Memaknai Keterhubungan di antara Isu Lingkungan

Memaknai Keterhubungan di antara Isu Lingkungan



“Only one earth

Istilah tersebut, pertama kali saya temukan ketika menyimak video rekaman kuliah etika lingkungan hidup, yang dipantik oleh seorang akademisi Universitas Indonesia. Dosen yang juga merupakan seorang filsuf tersebut mengatakan “hanya ada satu bumi”. Dan hal tersebut sudah sangat cukup untuk membuat seluruh manusia di Bumi terhubungan, agar lebih memerhatikan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada bumi kita.

Dari berbagai macam permasalahan di berbagai negara—politik, ekonomi, sosial—yang berbeda-beda tentunya, hanya satu isu yang dapat menghubungkan kesemua negara, yakni isu lingkungan. Hal ini sangat jelas kemudian, karena kita sebagai manusia hanya memiliki satu bumi yang dapat ditinggali.

Belakangan saya mencoba mengira-ngira, istilah yang dilontarkan berulang kali dalam kuliah tersebut sepertinya memang menyadur dari sebuah buku yang berjudul Only One Earth karya Barbara Ward dan Rene Dubos pada tahun 1972. Buku yang berisi tentang himbauan untuk menjaga kelestarian planet Bumi.

Bukan Hal Baru

Peduli lingkungan memang sudah bukan menjadi hal yang baru lagi di masyarakat. Sejak 5000 tahun lalu, ajaran Veda memuji hutan liar dalam nyanyian mereka, para pengikut Tao mendesak agar kehidupan manusia mencerminkan pola alam, dan Budha mengajarkan kasih untuk semua makhluk hidup.

Pada pertengahan abad ke-19, lahir banyak peneliti serta penulis yang mulai mendedikasikan dirinya demi kepentingan konservasi lingkungan. Salah satunya adalah Henry David Thoreau. Dia menulis makalah ekologis seminalisnya berjudul Walden, yang sejak saat itu karyanya menginspirasi banyak generasi pencinta lingkungan.

Berbagai jargon dan slogan publik hingga undang-undang, sudah mengatur tentang konsep lingkungan hidup. Aturan adat, aturan pemerintah, bahkan telah masuk pula ke dalam ranah pendidikan sebagai bahan ajar. Diberlakukan sebagaimana mestinya.

Dengan salah satu jargonnya, “menjaga lingkungan demi anak-cucu kita”. Eh, tapi alamnya justru terus dieksploitasi dan kita tidak menyisakan apa-apa untuk mereka. Hingga pada akhirnya, kalimat tersebut hanya sebagai penghias dan menjadi slogan kosong belaka. Perhatian masyarakat tentang kelestarian lingkungan hidup seakan di antara batas ada dan tiada.

Pernah saya berbincang dengan seorang kawan. Dalam dunia kepenulisan, kita—saya dan teman saya itu, memiliki dua ketertarikan isu yang berbeda. Saya bertanya, kenapa dia tidak tertarik untuk menulis isu-isu seputar lingkungan? Lalu jawabannya adalah, karena ada isu lain yang lebih menarik perhatiannya daripada isu lingkungan itu sendiri. Sebelum saya sela, dia kembali melanjutkan, “tidak menulis isu lingkungan sebagai muatan tulisannya bukan berarti saya tidak peduli, tetapi karena ada ranah lain yang lebih bisa saya kuasai daripada itu.”

Bisa dibilang, isu lingkungan sama urgennya dengan isu lain. Sama urgennya dengan ekonomi global, inflamasi, saham, politik, hingga kemanusiaan. Sama urgennya dengan gas dan air galon yang harus segera diganti ketika habis dalam kondisi perut lapar, sedangkan bahan masakan masih mentah.

Bumi sebagai Rumah

Sekali lagi, hanya ada satu bumi. Hal ini menyebabkan jika satu wilayah yang mengalami kerusakan, wilayah lain dapat terkena dampak kerusakan itu. Karena fenomena lingkungan memiliki berdampak dalam skala global, kerusakan maupun pelestariannya.

Salah satu contohnya kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan pada 2015 silam, yang justru menimbulkan asap menguar sampai ke negara tetangga. Melelehnya gletser di kutub yang menyebabkan naiknya garis pantai. Bahkan sampah, yang kita buang sekadarnya di sungai lalu mengalir ke laut benar-benar telah menjadi masalah besar. 

Angin dan arus dapat membawa sampah-sampah itu mengarungi lautan. Bahkan terdapat satu titik arus di samudra pasifik yang terbentuk dari semua sampah-sampah itu menjadi sebuah pulau. Pusaran ini dinamakan the great pacific garbage patch. Hamparan sampah di lautan yang luasnya hampir seluas Indonesia.

Lalu, bagaimana mungkin kita menjadikan Bumi yang notabene sebagai tempat tinggal makhluk hidup, yang justru menjadi tempat sampah sekaligus tempat seluruh kerusakan lingkungan ini dibiarkan terjadi secara masif?

Sebagai seorang filsuf yang mencetus konsep Deep Ecology dalam teori ekosentrisme, Naess lebih menyukai penyebutan ecosophy sebagai istilah dalam studinya tentang tempat manusia dalam alam. Ecosophy yang berarti kearifan mengatur hidup selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga dalam arti luas. Dalam hal ini, lingkungan hidup tidak hanya sekedar sebuah ilmu (science) menjadi sebuah kearifan (wisdom).

Kearifan ini kemudian menjelma sebagai pola hidup yang selaras dengan alam. Kearifan bahwa segala sesuatu di alam semesta memiliki nilai pada dirinya sendiri. Sehingga kita perlu untuk turut serta menjaga keselarasan itu. Sebagai sebuah rumah, bumi bukan hanya diperuntukkan kepada manusia tetapi juga seluruh makhluk di dalamnya.

Menjaga lingkungan dilakukan sebagaimana kita menjaga dan merawat rumah tangga. Kita menjaga alam karena kita tinggal bersamanya. Hal ini juga melatarbelakangi keterhubungan manusia dalam menghadapi permasalahan lingkungan yang terus menggerus tempat tinggalnya sendiri.

 

 

 

Orang yang terobsesi dengan kata 'jauh'

0 Response to "Memaknai Keterhubungan di antara Isu Lingkungan"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel