Bayangan Tiang Listrik di Tembok Tetangga

Bayangan Tiang Listrik di Tembok Tetangga

Penulis: Algo YP

Sudah hampir dua tahun bapak tidak tinggal serumah dengan kami. Mungkin bagi kebanyakan anak akan merasa kehilangan sosok pemimpin. Tapi bagi kami yang tidak berkecimpung dalam romatisme indahnya catur warga, kepergian sosok bapak itu hal yang lumrah. 


Terlebih kepergianya itu bukan saja karena  memperjuangkan hajat tinja kami sekeluarga. Hal lain yang lebih mendesak kepergiannya itu justru terkait membangun lakon hidupnya sebagai seorang laki-laki bernama bapak yang bertanggung jawab bagi keluarga, dan yang mungkin hanya guna memenuhi kebutuhan batin diri sendiri saja.


Entah bagaiamana pula cerita biungku berjumpa bapak, hingga menikah. Sejak pertama kali nalarku sedikit mencerna apa itu keluraga, tak sekalipun aku mendengar bagaimana mereka dipertemukan, bagaimana mereka memadu kasih, sampai akhirnya terikat bahtera suami dan istri. Remang-remang dalam keseharin berkeluarga, membuatku hanya menangkap bahwa pernikahan itu hanya sejenis cara bapak mengikat biung dalam ikatan administratif negara, tapi bisa dibilang tidak dengan mengikat akal dan pikiran biungku dalam berlakon dan bertindak.

............


Senin pagi ini menjadi hari di mana aku duduk di kelas 2 sekolah menengah atas.  Bara api obat nyamuk masih tersisa di pojok kamarku pagi ini, asapnya lamban dan terurai dikoyak sinar matari. Setengah sadar, antara ngantuk dan ingin tidur lagi, kuboyong tubuh kurus kering ini duduk di atas kasur.


Tepat di meja samping kasurku, kulihat sisa rokok semalam masih melamun di antara sela-sela asbak. Ah rasanya ingin buru-buru kubakar, tapi mestilah kuminum segelas air dulu guna memenuhi syarat ritual bangun pagi. 


Rutinitas sekolah mungkin tidak jauh berbeda seperti biasa. Letak perbedaannya adalah kawan-kawan satu angkatan yang diacak. Aku ingat ketika pembagian rapot ekmarin, tawaran jurusan IPA berkali-kali ditawarkan oleh wali kelas. Biungku memaksaku masuk ke sana, sejujurnya aku lumayan tertarik. Tapi entahlah, aku tak punya disiplin diri dalam banyak hal. Aku lebih suka bergurau di kantin ketimbang duduk di dalam kelas mendiskusikan fisika atau kimia. 


Jika tak salah ingat, aku masuk dalam kelas IPA 1. Jika dirasa membosankan, kupastikan pindah langsung menuju jurusan Bahasa atau IPS. Mungkin ini untuk kali pertama aku memilih jalan selain di luar keinginan biung.


Di kursi ruang tengah yang bolong sarungnya, kulihat gitar terlungkup lelah. Semalam lupa kubersihkan. Ada rasa berlebihan jika tak kulakukan selepas memaikanya. Kuhiraukan sebab aku khawatir ini sudah siang. 

  

Tanpa sandal aku bergegas ke belakang rumah. Sambil berjalan, bebatuan brangkalan ini sedikit demi sedikit memaksa mataku tersadar penuh. Entah sudah berapa tahun rumahku tidak memiliki lantai. Biungku bilang tak jadi soal lantainya dari tanah brangkalan, yang penting tidak kepanasan dan kehujanan, dan tentunya saat banjir kita tidak begitu pusing membuang air karena banjir. Aku pun setuju pada pendapatnya.


Selain lantai brangkal, nyaris semua ruang di rumahku tak berdaun pintu. Mungkin karena hal ini kakaku memilih tinggal bersama pamanku di mandirancan sedari  SMP sampai dengan sekarang. Meski kadang aku meminta biungku agar kakaku tinggal bersama, tapi terkadang aku pun tak tega. Dia seorang wanita. Jelas suka yang rapih dan tertata, dan mungkin dia malu jikalau nanti ada kawannya yang mampir ke rumah. 

 

Sejujurnya aku tak paham mengapa kakaku tak pernah satu rumah dengan kami di sini. Tapi aku hanya yakin ada perihal lain selain kondisi rumah penuh brangkal dan daun pintu.


Walau demikian, seminggu sekali dia mampir ke rumah. Terakhir kuingat, dia meneruskan kuliah di luar kota. Aku cukup senang mendengarnya. 


Aroma asap rokok sudah  terasa sebelum aku memasuki dapur. Biung sedang duduk di dingklik menghadap kompor minyak tanah dengan rokok menempel di sela bibirnya. Tak pernah sekalipun kudengar biung mengeluh soal kondisi dapur rumah. Atap dapur jelas sudah doyong, kayu reng penyangga yang sudah lapuk, perkakas centong dan pisau jelas seadanya saja. Dan yang mengherankan, biungku justru lebih sering tertawa jika aku ledek kondisi dapur kesayanganya.


Aku duduk di kursi tak jauh dari tempat biung menggodog air panas.


"Minum yg banyak.." ujar biung sambil menenteng rokok di sela jemari dan sedikit berteriak.

Aku hanya mengiyakan ucapan biungku sembari kutenggak air putih.


Minum air putih banyak bagi kami bukan saja soal kesehatan, sebab hal ini mungkin guna mensiasati menu sarapan pagi. Jika minum banyak perut kembung, jika perut kembung maka tak usahlah aku bingung lapar. Paling tidak hingga bedug Dzuhur aku bisa menahan lapar, lalu tinggal bolak-balik buang air kecil saja yang kulakukan di sekolah.


Kursi yang kududuki ini entah sudah berapa lama berada di dapur. Posisi kursi ini seharunya berada di ruang tamu. Namun karena ruang tamuku disulap jadi tempat perkakas bengkel dan bangkai motor bekas, jadilah kursi ini mengalah berhenti berkordrat sebagai kursi ruang tamu. 


Matahari dari atap rumah yang tak berlangit-langit menyelinap daalm bulat dan tipis-tipis. Kulihat sawang laba-laba dibasuhnya jadi berwarna keemasan. 


Di kamar mandi kulihat kerak-kerak membentuk aneka rupa gambar. Seperti awan di langit, kerak tersebut memiliki banyak bentuk. Sekilas ada yang mirip wajah manusia, terkadang gajah, tekadang tokoh-tokoh dan apa pun nampak sesuai keinginanku. Aku jadi teringat ucapan biungku ketika menegur bapakku.


"Jika kalian berkelahi karena sepiring nasi itu lebih masuk akal, ketimbang kalian meributkan dan memaksakan pendapat kalian masing-masing. Halah, kalian seperti manusia-manusia konyol meributkan bentuk awan dalam otak kalian masing-masing. "


Selepas biungku berucap hal tersebut aku pun mash bingung, dan setelah kucerna pelan-pelan akhirnya aku sedikit paham. Bahwasanya apa pun keributan antar orang mungkin hanya sebatas mempertahankan cara pandang. Mungkin ini yang sering ibu Lastini guru bahasa Indonesiaku bilang soal,

"Hari ini manusia lebih suka meributkan sebutir narasi ketimbang sepiring nasi."


Rutinitas biung di pagi hari tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Duduk di kursi butut ruang tamu itu sambil menikmati menu favorit rokok dan teh panas.

"Lekas mandi, sebelum airnya habis dipakai adikmu mandi", tegur  biung padaku.

Setiap pagi, entah mengapa air keran di rumahku sering mati. Biung bilang pipa saluran air di kampungku kecil, jadilah berebut setiap rumah. Ah tak paham juga aku, bagaimana cara berebutnya dan nanti siapa yang berhasil mendapatkan air terlebih dahulu.


Selepas mandi dengan handuk yang robek, kusempatkan duduk di samping biung yang asyik minum teh. 


"Jam berapa sekarang ?" tanyaku pada biung.


"Tadi kudengar sudah dua kereta melintas selepas terang , mungkin itu Cirebon expres, yang mungkin sekarang pukul setengah 7 lewat", dengan enteng biungku menjawab sembari asap terhempas keluar.


"Memang jadwal stasiun mash sama? tanyaku pada biung.


"Yaa kalaupun berubah paling tidak terlalu berbeda. Tadi pun kutengok bayangan tiang listrik di tembok rumah tante Meti belum terlalu tinggi".


Entah sudah berapa lama rumahku tak punya jam dinding kala itu, kupikir sungguh keterlaluan aku dan biungku dalam hal ini.

0 Response to " Bayangan Tiang Listrik di Tembok Tetangga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel