Yahudi, Belajarlah Toleransi kepada Islam

Yahudi, Belajarlah Toleransi kepada Islam

Penulis:
Muammar Elba

Pada pertengahan abad ke-17, banyak kaum Yahudi yang mengalami titik jenuh. Tak ada Yahudi Eropa yang menghirup kebebasan. Bahkan, di daerah Kristen tertentu, kaum Yahudi dikucilkan dari masyarakat umum. Pada abad ke-16, tidak ada seorangpun Yahudi yang boleh tinggal di luar daerah khusus Yahudi yang dikenal dengan nama "ghetto".

Ini berarti kaum Yahudi menjalani kehidupan tertutup. Kaum Yahudi diharuskan mengenakan pakaian khas. Mereka dikenai pembatasan ekonomi, sehingga mata pencaharian mereka hanya terbatas pada pedagang kaki lima dan penjahit. Mereka tidak diperbolehkan melakukan perdagangan komersial skala besar, sehingga sebagian besar mereka akhirnya harus mengemis dan bergantung kepada sedekah.

Dengan segala pembicaraan tentang toleransi, para pemikir abad pencerahan masih senantiasa memandang rendah kaum Yahudi. Tampak radikal penolakan terhadap kaum Yahudi ditunjukkan oleh para pemikir Eropa, seperti Spinoza, juga Kant dan Hegel yang menganggap Yahudi sebagai agama yang bertentangan dengan rasionalitas.

Baron d'Holbach bahkan menyebut kaum Yahudi sebagai musuh umat manusia. Segresi dan penolakan tersebut semakin meningkatkan prasangka anti-Semit, dan kaum Yahudi menanggapi dunia non-Yahudi di Eropa yang kejam itu dengan kepahitan dan penuh kecurigaan.

Kaum Yahudi di dunia Islam tidaklah demikian. Tidak ada segresi dan alienasi. Seperti umat Kristen, Yahudi diberikan status "dzimmi" (minoritas yang dilindungi), suatu status yang memberikan perlindungan militer dan sipil bagi mereka selama menghormati hukum dan supremasi negara Islam.

Kaum Yahudi di negara Islam tidak dibantai. Tidak ada tradisi anti-Semitisme yang tumbuh. Mereka diberikan kebebasan penuh untuk menjalankan urusan agama, sosial dan ekonomi. Para pemimpin Islam era modern memegang teguh spirit Piagam Madinah—traktat Nabi Muhammad SAW ketika mempersatukan kaum Yahudi Bani Qainuqa', Bani Nadzir, Bani Quraidlah, Bani Auf, bersama-sama kaum Muslim dalam membentuk konsepsi city-state di Madinah.

Penulis Jerussalem the Biography, Simon Montefiore menggambarkan kepemimpinan Islam sebagai pemerintahan yang toleran. Melalui ungkapan humanis pemimpin abad ke-7, Dinasti Umayyah ketika menaklukkan Yerussalam, menjamin tak ada tirani dan kolonialisasi di Yerussalam, "bahwasanya bila sehelai rambut saja yang mempertalikan aku dengan sesama aku tak akan memutuskannya."

Gambaran lain mengenai betapa humanisnya Islam, yaitu ketika pada sekitar tahun 1492 Pasca Perang Salib. Pemimpin Katolik Ferdinand dan Isabella menandatangani Perintah Pengusiran (Edict of Expulsion) yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi. Waktu itu orang-orang Yahudi diberi dua tawaran: dibaptis masuk Kristen atau dideportasi? Maka ada sekitar 50.000 Yahudi yang mengungsi ke Dinasti baru Islam, Utsmaniyyah, di mana mereka disambut dengan baik.

Dari beberapa catatan tersebut, maka jika dibandingkan dengan kehidupan kaum Yahudi di Eropa, hal ini sangat kentara sekali perbedaannya.

Akan tetapi, peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukkan bahwa kaum Yahudi di dunia Islam yang demikian itu, tak menjadikan mereka belajar tentang arti penting toleransi. Sehingga, mereka tetap memimpikan suatu bentuk emansipasi yang lebih besar. Maka, bukan suatu yang berlebihan bila pemikir seperti Francois Voltaire menyebut kaum Yahudi sebagai "bangsa yang pongah, kaum yang senantiasa diliputi segala kebencian terhadap semua negara yang menerima mereka".

Zionisme, gerakan untuk membangun tanah air sendiri, adalah respon kaum Yahudi atas hasrat emansipasi yang paling oportunis. Untuk merealisasikan mimpi itu, kaum Zionis mengeksploitasi kekuatan mitos untuk membuat rencana mereka yang sepenuhnya sempit; mimpi geografis yang suci (Palestina) seperti sedang mengandaikan Tuhan yang tak universal.

Naifnya lagi, kaum Zionis sangat sedikit pemahamannya terhadap sejarah Bumi Palestina. Slogan mereka: "sebuah negeri tanpa penduduk untuk penduduk tanpa negeri" memperlihatkan pengabaian sempurna terhadap fakta bahwa negeri ini didiami oleh penduduk Arab Palestina, yang memiliki aspirasi sendiri terhadap negeri yang dihuni.

Jika akhirnya Zionisme berhasil dalam tujuan mereka yang modern, pragmatis, dan sempit, dalam membangun sebuah negara Yahudi yang sekuler, hal itu juga melibatkan bangsa Yahudi ke dalam sebuah konflik yang—hingga kini—belum memperlihatkan tanda-tanda akan mereda.

Lebih-lebih, ketika periode industrialisasi tumbuh di Eropa, memacu Yahudi semakin invasif dan agresif, dalam teritori, politik dan ekonomi. Dengan segala ekspansi komersialisasinya yang penuh cita rasa kapitalistik, seorang Karl Marx—meskipun sebenarnya seorang keturunan Yahudi—berpendapat bahwa, "kaum Yahudi lah yang bertanggung jawab terhadap kapitalisme, yang menurut Marx sebagai sumber penyakit dunia".

 

 


Penulis bernama asli Muammar Abdul Basith, M.Hum. Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia

0 Response to "Yahudi, Belajarlah Toleransi kepada Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel