Burung-burung Sawah

Burung-burung Sawah

Penulis : Amidia Amanza

Suara ayam telah terdengar bersahut-sahutan. Adzan subuh pun telah menggema memberitahu agar segera menunaikan ibadah. Orang-orang tua dan beberapa anak kecil bergegas untuk pergi ke surau. Aku baru saja hendak pulang dari kebiasaan pulang pagi yang telah aku tekuni selama dua tahun belakangan ini. Malu sebenarnya diriku jika harus berpapasan di jalan dengan manusia-manusia lain bergegas menjemput ridho-Nya, sedangkan aku baru hendak membaringkan diri untuk tidur. Namun, apa dayaku saat ini?

Pikiranku menerawang jauh sesaat aku mencoba untuk memejamkan mata. Asap dari dapur juga menyusahkanku untuk memejamkan mata. Emak pasti sedang menanak nasi sebelum pergi ke sawah melakukan rutinitasnya. Suara batuk bapak juga terdengar menembus pelupuh bambu kamarku. Yang membuatku semakin tak bisa  tidur.

“Obat bapak masih ada, Mak?” tanyaku pada Emak yang tengah meniup sebilah bambu kecil agar perapian tetap terjaga. “Sudah habis kemarin, Nak” ujar Emak sembari mengelap matanya yang keriput karena pedih. “Ini ada uang untuk membeli obat bapak” aku memberikan lembaran uang yang telah lusuh kepada Emak. “Tak usah, Nak”, Emak menolak uang pemberianku karena memang begitulah sifat Emak selama ini. “Pakai saja uang ini dulu, Mak. Untuk simpananku telah aku sisihkan” ucapku kepada Emak sambil tersenyum. Emak pun membalas senyumku dengan mata sendu yang sangat membuat batinku perih.

“Sepertinya padi kita seminggu lagi sudah bisa dipanen” beritahu Emak kepadaku. “Syukurlah, Mak” jawabku singkat. “Kita jual saja semuanya, agar bisa kau pakai uangnya” sambung Emak. “Nanti aku minta izin ke pak Ahmad, agar bisa menolong Emak panen” aku mengalihkan topik pembicaraan dan Emak kemudian hanya diam tanpa ada sepatah kata pun.

Setelah maghrib aku harus kembali ke dunia malamku. Biasanya aku berjalan kaki menyusuri jalan desa dengan penerangan seadanya dari senter yang aku bawa. Malam di desa memang terasa lebih tentram dan damai. Tak banyak aktivitas yang dilakukan warga pada malam hari kecuali hanya petugas keamanan desa yang berpatroli satu atau dua orang. Selebihnya hanya ada hewan-hewan liar yang beraktivitas, terutama babi yang menjadi hama terbesar bagi petani di desaku. Tak jarang aku pun bersua dengan hewan tersebut di jalan yang aku lalui.

“Eh, kau rupanya Burhan” pak Bahri menyodorkan cahaya senternya tepat di depan kedua mataku. “Iya, pak. Ini saya Burhan.” jawabku sambil mengelak dari cahaya senter yang mati-mati hidup tersebut. “Saya kira orang yang mau maling sapi” ujar pak Bahri lalu terkekeh. “Ada-ada saja, Pak” jawabku ikut tertawa. “Hendak berangkat kerja kau, Burhan?” lanjut pak Bahri. “Iya, Pak. Seperti biasanya.” jawabku padanya. “Ya, sudah. Kau hati-hati di jalan” pesan pak Bahri padaku. “Aman, Pak.” Aku berlalu pergi meninggalkan pak Bahri yang akan menjaga sawahnya dari hewan-hewan pengganggu.

Aku harus bekerja dengan giat malam ini, agar segera bisa membawa Bapak berobat dan menambah pundi-pundi uang simpananku. Aku harus melengahkan rasa lelah yang kadang datang bersamaan dengan rasa kantuk. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagiku akhir-akhir ini.

Waktu berlalu semakin cepat dan membawaku ke keadaan seperti yang aku alami kemarin. Hanya saja hari ini aku langsung menemui Emak ke dapur. Aku menjumpai Emak yang tengah menggiling cabai dengan tangan kokohnya. 

“Kau tak langsung tidur, Nak?” Tanya Emak. “Nanti saja, Mak. Ada yang mau Burhan bicarakan ke Emak” jawabku. “Ada apa gerangan, Nak?” Emak meletakkan batu gilingan cabai dan mendekat ke arahku. “Mari kita bawa Bapak berobat ke rumah sakit, Mak” pintaku pada Emak. “Aku lihat keadaan Bapak makin hari makin bertambah parah saja” sambungku. “Emak belum punya uang untuk membawa Bapakmu berobat, Nak” Emak berkata sembari menundukkan kepalanya. “Kita pakai uang simpanan Burhan, Mak” tawarku pada Emak. “Tapi kan uang itu” Emak akan menolak saranku dan aku langsung memotong. “Tak penting itu sekarang, Mak. Sekarang yang aku butuhkan Bapak bisa sehat kembali”. “Besok kita bawa Bapak ke rumah sakit di kota” sambungku. Aku melihat Emak hanya diam dan meneteskan air matanya, benteng pertahanan yang Emak buat selama ini akhirnya jebol.

Setelah ke rumah sakit beberapa hari yang lalu. Batuk Bapak sudah agak mendingan dari biasanya. Beban pikiran di kepalaku sedikit-sedikit akhirnya mulai terangkat. Aku akan lebih giat lagi untuk bekerja agar apa yang aku inginkan selama ini lambat laun akan terwujudkan. Emak juga seperti tak ada letih-letihnya dengan terus mengerjakan apa saja asalkan menghasilkan uang yang halal. Emak adalah wanita yang terkuat yang aku lihat selama ini. Emak tak pernah sedikit pun mengeluh akan keadaan, jauh berbeda seperti diriku.

Dua hari lagi Emak akan memanen padi yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga kami. Emak memberitahukan orang-orang yang akan menolongnya untuk memanen padi pada lusa hari. Aku juga telah meminta izin kepada pak Ahmad agar mengizinkanku untuk membantu Emak. Dan malam ini aku masih bekerja seperti biasanya.

“Emak...mak, bangun mak. Ini Jaka” suara Jaka terdengar parau memanggil dari luar rumah. Tak lama terdengar suara Emak dari dalam rumah. “Iya, nak Jaka. Sebentar”. Pintu rumah berdinding bambu itu pun terbuka dan perempuan yang di panggil Emak oleh anaknya itu bertanya-tanya melalui sorot matanya kepada Jaka. 

“Apa yang terjadi, nak Jaka?” Tanya Emak yang mulai menunjukkan keraguannya. Jaka tertunduk mendengar Emak bertanya demikian. Setelah mengumpulkan keberaniannya dan memilih kata yang dirasa pas. Jaka akhirnya bersuara. “Burhan, Mak. Burhan telah meninggal, karena kecelakaan”. Setelah mendengar penuturan Jaka, tubuh Emak tak lagi sadarkan diri.

Keadaan Emak tak lagi seperti dulu. Emak telah kehilangan minatnya pada dunia. Emak kehilangan anak semata wayangnya. Untuk selamanya…

Burhan, harus pergi tanpa mengucapkan kata terakhir kepada Emaknya. Tanpa melihat wajah wanita kuat yang selama ini mengisi semangat hidupnya. Adu kambing antara truk telah memakan korban lain. Burhan yang tengah menggali tanah dipinggir jalan harus ikut meregang nyawa karena kelalaian manusia lain. Telah dua tahun ia ikut pak Ahmad dalam proyek satu ke proyek lain. Ia kebagian jadwal malam karena proyek penggalian itu harus mengejar target dan harus dikerjakan siang dan malam. Burhan adalah salah satu pekerjanya.

Emak sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bagaimana pun hidup harus tetap berlangsung. Bapak Burhan juga telah semakin membaik dan mulai mengerjakan pekerjaan ringan. 

“Makanlah nasi itu. Jangan hanya dilihat saja” Bapak membuyarkan lamunan Emak. “Nasi ini adalah salah satu keinginan terakhir Burhan, Pak” jawab Emak lirih. Mendengar itu Bapak hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan makannya.

Pagi sekali Emak telah pergi ke sawah. Hal itu membuat Bapak sedikit heran. Karena tak ada padi yang harus dijaga dari gerombolan burung pipit. Umur padi di sawah juga belum genap sebulan. Namun, Bapak tak terlalu menghiraukan hal itu.

“Apa ada yang harus diperbaiki disawah kita, Mak?” Tanya Bapak ke Emak pada suatu sore. “Bapak lihat akhir-akhir ini emak sering ke sawah” lanjut Bapak. “Emak hanya ingin menenangkan diri, Pak”. “Tidak ada hal lain” jawab Emak. Bapak hanya tersenyum mendengar perkataan Emak.

Kerinduan akan anaknya juga melanda seorang lelaki yang terkesan cuek itu. Sesekali Bapak melihat-lihat isi kamar anaknya tersebut. Aroma tubuh sang anak masih samar-samar terendus oleh indera penciuman. Tak sengaja catatan-catatan dari tulisan tangan Burhan muncul dari balik lipatan baju. Bapak membaca sejenis catatan harian anak tunggalnya itu. Tanpa sengaja air mata pun mengalir di sela-sela pipi keriput itu.

“Aku seakan-akan melupakan dunia ketika pada pagi hari melihat matahari menyinari padi-padi ini. Harapan dari harapan yang dimiliki oleh Emak. Aku akan menghalau setiap burung-burung sawah yang hinggap di atas padi ini. Dan akan kumohonkan pada burung-burung itu agar tak lagi mengganggu padi-padi harapan Emak. Dan aku memang melakukannya.. memohon pada burung-burung itu.”

                                                                                                                        ~ Burhan




Amidia Amanza adalah mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Memiliki banyak hobi salah satunya adalah membaca sambil belajar menulis apa pun. Dapat ditemui melalui media sosial di @amidia_amanza (Ig).


0 Response to " Burung-burung Sawah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel