Negara yang Subur Sumber Daya Pangan, Subur juga Sampah Makanannya

Negara yang Subur Sumber Daya Pangan, Subur juga Sampah Makanannya

Semasa anak-anak, hal pertama yang paling sering membuat ibu saya marah adalah ketika saya tidak menghabiskan makanan. Sebagai seorang yang di masa gemar-gemarnya memelihara anak ayam berwarna-warni, ancaman ‘nanti ayamnya mati loh’, ketika saya sudah tidak sanggup atau lebih tepatnya enggan menghabiskan makanan dipiring, menjadi cukup efektif dibanding ancaman ‘nanti nasinya nangis loh’.

Yah, itu lebih tidak masuk akan menurut saya pada waktu itu. Biar saja nasi menangis, toh saya tidak dengar. Tetapi saya lebih takut ayam saya mati, jadi saya menghabiskan makanan saya. 

Namun, ketika beranjak dewasa, omelan-omelan semacam itu semakin hari semakin lirih. Bahkan sedikit sekali terdengar. Sedikit sekali yang akan peduli apakah saya menghabiskan makanan atau tidak. Memang ada beberapa kemungkinan, yang pertama, karena dahulu, anak-anak dianggap cenderung lebih pilih-pilih makanan dibandingkan dengan orang dewasa. Kedua, untuk membentuk anak terhadap pilihan makanan mereka sendiri ketika dewasa nantinya.

Ketiga, dengan menghabiskan makanan yang disajikan, maka penyerapan gizi dapat lebih maksimal. Dan kemungkinan yang terakhir, anak-anak tidak bisa memilih makanannya sendiri. Dalam artian, makanan yang disajikan di depan mereka adalah makanan yang dipilihkan atau makanan yang dianggap bergizi oleh orang dewasa.  

Yang disayangkan kemudian adalah, timbulnya pertanyaan tentang kenapa pesan untuk tidak menyisakan makanan masih cenderung tidak familiar ketika kita sudah beranjak dewasa? 

Selama ini, pesan-pesan semacam itu hanya familiar di lingkup keluarga dan belum merambah pada ranah publik. Sehingga ketika kita beranjak dewasa, pesan tersebut cenderung dianggap sepele dan diabaikan. Padahal jika dibandingkan, lebih banyak mana sampah makanan yang dihasilkan oleh balita atau anak-anak yang makanannya pun terbatas dan cenderung dipilihkan, dengan sampah makanan yang dihasilkan oleh orang dewasa yang porsi makannya justru lebih besar dan beragam?

Di negara yang kaya seperti Indonesia, sumber makanan dapat dikatakan begitu melimpah. Baik yang berasal dari laut maupun daratannya. Dalam lagu Koes Plus, Indonesia begitu digambarkan dengan kesuburan tanahnya. Kita dapat hidup dari kail dan jala. Ikan dan udang dengan mudah justru menghampiri kita. Bahkan semudah menancapkan kayu ke tanah, tanaman bisa tumbuh dari sana. 

Sayangnya, segala kemudahan itu justru seakan menjadi kutukan bagi negara yang kaya sumber pangannya. Indonesia justru menjadi penghasil sampah makanan nomor dua terbesar di dunia. Dari data Food And Agricultural Organization (FAO) menyatakan bahwa, sampah makanan di Indonesia bisa menjadi 13 juta ton sampah makanan yang berasal dari seluruh mata rantai pasokan makanan. Artinya, setiap orang bisa menghasilkan sampah makanan mencapai 300 kg pertahun. 

Sampah makanan, menurut Badan Pangan dan Pertanian PBB atau FAO, adalah makanan yang hilang, yang ditunjukkan oleh adanya penurunan berat atau penurunan kualitas makanan, yang terjadi pada setiap rantai makanan. Aspek konsumsi mencakup segala elemen, termasuk proses agrikultur, distribusi, masak-memasak hingga makanan itu disia-siakan konsumen. Seperti perilaku konsumtif dan pengelolaan yang buruk terhadap makanan. 

Sebuah ironi dibalik sederet kasus kelaparan, gizi buruk hingga busung lapar yang juga menghantui setiap anak di Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap makanan layak konsumsi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 13,8 persen balita di Indonesia mengalami kurang gizi dan 3,9 persen lainnya menderita gizi buruk. Fakta lain menyebutkan, 34,74 persen rumah tangga di Indonesia masih memanfaatkan bantuan beras miskin (Raskin) dari pemerintah. 

Permasalahan ini tentu juga dipengaruhi oleh banyak hal. Termasuk pada keterbatasan finansial dan struktural dalam teknik panen, penanganan dan penyimpanan pasca panen. Rantai pangan di fase hulu justru menjadi salah satu penyebab banyaknya sampah makanan. Padahal, sampah makanan yang terbuang sama dengan hilangnya sumber daya. 

Sampah makanan menjadi sebuah masalah global yang signifikan, salah satunya bagi lingkungan. Untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, digunakan 25% dari seluruh air bersih yang tersedia, atau setara telah menghabiskan 600 kubik kilometer air. Dampaknya, 1,1 juta orang di dunia tidak memiliki akses air minum.

Dampak lainnya, sampah makanan ketika bercampur dengan sampah non-organik, dapat menghasilkan limpasan cairan beracun yang mengancam sistem perairan dan kesehatan air tanah. Sekaligus akan menimbulkan gas metana yang berdampak terhadap timbulnya efek rumah kaca. Sektor rumah tangga memberikan kontribusi terhadap produksi emisi 78 ton CO2/tahun atau 45% jumlahnya terhadap emisi dari sampah makanan. 

Anggapan terhadap sumber daya pangan yang melimpah, seringkali membuat kita justru abai dan kurang bisa menghargai makanan yang tersedia, sekecil apapun makanan tersebut. Bukan hanya soal mubazir, dengan tidak membuang makanan, kita telah berkontribusi terhadap banyak hal. Mulai dari menunda pemanasan global, hingga meminimalisir bencana alam yang disebabakan oleh ulah kita  sendiri sebagai manusia. 

Maka, pesan untuk menghabiskan makanan pada dasarnya bukan hanya untuk anak-anak, namun berlaku juga untuk siapapun di usia berapapun, yang merasa dirinya adalah manusia secara sadar.




Orang yang terobsesi dengan kata ‘Jauh’

0 Response to " Negara yang Subur Sumber Daya Pangan, Subur juga Sampah Makanannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel