Wanitaku

Wanitaku

Penulis: Endah Larasati

"Mas, benaran papimu merestui hubungan kita?"

"Benar, Sayang, bahkan beliau berencana besok lusa akan ke rumahmu, melamarmu secara resmi." Lelaki berkulit sawo matang menggenggam tanganku.

Aku—Asrina—menjalin kasih dengan Randito sejak lima tahun terakhir. Hubungan kami tidaklah semulus jalan tol. Banyak rintangan yang harus dilewati. Khususnya terkait restu orang tua. Lelaki yang merupakan orang tua Randito sangat melarang hubungan kami. Sang ibu tidak bisa berbuat banyak karena keputusan suaminya merupakan titah tak terbantahkan.

***

Sudah tiga kali pergantian purnama. Kini aku telah tinggal seatap dengan lelaki yang dulu sangat melarang percintaan anaknya.

"Sayang, besok aku harus ke luar kota, ada tugas mendadak dari kantor," ucap Randito usai menandaskan makan malam.

"Nginap?"

"Belum tahu," jawab Randito.

"Buat jaga-jaga, nanti aku siapkan pakaian dan keperluan selama di luar kota," pungkasku seraya menumpuk piring-piring kotor.

Wanita yang duduk di kursi roda, tak jauh dari tempat kami, tersenyum.

"Kenapa Mami senyum-senyum?" tanya Randito.

"Mami bahagia lihat kalian, rukun dan bahagia. Bersyukur punya menantu seperti Asrina."

"Mami berlebihan," ujarku malu.

Selanjutnya kami bertiga larut dalam obrolan. Namun, tidak demikian dengan Papi. Ia lebih memilih bungkam dan menikmati dunianya sendiri, larut dalam layar ponsel. Sejak pernikahanku dengan Randito, Papi sangat irit bicara denganku. Ekspresinya pun lebih banyak datar jika kami berdekatan.

Pukul 06.00 Randito telah siap berangkat ke luar kota. Kecupan di kening menjadi rutinitas sebelum ia meninggalkan rumah.

"Rin, kepala Mami pusing. Bisa minta tolong ambilkan obat?"

Gegas kupenuhi permintaan wanita paruh baya itu. Usai meminum obat, Mami minta diantar ke kamar. Usai membantu Mami berbaring, aku segera menuju dapur. Ya, kondisi kesehatan Mami memang tidak bagus. Beliau mengalami gagal ginjal, sehingga tidak kuat jika berdiri dalam waktu agak lama. Kursi roda merupakan sarana mempermudah aktivitasnya.

Hari ini wanita yang biasanya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah izin dari pekerjaannya. Itu artinya diri ini yang harus menangani semua pekerjaan domestik.

Saat sibuk mencuci piring, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang. Sontak aku terkejut dan menjatuhkan piring. Aku menoleh ke kanan. Nahas, hidungku menempel dengan pipi orang di belakang.

"Akhirnya ada kesempatan ini, kesempatan untuk bisa menikmati waktu berdua denganmu." Suara bariton itu tepat di telingaku.

"Papi! Apa yang Papi lakukan? Lepaskan saya!" pintaku.

"Kamu pengin mamimu mendengar dan menyaksikan kebahagiaan kita?"

"Apa maksud Papi? Lepaskan!" Kucoba melepaskan diri.

"Aku tahu betul, kamu tidak mendapatkan kepuasan dari suamimu. Randito mengalami gangguan seksualitas," bisik lelaki itu sambil mencoba mencium wajah dan telingaku.

Sekuat tenaga aku berontak. Namun, tenagaku tidak sebanding dengan lelaki mesum itu. Bukannya berhasil melepaskan diri, tubuhku kini berhasil ia putar. Kami berhadapan dengan jarak embusan napas yang terasa kuat.

Lelaki itu semakin agresif berusaha memenuhi keinginannya. Perlawanan tak henti kulakukan hingga sesuatu menghantam tengkuk ini. Pandangan mengabur dan akhirnya hilang kesadaran.

Entah berapa lama aku pingsan. Punggung terasa dingin, ternyata aku terbaring di lantai. Pelan mata mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadaran. Netra memindai sekitar, ternyata masih di dapur. Kesadaranku pulih sempurna ketika terdengar suara di sebelah.

"Ternyata kamu enggak jauh beda dengan perawan."

Mataku terbeliak, selanjutnya menyadari ternyata tidak ada sehelai pakaian yang menutup tubuh ini.

"Apa yang telah Papi lakukan?!" teriakku.

Di ambang pintu dapur, terlihat seorang wanita dengan kursi rodanya.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Mami lirih. Selanjutnya tak ada lagi suara darinya.

Lelaki berengsek itu bukannya merasa bersalah, ia justru mendekat lagi, mencoba meraih pinggang ini. Seketika aku menghindar, menyambar pisau di meja, tak jauh dari posisiku.

***

Kini aku terduduk di kursi sebuah taman. Sejak kejadian waktu itu, mulutku seolah-olah tergembok dan kehilangan kunci pembukanya. Randito selalu sabar dan setia menemaniku.

"Rin, sudah enam bulan kamu di sini. Aku selalu berdoa agar kamu kembali seperti dulu lagi. Bicaralah, Sayang."

Lelaki bercelana denim itu menggenggam tanganku.

"Berbagilah denganku, jangan kamu pendam semuanya sendiri. Aku tidak akan menyalahkanmu. Kematian Papi dan Mami enggak sepenuhnya kesalahanmu. Mami terkena serangan jantung. Rekaman cctv sudah menjelaskan semuanya. Kamu istriku, wanitaku." Mata Randito terlihat berkabut.

Ya, akulah yang menancapkan pisau di dada Papi hingga ia meregang nyawa. Diri ini bisa terelakkan dari jeruji besi karena kondisi kejiwaan yang tidak baik. Meski kejiwaan terganggu, tetapi aku tahu betul bahwa Randito suami yang sangat baik. Namun, aku tak tega jika ia harus bertanggung jawab atas calon manusia yang ada di dalam perut ini.

"Sayang, aku ingin mendung yang bergelayut di wajah cantikmu segera pergi," tutur Randito seraya mengusap pipiku.

"Apa pun yang terjadi kepadamu, aku adalah suami yang sangat mencintaimu. Aku akan selalu ada untukmu," pungkas lelaki berdada bidang itu dan merengkuh tubuhku.

 



Penulis novel Pati I’m in Love. Bisa dihubungi dan ditemui di FB: Endah Larasati dan IG:@endahlarasati04

0 Response to "Wanitaku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel