Restu

Restu

Penulis: Endah Larasati


Tak tulis layang kangen iki dinggo kowe

Soyo ngampet gede roso katresnanku

Snadyan adoh pangonmu ra bakal tak lale’ke

Tunggulahku dan jaga hatimu untukku


Donga’no aku karo restumu

Sabar ngenteni tekan baliku

Tak jogo roso kanggo awakmu

Semoga dirimu juga begitu


Roso sayang iki ra biso lali

Nganti mbesok tekaning mati

Janji tulus ra mung ono ing lathi

Mantep roso lan jiwo rogo iki


Tak titipke layang kangenku iki

Mugo biso nambahi ati

Panyuwunku siji kanggo awakmu

Njogo roso lan katresnanku


(lirik lagu Layang Donga Restu)


Aku termangu seorang diri. Hampa netra ini menerawang. Berbilang purnama yang lalu, dipan usang ini menjadi saksi, tempat kami menghabiskan ratusan putaran jarum jam.

Manusia berencana, Sang Pemilik Semesta memutuskan. Lapisan bening kembali datang menghangatkan pandangan. Pita memori terajut kembali untuk ke sekian kali.

Tiga tahun lalu, aku yang meminta izin Mas Banu, suamiku, agar diizinkan bekerja di negeri seberang. Awalnya lelaki berkulit gelap itu tidak sepakat.

"Jadi TKW? Apa tidak ada jalan lain?" tanya Mas Banu seraya mencondongkan tubuh ke arahku.

Aku mengangguk tanpa berani menatap Mas Banu.

"Kenapa tidak bekerja di sini saja? Kalau enggak, ya di Ibu Kota, tapi enggak harus ke luar negeri."

Aku beranikan untuk menggenggam tangan imamku. " Mas, utang keluarga kita banyak. Aku harus melunasi utang yang ditinggalkan almarhum Bapak. Jumlahnya enggak sedikit, lima puluh juta lebih, Mas. Bapakmu--mertuaku--juga perlu biaya enggak sedikit untuk pengobatan dan perawatannya."

Lelaki di depanku menarik napas panjang. "Sertifikat rumah ini juga sudah kugadaikan untuk biaya Bapak sewaktu di rumah sakit minggu lalu. Maafkan aku, Dek. Sebagai suami, aku belum bisa membahagiakanmu, justru menambah bebanmu."

"Mas ...."

"Biar aku saja yang berangkat jadi TKI," tutur Mas Banu memotong ucapanku.

"Mas, Bapak itu lumpuh, enggak bisa ngapa-ngapain. Makan, minum, bahkan buang air dilakukan di tempat tidur. Bapak akan sungkan kalau aku yang merawatnya, terlebih urusan membersihkan badan. Selain itu ...."

Aku tidak kuasa menyelesaikan kalimat.

"SD saja aku enggak lulus, enggak punya ijazah," ucap Mas Banu.

Kami diam beberapa saat. Kucoba meremas pelan jemari lelaki pujaan.

"Dua tahun, Mas. Enggak lebih."

***

Tidak sampai sepuluh purnama, aku sudah berada di negeri tirai bambu sebagai asisten rumah tangga. Beruntung diri ini mendapatkan majikan baik hati. Suami istri dengan dua anak.  Mereka mempunyai usaha kedai makan. Mereka juga memberi kesempatan kepadaku untuk mendapatkan uang tambahan. Waktu kerja sebagai asisten rumah tangga berlaku Senin hingga Sabtu. Minggu libur. Jika aku bersedia bekerja di kedai makan pada hari Minggu, maka isi tabungan bisa bertambah.

Hari-hari berlalu sangat cepat karena padatnya rutinitas. Meski demikian, selalu aku sempatkan menghubungi Mas Banu di kampung halaman. Memang tidak bisa setiap hari menelepon, tetapi setidaknya aku selalu menyempatkan mengirimkan pesan. Ya, Mas Banu sengaja kularang menelepon terlebih dahulu. Pertimbangannya adalah takut jika mengganggu pekerjaanku. Selain itu, biaya telepon cukup mahal. Mas Banu hanya memiliki ponsel tua yang bisa dioperasikan menggunakan pulsa. Biarlah diri ini yang menelepon sesekali waktu meski merogoh isi dompet.

Tak terasa masa kontrak kerjaku akan berakhir satu bulan lagi. Pihak agensi menawarkan perpanjangan kontrak kerja. Namun, aku menolaknya. Tabunganku sudah cukup banyak. Mungkin memang belum bisa melunasi semua utang, tetapi setidaknya jumlahnya sudah jauh menipis.

[Mas, satu bulan lagi aku pulang.]

Kukirimkan pesan untuk Mas Banu.

Lima menit, sepuluh menit, hingga enam puluh menit tidak ada balasan. Kucoba melakukan panggilan telepon. Satu kali, tiga kali, hingga tujuh kali kucoba menelepon.

Satu jam kemudian, kucoba menghubungi lagi.

"Mas, lagi sibuk?" tanyaku.

Lelaki di seberang telepon terbatuk-batuk.

"Mas sakit?" tanyaku lagi.

"Maaf, tadi Mas ngurus administrasi. Bapak harus dirawat di rumah sakit."

"Bapak kenapa?" 

"Demam. Aku senang kamu akan pulang, sudah kangen banget."

Kami tertawa bersama seolah-olah anak remaja sedang kasmaran dan menahan rindu.

Kembali terdengar Mas Banu batuk.

"Mas baik-baik saja?"

"Enggak usah khawatir, Mas cuma batuk. Ditutup dulu teleponnya, nanti pulsamu habis," pungkas Mas Banu.

Keesokan harinya hingga beberapa hari selanjutnya, komunikasi kami berkurang. Aktivitasku semakin banyak menjelang akhir kontrak kerja. Selain itu, Mas Banu juga sangat lambat merespons ketika kukirim pesan.

Tiga hari sebelum meninggalkan kediaman majikan, kucoba menelepon Mas Banu. Nihil. Puluhan pesan dan telepon tidak direspons. Cemas, itulah yang kurasakan. Sampai hari kepulanganku menuju tanah air, tak ada tanggapan dari lelaki itu.

Setibanya di Nusantara, serangkaian prosedur harus kujalani terkait masa pandemi. Aku harus segera pulang dan isolasi mandiri di rumah.

Gegas langkahku terayun ketika bus kota berhenti tak jauh dari gapura kampung.

Sesampainya di depan rumah dengan tembok yang warnanya sudah tidak jelas, kakiku terpatri. Berulang kali terucap salam. Berulang kali mengetuk pintu.

"Mbak Harti!" panggil seseorang dari sisi kanan.

"Bu Sum!"jawabku ke sumber suara.

Kami duduk berdampingan di kursi teras. Wanita berbadan subur itu menceritakan semuanya. Lelehan bulir bening tak mampu kubendung.

Sejak saat itu hingga kini, bahkan mungkin untuk seterusnya, aku menjalani hidup dalam kesendirian. Bapak mertua meninggal karena terkena virus yang mewabah. Dua hari berikutnya disusul Mas Banu.

Hubungan jarak jauh yang diawali keputusan mengais rezeki, kini menjadi hubungan jarak jauh seterusnya. Untaian doa dan restu Mas Banu, kini menjadi kenangan.




Penulis novel Pati I’m in Love. Bisa dihubungi dan ditemui di FB: Endah Larasati dan IG:@endahlarasati04

0 Response to " Restu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel