Proyek Panjang Pengarusutamaan Gender di PMII

Proyek Panjang Pengarusutamaan Gender di PMII

Penulis: Suhairi Ahmad

Membincangkan pengarusutamaan gender di lingkungan PMII Jogja, terutama di lingkungan komisariat UIN Sunan Kalijaga, seperti tidak punya arah yang cukup jelas. Keberadaan badan otonom organisasi yang mengurus wacana perempuan seperti berjalan di tempat, dan tidak ada gebrakan yang berarti. Ketiadaan gebrakan baru tersebut dapat dilihat dari materi-materi gender yang masih berupa abstraksi teoretis, yang hanya menjadi pengisi wacana diskusi.

Wacana gender masih berkutat dengan apa itu perbedaan perempuan dan laki-laki atau bagaimana tafsir gender dalam Islam. Hampir semua tingkat organisasi hanya membicarakan hal tersebut. Wacana-wacana yang sudah ada tersebut, mestinya berkembang ke arah pengertian pengarusutamaan gender pada kehidupan sehari-hari yang lebih praktis. Sebab, persoalan diskriminasi terhadap salah satu gender terjadi pada konteks kehidupan sehari-hari.

Pada 2018, kasus kekerasan seksual yang menimpa Agni, salah satu mahasiswa UGM mencuat ke permukaan. Kasus tersebut kemudian menjadi inspirasi gerakan #KitaAgni, dan menjadi salah satu titik tolak liputan kolaboratif beberapa media yang mengangkat kasus kekerasan seksual di kampus dengan lema #NamaBaikKampus.

Pada 2020, Kopri PC PMII Sampang menggelar aksi di depan kantor Polres Sampang, karena pengusutan kasus kekerasan seksual yang menimpa salah satu kader perempuan PMII dinilai lamban. Kasus serupa juga terjadi pada tahun yang sama, kekerasan seksual menimpa kader PMII di angkutan umum terjadi di Semarang.

Jika hal demikian menimpa kader atau dilakukan oleh kader PMII, ke manakah korban mesti melapor agar kasus tersebut memproses pelaku? Oleh karena itu, kasus-kasus yang telah terjadi mestinya menjadi perhatian untuk membuat mekanisme praktis pelaporan, yang tentu saja berpihak kepada korban. Sebab, kasus serupa bisa saja mungkin terjadi di mana saja, dan dilakukan oleh siapa saja. Penting kiranya hal ini menjadi perhatian bagi PMII sebagai organisasi yang memiliki basis utama di kampus.

Pendidikan gender merupakan salah satu upaya konkret organisasi untuk mencegah kasus kekerasan seksual—selain juga sebagai pemahaman gender yang lebih luas. Pendidikan gender di organisasi mesti diberi tempat dan digelar seluas-luasnya. Sebab, persoalan gender yang sering dialami oleh perempuan bukan saja persoalan perempuan, melainkan struktur sosial yang patriarkal yang membuat laki-laki memiliki previllage lebih dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, pendidikan gender mesti dijalankan secara menyeluruh dengan melibatkan laki-laki di dalamnya agar terdidik perspektif gender yang baik.

Selain itu, pendidikan gender sudah saatnya menyentuh persoalan-persoalan konkret sehari-hari. Sebab, jika tidak demikian, materi-materi gender yang sudah ada hanya menjadi konsumsi diskusi pikiran semata. Sementara, kasus-kasus kekerasan seksual, pelecehan, dan seksisme adalah persoalan yang jamak ditemukan.

Pendidikan gender seharusnya menjadi “bahan bakar” untuk tumbuh-kembangnya pikiran kritis yang tidak bias, tidak seksis, dan antikekerasan. Sebab, tanpa perspektif gender yang baik, wacana kritis yang dibangun hanya bualan semata. Ia hanya menjadi iming-iming tanpa mencoba adil sejak proses berpikir. Karena itu, perspektif tersebut mesti dibangun dengan bacaan yang tersusun secara sistematis dengan melihat persoalan konkret dan tentu saja dengan pola pendidikan gender yang baik.

Tidak hanya itu, wacana-wacana gender-feminisme tersebut mesti bersifat praktis untuk menghadapi persoalan-persoalan gender. Terutama persoalan yang menimpa perempuan yang bernaung di PMII seperti kasus kekerasan seksual, catcalling, seksisme, dan semacamnya.

Saya kira, koreksi jika saya salah, selain kondisi literasi di PMII (setidaknya di tingkat Komisariat UIN Jogja) yang jarang sekali memiliki terbitan buku atau publikasi, pengarusutamaan gender tidak pernah hadir kembali. Buku semacam itu pernah terbit pada 1998 oleh PMII Komisariat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artinya, selama 23 tahun wacana pengarusutamaan gender tidak pernah hadir kembali di lingkungan PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta—dan barangkali juga di lingkungan PMII cabang Yogyakarta.

Buku yang berjudul Menggagas Jurnalisme Sentitif Gender tersebut merupakan pikiran awal yang mesti diperluas dan bahkan diperkaya.

PMII yang berlandaskan Aswaja dan NDP sebagai metode berpikir dan bergerak—mau tidak mau—harus berdialog dengan feminisme dan bersikap secara intelektual terhadap Feminisme Islam yang kini sudah ramai diperbincangkan sebagai pisau analisis untuk membongkar ketidakadilan gender yang selama ini terjadi. Tak berlebihan kiranya, jika organisasi mahasiswa Islam seperti PMII harus mengontekstualisasikan pemikiran tersebut dalam konteks organisasinya sendiri.

Selain itu, harapan yang pasti diinginkan semua pihak, dengan pengarusutamaan gender tersebut, PMII dapat menjadi ruang aman bagi semua orang, khususnya bagi semua perempuan yang berproses di organisasi tersebut. Hal ini kemudian memudahkan bagaimana jika suatu saat ditemukan penyelewengan yang dilakukan oleh oknum di dalam organisasi atau orang luar, otoritas organisasi dapat menindak pelaku dengan sanksi yang jelas, baik secara hukum organisasi maupun secara sosial.

Maraknya kasus kekerasan seksual di kampus membuat semua lembaga, termasuk PMII, mengharuskan untuk merumuskan apa yang mesti dilakukan oleh organisasi saat menghadapi kasus semacam itu. Tidak lagi menunggu, tetapi ikut berperan aktif untuk merumuskan hal-hal yang dapat melindungi semua orang yang berproses di dalamnya. Organisasi tidak boleh menjadi tameng para predator seksual yang memanfaatkan relasi kuasa di dalamnya.

Oleh karena itu, pendidikan gender dan feminisme bukan semata kajian untuk para perempuan, tetapi juga harus dipelajari oleh laki-laki yang bersepakat dengan nilai-nilai yang berkeadilan. Juga menjadi bagian antisipasi organisasi untuk menciptakan lingkungan organisasi yang nyaman sekaligus aman. Bukankah pribahasa lapuk pernah bilang “sedia payung sebelum hujan”?

Dan sepertinya, hal semacam itu butuh perjuangan panjang. Baik kader yang berkomitmen merumuskan dan juga yang memperjuangkannya sebagai keputusan politik organisasi.

Itu.

 

 

 

*Pernah berproses di PMII Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga cabang Yogyakarta.

0 Response to "Proyek Panjang Pengarusutamaan Gender di PMII"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel