The Racism Issues

The Racism Issues

Penulis: Liza Fakhruni Nasution

Manusia pada dasarnya ciptakan oleh Allah sangatlah plural. Baik itu dari segi suku, agama, ras, bangsa serta geografis. Akan tetapi, dengan adanya kepluralan dalam berkehidupan sosial ini, sering kali memunculkan masalah-masalah sosial. Misalnya seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, suku, etis serta nilai-nilai yang diadopsi (Siregar, 2015).

Sering kali pula, kaum dominan merasa yang paling unggul dari kelompok  termarginalkan, serta adanya gab yang tidak bisa disebrangi oleh keduanya. Hal ini yang lantas kemudian menjadi salah satu sebab munculnya rasisme.

Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin, juga sangat menentang adanya rasisme ini. Karena, pada dasarnya sudah sangat jelas dituliskan di al-Qur’an dalam surat al-Hujurat ayat 13:

 يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ

اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. (Q.S al-Hujurat:13)

Bahwa Allah itu memang menciptakan manusia berbeda-beda suku, bangsa, negara agar manusia dapat saling mengenal dan mengetahui satu sama lain. (Sidik, 2020) Jika dilihat secara historis, dapat dikatakan bahwa sebenarnya isu rasisme ini sebenarnya sudah terjadi dan berlangsung selama beratus-ratus tahun yang lalu. Bahkan, pada masa Rasulullah pun sudah ada tindakan rasisme ini.

Rasisme sendiri tidak hanya sekadar perbuatan diskriminatif secara sewenang-wenang. Dalam berbagai wujudnya, rasisme merupakan keyakinan struktural dan sistematik, di mana kelompok tertentu dianggap lebih rendah status sosial dan derajatnya. Kasus rasisme mencerminkan tidak adanya wujud kemanusiaan dan keadilan sosial (Soukotta, 2019). Dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 22, Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya lah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (Ar-Rum: 22).

Dari kedua ayat diatas yaitu al-Hujurat ayat 13 dan ar-Rum ayat 22 menjadi landasan penolakan adanya rasisime. Pada dasarnya, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pandangan Islam tentang isu rasisme, dan bagaimana jika dikaitkan dengan konteks sosio-historis yang digagas oleh Abdullah Saeed.

Adapun asbabun nuzul surah al-Hujurat ayat 13 ini yaitu, pada dasarnya ayat ini diturunkan berkaitan dengan Abu Hindun. Selain itu, dalam kitab Al-Maraasil, Abu Daud mengatakan bahwa: Amr bin Utsman dan Katsir bin Ubaid mengisahkan terhadap kami, keduanya berkata: Baqiyah bin Al Walid berkata kepada kami, dia berkata: Az-Zuhri menceritakan bagi kami, dia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan Bani Bayadhah agar mengawinkan Abu Hindun dengan seorang perempuan dari kalangan mereka.

Mereka kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW, „(Haruskah) kami mengawinkan putri kami dengan budak kami? Kemudian Allah Azza wa Jalla pun menurunkan potongan Qur’an Surah al-hujurat ayat 13 yaitu:


يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا

Surat al-Hujuraat ayat 13 ini membahas tentang prinsip dasar hubungan antarmanusia. Karena itu, ayat ini tidak lagi menggunakan panggilan yang ditujukan kepada orang-orang beriman, tetapi kepada jenis manusia.

Kata syu‟uub merupakan bentuk jamak dari sya‟b. Kata ini biasanya digunakan untuk menandakan kumpulan dari sekian  qabiilah yang bisa diterjemahkan dengan suku yang menjurus pada seorang kakek. Qabiilah/ suku pun terdiri dari sekian banyak kelompok yang dinamain dengan imaarah,  kemudian terdiri lagi menjadi beberapa kelompok hingga terbentuklah kata عرف  yang berasal dari kata  تعرفوآ yang berarti mengenal (Syihab, 2012).

Semakin kita mengenal seseorang, maka semakin besar pula kita dapat memberi manfaat dan ibroh satu sama lain. Ketika kita sudah mengenal satu sama lain maka semakin sedikit pula  peluang untuk berbuat jahat seperti rasisme.

Pada masa Rasulullah, sebenarnya rasisme juga sudah ada. Hal ini dapat kita lihat berdasrkan riwayat berikut ini: Diriwayatkan dari Ma'rur ibn Suwaid, ia berkata, "Saya bertemu Abu Dzar di Rabdzah, ia menggunakan jubahnya, sama seperti budaknya. Aku tanyakan hal itu kepadanya. Maka jawabnya, "Saya telah menghina seorang laki-laki sampai mencela ibunya.

Kemudian Rasulullah bersabda kepadaku. Wahai Abu Dzar, kau telah menghina ibunya. Jika benar demikian, maka kau adalah orang yang masih menyimpan watak Jahiliah. Sadarilah  bahwa saudara kalian itu adalah pelayan dan budak kalian, Allah SWT menempatkan mereka di bawah tangan kalian.

Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, hendaknya ia memberinya makan dengan apa yang biasa dimakannya, dan memberinya pakaian dengan apa yang biasa dipakainya. Jangan membebani mereka dengan sesuatu di luar kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka hendaklah bantu mereka." (HR Muttafaq 'Alaih). (Kania, 2019)

Jika dilihat dari konteks modern, dapat kita lihat isu rasisme yang sempat gencar di wilayah Amerika. Pembunuhan warga berkulit hitam (George Floyd) yang dibunuh oleh seorang polisi berkulit putih berasal dari kota Minneapolis (Derek Chauvin).

Hal ini bermula karena tindak kriminal yang dilakukan oleh George yang menggunakan uang palsu dalam melakukan transaksi di sebuah toko. Namun, tindakan yang dilakukan Chauvin terhadap George, dengan menindih lehernya George selama sembilan menit, dianggap sangat tidak manusiawi dan di luar prosedur hukum (Utomo, 2020).

Peristiwa ini merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang amat kejam, dan perbuatan itu sangat banyak dikutuk oleh orang-orang. Tindakan ini tidak hanya bertolak belakang dengan aturan hukum yang ada. Akan tetapi, lebih dari itu, perbuatan yang dilakukan ini termasuk sebuah rasisme (Jabbar, 2020). Dan hingga saat ini, masih sangat banyak orang-orang yang beranggapan bahwa, ras kulit putih itu lebih unggul dari ras kulit hitam yang biasanya termarginalkan.

Di dalam Islam sendiri, perilaku rasisme ini sangat dilarang. Dengan melihat bahwa, penciptaan manusia yaang berbeda-beda , mulai dari segi warna kulit, ras, budaya, negara dan sebagainya merupakan rahmat dari Allah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya , yaitu dalam surah al-Hujurat ayat 13, selain itu juga sudah dituliskan dalam surat ar-Rum ayat 22.




Mahasiswa Pascasarjana UIN SUKA. Bisa dihubungi di email: lizafakhruninastyfahri@gmail.com

0 Response to "The Racism Issues"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel