Ketika Bung Besar Diprotes Umat Islam

Ketika Bung Besar Diprotes Umat Islam

Diskursus mengenai bentuk dan ideologi negara, di era seperti sekarang relatif tidak banyak terjadi lagi. Kalaupun ada, diskursus tersebut biasanya hanya terbatas pada kelompok tertentu, seperti dalam organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun komunitas akademik. Jumlah kelompok ini pun terhitung minoritas dalam kehidupan sosial di Indonesia.

Kondisi demikian berbanding terbalik dengan apa yang terjadi puluhan tahun lalu, tepatnya saat awal-awal Indonesia merdeka. Ketika itu, perdebatan atau perbincangan mengenai bentuk dan dasar negara terjadi di hampir seluruh elemen masyarakat, seperti para elite politik, tokoh agama, dan masyarakat biasa.

Perdebatan atau perbincangan ini terkait pada apakah bentuk negara Indonesia yang baru lahir tersebut berupa negara nasional atau negara islam. Hal itu terjadi tidak hanya dalam forum kenegaraan macam Majelis Konstituante, tapi berlangsung pula dalam perang opini di media massa.

Perdebatan mengenai bentuk negara itulah yang menjadi latar konteks kajian Muhammad Iqbal dalam buku terbarunya berjudul Menyulut Api di Padang Ilalang (2021), terbitan Tanda Baca. Buku ini awalnya merupakan skripsi Iqbal ketika kuliah di Ilmu Sejarah UNY. Iqbal mengkaji momen sejarah yang terjadi di Amuntai, salah satu kota di Kalimantan Selatan pada tahun 1953.

Saat itu, tepatnya tanggal 27 Januari 1953, Presiden Sukarno (Bung Karno) berpidato di hadapan rakyat Amuntai. Dalam pidato tersebut, Sukarno menjelaskan posisinya yang menginginkan Indonesia menjadi negara nasional bukan negara Islam. Pernyataan Sukarno inilah yang lalu menimbulkan perdebatan di berbagai tempat. Banyak pihak yang merasa tidak terima dengan pernyataan Sukarno tersebut. Pidato politik Bung Karno itu dalam sejarah dicatat sebagai pidato Amuntai.

Awal mula mengapa Sukarno bisa berpidato di Amuntai dan bicara mengenai bentuk dan dasar negara, adalah dalam rangka kunjungan kerja “bung besar” ke Kalimantan. Sudah menjadi kelaziman apabila Sukarno sedang kunjungan, ia akan berpidato di hadapan orang banyak. Dalam pidato yang ujungnya membuat geger itu, Sukarno menjawab pertanyaan yang terdapat dalam sebuah spanduk yang berbunyi, ”Minta Pendjelasan Negara Nasional atau Negara Islam?.” Spanduk ini dibuat oleh Yusni Antemas yang merupakan wartawan harian lokal Indonesia Merdeka (hlm.92).

Maksud Yusni menanyakan hal ini karena di Amuntai saat itu, banyak berdiri partai-partai berbasis agama (Islam) maupun nasional, seperti Masjumi, PNI, dan lain-lain, yang sering mewacanakan soal bentuk negara (hlm.94). Oleh sebab itu, mumpung Sukarno sedang di Amuntai, pikir Yusni, sekalian saja ditanyakan langsung pendapat Bung Karno mengenai hal tersebut.

Badai Protes setelah Pidato Amuntai

Jawaban Sukarno atas pertanyaan Yusni menjadi perbincangan serius selama berbulan-bulan. Banyak pihak yang tidak terima dengan isi pidato politik tersebut. Mereka yang tidak terima umumnya berasal dari kalangan kelompok Islam, baik dalam rupa partai politik maupun ormas. Hal ini tentu wajar mengingat substansi pidato Sukarno yang memang seperti menyenggol kepentingan kelompok Islam.

Orang pertama yang merespons secara serius pidato Sukarno adalah M. Isa Anshary, selaku anggota parlemen dan ketua Masyumi Jawa Barat. Kata Isa, “Pidato Presiden Sukarno itu jiwa dan semangatnya adalah tidak demokratis dan tidak konstitusionil.” Dalam nota protes yang ia buat dan dikirimkan ke pemerintah saat itu, Isa menyebut bahwa isi pidato tersebut tidak bijaksana karena berisi penentangan terhadap ideologi yang dianut oleh sebagian besar warga Indonesia (hlm.108).

Protes serupa juga datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dan Pengurus Besar Persatuan Islam.

Dalam surat resmi yang ditanda tangani langsung oleh KH. A. Wachid Hasjim, PBNU meminta,  “Presiden Sukarno tidak mencampurkan diri pada pergeseran-pergeseran politik dan persoalan partai-partai serta pertentangan ideologi, terutama antara kaum Islam dan pihak anti Islam.” PBNU berharap Sukarno sebagai kepala negara agar tetap berdiri ditengah-tengah dan tidak berat sebelah (hlm.108-109). Dewan tertinggi Partai Islam Perti bahkan bersikap lebih keras dengan menilai pidato Sukarno bertendensi mengadu domba dan menggelisahkan umat islam.

Badai protes yang muncul setelah pidato Sukarno di Amuntai, menunjukan bagaimana sensitifnya isu soal bentuk dan dasar negara saat itu. Sukarno yang awalnya tidak pernah menduga bahwa pidatonya akan menimbulkan protes sedemikian besar, sampai harus mengklarifikasi maksud pernyataannya tersebut.

Ketika sedang kunjungan di Aceh pada 12 Maret 1953, Sukarno secara panjang lebar menjelaskan maksud pernyataannya di Amuntai dulu. Menurutnya, “negara nasional adalah milik seluruh bangsa, tidak membedakan agama, ideologi, dan keyakinan politik. Negara nasional Indonesia adalah milik seluruh umat Islam di sini, tetapi juga milik seluruh umat Kristen dan umat-umat lainnya yang sama-sama menjadi warga negaranya itu,” (hlm.121).

Pemaparan Sukarno ini, menurut Sayuti Melik membuat puas masyarakat Aceh yang mendengarnya. Namun menurut Iqbal, pada kenyataannya polemik lanjutan mengenai pidato Amuntai masih terus berlanjut pasca Sukarno memberi klarifikasi. Apalagi setelah di beberapa daerah meletus pemberontakan yang berafiliasi dengan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo, hal itu membuat diskursus tentang bentuk negara semakin menghangat.

Perdebatan tentang bentuk negara baru selesai setelah Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang berisinya pemberlakuan kembali UUD 1945 dan pembubaran Majelis Konstituante. Setelah dekrit ini muncul, isu soal bentuk dan dasar negara praktis mulai meredup.

Tentang Menyulut Api di Padang Ilalang

Buku Menyulut Api di Padang Ilalang (2021), secara umum berusaha memotret dinamika yang terjadi setelah pidato politik Bung Karno di Amuntai, dalam kaitan diskursus tentang dasar dan bentuk negara. Buku ini berhasil menyodorkan hubungan yang terjalin antara peristiwa yang terjadi dalam lingkup lokal di Amuntai, dengan situasi politik nasional.

Hal demikian adalah sesuatu yang unik. Karena biasanya karya ilmiah yang bicara mengenai isu bentuk dan dasar negara di awal Indonesia merdeka, hanya menjelaskan dinamika yang muncul dalam berbagai forum kenegaraan macam Majelis Konstituante atau forum di media massa yang ada di Jawa, seperti terdapat dalam buku karya Buya Syafii Maarif berjudul, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante (1985).

Buku tersebut menelusuri dinamika perdebatan intelektual yang terjadi di forum Majelis Konstituante berkaitan dengan bentuk dan dasar negara. Buya Syafii tidak mengkaji pergolakan pemikiran yang muncul di daerah-daerah lain yang secara geografis jauh dari pusat pemerintahan di Jawa.

Dalam konteks demikian, buku Menyulut Api di Padang Ilalang (2021), memiliki posisi penting karena mengkaji momen peristiwa sejarah lokal yang terkoneksi dengan dinamika yang terjadi dalam konstelasi politik nasional. Buku ini sukses menggambarkan bagaimana rumitnya diskursus soal ideologi dan bentuk negara di masa awal-awal kemerdekaan. Sesuatu yang sekarang sulit terjadi, karena perdebatan tentang bentuk dan dasar negara oleh para elite negara dianggap telah selesai.

Meski begitu, buku ini tetap penting dibaca karena secara jitu menghadirkan babakan sejarah yang kini mungkin sudah tidak banyak diperbincangkan lagi. Di tengah percakapan politik saat ini yang semakin jauh dari nilai-nilai luhur, membaca buku ini bisa menjadi gambaran lain bahwa dalam sejarahnya, percakapan politik bangsa ini pernah membicarakan sesuatu yang sangat substansial yang menguras tenaga dan pikiran di masanya.

Identitas Buku

Judul: Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai 27 Januari 1953

Penulis: Muhammad Iqbal

Penerbit: Tanda Baca

Tahun Terbit: 2021

Jumlah Halaman: xviii+175 hlm






Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta

0 Response to "Ketika Bung Besar Diprotes Umat Islam"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel