lebih besar di antara beruk yang lainnya, dan beruk itu pun terlihat tak tertarik untuk bersekolah agar bisa memetik kelapa. Instruktur di sekolah beruk akan memberi pelatihan pada beruk mulai dari pengenalan kelapa hingga cara memutar kelapa. Jika beruk itu telah mahir untuk memetik kelapa maka ia akan lulus dari sekolah dan mendapatkan surat izin memetik kelapa.

“Apa pula yang dilakukan beruk si Cudus ini” kesal Kacak selaku instruktur beruk. “Hai, kau jangan diam saja, segera putar kelapa itu” titah sang instruktur. Beruk yang diomeli instrukturnya itu hanya duduk santai dengan menggoyangkan kedua kakinya. Dan yang membuat instruktur tambah geram, bukannya memutar kelapa seperti yang dicontohkan, ia malah hanya memain-mainkan kelapa dengan tangannya.

“Awas kau beruk, akan aku panggil pemilikmu ke sekolah ini karena kelakuan buruk tidak mendengarkanku” ancam Kacak pada beruk itu. Setelah pelajaran selesai maka pemilik beruk akan datang menjemput beruknya. Ada pemilik yang datang dengan menggunakan sepeda, ada yang menggunakan sepeda motor, bahkan ada yang datang dengan mobil bak terbuka. 

Cudus datang dengan mengendarai sepeda tua peninggalan bapaknya. Ia datang terlambat sehingga hanya beruknya saja yang tinggal seorang diri ditemani oleh instruktur tercintanya. “Sudah lama bubar pelajaran yang kau berikan, Kacak?” tanya Cudus sembari memarkir sepedanya. “Baru dua jam yang lalu” jawab Kacak singkat. “Maafkan aku Kacak, rantai sepedaku tadi putus dan terlambatlah aku menjemput beruk ini” Cudus berkata sambil mengelus kepala beruknya.

“Ada satu hal yang mau aku bicarakan dengan engkau, Cud” pinta instruktur beruk yang berlisensi itu. “Langsung saja kau bicarakan Kacak” Cudus tak sabar. “Aku mau berbicara empat mata. Ayo ikuti aku” Kacak mengajak Cudus menjauh dari beruknya. “Aku mau memberikan ini kepada kau” Kacak menyerahkan amplop berisi surat kepada Cudus. “Apa ini Kacak?” Cudus heran. “Itu surat panggilan atas kelakuan berukmu yang melawan dan tidak mendengarkan instrukturnya” Kacak menerangkan. “Mengapa tak kau bicarakan saja sekarang, dan harus pakai surat segala?” Cudus semakin bingung. “Ini peraturan di sekolah beruk ini” jawab Kacak singkat. “Aku pulang dulu, jangan lupa kau datang besok memenuhi panggilan ini” sambung Kacak sebelum berlalu pergi. Cudus hanya mengangguk lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

***

Pada besok harinya Cudus pergi mengantarkan beruknya lebih pagi dari biasanya. “Karena ulah kau aku harus bangun pagi, dasar beruk menyusahkan” rutuk Cudus kepada beruk yang dibonceng di belakang sepedanya. Beruk milik Cudus memang sangat terkenal nakal oleh orang kampungnya. Pernah pada suatu hari, beruknya pernah membuat orang jengkel yang kebetulan lewat di depan rumah Cudus. Sang beruk kerap kali mencibirkan orang yang lewat, apalagi jika yang lewat adalah seorang lelaki. Namun, jika yang lewat di depannya adalah seorang anak gadis maka ia akan berlagak menebarkan pesona sambil mengupas kelapa menggunakan giginya yang bak kuku kambing.

Tak lama setelah Cudus menunggu di pekarangan sekolah beruk, datanglah Manap menggunakan sepeda motor mengantarkan beruknya yang duduk di bonceng bagai seorang balita. “Belum juga lulus beruk kau kiranya, Cud? “ tanya Manap kepada Cudus. “Sudah masuk sekolah pula anak beruk aku yang seangkatan dengan beruk kau ini” sambungnya lalu terkekeh. 

“Bagaimana beruk aku akan diluluskan oleh si Kacak, disuruhnya memetik kelapa tua waktu praktik lapangan, putik kelapa yang dijatuhkannya” Cudus memberikan jawaban dengan kesal. Manap hanya tertawa mendengarkan jawaban Cudus.  Akhirnya Kacak datang dengan pakaian yang rapi seperti seorang guru disekolah pada umumnya. 

“Wali dari beruk ini segera menghadap ke ruangan aku” Kacak menunjuk beruk Cudus yang tengah asyik mencari kutunya. Cudus langsung pergi mengikuti Kacak yang berjalan menuju sebuah pondok yang disulapnya menjadi sebuah ruangan khusus instruktur sekolah beruk.

“Maafkan aku Cudus, sepertinya beruk kau harus aku skorsing untuk beberapa Minggu” Kacak membuka pembicaraan. “Seburuk apakah perangai beruk aku itu di sekolah sehingga kau berikan skorsing?” tanya Cudus penasaran. Mendengar pertanyaan Cudus, Kacak menghela nafasnya lalu berkata ”Beruk kau itu sangat nakal Cud, sudah dari lahir aku berhubungan dengan beruk, baru kali ini aku mendapati beruk kurang ajar seperti beruk kau”. Cudus melihat ke arah beruknya setelah mendengar penuturan Kacak. “Baiklah, jika beruk aku harus diskorsing, tapi jangan sampai kau keluarkan ia dari sekolah ini Kacak “ pinta Cudus pada Kacak. “Karena setiap beruk yang kau keluarkan dari sekolah ini, selalu ditolak oleh sekolah beruk lainnya” sambung Cudus memelas. “Perihal itu kita lihat saja perkembangan beruk kau itu” Kacak berkata dengan nada datar.

“Jika begitu, aku pamit undur diri dulu” Cudus berpamitan pada instruktur beruk terbaik didaerahnya itu. “Baiklah, jangan lupa kau latih dia di rumah” pesan Kacak. Cudus hanya tersenyum lalu meninggalkan Kacak di ruangannya.

***

Cudus bertekad untuk melatih beruknya sendiri di rumah selagi beruk itu kena sanksi skorsing dari sekolahnya. Sebelum latihan, Cudus memberi beruknya minuman suplemen dan makanan yang bergizi agar ia semangat dalam latihan. Beruk milik Cudus punya kebiasaan yang beda dari beruk kebanyakan. Ketika ia akan memanjat pohon kelapa, beruk itu tak ingin menggunakan tali yang sudah lama. Ia hanya mau menggunakan tali yang baru. Terpaksa Cudus membelikan tali yang baru.

“Kau harus bisa memetik kelapa itu” titah Cudus pada beruknya. Beruk itu mendengarkan sambil melakukan pemanasan. Beruk milik Cudus tidak memiliki lawan dalam kecepatan memanjat pohon kelapa, hanya saja ketika telah sampai di pucuk ia hanya diam bersantai bersandar pada pelepah kelapa.

“Hai, cepat kau petik kelapa itu” teriak Cudus dari bawah. Beruk itu tak juga melakukan perintah tuannya. Cudus menggoyangkan talinya seperti memberi kode agar beruk itu mengerti. Namun, beruk dungu itu tak juga tampak mengindahkan tuannya, ia semakin nyaman dengan posisinya. 

“Apa pula yang diidamkan oleh induk beruk aku ini dulu sewaktu mengandungnya”. Cudus bertanya-tanya sendiri. Bosan dengan tingkah beruknya, Cudus mengeluarkan rokok kretek dari dalam saku celananya. Cudus menunggu beruknya sembari menghisap rokok dari bawah pohon kelapa. Tak lama setelah itu, Cudus mendengar suara benda jatuh dari balik semak. “Akhirnya kau petik juga kelapa itu” ucap Cudus kegirangan.

Cudus lalu bangkit dari duduknya untuk mengambil kelapa yang dipetik oleh beruknya itu. “Alamak, bukan kelapa kiranya yang jatuh” Cudus terkejut sambil menepuk jidatnya. Cudus menemukan beruknya tengah kesakitan dengan tangan yang bengkok karena patah.

“Mengapa badan kau yang dijatuhkan, yang aku suruh kan kelapa” umpat Cudus pada beruknya. Beruk itu hanya meringis mendengar tuannya mengumpat. Cudus lalu menggendong beruknya keluar dari semak.

“Sepertinya kau memang tak berbakat menjadi beruk pemetik kelapa, mungkin bakat yang kau miliki adalah menjadi beruk sirkus” gerutu Cudus sambil menggelengkan kepalanya.

***




Amidia Amanza
Amidia Amanza adalah mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Memiliki banyak hobi salah satunya adalah membaca sambil belajar menulis apa pun. Dapat ditemui melalui media sosial di @amidia_amanza (Ig).

0 Response to "Beruk Sirkus"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel