Joni

Joni

Penulis: Algo YP

Malam ini sedikt berbeda, rasa Johnnie Walker pun tidak senikmat malam-malam sebelumnya. Roy mendekat menawariku ASIS, kutolak karena aku sudah janji pada diriku akan pulang cepat. Malam ini Puspa merayakan ulang tahunnya yang ke 27, dia bilang tahun ini tak ingin ada pesta dan ia dia ingin sendiri dirumah.

Tak seperti biasanya, alunan disko membuatku sama rasa dan aku mendadak ingin pulang cepat. Kuberi aba-aba pada Roy untuk mendekat, ia berjalan menghampiriku. Kuperhatikan matanya sayu, meski ketika berjalan dia tidak terlalu sempoyongan.

"Keamanan malam ini kau yang kondisikan, jika terjadi huru-hara yang tak dapat kau kondisikan, kau bisa telfon ke rumah." 

Roy hanya mengangguk, kutegaskan padanya untuk tidak terlalu banyak menenggak minuman apalagi makan pil anjing. Roy mengiyakan , kubakar rokok sebatang dan berjalan menuji parkiran.

Di teras klub kulihat ada seorang wanita yang sedang lunglai. Entah karena kebanyakan minum atau di cekoki pil. Aku tak begitu memedulikan, dan terus lanjut berjalan menuju mobil. Aroma parfum Puspa mash mengendap di dalam mobil. Kulihat selendangnya tertinggal di jok belakang. Memang sudah jadi kebiasaaanya, Puspa bukan wanita yang tata pada barang-barangnya. Sebelum kunyalakan mobil, kuambil dan kuciumi selendang itu. Kunyalakan radio dan tancap gas, tak sabar rasanya ingin bertemu Puspa. 

"Puspa indah di taman hati Bersemi asri Kasih murni di dalam hati Bersemi hari ke hari",

Di radio Reff sebuah lagu seakan jadi pengiring mengendarai mobil. Suatu kebetulan yang memang semakin membuatku ingin segera berjumpa Puspa.

Di bibir pertokoan beberapa tunawisma tertidur lelap. Kuperhatikan semakin tahun jumblahnya semakin bertambah.  Entahlah, ada apa di ibu kota?

Tak terasa aku sampai di lampu terakhir menuju rumah.  Kulihat pengendara bemotor tanpa plat di depanku, asap knalpotnya pekat berwarna putih. Ketika rambu hijau menyala, mereka berlalu dan menyisakan bau mesin dua tak sepanjang jalan.

Memasuki komplek perumahan, seorang penjaga malam memberhentikanku,

"Pak Jon, tadi ada seseorang menuju rumah pak Jon. Dia bilang abang dari ibu Ouspa" seru penjaga malam padaku.

Sejauh aku berumah tangga, aku tak pernah diceritakan soal sosok abangnya oleh Puspa. Perasaanku tiba-tiba tak enak. Kumatikan mobilku , dan kuparkir di dekat pos jaga komplek.

"Pak Muri, aku titip mobil di sini ya. Oh iya pak, ini untuk beli rokok dan makanan" ujarku pada pak Muri

"Loh, bapak tidak bawa mobil ke rumah?" tanya pak Muri.

"Tidak. Hari ini Puspa ulang tahun. Aku ingin memberi kejutan padanya". Jawabku pada pak Muri

Aku pun berjalan menuju rumah. Dini hari ini udara terasa lebih dingin. Pintu gerbang rumah terlihat sedikit terbuka. Pelan-pelan aku masuk memiringkan badan, tanpa kubuka gerbang secara penuh. Di samping rumah utama, ada kamar khusus yang kubuat untuk pembantu. Kulihat lampu kamarnya menyala, lalu kuketuk perlahan.

"Jen...Jen...Jen...ini aku. 

Tidak lama Jen terjaga dan membuka pintu ,

"Eh ba  . .. pak, ...

Wajah Jen tidak seperti biasanya, sedikit pucat dan terbata-bata. 

"Itu mobil siapa? Tanyaku pada jen. 

"Itu..itu ..ngamu pak...nganu pak.." jawaban Jen semakin terbata-bata.

"Kau ini, tinggal kau jawab saja apa susahnya?" Nyaris saja volume suaraku naik karena kesal.

Aku semakin penasara. Jen tidak menjawab apa-apa selepas pertanyaanku. Tiba-tiba kepalaku panas. Seketika rasa rindu berubah jadi was-was. Ku urungkan niat perihal kejutan pada Puspa. Kupaksakan melangkah memasuki rumah. Di selasar rumah kulihat sisa kretek di asbak masih panjang. Ini jelas bukan rokok Puspa. Sudah dua tahun puspa berhenti merokok. 

Malam yang hening membuat apa pun terdengar lebih jelas, aku tak asing dengan suara mengerang Puspa.

Aku lalu menuju dapur dan mengambil parang yang biasa kupakai ketika masih muda. Aku bergegas ke lantai atas dari tangga belakang. Kutendang pintu kamar dan kecurigaanku dibayar lunas. Puspa dan entah dengan siapa berada dalam satu ranjang tanpa busana. ta terlalu berlama-lama sampai aku menghujam parang ke arah tubuh yang telanjang itu. 

Puspa mencoba menahanku ketika kuhabisi lawan seranjangnya. Entah sudah berapa lama, aku tidak sepanas ini. Darah membuat pandanganku memerah, sayup-sayup kudengar suara Puspa memohon ampun ditemani gema adzan Subuh. Tapi sungguh samar suaranya. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Aku tidak dapat mengingat apa lagi yang terjadi setelah itu.

Teriakan Jen akhirnya membuat kutersadar. Puspa dan entah siapa sudah terkapar di lantai. Darah di mana-mana. Tembok kamarku penuh lukisan abstrak bercak darah. Kondisi ini mirip mabuk, namun kepalaku terasa lebih ringan dan mataku seakan naik turun tak berarah. 

Tiba-tiba kurasakan dekapan hangat ditemani tangis mengerang dari seseorang. Kutahu itu Jen. Tangaku penuh darah. Kudorong tubuh Jen menjauh dariku. Kuseret mayat laki-laki yang entah siapa keluar kamar. Aku kembali masuk dan kugendong Puspa ke ranjang yang penuh darah. Aktivitasku memindahkan kedua mayat itu berbarengan dengan pujian yang berkumandang di masjid selepas sembahyang subuh. 

Jen kusuruh diam, dan agar kembali ke kamarnya. Kutelfon Roy agar datang ke rumah segera. Aku meminta Roy membawa Jay dan Tan untuk ikut datang ke rumah. Air mataku menetes, tapi tak kuhiraukan. 

Tak lama, terdengar suara gerbang terbuka. Kumatikan rokok, dan kuisyaratkan mereka untuk naik ke atas. 

"Buang bangsat ini ke mana pun kalian mau". Seruku pada mereka.

"Kemudian makamkan pelacur ini dan bersihkan kamar ini." 

Kuambil uang dan kuberikan pada mereka. Roy, Jay dan Tan tidak banyak bertanya. Mereka langsung melaksanakan apa yang kuperintahakan.

"Jika ada siapa pun yang menanyakanku, bilang saja tidak tahu. Seruku menambahkan pada mereka.

Ketika mereka pergi, kuambil kunci mobil. Kemudian kuseret Jen ikut denganku. Jen masih menangis tapi tak  kupeduli. Aku berjalan beriringan menuju mobil yang kuparkirkan dekat pos jaga komplek. 

"Pak Muri, ini ada uang untuk pak Muri dan keluarga. 

Aku berpesan pada pak Muri untuk  diam, dan seolah tidak bertemu denganku malam ini. Segera kupacu mobilku, dan segera kucari pom bensi untuk mengisi penuh tangki bensinku. 

"Rumahmu di mana Jen?" tanyaku pada Jen.

"Di Cirebon pak" jawabnya ketakutan.

Lalu kupacu mobil menuju Cirebon pagi itu. Kupaksa diriku lebih tenang, sebab hanya cara ini yang harus kulakukan. Sepanjang jalan itu kuperhatikan penunjuk arah dan beberapa bis kota yang bertuliskan Cirebon - Jakarta melintas.

0 Response to " Joni"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel